Bermodal Keyakinan, Saya Mimpi Jadi Penulis Buku

Pengalaman saya menjadi tkw di luar negeri selama tiga tahun di Singapur dan Hong Kong, membuat saya jadi nyadar kalau me-manage waktu itu ternyata penting sekali. Tugas sehari-hari yang harus saya kerjakan dan saya selesaikan dulu wajib usai tepat waktu, membuat saya terbiasa ingin menyelesaikan pekerjaan dengan sesegera mungkin dan tak ingin menunda-nunda.

Melihat langsung bagaimana kebiasaan orang luar negeri di sana yang kebanyakan suka disiplin dan always on time melakukan pekerjaannya, membuat saya terinspirasi dan dapat membuat kesimpulan bahwa kedisiplinan itu kunci kesuksesan. Kita melihat kan bukti nyata dari negera Singapur dan Hong Kong, masyarakatnya lebih makmur daripada negara kita?

Satu poin itu ternyata menjadi cerminan buat saya agar mau belajar berdisiplin memanfaatkan waktu. Dan untuk menginspirasi orang lain, saya sengaja memanfaatkan suatu blog sosial bernama Kompasiana sebagai jalan menyuarakan apa yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat Indonesia secara luas. Dalam tulisan-tulisan saya di blog tersebut terdapat beberapa alasan kenapa negara maju bisa sejahtera, apa kunci dan rahasianya terjawab dalam tulisan saya itu.

Dengan daerah asalnya dari Kota Semarang Jawa Tengah, kini saya sudah kembali di Indonesia dan sedang berada di Jakarta. Bekerja di sebuah studio photo dan masih dalam proses belajar. Di studio itu saya 95 % hampir berada di depan Komputer. Nah, kalau lagi pas nggak ada kerjaan nih saya suka online dan ketak-ketik tulisan di keyboard.

Rasanya sepulang dari Hong Kong sekitar bulan Oktober tahun lalu, saya sedikit sedih. Di Indonesia sangat berbeda dengan kehidupan di Hong Kong yang kaya akan buku-buku bacaan. Kalau di Hong Kong dan Singapur hampir di setiap distric-nya  selalu ada perpustakaan umum, sehingga sangat mudah sekali bagi orang yang ingin membaca buku-buku yang beragam. Saya biasanya berkunjung di perpustakaan Hong Kong  tiap hari libur. Dan jika ada buku yang sangat menarik bagi saya, tak jarang saya pun meminjamnya untuk dibawa pulang  kemudian saya baca di tempat kerja kalau pas ada waktu istirahat.

Semakin banyak membaca, semakin banyak pula inspirasi saya untuk menulis. Entah kenapa satu tahun belakangan ini saya suka menulis dan menulis. Berada di tempat dan lingkungan kerja baru saya juga punya kebiasaan baru. Dan kebiasaan yang masih sama yaitu hanya menulis. Buka studio kira-kira jam sembilan pagi dan tutup jam setengah sebelas malam. Sebenarnya sangat melelahkan. Dengan gaji yang pas-pasan, saya tetap menjalaninya demi sebuah mimpi saya untuk membikin buku hasil karya saya sendiri.

Saya mengira, membukukan apa yang sudah saya tuliskan sepertinya suatu tantangan yang super banget. Banyak ketidak mungkinannya dari pada mungkin bisa terjadi! Itu anggapan saya. Sejauh ini, sebenarnya ada beberapa orang yuang sudah menunggu karya buku saya. Dan ada beberapa nama penulis besar seperti Bunda Pipiet Senja dan Om Pepih Nugraha yang siap membantu membukukan tulisan-tulisan saya. Bukan saya ingin menjadikan buku secara instan, tapi bagi saya pribadi lahirnya sebuah buku bukan hanya untuk memamerkan sebuah nama pribadi tapi yang utama yaitu maksud dan tujuan saya menulis.

Saya ingin isi dari buku saya adalah berisi tujuan saya sendiri kenapa saya mau menulis. Minimal membawa efek positif dan bermanfaat. Bukan asal cetak dan asal jadi. Sebab menulis itu juga butuh menguras energy dan waktu, bahkan pemikiran.

Disetiap sela-sela waktu saya yang ada, saya berusaha untuk bisa menulis terus. Tanpa merasa khawatir akan berhasil atau tidaknya impian saya membukukan tulisan sendiri saya. Yang terpenting saat ini yaitu saya hanya akan terus menulis. Bahkan saya suka menandai waktu yang saya punya untuk bisa meluangkan waktu untuk menulis dalam kesehariannya. Biasa saya suka pasang alarm bangun tengah malam dan menulis. Atau kalau saya rasa masih betah begadang dan menulis, saya pun akan menulis. Dalam waktu satu tahun, tulisan saya sudah terkumpul sebanyak 200 lebih. Tanpa saya sadari ini lumayan gila! Untuk lengkapnya silahkan klik : http://www.kompasiana.com/senengutami

Bagi saya, simple saja selain berusaha menunaikan salat 5 waktu, bekerja dan menulis. Cepat atau lambat pedoman saya hanya satu. Tulisan suatu saat akan menemukan nasibnya sendiri.

Waktu saya lebih banyak untuk menulis, dengan harapan : untuk menginspirasi orang, berbagi pengalaman, dan berpendapat.

Nama : Seneng Utami

Email : senengutami@gmail.com

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway : https://pwgara.wordpress.com/2015/04/23/give-away-untuk-apa-kau-menandai-waktu/

img_20150422_211733

How to make my DREAM became True ??

Pertanyaan : “Bagaimana Cara Agar Aku Bisa Keluar dari Zona Kemiskinan dan Keterbelakangan?”

Jawaban : “Bersedih dan Menangis, perlukah…?”

Bagiku, hanya semangat dari jiwa saja yang membuatku ingin bertahan dalam menghadapi kenyataan hidupku yang sebenarnya. Seandainya semangat itu tiada, bisa jadi pikiran ini akan mengeluh dan menyesali hidup yang masih terus berlalu. Tanpa pernah aku tahu sampai kapan akan berakhir…

Sedikit banyak Rejeki yang dikaruniakan Tuhan kepadaku barangkali sudah ada takarannya dan itu pasti sesuai dengan usaha dan kemampuan yang aku miliki. Aku terkadang merasa beruntung diberikan sepasang mata yang normal dan sempurna, tapi ketika aku memposisikan diriku di antara orang lain. Sampai saat ini aku merasakan ketidak puasan akan apa yang telah aku capai hadir menggelayuti  jiwaku. Terlihat sangat jelas, banyak orang lain yang lebih dari aku. Dan aku masih  bukan siapa-siapa diantara mereka.

Tidak sekali dua kali, setiap aku ingat kerasnya jalan hidup ortuku aku ingin bisa mikul duwur mendem jero nama ortuku sendiri. Setiap kali tak sengaja aku melihat orang yang kurang beruntung daripada aku, rasanya aku ingin juga membantu meringankan beban hidupnya. Tapi, bagaimana caranya? Memimpikan dua hal itu bisa terjadi, rasanya seperti aku bermimpi ketinggian dan tak mungkin aku bisa mewujudkannya!

Jatuh bangun menjalani perjalanan hidup itu hampir semua orang mengalaminya. Bahkan, aku lebih sering mendengarkan kisah-kisah orang yang hebat mengarungi kenyataan hidupnya yang sangat pahit dengan suka-cita. Tentunya itu bisa mereka taklukkan tak lepas dari semangat hidupnya yang membara…

Entah kenapa kali ini aku ingin jujur pada diriku sendiri  bahwa sebenarnya aku miskin tak punya apa-apa. Aku bukanlah anak muda yang seperti pada umumnya. Yang aktif Twitteran, instagraman, path-an, aku sering menyadari akan ke-kuperanku sendiri. Aku nggak banyak tahu dunia sinetron, dan nggak suka lihat sinetron. Penampilanku juga jauh dari pemain sinetron di negeri ini. Setelah sekian lama aku belajar mencari nafkah dari hasil keringatku sendiri,aku merasa bahwa aku sudah layak hidup mandiri tanpa menggantungkan pemberian uang ortu lagi. Sekarang aku mengusahakan mendapatkan uang demi sesuap nasi  dengan keringat sendiri dalam keseehariannya. Kalau aku ingatlagi, uang dari hasil kerjaku yang nggak ngumpul-ngumpul dan berjumlah tak seberapa, aku sempat berpikir kalau aku termasuk anak yang miskin. Sesuai dengan adat. Terdengar kurang nyaman memang, dan  menurut adat orang jawa bilang, hal ini saru kalau seandainya sampai orang lain tahu jika aku berani mengeluhkan kemiskinanku  sendiri.

