Pengalaman Sewaktu suka Tidur 2-3 jam Saja Perhari

Dalam kesehariannya selain hari Minggu, saya biasa mulai bekerja pada pukul 06:30 pagi dan selesai bekerja pukul 22:00 malam.Saya biasa akan mulai mencari ide dan menulis apabila anak-anak asuh saya sudah tidur lelap sekitar satu sampai satu setengah jam kemudian. Sebetulnya di kala begadang, saya tidak hanya menulis tetapi terkadang hanya sekedar membaca.Baik dari buku atau media online .

Bagaimana ya, sepertinya konyol jika sehari hanya tidur selama dua atau tiga jam saja.Akan tetapi karena saya mempunyai sikap senang dengan apa yang saya lakukan, maka saya tidak pernah mengeluh jika mata saya terkadang mengantuk,menguap beberapa kali, ada warna hitam di lingkar mata saya, rasa nyeri pada otot, badan terasa lelah dan tak berdaya, juga kecepatan berpikir saya menjadi berkurang.

Suasana yang sangat saya nikmati adalah malam hari. Selain tenang, pada malam hari tepat untuk memanjatkan apa yang jadi harapan dihati dan berdo’a.Mengingat hidup di zaman sekarang itu susah bagi kalangan hidup seperti saya yang bekerja bermodalkan tenaga.Semalam ketika membuka artikel yang saya cari dari Google tentang ”Begadang dan Dampak Negatifnya” saya terkejut sekali melihat dampak dari kurang tidur ada yang mengatakan bisa terserang Penyakit Gagal  Jantung, Diabetes, Hipertensi, Maag, Stroke dan bahkan meningkatkan resiko kematian.

Setelah mengetahui berita ini, saya tidak tau apakah mulai nanti malam saya akan tidur lebih awal dan akan mengubah kebiasaan buruk saya untuk mau hidup dengan pola yang sehat. Atau masih tetap mempertahankan kebandelan saya begadang tiap malam. Bagaimana pun juga selama ini saya merasa keadaan tubuh saya sehat.Syukur, Alhamdulillah. Mungkin saya punya cara sendiri untuk beradaptasi dengan waktu ketika kantuk mendatangi saya dengan cara yang saya sendiri tidak menyadarinya. Diantaranya adalah sebagai berikut;

1). Saya suka banyak minum air putih

2). Saya menghindari berpikir keras apapun itu masalahnya

3). Sekalipun terkadang kurang nafsu makan tetapi saya rajin makan buah dan sayur

4). Merefleksikan tubuh setiap kali rasa lelah mengganggu

5). Mendengarkan musik dua atau tiga kali

6). Menjejal mata dengan kata-kata positif atau motivasi

7). Menyanyi saat suasana memungkinkan

8). Mengerjakan pekerjaan dengan sepenuh hati

9). Menyelangi waktu, dua hari begadang satu hari tidur agak awal

10). Sadar bahwa didalam diri belum bisa memberikan arti apa-apa baik kepada diri sendiri atau orang lain

Nah, barangkali yang ke-10 itu yang paling mendasarinya. Sampai terkadang saya lupa akan linu di sendi dan pusing di bagian kepala .

Kesertaanku dalam Kopdar Akbar Sejuta Guru Ngeblog

woowww kerennya, jumlah peserta lebih dari 400 orang :D
woowww kerennya, jumlah peserta lebih dari 400 orang 😀

Sempat hadir, saya di suatu acara yang sangat luar biasa, tepatnya hari Minggu, 15 Maret di Gedung Indosat. Sebuah acara Kopdar Akbar Guru Ngeblog bareng Indosat. Sebelumnya saya tahu bahwa acara ini juga tak jauh dari kecimpungya Om Wijaya Kusuma sebagai pelopor gurunya Bloger dan penyelenggara acara tersebut.

Mbak Meti dan Mas Ivan
Mbak Meti dan Mas Ivan

MC acara dipandu oleh Mbak Meti dan mas Ivan. Dalam sambutannya, Om Jay (sapaan keren Om Wijaya Kususma) mengatakan bahwa kegiatan acara seperti ini diadakan sangat penting sekali, selain untuk bloger acara ini juga  difokuskan untuk menyemangati para guru Indonesia. Mengingat saat ini masih banyak konten-konten yang belum ditulis oleh guru dalam dunia kependidikan. Salah satu masalahnya adalah masih adanya guru yang kurang melek akan dunia internet. Dan keberadaan Komunitas yang didirikan Om Jay tak lain yaitu untuk memberikan informasi  yang dibutuhkan oleh guru untuk meningkatkan ilmu TIK dan kepenulisan. Menurut Om Jay, menulis blog itu dari guru sangatlah penting apalagi untuk menuliskan informasi yang disukai anak-anak dan mereka bisa senang di dunia maya.

Mbak Ghina Aliya
Mbak Ghina AliyaDSC_6958Mbak Ghina Aliya sebagai perwakilan Indosat mampu menyegarkan acara yang mulai berlangsung. Berbagi Nggak pernah rugi, itu kata-kata Mbak Ghina yang saya ingat! Mbak Ghina sempat menjelaskan sedikit banyak tentang ICITY Indosat. Dimana ICITY merupakan salah satu program yang ada Dari Indosat, yang mana telah ada juga komunitas sesuai dengan kategori di bidangnya. Misal, untuk penyuka fotografi dan bakckpakperan bisa bergabung di komunitas ini.

Om Dedi Dwitagama, namanya. Nama yang baru saya dengar dan baru saya tahu kalau sebenarnya Om ini punya kemampuan dari ngeblognya yang luar biasa. Beliau menyemangati para tamu yang hadir dengan jumlah kurang lebih empat ratusan dengan beberapa hal berikut dari kemanfaatannya kenapa sih kita itu mesti ngeblog; dengan ngeblog otomatis kita jadi seorang penulis, akan menjadi pembelajar, bisa terkenal, professional beneran, be a champion, banyak relasi, meningkatkan memori dengan menulis, makin kreatif, bersinergi lebih focus, meningkatkan kemampuan mengenal dunia IT, dan bisa juga ngeblog untuk makes money ! Banyak sekali ya manfaatnya. Dan Om Dedi sudah membuktikannya sendiri, dari tulisannya di blog beliau dipernah diwawancarai oleh radio BBC London dan juga pernah mewakili Indonesia dalam Forum Internasional.

Telah hadir pula, Bpk Subakri  seorang guru yang mengajar di SDN Jambe Kumbu 01 dari Lumajang yang sangat menginspirasi. Sempat dalam wawancaranya yang dimoderatori oleh Om Namim, beliau mengaku saat itulah kedatangan Jakartanya yang pertama kalinya dan sangat merasa senang bisa datang ke Jakarta tak lepas dari ngeblog. Bpk Subakti ini dalam dunia ngeblog sangat antusias sekali untuk terus belajar mengeblog, padahal di tempatnya blog masih belum banyak dikenal. Dalam isi konten tulisannya di Blog, beliau menuliskan kisah-kisah muridnya yang sudah diracuni untuk menulis. Jargonnya yaitu “Mengajar sehari , menginspirasi seumur hidup”. Bagi teman-teman yang ingin menengok isi blognya silahkan mampir dimari ya, www.ayomendidik.wordpress.com

Selain itu juga telah hadir atas nama Mbak Amiroh Adnan. Mbak ini lebih aktif menulis tentang dunia IT. Beliau termasuk guru favorit yang aktif ngeblog, sedangkan tempat asalnya dari Jawa Timur. Yang ingin sedikit banyak mengetahui apa saja yang ditulis oleh Mbak Amiroh, silakan nyempil di sini ya amiroh.web.id

narasumber
narasumber

Setelah itu, acara kemudian di senggangi oleh isoma sebentar. Kemudian dilanjut dengan tampilnya mas Imam Suwandi, beliau lebih dikenal sebagai Pelopor Selfie di Indonesia. Bekerja di MetroTVnews.com. Mas Imam sempat memberikan trik dan tips bagaimana sih biar bisa jadi seorang Selfie Journalism dengan bermodalkan Tongsis. Menurutnya, hanya dengan tongsis dan Hp Smartfren semua orang bisa menjadi jurnalis. Berikut triknya; selfie jurnalisme yang baik itu berisikan penyampaian informasi cerita yang penting dan punya dampak untuk orang banyak. Harus ada news adjustment/news value ( 5 W + 1 H ) itu old skill yang harus dimiliki, sedangkan new skill-nya itu bagaimana kita bisa menyampaikan berita sebaik mungkin untuk audience.

Om Imam bareng peserta yang pura-pura jadi jurnalis melaporkan sebuah acara :D
Om Imam bareng peserta yang pura-pura jadi jurnalis melaporkan sebuah acara 😀

Pemanfaat tongsis untuk jurnalisme bisa untuk live on tape, live report via streaming, interview. Ada pula konten berita bisa berisikan tentang peristiwa, Human interesting, pendapat yang semuanya punya sense of news. Bagi yang berkenan silakan mampir di sini imam.suwandi@metrotvnews.com atau di cakimamsuwandi.blogspot.com

Yaelah senengnya, Om Onno yang pake baju ungu tentunya.
Yaelah senengnya, Om Onno yang pake baju ungu tentunya.

