Tanda-tanda Cowok yang Lagi PDKT

Sebagai remaja menjadi perempuan alias cewek, anehnya saya kurang suka kalau ada cowok yang mau PDKT dengan saya. Bukan berarti kalau saya itu orangnya terlalu ya, tapi yang jelas saya nggak suka dengan tingkah cowok dengan berbagai macam pendekatannya kalau sedang kecantol saya. Ih, judes ya sekaligus PD abies…?

Kenapa demikian. Saya pun mencoba memahami diri saya sendiri dengan sebaik-baiknya. Dan ternyata, kesimpulannya hanya simple banget : saya bukan tipe cewek yang suka dirayu, digoda dan digonjang-ganjingkan hatinya supaya bisa rontok lalu terjatuh dengan hati lawan jenis yang sedang sengaja menggoda saya. Ha ha ha.

Wkwkkwkwkw, apa saya itu pernah patah hati hingga menjadi begini?

Jawaban yang tepat yaitu, saya lebih suka kecantol daripada dicantol.Pengalaman telah mengajari saya untuk merasakan betapa menderitanya kecantol cowok itu, apalagi kalau saya mencoba untuk mendapatkannya (menjadi kekasihnya)…Mencintai sama dengan mengeluarkan energi dan sebaliknya, dicintai akan mendapatkan energi…

No way, demi cinta sampai mau-maunya dapat jampi-jampi dari Mbah Dukun dan secara pribadi saya merasa punya hak untuk memilih siapa cowok yang sesuai dengan selera saya. Kemudian cowok itu bisa menerima saya apa adanya. Esensi cinta bagi saya adalah saling suka-menyukai bukan karena apa, melainkan hanya karena saling merasa cocok diantara keduanya saja.

Berbeda pemikiran, berbeda pula pendapatnya masing-masing orang. Begitu juga dengan saya, yang punya asumsi seperti yang sudah saya ceritakan diatas tadi. Benar bagi saya, belum tentu benar bagi kalian. Dan kali ini saya ingin menuliskan beberapa poin tanda-tanda cowok yang lagi PDKT sama cewek. He he he, siapa tahu setelah membaca tulisann ini diantara kalian ada yang menyadari bahwa di dekat kalian ada seseorang yang diam-diam sedang ingin mendekatimu 🙂

Tanda yang Pertama, cowok yang sedang ingin PDKT dengan cewek akan lebih sering keinget nama dan tentang cewek yang sedang dikaguminya, baik siang, pagi, sore, dan malam. Serta suka keinget cewek pujaannya baik ia sedang berada di teras, pinggir jalan atau di bawah kolong jembatan. Tak heran jika tiba-tiba saja cowok itu lebih intens mengirim pesan kepadamu(cewek).

Tanda yang Kedua, jika cowok itu lagi sedang bertemu langsung denganmu. Ia akan terkesan grogi sendiri, salah tingkah dan aneh. Jangan kaget kalau cowok yang lagi PDKT senyumannya suka dimanis-manisin. Ditambah lagi sama rayuan mautnya yang menurutnya ajimumpung bingit! Mulailah muncul kata-kata yang berbunga-bunga.

Tanda yang Ketiga, cowok yang lagi PDKT sama cewek biasanya akan berusaha untuk bisa mencari informasi tentang cewek yang sedang digandrunginya dengan rasa ingin tahu yang menggebu dan tinggi. Beruntung kalau mungkin nama ceweknya dapat di searching di Google, nah kalau sama sekali nggak bisa diakses lewat internet bisa jadi si cowok terpaksa curi tahu lewat teman lain, atau berani menanyakan langsung sama cewek itu.

Tanda yang Keempat, cowok yang PDKT sama cewek akan mau melakukan apa saja buat bisa menaklukkan hati si cewek. Kalau mungkin cewek punya tipe matre, wah si cowok mesti sabar nih buat mau membelikan ini-itu sesuai kemauan si cewek.

Tanda yang Kelima, si cowok yang sedang jatuh cinta entah si cewek yang sedang dikejarnya nanti akan berhasil atau tidak menjadi kekasihnya. Tetap si cowok akan punya rasa semangat yang luar biasa setiap kali teringat si cewek yang sedang dikaguminya.