Menganggap diri sendiri miskin dan serba kekurangan, lebih jelasnya aku ini kurang bisa mensyukuri nikmat yang ada. Tapi, yang terpenting bagiku saat ini bagaimana aku bisa mengoptimalkan segala kekuranganku ini untuk meraih yang namanya sebuah KESUKSESAN?

23 tahun, aku! Aku bukanlah anak yang termasuk baik dari segi mental. Kekuranganku yang sangat dominan yaitu aku suka minderan, merendahkan diri sendiri , mudah galau dan belum bisa melusruskan iman yang ada didalam hatiku sebaik-baiknya. Sebagai penganut Islam, aku masih suka solat subuh telat. Aku masih kesulitan menjilbabi hatiku. Aku menilai diriku belum dewasa seutuhnya. Bagaimana pun juga, orang lain akan menganggap bahwa aku sudah cukup umur, berakal dan bukan anak-anak lagi!

Menurutku, saat ini aku sudah punya logika pikiran yang realistis. Menjadi remaja, lambat laun aku mulai mengenal dan tahu dunia orang berumah tangga, mulai bisa membedakan apa yang disukai oleh bapak-bapak masa kini dan ibu-ibu masa kini. Aku juga menganggap diriku lebih senior dibandingkan dengan anak SD dan SMP.

Dalam keadaan terhimpit seberat  apapun, aku berpikir tak mungkin bunuh diri atau berbuat konyol sesuka hatiku. Sebab aku menyadari, menjadi terkenal, menjadi kaya atau menjadi sukses dalam mengejar dunia jika tanpa adanya esensi kebenaran, bagiku itu tak perlu. Aku bukanlah anak suci, tapi aku yakin kebenaran hidup jika aku mau berpedoman pada apa yang menjadi keyakinanku sendiri. Antara benar dan salah, bagiku dan bagi orang lain belum tentu sama. Dan aku senang bisa punya keyakinan sendiri berdasarkan kemampuanku berpikir.

Karena diamku, aku bukanlah seorang yang gemar aktif bersosialisai atau berkecimpung dalam suatu organisasi. Dulunya aku kira ini bawaanku sejak kecil. Tapi, saat massa-nya tiba aku punya hasrat menjatuhkan diri dalam kegiatan sosial, sampai saat ini aku belum bisa mewujudkannya. Semua tak lepas dari sikonku saat ini yang terikat oleh pekerjaan.

Aku sempat berpikir, begitu cepatnya jaman ini bergerak dan berubah. Sebenarnya bukan aku saja yang selalu ketinggalan jaman, tapi juga negeriku ini. Tak mampu aku mengubah negeriku, menjadi negeri bebas korupsi. Tak mampu aku jadi orang yang mampu mengubah negeri ini jadi negri yang bebas dari kemiskinan. Tak mampu aku mengubah negeri ini jadi negeri yang bebas dari negeri pengirim TKW yang dipekerjakan sebai pembantu rumah tangga. Sedangkan kenyataannya aku hanyalah mantan pembantu yang bekerja di luar negeri. Aku anak remaja yang tanpa reputasi, tapi terlalu banyak ambisi. Barangkali…

Kadang aku menyelidiki dalam hati, kenapa sih orang bisa kaya. Kenapa orang bisa super jenius. Kenapa orang bisa mandiri dan hidup dinamis.

Kesimpulannya cukup satu saja. Bahwa hasil yang maksimal bermula dari kerja atau usaha yang maksimal. Bagiku tidak berlaku jika aturan orang pemakan babi itu dinilai kurang, atau orang yang berjubah itu artinya beragama. Bisa jadi orang pemakan babi lebih bermoral atau sebaliknya. Sebab Tuhan akan membagikan kepandaiannya kepada siapa, atau Tuhan akan membagikan kekayaannya kepada siapa, bergantung dari seberapa dalam usaha dari kita masing-masing.

Apabila aku ingat kembali masa tersulit dalam hidupku, memang benar hanya Tuhan satu-satunya yang kujadikan pelarian keluh kesahku. Tapi yang jelas, penegar diri kita ketika menghadapi keadaan tersulit bukan orang yang diam-diam aku cemburui kelebihannya. Bukan pula orang yang kuanggap lebih beruntung daripada aku dengan segala kehidupannya yang berkecukupan.

Dari sini aku mulai tahu bahwa memperjuangkan diri dari zona kemiskinan dan keterbelakangan itu hanya akan berhasil jika ada usaha nyata dari diri sendiri. Juga dengan pertolongan Tuhan. Aku membenarkan janji-Nya yang ini; “Allah (Tuhan) akan meninggikan derajat seseorang dengan ilmu dan iman. Tentunya yang membawa manfaat.

Selama ini sebenarnya aku tak tahu tujuan jelas hidupku sendiri. Seiring bergulirnya waktu, yang aku pikir dan ingat saat ini aku sedang berusaha mewujudkan apa yang aku impikan. Tapi, tak tau kenapa sepertinya hidupku masih jauh dari perubahan sebelumnya.

Menertawakan sendiri akan kebodohan dan kealpaan diri, seringkali aku lakukan. Dan tak jarang pula setelah itu aku jadi ingat orang-orang atau teman-temanku yang pernah menertawakan siapa diriku ini dengan remeh.

Tentunya aku ingin tetap menjadi aku. Harapanku kedepan aku tak ingin jadi orang bermuka dua. Aku bisa hidup dengan lapang dada dan memegang kebenaran sebagai semangat hidupku bukan memberatkan kesenangan sesaat yang malah serba menghancurkan.

Kenyataan yang pahit lebih manis jika diterima dengan lapang dada, seperti layaknya singkong rebus lebih nikmat daripada sebungkus roti keju dalam bayangan pikiran saja…

Dan demi kehidupanku dan kehidupan orang lain yang penuh misteri, semoga keadaan yang seperti ini tak menjadikan aku orang yang sombong andai saja keberadaan atau kecukupan dalam hidupku suatu saat nanti dapat aku raih…

– Celotehan ini hanya sekedar sebagai ungkapan jiwa saja berharap semoga dijauhkan dari penyakit jiwa atau GILA

– Met weekend yah semuanya…

Man Jadda Wajada, Semua Orang Bisa Mewujudkan Impian!

Punya tujuan, cita-cita, harapan, impian, tetapi ragu mewujudkannya sebab tidak meyakini secara penuh akan potensi yang ada pada diri kita sendiri. Nah, keraguan ini sebenarnya merupakan cerminan dari kurangnya kemampuan kita melahirkan kekuatan dari dalam diri. Keiinginan yang menggebu merupakan salah satu contoh dari kekuatan dari dalam. Untuk menjadikan impian kita saat ini menjadi nyata esok hari, satu poin yang harus kita pegang dulu yaitu, keiinginan yang menggebu mengubah mimpi menjadi KENYATAAN!

Terwujudnya sebuah mimpi, adalah sesuatu yang selalu kita asumsikan dengan happy ending, kita meyakini akan ada kepuasan di sana, ada kesenangan dan kebahagiaan yang luar biasa, dulu hanya mimpi tapi saat mimpi benar-benar terjadi seperti  apa yang kita ingini, senyuman bangga pun akan mengembang di wajah kita! Tak ubahnya kala kita lulus dari ujian sekolah, sebelum mengikuti ujian pasti kita bermimpi ingin lulus, bukan?  Telah bertemu dengan seseorang yang lama sudah kita nantikan : coba banyangkan jika anda menunggu orang bertahun-tahun lamanya, mungkin setahun, dua tahun, bahkan empat tahun yang lalu, hingga seseorang itu saat ini muncul benar di depan anda! Bagaimanakah perasaan anda? Demikianlah gambaran perasaan jika mimpi kita bisa tercapai/ terwujud. Bangga, puas, bahagia, gembira, senang dan lega…

Jangan takut bermimpi, minimal kita mesti punya mimpi untuk bisa memenuhi apa-apa yang masih kurang pada diri kita saat ini. Bermimpilah yang baik-baik, seperti mimpi bisa mengendalikan emosi, mimpi bisa menuntaskan masalah finansial (punya kerjaan yang mapan), dan membangun reputasi yang baik pada diri kita (lulus universitas, atau membangun personal branding, dsb).

Kita punya mimpi, tapi kita juga mesti ingat kekurangan dan keterbatasan kita sebagai manusia. Kelemahan kita terlihat dari dangkalnya kemampuan berpikir kita, terbatasnya energi yang kita miliki dan tentunya kita butuh pertolongan Allah.

Seperti  yang telah sering kita dengar akan kata “Man Jadda Wajada – Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”.