Tak kalah hebatnya lagi, ada narasumber bernama Om Onno. Beliau pernah menjadi dosen di ITB tapi demi bisa terwujudnya sebuah mimpi dari dirinya agar lebih banyak orang mengetahui ilmu yang dibagikannya, beliau senagaja mengundurkan diri jadi dosaen dan lebih focus untuk menulis di situs onlinenya.

Dengan keikutsertaan saya di acara tersebut, minimal sudah menambah wawasan saya. Aplaagi bertemu langsung dengan bloger hebat merupakan suatu kesempatan yang sangat luar biasa. Acara kemudian diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba live tweet dan lomba ngeblog.DSC_7010

Women In You, Gathering with Dewi ‘Dee’ Lestari

Dewi ‘Dee’ Lestari– selain dikenal sebagai penulis, Dee juga dikenal sebagai penyanyi. Berkat keberadaan Komunitas dari Perempuan, saya sangat senang bisa bergabung mengikuti sebuah acara spesial dalam menyambut Hari Kartini tahun ini. Tepat tanggal 18 April 2015, di The Flavor Bliss Alam Sutra, yang letaknya di seberang Mall Livingworld Alam Sutera Tangerang sebuah acara Gathering with Dewi Lestari diadakan dengan tema “Women In You”.

Bunda Elisa, Dewi Dee, dan moderator/ Dok : Bunda Elisa Koraag
Bunda Elisa, Dewi Dee, dan moderator/ Dok : Bunda Elisa Koraag

Jam dua belas saya sampai di tempat acara. Kemudian, setelah dilakukan pembukaan acara jam satu, Dewi Dee langsung naik ke atas panggung siap-siap membagi inspirasi kepada kita yang hadir. Oiya, selain dari Komunitas  dari Perempuan, telah hadir pula Komunitas PEDAS dan komunitas lainnya.Tamu yang hadir lumayan banyak dan sangat seru. Selain emak-emak (ada yang bawa anak dan bawa suami, ha ha ha colek Pak Belalang),  ada juga beberapa tamu yang masih single (calon emak-emak kece).

Dari pertama kali melihat Dee jalan menuju panggung, langsung timbulah rasa antusias pada diri saya. Mata saya lebih fokus untuk Dewi Dee, dan menyimak apa saja yang disampaikan.

Dalam obrolannya di atas panggung acara, Dewi Dee mengaku bahwa sejak ia masih kecil ia punya hobi menyannyi. Baginya, menyanyi itu sesuatu yang mengalir alami saja dalam hidupnya. Dikenal sebagai penyayi  bermula dari keaktifannya menjadi backing vocal di sekolahannya, sekitar tahun 1993-1995 kala itu. Sewaktu ia masih berumur 17 tahun, suatu hari di sekolahnya ia ketahuan nggak ikut P4, dimana sebenarnya ia punya tugas untuk ikutan jadi backing vocal tersebut. Eh karena sengaja ngumpet dari tugas sekolah, tapi Dewi Dee malah ditawar ikutan backing vocal sebuah band. Hingga berlangsung  selama dua tahun yaitu sekitar 1993-1995. Nah, dari sinilah dunia menyanyinya mulai merambah naik.

Dalam dunia kepenulisan, Dewi Dee mengaku nggak ngeh bisa jadi penulis seperti saat ini. Kisah bermula dari kelas 5 SD, yang mana dulu ia pernah berkhayal membayangkan bagaimana rasanya sih seandainya di sebuah toko buku itu ada karya tulisannya sendiri?

Kemudian setelah itu, Dewi Dee sengaja membeli buku kosong dan ia pun mulai menulisi penuh buku tersebut.  ? Dalam hatinya  mengatakan, “Begini ya kalau punya buku sendiri dan rasanya mungkin hebat jika saya bisa punya buku karya sendiri!”.

Seiring berjalannya waktu, Dewi Dee menulis dan terus menulis. Ia sempat juga mengirim tulisan-tulisannya ke beberapa redaksi. Sayangnya selalu ditolak dan itu membuat ia menjadi kurang percaya diri terhadap tulisannya sendiri.

Sebab nggak nembus-nembus ke redaksi, Dewi Dee tak mau ambil pusing untuk mencoba terus menulis.  Tahun 2000 Dewi Dee berniat untuk membukukan manuscript tulisannya Supernova menjadi sebuah novel sebagai  hadiah istimewa diusianya yang ke-25. Teman-teman Dewi Dee menyarankan sebaiknya ia  membukukan karyanya sendiri  daripada lewat percetakan penerbit agar lebih cepat jadi, alasannya. Akhirnya, proses pengeditan tulisan dan percetakan itu pun selesai dalam jangka waktu Bulan Januari – September saja. Nggak tanggung-tanggung Dewi Dee langsung mencetak bukunya sebanyak 5000 ekslempar!

Sayangnya hasil dari percetakan tak sesuai dengan yang diharapkan sebab dalam isi cerita novelnya ada beberapa yang mengalami perubahan alur cerita, atau dapat dibilang terjadi perubahan penempatan tulisan. Sehingga ia pun menahan pemasarannya terlebih dahulu. Dewi Dee adalah sosok yang perfectsionis, sehingga ia mengedit dan mencetak ulang novel yang sudah jadi tersebut, sebanyak 2000 ekslempar!

Jadi jumlah total semua bukunya yang dicetak sebanyak 7000 ekslempar dan sesudah itu, ia baru memasarkan ke publik. Sungguh GILA dan NEKAT, padahal pada masa itu buku bestseller pada umumnya dalam setahun hanya akan terjual sejumlah 3000 ekslempar saja. Bayangkan, bagaimana mungkin novel Dewi Dee terjual 7000 ekslempar dalam jangka waktu 14 hari?

Dewi Dee saat itu baru tahu kalau dalam jangka waktu 3 bulan, uang dari hasil penjualan bukunya akan cair. Karena kehabisan uang dan stock buku tak ada dan ia mesti mencetak buku lagi hingga akhirnya ia pun rela meminjam uang dulu demi memenuhi permintaan toko buku.

Ia mengatakan mimpinya yang jadi kenyataan itu adalah sebuah jawaban dari khayalannya sewaktu ia di bangku kelas 5 SD dulu. Berkat kekukuhan dan konsistennya dalam menulis, pada akhirnya pun ia mampu mewujudkan mimpinya jadi kenyataan!

Dalam sesi tanya jawab dengan tamu yang hadir pada acara tersebut, ia menambahkan bahwa untuk mengatasi rasa jenuh atau bosan menulis, maka yang ia lakukan selama ini dengan membuat target kapan seharusnya ia selesai menulis. Bicara soal target, seolah kita jadi membayangkan kalau tulisan kita itu ada yang menunggu, atau ada batas waktu sebagai contoh misalnya kalau kita ikutan lomba, ibarat kita sedang dikejar DL. Dengan begitu akan lahirlah sebuah kedisiplinan menulis pada diri kita. Menulis harus konsisten dan ada ruang waktu yang cukup.

Mengenai buku-buku yang disukai Dewi Dee, ia sangat suka terhadap buku apa saja yang menjadi keiingintahuannya. Mulai dari buku-buku non-fiksi, filsafat, hingga scince. Dan untuk senantiasa menyegarkan pikirannya sendiri, Dewi Dee lebih suka baca puisi. Selain simple puisi juga punya kandungan bahasa yang berkesan, katanya.

Perahu kertas merupakan salah satu hasil karya novel Dewi Dee yang pembuatannya sangat unik, temanya tentang dunia mahasiwa jadi ceritanya ia sengaja  menyewa kosan putri di Bogor yang cukup makan waktu 20 menit dari rumahnya, hanya demi mendapatkan feel-nya sewaktu ia masih sebagai anak mahasiswa dulu. Dimana saat itu ia sudah 10 tahun sesudah lulus kuliah.

Dan untuk filosofi kopi misalnya, ini merupakan sebuah kisah cerita yang terinspirasi dari ketakutannya yang luar biasa terhadap kecoak! Dari sinilah ia memunculkan imajinasi bagaimana seandainya seekor kecoak bisa mencintai manusia. Sedangkan kopi, ia terinspirasi setelah ia belajar membuat roti, yang mana kala itu pengajar yang membuat roti menyarankan sebaiknya ia pakai ragi instan. Timbulah kemudian asumsi bahwa setiap makhluk hidup atau benda itu punya “story” tersendiri. Tak beda dengan sebuah kopi, seperti halnya setiap orang dari kita akan punya karakteristik tersendiri terhadap kopi. Mungkin dari kit ada yang suka kopi hanya dengan gula, atau kopi gula ditambah creamer, dsb.

