Wajah Perempuan Indonesia Masa kini

Pada kaca mata pemikiran saya, makna dari “wajah” tepat pada judul diatas, bukanlah wajah perempuan  yang memamerkan lekuk goresan lipstik di bibirnya atau lekuk pinggul pada tubuhnya, melainkan wajah nasibnya sebagai perempuan Indonesia.

Perjalanan panjang setelah adanya emansipasi perempuan yang diperjuangkan oleh RA. Kartini rupanya saat ini belum tuntas dan masih harus diperjuangkan. Titik kesejahteraan perempuan menurut saya yaitu saat dimana seorang perempuan berhasil menjadi siapa dirinya sendiri, mampu meng-explore ketrampilanya berkat pendidikan dan mendapatkan perlindungan yang layak sebagai perempuan!

Dalam dunia nyata, kesejahteraan perempuan Indonesia belum merata. Masih terlihat jelas,  adanya kesenjangan sosial yang mencolok antara perempuan sejahtera dan kurang sejahtera. Satu dua atau beberapa perempuan Indonesia yang sejahtera selain karena mendapatkan pendidikan yang cukup, bisa juga karena kegigihannya dalam memperkaya diri. Dalam artikel ini saya akan menekankan pada nasib perempuan yang kurang sejahtera.

Bukti-bukti perempuan Indonesia masih kurang sejahtera :

1). Indonesia mengijinkan tenaga perempuan dari Indonesia untuk bekerja di luar negeri dengan kapasitas jumlah jiwa yang besar.

Berdasarkan berita yang diliput oleh BBC Indonesia, negara kita termasuk peringkat ke-8 pengirim tenaga kerja perempuan yang bekerja sebagai ART di seluruh dunia. Sumber: BBC Indonesia

Saya membenarkan akan usia tenaga kerja tersebut sebenarnya masih dibawah standar yang ditentukan. Seperti contohnya untuk dapat bekerja di Singapura, minimal harus berusia diatas 23 tahun dan untuk bekerja di Hong Kong atau Malaysia harus berusia diatas 21 tahun. Namun, ternyata agency pengurus calon tenaga kerja Indonesia suka “memalsukan dokumen”. Boleh dikatakan pula,  pemerintah Indonesia memperkerjakan anak-anak ke luar negeri akibat minimnya perhatian terhadap hal-hal demikian.

2). Masih tingginya berita di medsos kriminalitas terhadap perempuan Indonesia.

Satu berita teraktual misalnya saat ini adanya berita tentang seorang perempuan berusia 26 tahun yang meninggal dengan cara mengenaskan tanpa busana, terdapat kaos kaki di mulutnya dan dibelit kabel di sebuah kosannya. Hal ini mencerminkan bahwa  perlindungan pemerintah kita terhadap perempuan masih rendah. Sumber : Kasus Alfi yang meninggal

3). Masih tingginya nasib perempuan Indonesia yang menjalani kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis, baik terhadap suami atau anak-anaknya.

Miris, kenapa saya mendengar ada anak menempeleng ibunya sendiri dari tetangga saya waktu saya masih berada di rumah? Kenapa banyak terjadi percek-cokan dalam rumah tangga sebab masalah ekonomi yang berimbas pada nasib kurang baik terhadap anak-anaknya?

Sumber : Korban perempuan KDRT jadi sekumpulan berita

 

4). Masih tingginya perempuan Indonesia yang gagal memahami kata “Habis Gelap, Terbitlah Terang!”

Terlepas kita sebagai perempuan apakah kita menganyam pendidikan formal atau tidak, yang jelas bagi perempuan Indonesia yang mampu mengartikan sepenggal kata wasiat RA. Kartini tersebut akan tergerak hatinya untuk haus “pengetahuan”, yang mana hanya pengetahuan saja yang akan mengubah paradigm antara kebiasaan tradisional menuju kearah globalisasi yang lebih baik.

Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan kita saat ini. Dunia luar sebenarnya selalu menuntut untuk kita terus mau belajar-belajar dan belajar. Rasanya mustahil untuk memaksa ibu-ibu yang sudah berumah tangga untuk sadar belajar jika bukan dari keiinginannya sendiri. Langah selanjutnya mungkin lebih efektif untuk terus menyemangati anak-anak yang masih dini.

Pemerintah Indonesia, khususnya Ibu Yohana Susana Yembise,

selaku Menteri  Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak mohon bimbingan untuk Perempuan Indonesia yang lebih sejahtera, butuh perhatiannya dan butuh bukti nyata atas kinerja Anda saat ini dan seterusnya.

Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s