Tidaklah kita perlu menaruh iri dan cemburu akan keberhasilan orang lain, usah pula kita ini merendahkan diri secara berlebihan. Jika ingin maju, kita memang harus punya mimpi yang bisa diharapkan akan mengubah kehidupan kita jadi lebih baik dan bermartabat.

Sedikit uraian ini sekedar renungan, semoga memberikan pemahaman bahwa dalam hidup, selalu akan ada KEMUNGKINAN. Orang-orang yang berjiwa pesimis menganggap impian besar pada dirinya dengan istilah mustahil, tapi orang optimis menganggap impian besar itu sebagai tantangan!

Jika anda memperhatikan alam sekitar, anda akan melihat segala sesuatu tumbuh dengan tenang dan perlahan.

Matahari terbit dan tenggelam dengan tenang, Bulan muncul dan hilang dengan tenang, Bintang, pohon, dan bunga muncul dengan tenang, Lebah bekerja dengan tenang, Laba-laba membangun rumahnya dengan tenang. Dari bayi sampai besar kita tumbuh dan berkembang dengan tenang. Yang menjadi bahan perenungan di sini, kenapa Allah menciptakan semuanya itu dengan ketenangan ?

Saya pribadi menduga, semuanya diciptakan Allah dengan ketenangan tak lain sebagai CERMIN  kepada manusia (kita) agar senantiasa mau kembali pada ketenangan dan menenangkan diri. Hanya pada saat tenang saja maka pikiran dan hati kita akan menyesuaikan diri berada pada keadaan stabil. Ketika stabil sudah didapat, lalu konsentrasi pun akan timbul (otak manusia berada di gelombang teta = bagus). Rasakanlah semesta ini sebenarnya bergerak dengan ketenangan, sadari kita hanya makhluk yang sangat kecil (kemampuannya), sadari kita punya mimpi, dengan segala kemungkinan mimpi kita akan menjadi nyata sebab “Mestakung : Semesta mendukung”, jadi mimpi-mipi kita akan didukung oleh semesta alam.

Mestakung = seMESTA menduKUNG merupakan hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok  berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis.

Seperti yang telah dikatakan oleh seorang Fisikawan, Yohanes Surya. Untuk tahu lebih lengkapnya silakan klik di sini

Jika anda memperhatikan teori keadilan, maka itu terjadi benar pada kehidupan anda sehari-hari.

Pada dasarnya memberi  identik dengan menerima. Tidak ada hadiah yang diberikan kepada seseorang sebelum orang tersebut melakukan perjuangan (aksi). Anda biasa akan mendapatkan pesan dari teman, jika anda sebelumnya sering mengirim pesan kepada teman tersebut. Pengedar narkoba akan terpidana jika ia tertangkap. Renungan yang dapat kita ambil pelajarannya dari hal-hal itu, tumbuhkan keyakinan kuat bahwa suatu usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pun pasti akan mendapatkan hasil. Pahami sekali lagi antara  “Teori keadilan dan usaha yang sungguh-sungguh maka hasilnya kira-kira bagaimana…?”, gabungkanlah dan cerna makna yang ada didalamnya!

Saya yakin, siapa pun anda, jika anda berusaha sungguh-sungguh dalam hal yang anda tekuni demi mewujudkan mimpi/harapan  anda. Anda akan banyak menghabiskan energi dan waktu anda untuk berjuang melakukan apa saja yang perlu dilakukan, daripada asik melakukan hal yang lainnya.

Modal yang sama dari Allah untuk kita semua: akal, waktu 24 jam perhari, oksigen dan jantung, makanan dan usus halus, rasa kantuk sehingga anda akan tidur dan tubuh anda akan kembali bugar. Bayangkan kalau tiga hari anda tidak tidur, apa yang akan terjadi? Yang membedakan kita dengan yang lainnya hanyalah amal. Sudah diberikan modal yang sama, tergantung kita sendiri bagaimana mengolahnya…tapi tetap saja, usaha yang sungguh-sungguh akan ada hasil yang nyata. Sebab, sungguh-sungguh tidak mengenal kata menyerah dan putus asa, usaha belum terhenti sebelum apa yang jadi harapan benar terwujud. Ada tidaknya kesungguhan pada diri anda,  hanya diri anda yang bisa menumbuhkannya.

Teruslah berusaha, dan tunggulah jawaban dari Allah dengan keyakinan dan cinta yang dalam pada-Nya.

Dalam motivasi kepenulisan, kita sering mendengar kalimat ; teruslah menulis, dan biarkan tulisan itu menemukan nasibnya sendiri. Jika dalam menggapai mimpi, maka kalimat yang tepat ialah; teruslah berusaha dengan sungguh-sungguh mewujudkan mimpi dan biarkan Allah yang menentukannya.

Jangan pernah takut untuk bermimpi dan mewujudkannya, teruslah bermimpi dan wujudkan dengan usaha nyata kita. Sedikit atau banyak hasillnya, itulah karunia. Mengingat kematian kita itu misterius, mengingat kita itu sering  lupa dan suka melupakan diri, mengingat kita itu tak sanggup merebut kembali harta benda kita yang sudah lenyap, mengingat kita itu bukanlah siapa-siapa dan manusia biasa. Maka satu-satunya cara kita agar bisa menjadi manusia kuat ialah berserah diri/bertawakal kepada-Nya.

SELAMAT MERENUNGKAN DIRI – TERIMAKASIH

Tujuh Hal yang Buat Kamu Tidak Bisa Berhenti Menulis

Bagi saya pribadi, menulis itu bukan pekerjaan yang gampang. Sebelum menulis yang mesti kita punya yaitu selain ide, tentunya kita juga harus punya susunan kata untuk mengembangkan ide supaya bisa menjadi sebuah artikel atau tulisan. Kita mesti berpikir bagaimana caranya supaya ide kita menjadi lebih baik, mungkin dibutuhkan sumber lain, dan itu butuh pengurasan waktu dan energy. Banyak yang menganjurkan kita dengan kata demikian; “Menulislah terus dan terus menulis”. Pada kenyataannya, menulis dalam tulisan itu sebaiknya harus ada sense di dalamnya, bukan asal-asalan menulis. Hasil dari menulis asal-asalan pastilah kurang maksimal…

Boleh dikatakan tulisan ini sekedar curhat dari saya yang saat ini merasa demikian (tidak bisa berhenti menulis ),

Cobalah sejenak untuk memahami diri anda sendiri. Sebenarnya kenapa anda mesti menulis?

Pertama, hadirkan hasrat untuk menulis timbul benar-benar dari hati sanubari anda. Jadi nanti apa yang anda tulis, selalu akan mengalir saja. Anda nanti tidak akan merasakan takut kehabisan idea atau apa. Sebab menulis itu latihan untuk berpikir kreatif dan justru akan membuat otak lebih aktif! Menurut saya, sebuah karya itu identik dengan kreatifitas. Nah, kekreatifitasan tulisan ternyata terletak bagaimana kita mampu menyajikan ide, gagasan, atau imajinasi tertuang dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, tanpa latihan dn kesenengan untuk melakukannya, bagi orang-orang anti-menulis itu sulit.

Kedua, yakinilah bahwa tulisan itu sebuah karya, dan untuk mempunyai karya berupa tulisan yang perlu anda lakukan yaitu “Menulis”. Dibenak pikiran anda cobalah selalu pikirkan akan passion penulis-penulis yang hebat, yang mana mereka sudah punya banyak karya dengan jumlah yang banyak dan apalagi tulisan mereka itu selain menarik juga telah banyak membawa manfaat untuk pembaca.

Ketiga, dengan menjaga konsistensi menulis anda, beginilah usaha anda untuk menggali bagaimana karakter tulisan anda sendiri. Saya punya anggapan, tiap-tipa tulisan dari hasil orang yang berbeda pasti punya karakter yang berbeda. Tak ubahnya seorang penyanyi yang akan punya ciri khas yang beda dengan penyanyi yang lainnya. Tak ubahnya dengan bakso yang dijual pinggir jalan akan beda rasanya dengan bakso yang ada di restoran. Dengan tulisan anda yang terus lahir dan berlanjut (konsisten), cepat atau lambat anda akan tahu sendiri bagaimana karakteristik tulisan anda!