Untuk riset menulis, Dewi Dee biasa melakukan empat cara, diantaranya yaitu melalui searching-nya di Daftar Pustaka, melalui internet, wawancara dan langsung datang ke TKP.

Menurut Dewi Dee, menulis adalah sebuah karya, dengan proses yang terus menerus supaya bisa tergali seberapa jauh kemampuan menulis kita, lebih bagus lagi jika tulisan kita punyai nilai manfaat yang dapat dibagikan kepada orang lain. Dan pada akhirnya tulisan akan kembali kepada diri kita sendiri.

Women in You– Dewi Dee bilang, menjadi perempuan harus siap untuk menahan rasa sakit 9 x dari pria! Perempuan sebagai ibu rumah tangga punya multi peran diantaranya, harus bisa mengurus apa yang ada di rumah tangganya,  mempertahankan eksistensi diri, ibarat kalau main tangkap bola, bolanya yang harus ditangkap berjumlah banyak dan nggak boleh jatuh. Hadew.

Menjadi perempuan bukan sekedar punya rambut panjang saja, tapi kualitas dari diri perempuan itu sendiri. Kata dari Women in You, sama dengan kekuatan perempuan yang ada dari dalam! Arti kekuatan terdapat pada perempuan, tak harus kuat menjadi pendidik yang keras. Melainkan bisa dengan kelembutan. Ia sangat salut dan kagum akan sosok ibunya sendiri terhadap penampilannya yang sederhana tapi selalu enak dipandang mata juga bagaimana ibunya bisa memberikan kasih sayang yang baik. Bukan rahasia lagi kalau perempuan itu biasanya suka capek pikiran, beruntung kebanyak perempuan suka ngobrol, dan itu lah penyeimbangnya (atau bisa dibilang capek pikiran dan cerewet itulah yang menyehatkannya).

Sedikit trik dan tips menjalin hubungan dengan pasangan, Dewi Dee menganggap pasangan adalah partner kita! Untuk menjaga mitra yang baik dengannya maka yang harus dijaga ialah sebuah “Komunikasi yang baik”.

Sebelum ngobrol bareng dengan Dewi Dee berakhir, sempat juga Bunda Elisa Koraag sebagai perwakilah Komunitas PEDAS tampil di depan berbagi kisah inspirasi. Cukup menarik juga. Sesudah itu acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Lalu diisi dengan pembacaan puisi dari komunitas PEDAS.

Komunitas pedas ikut menyemarakkan acara dengan membacakan puisi untuk perempuan/ Dok : Mbak Dian Anthie
Komunitas PEDAS ikut menyemarakkan acara dengan membacakan puisi untuk perempuan/ Dok : Mbak Dian Anthie

Kemudian ada kuis lumayan kocak yaitu fashion show bagi peserta yang merelakan diri untuk maju ke depan!

 Acara kemudian masih dilanjutkan dengan adanya performace dari Dewi Dee yang dimulai pukul  tujuh malam. Bener-bener seru deh acaranya, saya nggak nyesel bisa ikutan acara ini….

Performance Dewi Dee
Performance Dewi Dee/ Dok : Mbak Dian Anthie

Menengok Budaya Bersih dan Sehat ala Hong Kong

Dalam kesehariannya dulu, semenjak saya bekerja di Hong Kong selain bertanggung jawab menjaga dua anak, saya juga bertugas untuk bersih-bersih rumah. Pada umumnya, apartemen Hong Kong berukuran kecil. Ingat sewaktu datang dan masuk rumah yang jadi tempat kerja, saya sempat terkejut. Bagaimana mungkin membuka pintu langsung saya bisa melihat kedua bilik kamarnya? Bagaimana saya bisa percaya ada rumah yang sekecil itu? Kebetulan dulu rumahnya berada di lantai 21, lumayan kalau naik lift butuh sekitar 5 menit untuk bisa sampai ke atas.

Tepat di samping pintu masuk, terdapat pintu dapur dan sebelah dapur terdapat kamar mandi. Depan kamar mandi sudah ruang tamu, dan bilik kamar pun berdekatan langsung dengan kamar. Biar pun ruangan rumahnya kecil, orang Hong Kong selalu bisa menyiasati untuk meletakkan barang-barang kepemilikannya dengan baik. Segala benda apapun tertata dan tersimpan rapi. Sebagai contoh misalnya baju musim dingin yang biasa akan disimpan kalau saat musim panas tiba. Orang Hong Kong akan menyimpan baju-baju tersebut kedalam sebuah kantong yang benar-banar tersimpan ringkas. Caranya dengan menyedot habis angin yang ada di dalam plastik tersebut dengan menggunakan vaccum cleaner, sehingga baju tersebut lebih tipis/mengempis  tersimpan dalam plastik tadi. Selain itu juga, mereka suka menyimpan barang-barangnya di dalam sebuah lemari daripada tergeletak begitu saja.

Menurut saya, kebiasaan orang Hong Kong terhadap budaya hidup bersih itu sangat baik. Keberadaan toilet umum di sana lebih terjamin, kita bebas ikut memakai tanpa dipungut biaya. Berbeda dengan Indonesia kalau pas kita di tempat umum kenapa mesti harus bayar Rp. 2000 rupiah hanya untuk sekedar numpang buang air kecil di toilet? Mereka risih melihat debu atau seasuatu yang kotor-kotor. Mengelap adalah kegiatan sehari-hari, satu kali tidak mengelap apa yang ada di rumah tersebut akan tampak debu yang menempel sangat jelas. Untuk membersihakn lantai, sofa dan langit-langit ruangan yang kotor biasanya dipakailah alat penyedot debu atau vaccum cleaner. Juga disemprotkannya disinfektan pada sofa dan beberapa tempat tertentu setelah penyedotan debu itu untuk menghindari adanya bakteri.

Soal kamar mandi beda lagi, kalau kebetulan dipekerjakan dengan orang cina yang punya keyakinan bahwa setiap saat kamar mandi harus kering, wah siap-siap saja deh kalau setiap menitnya mesti ngelap kamar mandi. Lagi dan lagi…

Dalam kesehariannya orang Hong Kong sudah terbiasa cuci tangan jika habis berpergian, sebelum tidur dan sebelum makan. Oiya, orang Hong Kong terbiasa makan pakai sumpit, bukan pakai sendok apalagi pakai tangan. Biasanya, orang sana makan nasi hanya sekali dalam seharinya, tepatnya pada waktu makan malam mereka bisa makan bersama(dinner).

Uniknya orang sana makan nasinya sangat dibatasi, cukup setengah mangkuk kecil atau satu mangkuk kecil penuh saja bagi mereka sudah cukup. Tapi jangan ditanya ya kalau lauknya ada bermacam-macam. Steam ikan, tumis sayuran atau sayur yang hanya sekedar direbus pasti ada, tahu goreng, soup, yang jelas minimal ada 4 jenis lauk sehat yang berbeda. Dalam hal makanan, orang Hong Kong bisa mengontrol dirinya untuk makan makanan yang sehat, yaitu tidak terlalu asin, jadi ingat dulu saya pernah masak terlalu asin hingga mereka tidak mau memakannya sekalipun saya tidak dimarahi. Sedikit aneh memang, lidah orang Indonesia dengan orang Hong Kong seleranya berbeda. Bagi kita asinnya sudah cukup, bisa jadi bagi mereka terasa terlalu asin! Makanan orang Hong Kong juga tidak suka terlalu banyak minyak, terlalu pedas dan rendah lemak. Terbukti orang sana hampir tidak pernah masak pakai santan kecuali masakan curry.

Orang sana saja kalau membuat bubur, tak perlu menambahkan santan dan hanya bubur-bubur yang dimasak begitu saja. Baik itu bubur beras putih, ataupun bubur kacang hijau atau bubur yang lainnya. Orang Hong Kong tidak mengerti apa itu gorengan seperti di Indonesia, untuk lauk mereka lebih suka menggoreng tahu atau ayam dan ikan saja.

Orang sana sangat gemar minum air putih dan mengonsumsi buah juga rajin berolah raga. Jangan heran kalau di sana hampir setiap tempat ada taman yang digunakan untuk berolah raga dan sekedar refreshing. Ada yang senam bersama, ada juga yang melakukan senam sendiri-sendiri. Selain itu ada tempat berkumpulnya lansia, di tempat ini lansia suka berolah raga dan kadang main kartu bagi yang laki-laki.

Air Minum di Hong Kong, Air yang untuk dijadikan air minum biasanya sudah disaring kembali lewat kran penyaring. Berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia yang kran untuk air minum dan air mandi sama saja. Mungkin kualitas airnya berbeda. Tapi yang jelas, air yang sudah disaring melalui kran khusus tersebut kesehatan kualitas air lebih hiegenies. Jangankan sekedar lantai atau kaca jendela ya. Di sana, Wajah Dapur Harus Kinclong. Untuk mengurangi minyak yang menyebar dan berterbangan saat memasak, orang Hong Kong akan biasa menaruh kipas diatas kompor gas atau listrik. Juga menyediakan pipa selang asap keluar rumah. Pekerjaan lap-mengelap bukan asing lagi dilakukan dalam setiap harinya.Saya mengira kenapa di sana debu lebih mudah masuk rumah, mungkin di sana minim sekali jumlah pepohonan dan banyaknya kendaraan bermotor yang berlalu lalang di sepanjang jalan.