Tanda yang Keenam, cowok yang sedang melakukan PDKT biasanya akan terkesan lebih rapi dan perhatian sama penampilannya sendiri. Tadinya kalau mungkin si cowok itu biasanya mandi dua kali sehari, bisa jadi karena sedang kasmaran dalam sehari ia mau mandi sekali dalam sehari.

Ngomong-ngomong soal cowok yang sedang PDKT sama cewek jadi keinget almarhum salah satu teman laki-laki sekolah saya sewaktu saya lanjut studi habis SMA dulu. Pas PDKT-nya sama saya, dia belum sempat mendapatkan jawaban yang pasti dari saya, sehari sebelum ajalnya tiba, saya merasa bersalah sekali tidak membalas pesan SMS nya. Dan akhirnya kenapa saya baru bisa membuka hati saya untuknya setelah ia sudah tidak bernyawa?

Semoga dia ikhlas jika sampai kapan pun saya belum bisa memberikan jawaban apakah saya menerima PDKT-nya yang sudah ia lakukan kepada saya atau tidak. Yang jelas, Tuhan punya rencana yang lebih baik dan hanya Dia saja yang tahu jodoh hamba-hamba-Nya.

Iklan

Hal yang Dirasakan Anak, Ketika Anak Mendapatkan Dukungan Dari Orang Tua

Orang tua saya merupakan salah satu orang tua yang tidak suka memaksakan kehendak terhadap anak-anaknya alias tidak neko-neko, tapi orang tua saya lebih memberikan kelonggaran untuk anaknya untuk bisa memiliki pilihan dan keputusan sendiri yang tentunya sesuai dengan minat anaknya masing-masing. Kebetulan saya anak nomor dua dari tiga berdsaudara yang suka merantau. Atau dapat dikatakan saya suka ngelayap jauh dari rumah deh, entah kenapa mungkin selagi masih muda saya ingin mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

Saya mengingat kembali, kapan orang tua saya memberikan kepercayaan seperti itu kepada saya yaitu saat saya berhak memilih sekolah SMP mana yang ingin saya daftar setelah saya lulus SD. Ketika itu pula kemudian saya mulai belajar membuat pertimbangan dan memutuskan sesuatu. Alasan saya memilih sekolah Negeri hanya satu, saya ingin bisa mendalami pelajaran agama Islam lebih baik sebab sedari kelas satu SD saya hanya mendapatkan pelajaran Nasrani dari sekolahan.

Kemudian, semakin bergulirnya waktu ternyata orang tua saya tidakberubah. Selain aktif menjalin komunikasi, mereka juga mendukung terhadap apa yang saya kerjakan di sekolah. Hingga kesempatan untuk memilih sekolah mana yang ingin saya jadikan sekolah lanjutan di SMA pun tiba. Dan juga, setelah lulus saya pun diberikan kepercayaan untuk memilih jalan mana yang ingin saya tempuh.

Orang tua mana yang tidak terpukul hatinya ketika ada salah satu anaknya yang meminta ijin untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga di luar jawa mengingat dasarny asaya adalah anak yang nggak ngerti apa-apa (ini sangat mengkhawatirkan bagi ortu saya), sedangkan orang tua itu sudah berupaya semaksimal mungkin untuk bisa membiayai kebutuhan pendidikan  anaknya  dengan sebaik-baiknya?

Orang tua mana yang punya cita-cita anaknya menjadi kaki tangan orang lain?

Saat itu, saya merasakan sudah membuat orang tua saya bersedih hati. Walau dengan berat hati, akhirnya mereka pun menyetujui keputusan dan pilihan saya. Selama diperantauan, mereka tak henti-hentinya berpesan agar saya mau berhati-hati dan bisa menjaga diri. Mereka sama sekali tidak menuntut apa-apa dari hasil keringat saya.

Kurang lebih sepuluh bulan saya merantau untuk pertama kalinya, dan sepulangnya lagi-lagi saya semakin membuat konyol orang tua saya dengan meminta ijin bekerja menjadi pembantu di luar negeri.
Masih teringat saat ini bagaimana orang tua saya menahan nafas panjang dan sesaknya kala itu.