Keempat, menulis jadikan sebagai  satu cara yang anda tekankan untuk proyeksi tentang siapa anda. Bisa jadi anda akan menuliskan kegalauan saat anda sedang galau, atau sebaliknya saat anda galau yang anda tulis adalah sebuah semangat. Adakalanya nanti anda akan menuliskan sebuah pendapat dari apa yang lahir dibenak pikiran anda, menuliskan pengalaman yang pernah terjadi pada hidup anda, dan sudah pasti orang lain akan lebih mudah mengenal atau mengetahui siapa anda melalui tulisan-tulisan anda. Tulisan anda akan bermanfaat untuk dikenali oleh anak-cucu anda(berarti juga tulisan itu akan abadi, tidak termakan oleh waktu).

Kelima, anda tak perlu terusik dengan kalimat sebagai berikut; “Menulis untuk uang” dan “Uang untuk menulis”. Jika anda terusik dengan kalimat tersebut. Mungkin anda  punya rasa sesal untuk menulis, kalau-kalau tulisan anda belum bisa mendatangkan uang (seperti saya). Menulis untuk uang, ya! Seperti saya selama ini misalnya, saya malah belum mampu berbuat demikian, terkadang adakalanya hati saya meledek kenapa saya menulis terus tanpa menghasilkan uang kok mau-maunya? Dan jika diartikan tentang “Uang untuk menulis”, wah yang ini justru yang terjadi pada saya. Bahkan bukan hanya uang yang harus saya keluarkan untuk membeli paket internet setiap harinya, tapi juga untuk menulis saya perlu mengeluarkan energy dan waktu saya. Barangkali “gereget” untuk menulis itu terlalu, saya seringkali kurang tidur hanya berlama-lama mengetik di depan computer. Entah kenapa, saya bisa punya rasa menghargai dengan apa yang sudah saya tulis sehingga saya merasa percaya diri dengan apa yang saya tuliskan (walaupun sering menuliskan sesuatu yang sederhana adanya).

Keenam, dalam menulis usah takut dikritik, usah merasa rugi jika tulisan kita tak ada yang banyak mau membaca. Sebab yang terpenting yaitu APA TUJUAN MENULIS ANDA, sampaikanlah apa yang menjadi tujuan menulis anda dengan susunan bahasa dan tulisan sebaik-baiknya. Pernah mendengar kalimat demikian? “Menulislah dari hati maka pembaca pun akan menerimanya dari hati (tujuan menulis anda akan sampai di hati pembaca/terkesan)”.

Ketujuh, anda perlu merasakan sendiri. Dampak besar tulisan bagi anda, bagi hidup anda dan bagi kedamaian hati dan pikiran anda. Bagi saya, menulis merupakan acara efektif saya untuk mengendalikan emosi saya yang tidak terkendali, menulis sebagai obat pengerem jiwa yang gundah, tempat saya untuk meng-explorarisasi pengalaman pahit, asam, manis dan berharga dalam hidup saya. Bagi saya, menulis adalah sesuatu hal yang jika dilakukan akan membawa banyak manfaat, apabila menulisnya dengan hati. Keyakinan saya, menuliskan sebuah penderitaan maka penderitaan akan berkurang. Jika saya menuliskan kebahagiaan, maka kebahagiaan saya akan bertambah!

Semoga Bermanfaat!

Aku dan Kompasianival 2014

Detik ini, ketika jemariku tergelitik untuk ketak-ketik huruf di depan komputer. Sebenarnya alasan terbesar karena aku sedang imsomnia menghadapi acara Kompasianival 2014(acara kerennya Kompasiana). Aku yang sama sekali tidak terlibat sebagai Host, tak terlibat sebagai panitia, dan hanya terlibat sebagai pendaftar yang ikut di acara ini. Malah bingung nggak bisa tidur sendiri. Aku masih ingat tadi siang mulutku kelangopan terserang kantuk, sebab semalam hanya tidur selama lima jam saja. Sehari kemarin hanya mandengin komputer membuat empat artikel, makan satu kali, mandi satu kali dan ganti baju satu kali! Lumayan baunya ya?

Jika ada yang  bertanya kepadaku, apa yang aku rasakan sampai aku nggak bisa tidur! Aku akan menjawab, perasaanku hambar, campur bahagia, campur-bawur dan tidak tenang.

Tanpa menulis di Kompasiana, siapakah aku?

Andaikan sampai saat ini, aku belum bergabung menulis di Kompasiana, aku masih akan tetap sama menjadi aku yang dulu. Yang semangatnya biasa saja, yang pemalu, yang minderan, yang kurang dikenal dan aku bukan penulis! Keberadaan Kompasiana tanpa kusadari telah menjadi media pertamaku, belajar menulis secara otodidak. Menjadi wadah, aku punya jalinan pertemanan, yang pada mulanya hanya dari dunia maya, kini sudah banyak yang terwujud menjadi hubungan dunia maya. Dengan menulis di Kompasiana juga, aku bisa bergabung menjadi blogger dalam beberapa acara.

Tulisan-tulisan yang sudah kutulis di Kompasiana, mendarah daging menjadi semangatku untuk bangkit dari berbagai keterpurukan dalam hidupku selama ini. Aku senang, selama ini ada saja dari pembaca yang sengaja/tidak sengaja membaca tulisanku, kemudian secara langsung dan tidak langsung. Mereka mengatakan bahwa mereka tertarik dengan apa yang pernah aku tulis. Katakanlah, aku mempunyai fans.

Aku tak perlu menghitungnya, sebab aku sudah merasa bangga dengan keberhasilanku membangun sebuah branding di Kompasiana lewat karya-karya tulisanku sendiri. Dari berbagai event yang pernah aku ikuti di Jakarta selama tiga minggu terakhir, tercatat aku mengikuti acara sebanyak lebih dari sepuluh acara. Yang mana acaranya berlevel orang-orang penting dalam berbagai macam bentuk kegiatan. Bertemu dengan orang penting, aku sering memperkenalkan diriku sebagai blogger Kompasiana. Dan ternyata dari pengakuan mereka, kebanyakan mereka langsung bisa mudah mengenali saya dengan pernahnya mereka membaca-baca tulisan saya di Kompasiana!

Perjalanan satu tahunku di Kompasiana masih ada jeda waktu tiga bulan setengah lagi. Dan yang membuat aku tidak bisa tidur malam ini adalah, memori-memoriku sepanjang keikutsertaanku bergabung dengan Kompasiana benar-benar membuatku merenung.

Aku masih ingat bagaimana emosi jiwa dan perasaanku, ketika aku berhasil mempunyai akun Kompasiana dengan girang. Aku masih ingat ketika pertama kali berhasil menayangkan sebuah cerpen untuk ayahku dengan penuh tangisan. Aku masih ingat ketika aku berkali-kali membuka postinganku yang sepi pembaca, apalagi komennya. Aku masih ingat betapa pada saat itu aku sangat bahagia karena aku berhasil menuliskan artikel yang dimuat menjadi Trending Articel. Aku masih ingat, berapa kali aku melonjak dan tertawa histeris sampai jumpalitan sendiri, sebab terlalu senang tulisanku menjadi HL di Kompasiana.

Aku masih ingat ketika hatiku ingin menginspirasi diriku sendiri dan orang lain, agar (setidaknya) lebih percaya diri dan semangat, kujadikan tulisanku sebagai senjata tajam menyuarakan semangat dari jiwaku yang paling dalam. Betapa bahagianya saat diantara pembaca yang ada, mengaku bahwa ia ikut terinspirasi dengan apa yang kutulis. Minimal aku sudah membuat mereka mencoba untuk mau PD dan bahagia dengan apa yang mereka punya.

Aku masih ingat, ketika para pembaca yang memberikan komentar itu isinya lucu-lucu dan kadang ada yang kurang setuju. Bagaimana respon kaku-ku terhadap beberapa orang yang tidak suka dengan tulisanku pun aku juga masih ingat!

Aku ingat, ketika sewaktu di Hong Kong dulu, aku sangat tekun untuk menguras dan menggali inspirasi dari detik menuju ke hari berikutnya. Entah aku sedang mengosek WC atau sekedar menyingkirkan sehelai rambut pada sebuah masakan yang akan kusajikan di depan majikanku. Saat-saat aku berada dalam keadaan terkucil dan sendiri pun, berkat seringnya aku menulis di Kompasiana.Ternyata bisa menghadirkan sebuah inspirasi untuk menulis lagi!

Dari menulis kini aku berkembang menjadi aku. Hidupku berubah total karena aku senang menulis. Menulis telah menjadi sebuah jembatan, bagaimana Tuhan mendekatkanku dengan orang-orang tertentu(baik). Menulis mendorongku untuk mau berada di Jakarta dengan ketekatan yang berasal dari dalam hatiku sendiri! Sampai air mata ibuku sempat menitik, tak puas dengan keberadaanku di rumah yang hanya terhitung 10 hari(semenjak kepulanganku dari HK).