Untuk kebersihannya, orang Hong Kong tidak diragukan lagi kalau kebanyakan mereka takut sama debu dan kotoran dan terbiasa hidup bersih. Tapi untuk hidup sehat, selain mereka bisa mengontrol pola makannya, rajin berolah raga, minum air putih dan mengonsumsi buah. Mereka juga suka merefreshingkan pikirannya dengan hal-hal yang positif seperti bersantai di taman, membaca buku di perpustakaan (mengingat di sana hampir ada perpustkaan) dan melakukan hal-hal positif lainnya.

Wajah Perempuan Indonesia

Pada kaca mata pemikiran saya, makna dari “wajah” tepat pada judul diatas, bukanlah wajah perempuan  yang memamerkan lekuk goresan lipstik di bibirnya atau lekuk pinggul pada tubuhnya, melainkan wajah nasibnya sebagai perempuan Indonesia.

Perjalanan panjang setelah adanya emansipasi perempuan yang diperjuangkan oleh RA. Kartini rupanya saat ini belum tuntas dan masih harus diperjuangkan. Titik kesejahteraan perempuan menurut saya yaitu saat dimana seorang perempuan berhasil menjadi siapa dirinya sendiri, mampu meng-explore ketrampilanya berkat pendidikan dan mendapatkan perlindungan yang layak sebagai perempuan!

Dalam dunia nyata, kesejahteraan perempuan Indonesia belum merata. Masih terlihat jelas,  adanya kesenjangan sosial yang mencolok antara perempuan sejahtera dan kurang sejahtera. Satu dua atau beberapa perempuan Indonesia yang sejahtera selain karena mendapatkan pendidikan yang cukup, bisa juga karena kegigihannya dalam memperkaya diri. Dalam artikel ini saya akan menekankan pada nasib perempuan yang kurang sejahtera.

Bukti-bukti perempuan Indonesia masih kurang sejahtera :

1). Indonesia mengijinkan tenaga perempuan dari Indonesia untuk bekerja di luar negeri dengan kapasitas jumlah jiwa yang besar.

Berdasarkan berita yang diliput oleh BBC Indonesia, negara kita termasuk peringkat ke-8 pengirim tenaga kerja perempuan yang bekerja sebagai ART di seluruh dunia. Sumber: BBC Indonesia

Saya membenarkan akan usia tenaga kerja tersebut sebenarnya masih dibawah standar yang ditentukan. Seperti contohnya untuk dapat bekerja di Singapura, minimal harus berusia diatas 23 tahun dan untuk bekerja di Hong Kong atau Malaysia harus berusia diatas 21 tahun. Namun, ternyata agency pengurus calon tenaga kerja Indonesia suka “memalsukan dokumen”. Boleh dikatakan pula,  pemerintah Indonesia memperkerjakan anak-anak ke luar negeri akibat minimnya perhatian terhadap hal-hal demikian.

2). Masih tingginya berita di medsos kriminalitas terhadap perempuan Indonesia.

Satu berita teraktual misalnya saat ini adanya berita tentang seorang perempuan berusia 26 tahun yang meninggal dengan cara mengenaskan tanpa busana, terdapat kaos kaki di mulutnya dan dibelit kabel di sebuah kosannya. Hal ini mencerminkan bahwa  perlindungan pemerintah kita terhadap perempuan masih rendah. Sumber : Kasus Alfi yang meninggal

3). Masih tingginya nasib perempuan Indonesia yang menjalani kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis, baik terhadap suami atau anak-anaknya.

Miris, kenapa saya mendengar ada anak menempeleng ibunya sendiri dari tetangga saya waktu saya masih berada di rumah? Kenapa banyak terjadi percek-cokan dalam rumah tangga sebab masalah ekonomi yang berimbas pada nasib kurang baik terhadap anak-anaknya?

Sumber : Korban perempuan KDRT jadi sekumpulan berita

4). Masih tingginya perempuan Indonesia yang gagal memahami kata “Habis Gelap, Terbitlah Terang!”

Terlepas kita sebagai perempuan apakah kita menganyam pendidikan formal atau tidak, yang jelas bagi perempuan Indonesia yang mampu mengartikan sepenggal kata wasiat RA. Kartini tersebut akan tergerak hatinya untuk haus “pengetahuan”, yang mana hanya pengetahuan saja yang akan mengubah paradigm antara kebiasaan tradisional menuju kearah globalisasi yang lebih baik.

Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan kita saat ini. Dunia luar sebenarnya selalu menuntut untuk kita terus mau belajar-belajar dan belajar. Rasanya mustahil untuk memaksa ibu-ibu yang sudah berumah tangga untuk sadar belajar jika bukan dari keiinginannya sendiri. Langkah selanjutnya mungkin lebih efektif untuk terus menyemangati anak-anak yang masih dini.

Pemerintah Indonesia, khususnya Ibu Yohana Susana Yembise,

selaku Menteri  Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak mohon bimbingan untuk Perempuan Indonesia yang lebih sejahtera, butuh perhatiannya dan butuh bukti nyata atas kinerja Anda saat ini dan seterusnya.

Salam.

Polly and Ginny, my Lovely

1926868_1517591578468461_7164055579461848838_nNamanya Cheung Tze Yin/ Ginny (4 tahun), dan Cheung Tze Kiu/ Polly (3 tahun), keduanya merupakan perempuan yang masih bocah. Anak dari pasangan seorang polisi dan seorang perawat di rumah sakit. Saya kebetulan terpilih sebagai pengganti dari pengasuh kedua bocah tersebut yang berasal dari Tulung Agung, Jawa Timur. Sebut saja Dora namanya, kenapa dipanggil Dora? Sebab sekilas memang potongan model rambutnya mirip dengan Dora yang ada di kartun TV. Pertama kali saya bertemu dengan keluarga tersebut tanggal 26 April, saya disambut ramah. Dari si Dora ini saya mulai belajar yang namanya memasak nasi di fan-po (magic jar), ka-soi (menambah air) di teko biasa dan teko untuk lemari es. Belajar cin-yi (goreng ikan), jao joi (menumis sayur), hingga so-tei, mat-tei dan lain-lain. Dora mengajari kedua anak itu untuk mau memanggil saya dengan panggilan “Happy Cece” dan bukan dengan nama asli saya. Kurang lebih dua minggu pertama berada di Hong Kong perasaan saya lumayan lega, mengingat ada Dora yang bisa dijadikan tempat bertanya kalau-kalau ada sesuatu yang perlu saya tanyakan. Rasa tanggung jawab besar menjaga dua anak yang dalam waktu singkat itu saya sudah pakem menilai  karakter anak tersebut bandel, walau pun begitu tetap saya punya rasa berkewajiban bertahan di tempat itu sebab tidak ada pilihan lain Saat itulah saya mulailah merasa sangat takut, pasrah, tetap harus kuat dan bersabar  ketika tanggal 9 Mei si Dora harus pulang ke kampungnya.

Sekalipun nakal, kedua bocah itu tetap berada dibawah pengawasan ortunya yang intens, malah ortunya bilang ke saya kalau salah satu anaknya ada yang nakal atau nggak sopan, saya disuruh ngelaporin ke ortunya. Pesan ortunya hanya demikian, senakal-nakalnya anak jangan dipukul atau dianiaya. Sebab menurutnya itu tak berarti. Antara saya dan kedua bocah itu sudah dikatakan sendiri oleh ortunya kalau saya bukanlah pembantu melainkan “best friend” anak-anaknya. Terlihat santun lah ini ortu kedua anak ini dalam mendidik anak rupanya!

Biasa saya bangun jam lima pagi, meyiapkan peralatan sekolah bocah-bocah. Menyiapkan sarapan anak, membangunkan anak dan harus bisa merayu. Namanya anak-anak kalau disuruh bangun tidur malah nangis nggak mau bangun. Susah banget, anak di sana setiap pagi hanya gosok gigi dan mengelap muka saja. Anak-anak di sana rajin gosok gigi! Hayooo kalau di Indonesia ada nggak ya yang malas gosok gigi seumuran anak ini?Dan yang masih suka ngompol, Cuma bantu nyebokin pantatnya saja sudah. Membangunkannya jam enam, nanti baru bangun beneran jam tujuh. Ada dua anak, ke kamar mandi mesti main hom pim pah dulu, karena keduanya paling males gosok gigi. Paling males dicebokin pantatnya.