Aku dan Mbak Yuni Astuti/ Sumber: Dokpri
Aku dan Kompasianer Mbak Yuni Astuti siap mengikuti acara Kompasianival 2014/ Sumber: Dokpri

Dikamar kostku sudah ada salah satu Kompasianer perempuan, yang siangnya tadi aku menjemputnya dari Bandara Halim Perdanakusuma. Tujuan kedatangannya tidak lain demi menyaksikan acara Kompasianival. Dan yang aku senangkan, bukan karena aku mendapatkan oleh-oleh darinya. Melainkan, hubungan kita yang semakin dekat dan sudah seperti saudara sendiri. Dari inbox yang aku dapatkan dari FB, Kompasiana, dan pertemuan langsung dengan beberapa teman yang sudah janjian mau ketemu denganku diacara Kompasianival, menyadarkanku bahwa aku bukan anak yang peminder dan pemalu lagi.

Cukup didalam hatiku tersemat satu kebahagiaan, yaitu dengan mengenang kembali perjalananku belajar menulis di Kompasiana ini membuatku mempunyai banyak harapan besar untuk masa kedepannya tepatnya di malam ini yang sudah menjelang pagi dan Hari Kompasianival 2014 ada, tepatnya tanggal 22 November 2014 di Taman Mini Indonesia Indah(TMII).

I love you Kompasiana

Yakinkah Anda Tidak Bermental Tempe?

Dasar Seneng itu memang suka yang begini, ini yang kayak gini deh pokoknya! Sebelumnya, saya minta maaf dulu jika judulnya sudah menyengat. He he he, seperti lebah atau serangga saja ya? ”Yakinkah Anda Tidak Bermental Tempe?” Judul ini sebenarnya beresensi untuk sekedar berintropeksi diri saja, bukan yang lain-lain! Please enjoy your reading, don’t judge anything first…

Bermental tempe itu yang seperti apa sih? Sebaiknya baca dulu deh ulasan saya sebagai berikut, toh yang saya tuliskan merupakan hal-hal yang sangat mudah dilakukan oleh setiap orang! Saya percaya semua orang bisa mengetest dirinya sendiri dan mempraktekannya…menilainya, dan jujur pada dirinya sendiri.

1). Ujilah diri kita dengan membaca sebuah bacaan.

Dapat didapatkan dari bacaan apa saja, tetapi usahakan tulisan itu rapi dan mudah untuk dibaca agar bacaan bisa dikatakan bacaan yang berstandar. Pastikan bahasa bacaan itu berbahasa Indonesia, bahasa negara kita sendiri. Saya menduga, setiap orang yang membaca dari dalam hati kebanyakan akan membaca tulisan tersebut dengan lebih cepat daripada ketika orang membaca dengan lisan/bersuara.

Please, practice by yourself! Mulailah dari Anda membaca dari dalam hati terlebih dahulu, kemudian lanjutkan bacaan dengan mengucapkannya! Pahamilah suara Anda sendiri baik-baik. Perhatikan apakah nada dari suara Anda dapat dikatakan stabil? Atau suara Anda naik-turun tidak beraturan! Dan bagaimanakah kecepatan dan ketepatan Anda dalam membaca secara lisan itu? Cepat dan benar atau cepat tetapi terkadang membaca dengan salah-salah?

Ternyata seseorang dapat di ketahui tingkat kedewasaan dan kepercayaan dirinya dari hal yang sangat kecil ini, yaitu membaca dengan lisan. Memang membaca dengan lisan itu jika dilakukan oleh orang-orang dewasa akan terkesan aneh dan sesuatau yang kurang banyak disukai. Tetapi, seandainya orang dewasa melakukannya, dapat dipastikan tidak semua orang bisa membaca dengan nada suara yang sama/ kestabilan nada suara seseorang membaca dengan lisan itu berbeda-beda. Dan kecepatan dan ketepatan seseorang membaca itu bergantung pada emosi dan mentalnya masing-masing orang.

Kok bisa ya? Jawabannya iya banget, karena saya sendiri sudah merasakannya. Satu hal kecil yang tidak pernah saya mengerti, dan sadari. Suatu hari ketika saya ingin berusaha lebih fokus dan menangkap isi bacaan dengan cepat, saya mencoba untuk membaca apa yang sedang saya baca/ sebut saja koran dengan melisankannya. Membaca dari dalam hati memang relatif cepat, tetapi jika pikiran tidak konsentrasi penuh bisa-bisa membaca sambil lalu saja jadinya! Akhirnya, mengulangi lagi apa yang sudah dibaca. Lagi dan lagi.

Begitu membaca dengan lisan, saya ternyata tidak dapat membohongi bahwa saya sedang GALAU, saya sedang tidak percaya diri, saya sedang cemas dan sulit berkonsentrasi. Tidak heran jika suara yang terdengar ditelinga saya itu nada suaranya naik turun, suaranya keluar tidak tegas, dan berkali-kali salah dalam mengeja. Pikiran saya kemudian teringatkan oleh orang-orang yang jadi pembawa berita di TV. Wuihh…saya dengan pembawa berita di TV beda jauhhh Ke-Pedeannya, pasti ada yang tidak beres nih dengan mentalku!

Saat seseorang membaca, baik dengan membaca dalam hati atau lisan, disadari atau tidak seseorang itu tidak bisa lepas dari emosi jiwanya. Antara senang, sedih dan percaya diri!

2). Ujilah diri kita dengan menulis tangan di atas kertas.

Grafologi/ Sumber: http://hikaristudio.wordpress.com/
Grafologi/ Sumber: http://hikaristudio.wordpress.com/

Tulisan tangan. Melalui tulisan, kita bisa tahu apakah orang tersebut sedang dalam kondisi mood swing, gelisah, pesimis, dan sebagainya. Untuk mengetahui lebih banyak tentang hubungan tulisan tangan dengan kepribadian/ emosi/mental seseorang, silahkan dibaca dari sumber berikut. Sumber: http://mediajoko.blogspot.com/2013/12/membaca-kepribadian-melalui-tulisan.html

Saya sendiri suka ngiri dengan orang-orang yang menulis dengan tulisan rapi, mudah dibaca dan bagus. Eh tapi, btw dokter sama wartawan tulisannya seperti cekeran ayam ya? He he h e…Intinya, seseorang yang pesimis, tidak bahagia, dan galau tulisannya akan kurang bagus dibandingkan dengan orang yang bermental sehat!

3). Ujilah keberanian kita berbicara di depan umum/banyak orang.

Kalau yang satu ini, ampun deh. Saya berani ngomong di depan bayak orang mesti lihat-lihat siapa dulu orang yang akan saya hadapi. Kalau sama teman sebaya mungkin baik-baik saja. Tetapi, di forum resmi? Bagaimana bertanya atau menyampaikan pendapat apabila mental tidak ada? Belum ngomong apa-apa sudah mental kan?

4). Mempublikasikan artikel/tulisan untuk umum.

Terlepas apa isi dari tema yang dituliskan, yang jelas seseorang penulis(yang mempublikasikan tulisannya) akan mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang dituliskannya. Butuh mental kan?

Oh ya, sebagai tambahan. Menulis itu bisa dijadikan alternatif melatih otak kita supaya aktif fokus dan berkonsentrasi dengan baik lho. Sebelum menulis, sudah tentu seseorang akan membuat ide dan kemudian mengembangkan idenya tersebut dengan berimajinasi. Tentang bagaimana tulisan yang ingin dirangkaikannya. Dengan menulis(di media apa saja, yang penting menjadi sebuah tulisan minimal artikel) seseorang akan mempunyai kerangka pikiran yang runtut. Jika sudah begitu, terhindarlah orang itu dari yang namanya ”Kemrungsung” atau suka tergesa-gesa dalam mengambil tindakan/memecahkan masalah!

Secara jujur, mental saya ternyata masih sangat perlu diasah untuk diperbaiki, bagaimana dengan mental Anda?

Sulap Bad Mood Jadi Good Mood!

14126126241642347607
Bad mood / Dok. Gilang Rahmawati Kampret

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya otak kita merupakan bagian organ tubuh yang sangat luar biasa. Selain fungsinya yang hebat, otak mampu bekerja tak kenal lelah sepanjang waktu. Dengan syarat tubuh kita rutin diberi asupan gizi dan cukup tidur. Otak bisa tidak berfungsi apabila tengkorak otak rusak, bisa juga karena jaringan otak rusak disebabkan karena alkohol, atau obat-obatan terlarang. Otak bisa mengalami kelelahan apabila kita tidak mengontrol pikiran kita sendiri, seperti stress dan depresi.

Pada saat tertentu, dalam kesehariannya kita tak jarang dihadapkan dengan sesuatu yang menimbulkan pikiran kita sedih, galau atau murung sehingga hati kita menjadi bad mood. Dan kalau sudah bad mood, rasanya memang seperti tak mau melakukan apa-apa lagi ya? Orang yang menghargai dan memperhitungkan waktu, biasanya mereka akan merasa sangat rugi sekali jika dia sedang ditimpa bad mood. Pengennya cepet-cepet segera bisa move on dari rasa bad mood-nya.

Pengalaman buruk pribadi dan suasana lingkungan luar yang mendadak berubah memburuk itu sangat mudah mempengaruhi pikiran untuk menjadi tidak aktif. Mata kita itu melek, tetapi jika otak tidak bekerja sebagaimana mestinya seperti saat kita semangat, selalu saja otak kita rasanya ingin bermalas-malasan dan seolah sedang tidur pulas.

Mengalami bad mood itu merupakan hal yang biasa, dan hampir setiap orang juga pasti mengalaminya. Rasanya tidak nyaman jika kita sedang diliputi rasa bad mood. Orang-orang yang termasuk doer, mungkin masih bisa mempertahankan melakukan pekerjaannya ketika bad mood sedang melanda. Akan tetapi, bagi orang yang typenya feeler, bisa dipastikan mereka memilih untuk diam dan tidak melakukan apa-apa.

So wrong, jika dalam keadaan bad mood kita tak mau melakukan apa-apa. Mana kedisiplinannya? Tunjukan dong!

Salah satu sikap yang dimiliki oleh orang sukses ialah mereka berhasil menanamkan kedisiplinan didalam dirinya sendiri. Mereka bisa mengatasi segala apa yang menjadi rintangannya, dan apabila hambatan datang menerpa mereka semakin gigih untuk bekerja bukan memilih untuk menyerah dan diam.

Sulap bad mood jadi good mood:

* Mula-mula pahami pikiran sendiri, ketahui apa penyebab rasa bad mood itu ada.

Kalau bad moodku hari ini sumber masalahnya ialah aku nggak bangun awal untuk menulis di Kompasiana. Bukan aku lupa setting alarm, cuman sudah bangun dan kebablasan tidur lagi. Akhirnya fatal deh nggak ada waktu buat menulis. Kemudian saat ada waktu, aku mencoba menulis apa yang ada diotakku. Jadinya kurang baik, rasanya geram sendiri aku pengen marah. Sudah menulis kemudian unpublish lagi! Yaelah. Capek dech.

* Kalau pikiran masih tetap sepaneng dan seperti tak ada solusi untuk menjadi lebih baik, cobalah untuk keluar rumah.

Barangkali cuma sejenak ya, yang penting sudah bisa mendapatkan pemandangan baru. Dengan berada di luar rumah maka mata kita akan memandangi banyak sesuatu yang dapat menyelimurkan pikiran kita dari sumber yang membuat kita geram dan menimbulkan bad mood. Seperti aku tadi, sehabis nulis dan gagal, aku pergi ke pasar. Jalannya pun bukan sekedar jalan lho. Tetapi jalan juga sambil berdo’a. Mencoba untuk mendapatkan ketenangan batin, selain memperhatikan orang-orang yang berjalan dengan semangat itu! Melihat orang lain berjalan semangat, aku pun tanpa disadari jadi ikut semangat.

* Dapatkan satu kejutan untuk diri sendiri dengan meledek diri sendiri!

Entah nggak tau tadi sewaktu aku masih geram-geramnya pada diriku sendiri, tiba-tiba hatiku meledek begini, jangan jadi orang jarkoni! Aku teringat jarkoni itu singkatan dari ”bisa ngajar tetapi tidak bisa nglakoni(melakukan)!” Dalam hatiku tersentak. dan segera ingin bangkit lagi. Bagaimana pun alasannya, aku harus segera mengubah bad mood ku ini menjadi good mood. Aku tidak mau dikuasai oleh emosi negatifku sendiri. Begitulah kata-kataku dalam hati.

* Ketika motivasi bangkit sudah muncul, gerakkan tubuh untuk bekerja seperti biasa.

Motivasi terbesar itu adalah dari diri sendiri. Jadi usahakan kita selalu bisa memotivasi diri kita sendiri. Seolah dapat digambarkan besar pengaruh motivasi dari diri sendiri itu sebesar 99%, sedangkan dari orang lain hanya 1%. Tanpa kekuatan batin, maka sulit untuk mengembalikan semangat dari jiwa kita setelah kita mengalami suasana hati yang kurang menyenangkan. Dan dengan menggerakkan tubuh untuk bekerja, maka otak kita akan ikut aktif lagi. Energi yang kita keluarkan pelan-pelan akan mampu menghapus rasa malas, dan lesu yang ada pada pikiran dan hati kita. Bisa ditambah dengan hal-hal menarik lainnya seperti mendengarkan musik kesukaan kita atau makan makanan yang dapat membuat semangat kita hadir kembali.

Dan begitulah sekiranya diri kita ini layak disebut sebagai guru yang bijak terhadap diri kita sendiri. Tetap semangat yuuuk…! 🙂

Menulis Itu Mudah… (Semangat untuk Penulis Pemula)

14129473522065880733
http://www.louiciano.wordpress.com

Kebiasaanku menulis di Kompasiana selama ini yang kurang lebih berjalan tujuh bulan, telah menjadikanku kecanduan untuk terus menulis. Bukan kujadikan sebagai hobi lagi tetapi menjadi suatu kebutuhan primer yang tak berbeda dengan bernafas dan hidup. Menulis kini menjadi semangatku sehari-hari. Dan apabila keadaan buruk menghalangi aktifitas menulisku, maka pada hari itulah aku tidak bersemangat.

Aku pikir menulis itu merupakan bagian dari berkarya, dimana dari tulisanku lah wujud dari kreatifitasku yang sanggup aku ciptakan. Bergulirnya hari dengan diiringi sebuah tulisan baru seolah hariku menjadi terasa lebih hidup. Yang kutulis sangat beragam, ada harapan, ada luapan kata hati, ada lukisan kebimbangan, dan pengalaman serta aneka warna tulisan lainnya.

Banyak dari orang yang belum pernah berpengalaman dalam kepenulisan, selalu menganggap bahwa menulis itu tidak mudah. Banyak yang mengira bahwa, menulis itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berbakat menulis atau orang-orang yang hebat saja. Apalagi orang-orang yang berlatar belakang menekuni pelajaran sastra atau jurnalisme.

Sebenarnya sama juga sih aku dulu pernah berpikiran seperti itu. Khususnya ketika aku pertama kali menulis di Kompasiana. Akan tetapi, saat ini sama sekali aku tidak lagi mempuyai pikiran seperti itu. Melainkan aku mempunyai keyakinan bahwa SEMUA ORANG DENGAN LATAR BELAKANG APAPUN PASTI BISA MENULIS, BAHKAN MENJADI PENULIS YANG HEBAT!

Kenapa?

Karena aku sudah membuktikannya! Terlepas seberapa hebat jadinya nanti tergantung dari kepuasan hati nurani kita sendiri ya. Secara pribadi aku hanya merasa puas dengan apa yang pernah kutulis bukan hebat! Kalau hebat itu relatif.

Menulis itu mudah…Siapa pun kita pasti bisa kok menjadi penulis, yang pasti juga butuh proses ya nggak bisa langsung jadi seperti sulap jika kita tidak mengusahakan tulisan kita terwujud ada dan nyata. Ikuti yuuuk apa saja yang akan kubagi-bagikan kali ini:

1).  Menulislah sesuatu apa saja yang mendominasi hatimu.

Boleh berwujud puisi, cerpen, catatan harian, atau reportase. Bebas! Ayo otak-atik sendiri kata hatimu, apakah kamu penggila bola, politik atau fiksi.Jika sudah kamu temukan satu hal yang dominan itu, maka cobalah menulisnya. Jangan pernah menganggap tulisan kita sendiri itu kurang bermutu, tetapi usahakan unek-unek yang ada dihati bisa keluar semua. Eksplore semua apa yang ingin dikatakan dari hati sesuai tema yang telah kamu pilih.

2). Ciptakan ide untuk judul dan kerangka tulisan agar menarik.

Sesederhana tema dari sebuah tulisan, akan tetapi jika kita mau menyajikannya dengan buah pikiran super maksimal, maka yang akan terjadi adalah tulisan-tulisan kita akan berubah menjadi tulisan ajaib. Tulisan yang akan memberi kejutan-kejutan terindah kepada kita. Menarik di sini, ada hubungan yang pas antara judul dan isi. Judul yang menarik, biasanya diminati oleh pembaca, ditambah lagi dengan isi yang bagus maka pembaca akan  percaya dengan apa yang kita tulis.