Ginny yang besar pemikirannya sudah terlatih lebih cepat berkembang berkat keaktifannya berkomunikasi dengan ortunya, anak satu ini dalam usia  4 tahun sudah pandai melaporkan artunya untuk setiap apapun yang terjadi padanya. Jadi saya pun nggak bisa main sembarangan mem-bully dia. Beda banget sama si Polly yang kerjaannya suka menangis, mau makan menangis, mau gosok gigi menangis, bandel deh. Menangis itu senjata Polly, dibalik kenakalannya yang luar biasa. Anak ini super payah. Saya masih ingat, pertama tidur jadi satu kamar sama dia. Dia nggak mau sama saya, dan dia masih sukakan Dora. Saat dia bangun tengah malam, lalu saya gendong pun dia malah ketakutan sekali.

Jam delapan 08:00 pagi saya mengantar anak naik mobil sekolah. Anak terbiasa tepat waktu dalam melakukan apa saja. Lalu ke pasar tradisional, Pulang pergi waktunya sekitar setengah  hingga satu jam. Dengan begini, kesempatan saya untuk menghirup udara bebas di luar terasa sangat menyenagkan. Di Hong Kong sana, orang biasa memilih untuk berjalan kaki daripada naik sepeda motor. Keberadaan sepeda motor dibatasi, dan lebih suka naik MTR atau bus untuk berpergian. Oiya ke pasar, selain beli titipan dari emak kedua bocah tersebut, juga mesti ada beli sayur untuk dimasak siang dan malamnya, biasa kalau siang anak suka makan mie, entah mie-nya mau dimasak apa yang nggak boleh ketinggalan anak tetap harus makan sayur. Setelah dari pasar, saya akan bersih-bersih rumah. Menggantung baju, menyeltika, mengosek WC,   menyajikan hidangan untuk anak-anak. Jam dua belas mesti harus menjemput anak tepat waktu.

Nyaris dari pagi sampai sore menjelang malam di rumah hanya ada dan anak-anak. Dan kedua ortunya sibuk bekerja. Kalau lagi baik, keduanya memang baikan. Tapi, kalau ada yang kumat, saya bisa kumat juga sakit migrennya. Ada banyak majalah, hanya satu yang buat rebutan. Ada warna pensil lainnya, suka rebut-rebutan warna yang sama. Kedua anak itu paling anteng kalau pas lihat TV. Pada bengong, anteng, diam dan benar-benar fokus lihat TV. Maklum, anak-anak di sana punya batas waktu nonton TV. Minimal satu-dua jam perhari nonton TV. Itu pun mesti sudah buat PR dulu dan belajar sendiri setelah sepulang sekolah.

Sekitar jam dua, anak-anak saya giring masuk kamar buat tidur. Paling sebel nyuruh anak tidur. Dikasih camilan dulu baru mau tidur, sayangnya sering sekali kalau camilannya sudah habis mereka melek lagi matanya dan main-main. Memberikan makanan untuk anak dilarang sembarangan, tidak boleh sering-sering beri anak permen atau biscuit. Makanan untuk anak harus ortunya yang belikan, saya nggak boleh kasih makan mereka dari uang saya sendiri. Keduanya lebih aktif pada kegemaran membaca dan menggambar. Buku-buku yang dirak suka diobarak-abrik. Tak beda kalau mereka juga suka ngobrak-abrik mainan-mainannya rata di lantai. Akhirnya, saya sendiri yang stress…Tapi asyik juga kalau mereka pada tidur, jika kerjaan sudah kelar saya bisa leluasa baca buku.

Bangun tidur, anak-anak biasa saya mandikan jam empat sore. Kadang mandi sendiri-sendiri kadang juga bareng. Lambat laun saya bisa merasakan senangnya menjaga anak-anak tersebut. Selain lucu, mereka itu menggemaskan. Diluar kegiatan sekolah, Ortunya mengikutkan mereka les menari Ballet, menggambar, les Bahasa Inggris, berhitung dengan Sempoa, dan renang. Hampir kesehariannya tidak itu-itu melulu melainkan selalu dinamis. Terpikir, ternyata anak usia empat dan lima tahunan nggak strees juga mesti belajar banyak begitu. Buktinya mereka malah cerdas.

Di usianya keempat tahun menjelang lima tahun, Ginny sudah bisa membaca dan menulis angka dengan benar, semua tak lepas dari berkat ketekunan ayahnya. Si Polly suka bandel kalau diajari ayahnya makanya dia suka kena hukum disuruh berdiri sampai ngompol di lantai dan menangis keras bahkan sampai muntah-muntah!

Dan jika ortunya sudah pulang, maka yang akan saya kerjakan yaitu memasak. Sampai jam Sembilan malam biasa urusan dapur selesai dan saya baru bisa mandi. Setiap saya mandi dan membereskan apa yang perlu dibereskan, kedua anak tersebut selalu dapat gojlokan keras dari ortunya untuk belajar-belajar dan terus belajar.

Anak-anak siang kalau sudah tidur, biasa kalau malam susah tidur. Saya bisa tidur pulas kalau keduanya sudah tidur. Dan mereka hampir selalu benar-benar tidur kalau sudah menjelang jam sebelas malam sampai setengah dua belas. Dengan melewati lelahnya waktu seharian yang super sibuk itu. Saya mengusahakan untuk menulis apa yang mampu saya tulis. Adanya rasa bersikeras menulis ternyata berkat pengaruh kehidupan Hong Kong yang serba dinamis itu. Dimana kebanyakan mereka beranggapan waktu adalah uang. Bekerja itu sebuah kebiasaan/budaya dan bukan sebuah tuntunan apapun. Menulis disela-sela kesibukan selama di Hong Kong, membuat saya kurang tidur tapi saya menikmatinya!

Sedikit cerita ini semoga bisa melukiskan bagaimana sih kegiatan pada umumnya anak-anak di Hong Kong, dan menjawab pertanyaan kenapa anak Hong Kong lebih cerdas…

Keunikan Batik Encim, Sangat Khas!

Apa yang ada didalam pikiran anda ketika  mengingat batik?

Seperti yang kita ketahui, batik merupakan kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain tersebut, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Nama batik diambil dari Bahasa Jawa, akan tetapi kehadiran batik di jawa tidak tercatat. Berdasarkan pendapat dari G.P. Rouffaer,   tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7. G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Maka dari sinilah sering ada anggapan bahwa batik bermula dari Jawa.

Ada kalanya suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu, sebab tradisi membatik dilakukan secara turun-temurun. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang.

Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Tetapi, batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa, bercorak bebungaan(seperti bunga tulip. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Kain yang digunakan sebelumnya untuk membatik ialah kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, polyester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakancanting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarenakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

Seperti sekitar tiga bulan yang lalu, saya sempat berkunjung di Kota Blora dan melihat langsung motif yang mendominasi di daerah sana, ternyata Blora khas dengan motif batang Pohon Jati. Motif tersebut melambangkan bahwa di Kota Blora terkenal dengan/ mempunyai banyak Pohon Jati yang berkualitas.

Batik Encim, salah satu batik yang ada di Pekalongan

Tepat pada hari Minggu kemarin, saya menyempatkan diri untuk berkunjung di Museum Tekstil, yang berada di Jakarta Barat. Dan kebetulan saja pada saat itu Batik Encim menjadi salah satu batik yang sedang dipamerkan di museum tersebut.

Sekilas, batik Encim mempunyai kekhasan warna dan motif. Saya tertarik dengan kekhasan ini yang menurut saya warnanya kalem menenagkan hati, walaupun klasik tapi terkesan cantik. Apalagi dipadukan dengan kebaya-kebaya yang di-display di sana.

Sebagai penambah pengetahuan, saya akan sedikit memberikan ulasan tentang batik ini. Ya, batik Encim namanya. Unik kan? Encim itu merupakan serapan dari Bahasa Tionghoa, dibilang serapan sebab pada Kamus Tionghoa tidak ada kata “Encim”. Sedangkan panggilan “Encim” itu merupakan sebuah akulturasi Bahasa Hokian untuk kata (cici/panggilan kakak perempuan). Untuk local, encim ditujukan untuk memanggil wanita yang sudah berkeluarga.

Pengusaha batik yang memproduksi Batik Encim yang hingga sampai sekarang cukup terkenal yaitu Oie Soe Tjun yang diteruskan oleh Liem Poo Hien.

Apakah anda percaya, jika jaman masa Pendudukan Belanda kalangan Tionghoa peranakan, 100% memakai kebaya? Menurut cerita, dulu sih mereka memakainya. Pasangan kebaya tidak salah lagi sebuah kain/sarung encim ini.

Pada jaman sekarang, kita melihat peranakan wanita Tionghoa sudah jarang memakai pakaian tersebut. Walaupun begitu, keberadaan kebaya/batik encim ada. Bahkan sudah mengikuti trend mode kontemporer terkini yang didesain oleh beberapa desainer fashion di tanah air (bukan orang Tionghoa seperti dulu lagi saja).