3). Ikuti tema tulisan dengan apa yang sedang kamu pikirkan.

Tidak peduli jika saja di HK sedang ada protes, atau di Indonesia sedang ada kasus teraktual. Apabila kamu tidak mengerti berita keduanya, maka jangan sekali-sekali menulis tentang berita tersebut sekalipun itu teraktual. Tulislah apa yang sedang ada di benak hati dan pikiranmu sendiri. Lalu, tekankan pesan apa yang dapat diberikan dari tulisan yang ingin kamu tulis, apakah nantinya akan menginspirasi, menarik, atau memberi manfaat kepada pembaca. Minimal ketahui dengan jelas apa tujuan kamu menulis itu.

4). Semakin banyak kali kamu menulis, semakin banyak pengalaman yang akan kamu dapatkan dari tulis-menulis.

Berani menulis, apalagi mempublikasikan kepada publik merupakan hal yang luar biasa. Bagaimana tidak, dengan mempublikasi maka pembaca akan mudah memberikan komentar yang isinya bisa sebuah masukan, kritikan, tanggapan, atau hal yang bermanfaat lainnya. Jangan takut mendapat komentar negatif karena yang memberikan komentar negatif itu lebih baik daripada yang tidak mau memberikan komentar sama sekali.

5). Menulis itu mudah….

Akan benar-benar kamu rasakan jika keempat itu benar-benar kamu coba. Jangan tunggu lama-lama lagi, jangan mau kehabisan waktu dan kesempatan karena kamu tidak akan pernah tahu bahwa kamu penulis yang handal atau bukan jika tulisan nyatamu belum kamu wujudkan.

Belum ada tulisan bukan berarti belum ada ide, bukan berarti belum ada kesempatan menulis, bukan berarti belum siap, bukan berarti tidak berbakat, bukan berarti tidak sanggup menulis, bukan berarti tidak bisa tetapi karena pada dirimu masih membatasi dirimu sendiri untuk belum mau menulis. Barangkali kamu masih setengah hati ya?

Sekarang silahkan mencoba untuk berani menulis. OK!

Bibir-bibir Orang Hong Kong!

14131899122090630664
Ilustrasi Hong Kong/Kompasiana (KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES)

Ada apa dengan bibir-bibir orang Hong Kong ya? Seperti tujuan awalku dulu untuk datang ke Hong Kong, selain bekerja adalah untuk mengetahui langsung lifestyle-nya orang Hong Kong. Sebagai catatan khusus di otakku, aku mau menulisnya sekaligus aku publis di Kompasiana ini. Tanpa terasa keberadaanku di Hong Kong, tinggal menghitung hari. Aku akan segera kembali ke Indonesia untuk selamanya. Harapan besarku saat ini dan nanti, aku sudah tidak mau bekerja menjadi TKW.

Menikmati detik-detik terakhir di Hong Kong, rasanya ada yang kurang jika aku belum menyimpulkan apa yang kudapat dari pencarian apa saja yang aku cari, terutama pengamatan langsungku tentang orang-orang Hong Kong.

Bukan berarti aku sensi dengan orang Hong Kong, tetapi aku ingin mengambil banyak pelajaran dari orang-orang Hong Kong. Pertanyaan besarku dalam hati ialah ”Kenapa orang Hong Kong hidupnya lebih maju daripada kehidupan sebagian besar orang Indonesia?

Pada judul tertuliskan ada kata ”Bibir-bibir”. Kenapa aku memilih kata itu? Alasan utamanya karena dari pengamatanku, bermula dari bibir-bibir orang Hong Kong lah aku berusaha untuk berpikir semaksimal mungkin menyikapi rahasia yang tersembunyi dari apa yang ku cari! Kuamati, bibir-bibir orang Hong Kong itu suaranya mahal jika ditempat umum. Seperti biasanya, mereka akan melakukan apa yang perlu mereka lakukan tanpa banyak bicara. You are you and me is me. Itulah orang Hong Kong!

Dari bibirnya orang Hong Kong yang tidak suka ngomong jika tidak perlu ngomong itu, sebagian besar mereka apabila sedang berjalan selalu dengan langkah percaya diri, tegap dan cepat. Aku jadi mikir, pastinya mereka begitu karena mereka berjalan dengan tujuan yang jelas ya. Oh ya, aku juga yakin kalau 80% orang-orang Hong Kong bekerja dalam bidang jasa. Aku perhatikan, di Hong Kong hampir semua lahannya dijadikan perkotaan. Ada pertanian hanya di tempat-tempat tertentu dan tidak banyak. Barang-barang kebutuhan pokok seperti makanan itu banyak didatangkan dari impor negara lain.

Kalau 80% penduduknya bekerja dibidang jasa, maka tidak heran jika pendidikan di Hong Kong sangat berperan penting mengiringi kelajuan pertambahan penduduk di negaranya tersebut. Sebutan Hong Kong sebagai negara metropolis itu berhasil disandangnya, tak lepas dari sudah banyaknya brand-brand internasional yang dipasarkan di Hong Kong. Brand yang aku maksud di sini yaitu seperti jam tangan Rolex, baju Levi’s, atau brands internasioanal lainnya.

Bayangkan ya, kalau bukan karena kekayaan Sumber Daya Manusianya (SDM), maka orang-orang Hong Kong tidak akan bisa bertahan hidup lama di Hong Kong dengan wilayahnya yang jauh berbeda dengan keadaan di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia orang yang hidup pas-pasan akan bisa hidup sekalipun pendidikan kurang, atau keadaan ekonominya kurang. Air di Indonesia masih melimpah, rumah-rumah di Indonesia kebanyakan adalah rumah banglo(rumah yang berdiri sendiri, bukan apartemen atau rumah susun), barang-barang kebutuhan makanan  yang paling pokok beras. Sayurnya sebagian dari penduduk Indonesia masih bisa didapat dari bercocok tanam sendiri).

Yang unik di Hong Kong. Tadi sudah aku katakan bahwa, orang Hong Kong suaranya mahal. Tetapi, kenapa mereka banyak yang taat terhadap hukum yang berlaku di negaranya? Kenapa mereka sadar diri mau bekerja keras, mereka mau menuntut ilmu tinggi-tinggi demi masa depannya sendiri? Tanpa mempedulikan latar belakang yang mereka punya, mereka gemar belajar tentang sesuatu! Mereka banyak yang mempunyai semangat hidup yang membara? Mereka tampak mempercayai dirinya sendiri tanpa ada banyak motivator seperti di Indonesia yang jumlah motivatornya sudah semakin banyak!

Bibir-bibir orang Hong Kong akan bersuara lirih jika mereka berbicara di tempat umum, kecuali beberapa orang yang mempunyai keterbatasan atau watak bersuara keras. Jika ada itu tak membuat gaduh seperti tempat-tempat umum di Indonesia. Baik di pasar, mall, Rumah Sakit, pom bensin, atau tempat umum lainnya. Mereka akan berbicara hanya dengan pasangannya, keluarganya atau orang yang dikenal. (Ha ha ha masak mau ngomong sendiri ya, kalau nggak ada teman yang dikenalnya sama sekali di tempat umum?)

Kembali bertanya lagi! Mengapa orang-orang Hong Kong yang kebanyakan diantara mereka suka berdiam diri ketika kita menjumpai mereka di tempat umum tetapi sebagian besar mereka mampu berkompetensi dengan orang lain? Jawabannya hanya satu. Yaitu ideologi. Maaf butuh buka Google dulu nih!

Google sudah dibuka, tetapi aku akan menjelaskan dengan bahasaku sendiri, aku pikir bahasaku lebih dapat kupahami. Ideologi itu suatu pemikiran yang sama dari sekumpulan pemikiran orang pada suatu wilayah tertentu. Ideologi dikaitkan dengan lifestyle. Setahuku, lifestyle adalah pola hidup. Kembali buka Google biar mantap apa itu artinya!

Lifestyle Lifestyle (sociology), the way a person lives. (Sumber:http://en.wikipedia.org/wiki/Lifestyle) Melalui pengamatan mata telanjang, orang-orang Hong Kong mengajari anaknya sedari kecil untuk mau mencintai apa yang namanya learning/belajar. Menanamkan rasa tanggung jawab dan mandiri, juga meracuni anak-anaknya untuk bisa mempercayai dirinya sendiri, berdisiplin. Yang unik di Hong Kong, orang Hong Kong menyukai minuman soup! Bentuk aneka biji-bijian kering dijual untuk dibuat minum. Mereka mempunyai kepercayaan jika sering minum soup khas negaranya itu, maka mereka akan sehat dan awet muda. Sebagian besar mereka juga tidak suka menganggu kehidupan orang lain. Mereka hidup individualis tetapi sehat.