Mulanya, sekitar 1850-1860 di pesisir Pekalongan batik telah ada dengan motif yang heterogen di sana. Dulu bukan hanya masyarakat pribumi yang membatik, melainkan pengusaha Belanda dan Tionghoa pun ikut menjalani aktivitas membatik sebab batik dinilai punya nilai ekonomis yang tinggi.

Menurut saya, batik encim punya keunikan tersendiri bahkan sejak dulu hingga kini motif kekhasannya yang lebih banyak mengambil gambar-gambar phoenix, dewi-dewi, atau ornamen keramik cina masih dipertahankan, beserta juga warna yang kalem nan lembut dan kualitasnya.

Berikut ini sepintas batik encim yang sudah saya lihat di Museum Tekstil,

 DSC_6834Saya suka dengan warna serta bahan yang digunakan. Simple tapi terkesan cantik.

DSC_6861Kalau batik yang jenis ini nih, klasik abis! Cocok dipadukan dengan kebaya putih seperti di atas. Jadi keinget sama RA. Kartini deh 🙂

DSC_6856Motif dan pola di atas merupakan dsain kontemporer sesuai trend mode saat ini.

DSC_6853Melihat lebih dekat cantiiiknya motif bunga dan halusnya bordiran kebaya yang dipadukan dengan batik encim.DSC_6865Berjajar batik encim memperlihatkan kekhasan dan keunikannya yang unggul!DSC_6866Di Batik Encim ada banyak macam aneka batik.

Sumber Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Batik

http://rumahbatikpekalongan.com

 

Pertemuan yang Mengesankan, di Taman Ismail Marzuki

Bunda Pipiet sebagai sebagai penyelenggara acara/ gambar nyomot punya Aisy
Bunda Pipiet sebagai penyelenggara acara/ gambar nyomot punya Aisy
Sengaja memang, jatah libur kerja Hari Minggu kemarin saya minta untuk diambil hari Saptu ini saja, berharap bisa mengikuti acara peleuncuran buku karya sahabat saya Dewi DeAn dan Aisy Lastatie yang diselenggarakan di TIM(Taman Ismail Marzuki). Kedua sahabat saya itu, saat ini sedang bekerja dan kuliah di Negara Malaysia. Saya mulai mengenal keduanya melalui Facebook kira-kira satu tahun yang lalu.
Saya dengar bahwa Dewie itu berasal dari Sumatra, dan si Aisy atau Desi berasal dari Temanggung. Wah, kalau Temanggung mah dekat banget sama tempat tinggal saya yang di Semarang tuh…
Tidak menyangka, hari ini saya bisa bertemu dengan mereka berdua. Nama dan poto mereka yang biasanya hanya nongol di akun Facebook, kini saya sudah dapat melihat secara langsung bentuk asli wajah keduanya tanpa adanya rasa penasaran  lagi.
Oh ya, tadi sewaktu saya berangkat naik bus Kopaja 502 sempat saya kebablasan jauh dan harus balik naik bus dengan nomor yang sama menuju ke TIM. Dasar saya ini orang yang berpikir setelah bertindak, ya langsung saja setelah nyasar tanpa mengeluh pun saya nyari bus lagi.
Ini merupakan pertama kalinya saya di TIM. Saya pikir, gedung yang dijadikan tempat acara berada di depan setelah pintu gerbang. Eh kok pintunya tutupan saja? Rupanya gedung yang dipakai untuk acara berada di sebelah dalamnya lagi. Jalanlah saya ke area dalam dan Dewie menjeput saya. Dari kejauhan nampaklah dia berjalan untuk menjemput saya, pertama kali bertemu dengannya, rasanya seneng banget.
“Awieeeeeeeee…!”, dari belakang sengaja saya membuat Dewie terkejut.
“Ya Allah, Uut”sambil pamer gigi
Salaman, cium pipi, (#pelukan nggak ya…Wie?)
Sesampai di tempat acara, di dalam ruangannya masih sepi. Hanya ada tiga-empat orang yang baru hadir. Barulah di sana saya bertemu sama Desi dan Mbak Resti Utami. Ketemu, salaman, cipika-cipiki…nah, baru ngobrol!
“Hoooeii, yang ini dari Hong Kong!”, Aisy menyambut saya dengan senyum hangat. Mbak Resti pun menampakkan diri.
“Kamu kok kurus tho Ut?”, tanya Dewi
“Masak sih Wie, biasa saja kok”, jawab saya sambil memperlihatkan pergelangan tangan saya
Tak lama kemudian kami larut dalam obrolan yang asyik. Saya melihat di dekat pintu masuk tempat acara diselenggarakan tampak buku perdana yang sedang di-launching-kan. Diantaranya karya unggulan dari Dewie DeAn yang berjudul “Seronoknya Negeri Jiran” yang ditulis oleh Dewie dan kawan-kawan. Juga ada buku karya Aisy berjudul “Babu Backpacper”. Selain itu ada buku-buku karya Bunda Pipiet Senja dengan judul “Jejak Cinta Sevilla”, “Dalam Semesta Cinta”, dan lainnya. Kali ini pula saya baru bertemu dengan Bunda Pipiet, menyalaminya dan memperkenalkan diri. Setelah kehadiran Bunda di tempat acara ada. Tidak lama kemudian acra pun dimulai. Melihat jumlah orang yang terbatas saat itu saya diberi kepercayaan untuk menjadi penerima tamu sekaligus menjaga buku.
Dewie DeAn sedang mengawali menjadi narsum pertama.
Dewie DeAn sedang mengawali menjadi narsum pertama.
Duduk di kursi paling belakang, saya menyaksikan betapa sahabat saya Dewie dan Aisy ini sudah punya mental untuk menguasai panggung. Basic  kedua anak tersebut memang sudah jago atau biasa menghadapi orang. Dewie yang aktif dalam suatu organisasi di Universitasnya, selalu aktif dalam berbagai macam acara, dan lagi Aisy yang berpengalaman bekerja secara professional mengingat kunci-kunci apartemen majikannya untuk klien-kliennya beserta parkir-parkir mobilnya membuat ia tampak lincah berpikir dan berbicara.
Aisy Lastaty sedang membacakan karya yang telah dituliskannya.
Aisy Lastaty sedang membacakan karya yang telah dituliskannya.
Cuaca tiba-tiba saja memang mendung. Eh, tanpa saya menduga Kak Anazkia datang menghadiri acara ini. Warna orange jilbab dan bajunya masih segar dalam ingatan saya. Kak Anaz yang sekarang mulai dikenal sama orang banyak sebab berhasilnya ia menembus berbagai medsos, menjadikan ia  semakin hari semakin harum saja namanya. Salut dan semangat terus buat Kak Anaz.
Peserta yang hadir dalam launching buku Seronok Negeri Jiran dan Babu Backpacper di TIM
Peserta yang hadir dalam launching buku Seronok Negeri Jiran dan Babu Backpacper di TIM
Bunda Pipiet yang pada kenyataannya sudah sepuh, siapa kira kalau suara lantangnya mampu membuat orang yang berada di dalam ruangan tersebut terpaku untuk mendengarkan dengan apa yang sedang beliau bicarakan. Sebenarnya acara ini merupakan bagian dari kerja sama Bunda dengan putra-putrinya Zhizhi Siregar dan Muhammad Karibun Haikal. Sayangnya keduanya lagi backpaper di Kota Lombok, dan Bunda dalam acara bertemankan sang menantu saja. Beliau lah yang membuka dan menutup acara yang diselenggarakan. Turut hadir beberapa tamu istimewa, dan pihak  dari sponsor Cargo Mandiri Sejahtera.
Waktu dua sahabat saya mejeng di depan nih, mereka diberikan kesempatan untuk menceritakan awal mula mereka tertarik pada tulis-menulis. Mereka juga menceritakan kenapa menjadi TKI yang bekerja di Malaysia. Sumber inspirasi mereka berada di depan tamu-tamu yang hadir ialah, sebagai penyemangat untuk orang lain bahwa menulis itu bisa dilakukan oleh siapa saja asalkan punya minat dan kemauan. “TKI bisa menulis, khan h-e-b-a-t!”
Nama Rita Audriyanti, seketika melintas dipikiran saya setelah beliau ikut serta menjadi narasumber. Wajahnya yang tak jauh dengan photo yang ada di akun Facebooknya, Mbak ini berwajah oval nan ayu, feminim dan saya suka.  Mbak Rita ternyata penulis buku berjudul “Haji Koboi”.
Saat Mbak Rita mendekat saya, saya senyum.
“Kayaknya aku kenal wajah kamu?”, ujarnya.
“Hihihi………….” saya nyengir.
“Kamu Seneng Utami!”, Mbak Rita menunjukku sambil menampakkan wajah mimiknya penuh keyakinan bahwa namaku Seneng Utami.
Acara yang dimulai kira-kita setengah dua siang itu, akhirnya ditutup sekitar jam limaan. Sungguh mengesankan.
Selepas itu, saya, Mbak Anaz, Mbak Resti, Dewie dan Aisy jalan bersama menuju masjid. Lalu makan bareng, dan nonton bioskop bareng. American Snaping, judulnya. Sebelum nonton, kita sempat ndeprok bareng di lantai. Kita ngobrol ngalur-ngidul, oh iya yang ngajarin ndeprok di lantai pertama kalinya tuh si Aisy.
Di dalam bioskop, baru sekitar setengah jam kita sudah bosen melihat movie-nya lama-lama karena tema ceritanya kurang seru.
Akhirnya, bye bye Kak Anaz pulang duluan ya?
Sempat, kami berempat ke hotel yang diinapi Aisy sejenak untuk menaruh barang-barang bawaan. Back ke luar lagi, nyari bajaj buat saya.
Semoga pelukan itu menjadi awal sebuah pelukan ya sahabat. Walau kita sudah jauh lagi, namun nama dan karya kalian kini ada selalu dekat dengan saya. Terimakasih saya sangat bahagia bertemu kalian.
DSC_6901
Bidadari kecil dari Kak Zhizhi Siregar, buat comel-comelan. Besok kalo udah gedhe bakal jadi pesaingnya Mbak A wie dan Aisy ya dek?