Menyinggung fasilitas umum di Hong Kong yang sudah maju dan ada itu semua tak lepas dari peran penting pemerintah. Pemerintah yang minim korupsi. Dan pastinya juga tak lepas dari ketidak tertinggalannya terhadap negara yang lebih maju lainnya. Aku pikir, Hong Kong dan Singapore itu hampir sama majunya. Sudah pasti berbeda tetapi hampir sama.

Pikiranku kemudian melejit memikirkan hubungan agama yang dianut mayoritas Hong Kong dibandingkan Indonesia. Jawaban jelas negara Indonesia menganut agama muslim dan Hong Kong mayoritasnya non-muslim. OK! Lupakan agama agar tidak menimbulkan perdebatan, tetapi mari kita singgung spiritualnya saja ya! Yang aku tahu, spiritual itu bukan hanya bentukan dari kita menganut suatu agama tertentu atau tidak sama sekali. Melainkan spiritual itu terbentuk dari motivasi seseorang, harapan hati seseorang, cita-cita seseorang dan ketertarikan seseorang terhadap sesuatu!

Letak pembeda dasar yang paling utama kenapa orang Hong Kong dan Indonesia jauh berbeda terletak pada spiritualnya! Kembali ke hati nurani masing-masing, tanyakan kepada hati kita sudah mempunyai semangat hidupkah kita? Sudah mempunyai tujuan hidupkah kita ini? Sudah bergerak untuk menggapai apa yang kita cita-citakankah kita ini?

Ingat aset penting dari seseorang itu bukan pada seberapa tingginya pendidikan yang mampu ia raih, bukan dari seberapa banyaknya materi yang mampu ia punyai dan dapatkan, bukan seberapa cantik atau tampan wajah dan penampilan seseorang, bukan tentang sempurna atau tidak sempurnanya kehidupan yang ia miliki melainkan dari seberapa besar ia menghargai dirinya sendiri, karena hanya dari dirinya sendiri kemenangan dan masa depan yang cerah seseorang akan terwujud tak lepas dari tangannya sendiri!

14131874942044629253
Pengamatan langsungku terhadap orang-orang Hong Kong. Salam Kompasiana!/ dokpri

Terimakasih bibir-bibir orang Hong Kong sudah memberikanku banyak inspirasi!

3 Fase Kehancuran Hidup Wanita!

1413270413506181262
Banyak alasan wanita kesulitan mempertahankan keperawanannya/ http://www.sumutpos.co

Aku terlahir sebagai seorang wanita, dan kini aku berhasil merenungkan kehidupan wanita sejauh kemampuan berpikirku sendiri. Jika aku perhatikan, seseorang yang terlahir sebagai wanita itu semestinya merasa bahagia dan berterimakasih banyak kepada Tuhan. Wanita diciptakan dengan kelebihan-kelebihannya tersendiri.

Simbol ”Keindahan” itu wanita, karena diantara laki-laki dan perempuan, hanya wanita yang cocok berambut panjang, memakai rok, bersandal jinjit, ber-make up, dan memakai asesoris. Suara wanita biasanya lebih halus daripada laki-laki, gemulai gerak-gerik dari wanita juga lebih lembut daripada laki-laki.
Salah satu kelebihan wanita yang luar biasa ialah kemampuannya membuahi hasil hubungan seksual atau unseksual/ kloning didalam rahimnya. Dan ini berlaku untuk hewan yang berjenis kelamin betina juga. Entah mengapa begitu ya? Bukti keadilan Tuhan kah terhadap makhluknya yang berjenis kelamin perempuan atau betina? Bisa jadi!
Di Indonesia sendiri, wanita menjadi maju tak lepas dari usaha RA. Kartini yang pernah memperjuangkan emansipasi kaumnya. Beruntung sekali dulu ada beliau. Jika tidak ada, barangkali Indonesia saat ini masih primitif. Dan mungkin hanya kaum laki-laki saja yang boleh merdeka dengan dunianya.
Dari judul diatas, aku sengaja membagi tiga fase kenapa seorang wanita bisa dikatakan hancur dalam hidupnya, diantaranya sebagai berikut!

1). Wanita yang kehilangan keperawanannya sebelum menikah!

Keperawanan memang tidak terlihat hanya saja dapat dirasakan oleh setiap orang yang berstatus sebagai wanita. Seseorang wanita yang belum menikah tetapi pernah melakukan hubungan seksual mereka akan mengalami yang namanya gangguan psikologis. Mendapati rasa kurang nyaman didalam jiwanya sendiri. Sekalipun senyum masih dapat ditemui dari lukisan wajahnya, akan tetapi tidak bisa dibohongi kalau wanita itu akan merasa kehilangan kesuciannya. Akan merasa murung terhadap dirinya, sedangkan keperawanan yang hilang sudah pasti tidak dapat dikembalikan lagi dengan cara apa pun.

Dampak yang diakibatkan perilaku seksual pranikah yaitu diantaranya berdampak pada psikologis. Salah satu dampak psikologis yang dialami yaitu kecemasan! Dampak psikologisnya yaitu menyesal, merasa bersalah dan berdosa, cemas akan terjadinya kehamilan, cemas akan terkena aids dan penyakit menular seksual lainnya, cemas ditinggalkan pasangan, cemas akan jodoh, cemas akan penghargaan buruk dari suami kelak jika menikah, cemas dilaporkan pada orang tua, cemas jika sendirian, depresi, mudah curiga pada pasangan, sensitif dan mudah marah pada pasangan , tidak bebas dalam mengungkapkan perasaan kesal dan marah, prihatin akan keadaaan pasangan , sering menangis, pesimis, malas, berpikir akan mati, senang karena bisa memberikan kepuasan pada pasangan. (Sumber)

2). Wanita yang krisis mendidik anak dan hanya menjadi robot oleh suaminya!

Kenapa demikian, dan apakah ada seperti itu? Jawabannya ada, bahkan banyak. Kebanyakan wanita mengalami krisis mendidik anak-anakya dikarenakan ia gagal sebagai ibu rumah tangga. Banyak alasan yang mengakibatkan kegagalan menjadi seorang ibu rumah tangga, diantaranya karena belum siapnya mental yang dimilikinya menjadi seorang ibu. Ini dapat terlihat nyata, diantara ibu-ibu yang mengurus anaknya masih melibatkan bantuan dari orang tuanya. Kurang mampunya memberikan kebutuhan dasar pada anak-anaknya disebabkan oleh keterbatasan ekonomi.

Menjadi robot oleh suaminya? Diantara ibu rumah tangga, masih ada yang hidup dibawah kekuasaan suaminya. Barangkali karena status suami yang lebih tinggi dari pada istrinya, mungkin si istri tidak bekerja dan mengandalkan biaya hidup dari suaminya. Memang dasar yang benar seperti itu, dimana laki-laki berkewajiban mencukupi kebutuhan didalam keluarganya. Akan tetapi, banyak fakta membuktikan istri pengangguran merasa kurang puas jika dipandang suami kurang produktif menghabiskan waktu hanya menganggur selain mengurus anak. Buktinya, masih tingginya wanita kita yang bekerja di luar negeri.

Saran, sebagai wanita harus bisa menjadi super mother dalam keadaan apa pun. Jika seandainya suami tidak mau menafkahi kebutuhan hidup, tekad dalam hati jangan sampai lemah untuk berusaha memenuhi kebutuhan anak-anak, entah bagaimana pun caranya. Setelah menikah, semua orang tidak tahu apa yang akan terjadi lika-liku hidup selanjutnya, tetapi kita hanya akan bisa meresponnya.

3). Wanita, akan merasa tidak bisa bahagia ketika sampai usia senjanya belum bisa bahagia.

Sebagai wanita yang berusia senja, emosi yang dominan akan didapat dari kebiasaan emosi dari masa lalunya sendiri. Wanita-wanita yang pada masa mudanya, atau masa pertengahan usianya suka marah-marah atau tipe orang pemarah. Maka di usia akhir hidupnya juga akan suka marah. Kalau sudah begini, siapa yang repot sendiri sih?

1413270550566061531Agar di usia senja sebagai wanita tidak mendapati penyesalan dalam hidupnya, hendaknya wanita harus mau menambah wawasan untuk dirinya, mau belajar tentang segala sesuatu, dan mau menjadi wanita yang berdikari! (www.cobs.web.id)