Yuuuuk, Ketahui Produk Litbang yang Sudah Diluncurkan!

Selama ini skandal utama yang ada di indonesia diantaranya yaitu akses air minum yang masih kurang, luasan kawasan kumuh di negara kita masih banyak, akses sanitasi juga masih perlu diperbaiki. Di Jakarta sendiri yang semestinya menjadi tempat elit dan metropolitan, justru malah timbul banyak permasalahan. Masyarakat menengah ke bawah banyak sekali menjadi problema pemerintah kita mengingat mereka kesulitan mengakses air minum, dan banyak yang tak punya tempat tinggal.

Litbang yang menjadi pusat penelitian dan pengembangan permukiman, dalam rangka pelaksanaan Hari Bakti (Harbak) Kementerian Pekerjaan Umum, mengadakan acara nangkring bareng bersama Kementrian Pekerjaan Umum di Pendopo Gedung Cipta Karya, Kementerian PU, Jl. Pattimura No. 20, Jakarta(27/11/14). Acara ini menghadirkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman – Balitbang – Kementerian Pekerjaan Umum Prof (R) DR Ir Anita Firmanti, MT dan Kepala Bidang Program dan Kerjasama – Puslitbang Permukiman Iwan Suprijanto, ST, MT sebagai narasumber.

Citra sebagai MC mampu menarik perhatian peserta yang hadir diacara Nangkring bersama Litbang ini.
Citra sebagai MC mampu menarik perhatian peserta yang hadir diacara Nangkring bersama Litbang ini.

Tema yang diusung ialah ”Dukungan Inovasi Teknologi Bidang Permukiman dalam Akselerasi Program Permukiman 100-0-100 (100 % akses air minum; 0% luasan kawasan kumuh; 100% akses sanitasi)”. Acara dibawakan oleh Citra, sedangkan moderator acaranya dipegang oleh Wardah Fajri atau biasa disebut Mbak Wawa.

Mbak Wawa sebagai Moderator, Prof Anita sebagai pembincang pertama dan sebelahnya Pak Iwan selaku Kepala Bidang Program dan Kerjasama
Mbak Wawa sebagai Moderator, Prof Anita sebagai pembincang pertama dan sebelahnya Pak Iwan selaku Kepala Bidang Program dan Kerjasama

Sebenarnya Litbang ini melakukan riset untuk menangani diantaranya sebagai berikut; rumah dan gedung, bahan bangunan, persampahan, air minum, air limbah, utilitas, kawasan, mitigasi bencana, dan adaptasi perubahan iklim. Sesuai tema, maka fokus pembicaraan hanya dipusatkan pada air minum, air limbah dan bangunan.

Dalam perbincangannya, Prof Anita mengawali langsung dengan menguraikan beberapa informasi tentang akses air di Indonesia selama ini. Diseluruh Indonesia sampai saat ini tercatat sekitar 70% yang sudah terlayani akses air melalui PDAM. Permasalahan akses air, masih adanya lingkungan kumuh dan akses sanitasi direncanakan akan terpenuhi 100% ditahun 2019. Dengan catatan jika ada anggarannya dari pemerintah. Seperti saat ini, subsidi BBM sebesar 120 T sudah masuk kedalam infrastruktur Litbang.

Litbang ini menfokuskan dirinya sebagai prime mover, membantu meneliti dan berusaha menciptakan produk tekhnologi yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada dimasyarakat Indonesia. Pada air sendiri, saat ini jumlah air tidak stabil dan kualitasnya menurun. Usaha Litbang, mengolah air dengan kualitas rendah untuk siap minum dan mengurangi bahan kimia yang ada pada pengolahan air agar tidak terlalu membahayakan bagi kesehatan.

Ada beberapa produk yang sudah diluncurkan oleh Litbang khususnya untuk mengatasi masalah air limbah. Salah satunya ada pengolahan air dengan Bio-Contractor. Adanya bio-contraktor di dalam cabin maka bidang tempat bakteri tumbuh akan menjadi luas dan tidak ada air limbah yang merembas keluar, sehingga lebih aman dibandingkan denagn tangki septik konvensional. Ada diantaranya Biofil(mengolah air limbah langsung dibuang ketanaman/kolam ikan, periode pengurasan minimal 6 tahun), ada Biority( efisiensi pengolahan limbah 70%, biority untuk mengolah air limbah rumah tangga skala komunal maupun individual) dan Biofil.

Berbeda dengan Meralis, yang merupakan reaktor kompak yang terdiri dari rangkaian unit pengolahan air limbah dengan menggunakan sistem lumpur aktif dan filtrasi membran ultrafiltrasi, untuk menghasilkan air yang dapat didaur ulang untuk kebutuhan gedung. Tepat untuk pemukiman perkotaan.

Dikatakan bahwa pada daerah sulit air sudah ada Model MCK. Alat ini diterapkan pada kawasan endemis, yang dilengkapi kloset khusus mempunyai dua lubang untuk memisahkan urine dan tinja. Terdapat Biotour yang merupakan rangkaian teknologi pengolahan air limbah rumah tangga untuk menghasilkan kualitas air daur ulang yang dapat digunakan untuk kebutuhan umum rumah tangga. Satu lagi produk unggulan dari Litbang yang dikhususkan pada pengolahan air limbah yaitu adanya Drainase permukiman ramah lingkungan dengan Sub-Reservoir Air Hujan. Berikut ini fungsinya dari Sub-Reservoir air hujan; sebagai penampung air hujanuntuk air baku dan resapan, menjadi pasokan air, terutama dimusim kemarau, mereduksi genangan air hujan dan membantu melestarikan air tanah.

Sedangkan untuk air bersih/air minum. Sudah ada pengujian meteran air , Dynamic Mixer(pengolahan air dengan penambahan bahan kimia yang dinamis), ada pengolahan air Sarut(Saringan Rumah Tangga, mengolah air baku yang keruh, berbau, dan mengandung zat besi dan mangan untuk kebutuhan satu keluarga), ada Merotek(reaktor kompak yang terdiri dari rangkaian unit pengolahan air dengan sistem membran ultrafiltrasi, dan membran RO tekanan rendah untuk menghasilkan air siap minum). Manfaat Merotek ini yaitu memanfaatkan air sungai tercemar, air gambut dan air payau untuk dihasilkan siap minum.

Disesi perbincangan kedua, Pak Iwan kemudian membahas sedikit banyak tentang rumah yang sudah diproduksi oleh Litbang. Diantaranya ada Risha, rumah layak huni yang komponennya bersifat fleksibel dan efisien dalam konsumsi bahan bangunan. Risha ini sudah memiliki 67 aplikator dan diterapkan sebanyak 1000o unit di Aceh pasca bencana Tsunami. Ada Rika(Rumah Instan Kayu), dengan teknologi Laminated Vaneer Lumber merupakan rumah instan yang berbahan dasar dari kayu kelas rendah cepat tumbuh(sengon, karet, akasia) yang diolah sehingga kualitasnya setara dengan kayu kelas 3. Rumah ini lebih tahan gempa, moveable dan dapat diterapkan diberbagai kondisi lahan.

Penemuan Litbang menghasilkan ide; ada aplikasi bambu laminasi pada bangunan tradisional. Bambu dapat diaplikasikan sebagai balok, kolom atau papan sebagaimana kayu dengan cara Laminasi. Pada rumah tradisional tepi air, Litbang menerapkan konsep mendapatkan desain rumah terapung diatas air yang mampu menjaga sumber daya laut dari kerusakan. Rekayasa local knowledge berupa: Floating house dan floating sanitation. Pada Homese(Honai Menuju Sehat), rumah ini tetap mempertahankan kekhasan Honai sendiri dengan penggunaan ventilasi 2 layers dengan tujuan masyarakat papua terhindar dari penyakit ISPA.

Rumah susun ada yang dengan sistem pracetak BOX dari beton ringan. Rusun ini direncanakan bisa mendukung beban sampai 5 lantai, dapat direncanakan sesuai dengan kreatifitas arsitek. Ada lagi rusun dengan teknologi pracetak C-plus. Sistem ini merupakan sistem struktur pracetak untuk bangunan bertingkat dengan kolom berbentuk Plus(+), yang mana sambungan mekanis berupa plat baja dengan mur dan baut serta grouting dengan semen non-shrinkage. Rusun ini telah diterapkan di Cigugur Tengah Kota Cimahi sebanyak 2 Blok(5 lantai)dan telah memiliki 8 aplikator.

Salah satu Kompasianer disesi tanya jawab
Salah satu Kompasianer disesi tanya jawab

Diakhir pembicaraannya, Pak Iwan menambahkan bahwa untuk dapat mengembangkan produksinya beliau membutuhkan para investordan aplikator sebagai mitra. Usaha yang dilakukan Litbang dalam mangatasi masalah pemukiman salah satunya sebagai cara mendorong masyarakat untuk mandiri. Tak lepas sebenarnya dana APBN itu dari rakyat(pajak) yang semestinya kembali lagi pada rakyat. Diperlukan revolusimental untuk membangun sinerginitas agar apa yang sedang diluncurkan ini berhasil diberlakukan untuk seluruh wilayah di indonesia. Terakhir dari Pak Iwan, untuk mendorong bangsa yang maju diperlukan penghargaan karya anak bangsa!

Inilah pemenang Twitter yang berhasil membawa Smartphone
Inilah pemenang Twitter yang berhasil membawa Smartphone

Sebagai tambahan dari saya, semoga dengan terpublikasinya tulisan ini banyak masyarakat Indonesia yang mengenal dan tahu bahwa Litbang mempunyai banyak produksi teknologi. Yang manfaatnya sangat penting sekali bagi banyak masyarakat Indonesia, produk Litbang ini perlu disosialisasikan, didukung dan segera disebarluaskan demi kesejahteraan masyarakat kita semua.

Diakhir acara kami sempat berfoto bersama.
Diakhir acara kami sempat berfoto bersama.

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya

Potret Jakarta/ Sumber: Dokpri
Potret Jakarta/ Sumber: Dokpri

Selama saya berada di Jakarta, saya merupakan pengguna aktif jasa transportasi baik mikromini, Bus Kopaja atau Busway TransJakarta. Selebihnya Bus Kopaja dan Bus TransJakarta, menjadi transportasi andalan saya sebab tidak ada pilihan lain untuk tidak menggunakan jasa bus tersebut. Entah mengapa, hampir dari setiap saya sudah turun dari bus yang saya tumpangi, selalu meninggalkan kesan kurang nyaman dihati saya sendiri dan mungkin bagi beberapa penumpang lainnya. Seolah naik bus itu saat ini menjadi sesuatu yang tidak disukai oleh banyak penumpang. Dari mulai jalannya yang macet, sampai menunggu kedatangan bus yang lama, serta tidak terkontrolnya kenyamanan untuk penumpang saat ini.

Alasan bus menjadi transportasi penting di Jakarta karena saat ini hanya bus saja yang mampu menjangkau wilayah sesuai kebutuhan penumpang. Bayangkan saja, jika penumpang naik kereta api. Yang ada banyak penumpang kesulitan sampai di tempat tujuannya, selebihnya kereta api hanya satu jurusan saja. Lagi, jasa Taksi hanya mampu digunakan untuk kalangan menengah keatas sebab ongkosnya yang mahal. Di Jakarta MTR masih dalam pembangunan.

Dapat menerobos disela kemacetan ialah pengendara sepeda motor yang malah menambah kemacetan/ Sumber: Dokpri
Dapat menerobos disela kemacetan ialah pengendara sepeda motor yang malah menambah kemacetan/ Sumber: Dokpri

Ada beberapa masyarakat khususnya di Jakarta ini, menyadari bahwa naik bus itu sering mengalami macet dan harus menunggu antrian lama untuk menunggu kedatangan bus. Sudah banyak saat ini masyarakat yang memilih untuk berpergian dengan mengendarai sepeda motor. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka beranggapan bisa mencari celah untuk menerobos sela-sela diantara kemacetan tanpa menggantungkan bus lagi. Dan begitulah, tidak heran jika kita memperhatikan jalan yang ada di Jakarta ini mobil bercampur dengan sepeda motor yang berjubel!

Saat ini, beberapa jalan di Jakarta sedang dalam perbaikan, nampaknya ada yang ditinggikan, ada yang dihaluskan/samaratakan, dan penyempurnaan jalan Busway TransJakarta. Menurut saya, perbaikan tersebut kurang cepat dalam penyelesaiannya. Selain jalan yang mengalami perbaikan masih difungsikan, dalam pembangunannya seakan  begitu santai. Padahal, dampak buruk dari kelambatan memperbaiki jalan tersebut mengakibatkan jalan menjadi berdebu. Hal ini sangat mencemaskan warga setempat dan penumpang bus terancam gangguan pernapasan akibat pencemaran udara. Apalagi terhadap penjual makanan yang biasanya berada di pinggir jalan.

Jalan Simpang Lima yang tak terkendali/ Sumber: Dokpri
Jalan Simpang Lima yang tak terkendali/ Sumber: Dokpri

Kalau nggak macet, bukan Jakarta namanya! Itu merupakan tanggapan dari salah satu teman saya ketika saya menyampaikan bahwa saya sedang naik bus Kopaja dan macetnya minta ampuuun. Saya juga masih ingat awal mula saya menginjak kaki di Jakarta saat itu, setelah turun dari bus Travel saya dari Kalideres saya berniat naik Busway TransJakarta jurusan Rawa Buaya. Dan ini menjadi pengalaman pertama saya naik Busway, pada mulanya saya biasa saja melihat antrian panjang dari para penumpang. Tapi, saat saya merasa sudah menunggu lebih dari setengah jam, saya merasa tersiksa sekali. Sudah gerah menunggu lama, tanpa AC, dan kipas angin yang kurang, penumpang berdempet-dempetan, dan tetap harus berdiri, tak peduli mau pinsan atau kebelet kencing. Juga tetap harus berdiri!

Jika Jakarta itu macet, semestinya memang harus dimaklumi saja. Kita tahu, Jakarta merupakan urat nadinya Indonesia. Banyak orang dari beberapa kota di luar Jakarta seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Bandung, bahkan luar Jawa sana yang menggunakan jasa transportasi antar kota dan propinsi sengaja datang ke Jakarta. Baik untuk urbanisasi, untuk berwisata, dan berbisnis. Jakarta menjadi tempat pusat dimana banyak orang memang perlu masuk dan keluar Jakarta.

Menurut saya, kemacetan di Jakarta yang ada selama ini merupakan buah kota Jakarta yang kurang terencana. Pemerintah kita rupanya kurang sigap dalam menghadapi dan mengatasi masalah ledakan penduduk yang ada di Jakarta. Ok, jika memang saat ini Jakarta hanya mampu memberikan pelayanan jasa transportasi daratnya hanya bus yang jadi sarana utamanya. Kenapa tidak dari dulu, di Jakarta ini dibangun lebih banyak jalan layang? Kenapa baru tahun depan Ahok baru merencanakan bus tingkat akan dioperasikan di Jakarta? Apakah pemerintah DKI Jakarta terdahulu patut dinilai kurang dalam menangani kemacetan di Jakarta ini?

Yang selalu saya sedihkan ialah, kita(khususnya pengguna jalan raya yang ada di Jakarta) baik penumpang transportasi umum/ pengemudi kendaraan pribadi yang suka dilanda kemacetan di jalan raya. Menjadi lebih banyak tersita waktunya hanya karena hal sepele yaitu macet-macet-macet dan macet lagi! Kemarin sore saya dari Pulo Gadung sampai Rawa Buaya bisa sampai 3 jam. Gila! Di negara-negara maju, waktu itu lebih berharga daripada uang. Lima menit saja mereka sangat menghargai, apalagi satu jam.

Kalau sudah begini yang salah siapa? Jika banyak dari penumpang bus saat ini yang menggunakan jasa transportasi kebanyakan tidak merasa nyaman lagi, tidak bisa datang dan pulang kerja tepat waktu hanya karena penyakit jalan Jakarta ini suka rewel/macet! Ini lho Jakarta, ini lho Indonesia. Seribu keluhan hanya cukup tersimpan didalam hati setiap penumpang dari kita semua.

Sepeda motor menyebar di tengah jalan raya penyebab kemacetan/ Sumber: Dokpri
Sepeda motor menyebar di tengah jalan raya penyebab kemacetan/ Sumber: Dokpri

Pemda Jakarta, segera berikan solusi kepada kami. Sejahterakan kami, sebagai rakyat yang memang transportasi itu sudah menjadi bagian dari kebutuhan kami sehari-hari. Terimakasih!