Dalam hati memang mereka bimbang dan sebenarnya takut akan keselamatan saya untuk bekerja di luar negeri pertama kalinya, tapi sebagai bentuk dukungan terhadap apa yang menjadi pilihan dan keputusan saya. Orang tua saya berpesan agar saya harus punya semangat mau mengubah nasib demi kehidupan yang lebih baik( tentunya bukan dinilai dari segi materi saja).

Singkat cerita meminta ijin untuk bekerja di luar negeri saya lakukan selama dua kali di tempat yang berbeda. Tersadar, saya kini sudah kembali di Indonesia, dan apabila saya ingat kalau ternyata sampai saat ini juga saya masih mengedepankan pilihan dan keputusan saya. Saya ingin menyampaikan beribu terimakasih kepada orang tua saya. Dengan terwujudnya apa yang saya inginkan, saya merasa mendapatkan kebebasan yang sah. Selayaknya seekor burung yang tidak dikurung didalam sangkar saja melainkan orang tua saya telah mengijinkan saya terbang bebas ke awan biru diatas sana….

Merantau jauh dengan orang tua, jalannya tak selalu mulus seperti  pada saat kita melewati jalan Tol. Selain suka pasti ada duka! Tapi, saya lebih bisa menikmati dan mengambil hikmah dari setiap apapun yang terjadi terhadap hidup saya kali ini. Saya percaya, orang tua tetap ingin anaknya mendapatkan sesuatu yang terbaik dari pilihan dan keputusannya sendiri, bukan berarti orang tua tak peduli namun mereka lebih menghargai apa yang menjadi alasan kenapa anaknya mau melakukan apa yang menjadi keputusannya.
Saya ingat kembali kenapa dengan berat hati orang tua melepas saya namun mereka  tetap masih bisa memberikan dukungan terhadap apa yang jadi keputusan saya, sebab sebelumnya saya sudah membicarakan maksud dan tujuan dari apa yang ingin saya lakukan kepada mereka berbicara dari hati ke hati. Tidak mudah meluluhkan hati orang tua, tapi jika didasari niat yang baik apa pun yang jadi kekhawatiran orang tua kemungkinan besar bisa diatasi.

Bagi saya, dukungan, motivasi dan rasa kasih sayang dari orang tua itu lebih berharga daripada orang tua hanya memberikan kebutuhan materi tapi samasekali kurang memperhatikan psikologi anak-anaknya.

“Berapa jumlah anak yang stress akibat dari rasa tertekan akibat paksaan orang tua untuk jadi anak ini dan itu? “

Beberapa sumber menyatakan bahwa orang tua yang terlalu menekankan anaknya untuk jadi ini itu bisa membuat anak stress. Berikut sumber link-nya yang dapat kita baca bersama :

http://female.kompas.com/read/2012/01/30/09400587/5.Perilaku.Orangtua.yang.Bikin.Anak.Stres

http://www.tribunnews.com/kesehatan/2014/12/07/jangan-bikin-anak-stres-karena-target-orangtua

http://www.tempo.co/read/news/2012/03/20/173391560/Empat-dari-Lima-Anak-Alami-Tekanan-Batin

Ciuman Basah di Bibir Lebih Diminati, Kenapa?

Bibir merupakan bagian organ tubuh kita yang paling atas tingkat kesensitifannya. Daerah ini lebih mudah terstimulasi  oleh sentuhan. Secara alami, sebagai wujud kasih sayang atau cinta, banyak orang dari kita akan mewujudkannya dengan sebuah ciuman. Demi keharmonisan pacaran kalau sudah cinta, saat berdekatan tak jarang berpelukan dan saling pandang. Habis memandangi hidungnya (baik mancung atau pesek), maka bibir akan menjadi objek pandangan selanjutnya. Melakukan ciuman bibir atau tidak itu bagi saya sebuah “hak”, siapa saja yang merasa sudah dewasa pasti bisa memaknainya sesuai dengan jalan pikiran serta keyakinannya sendiri.

Tentang ciuman basah. Orang asing biasa menyebutnya dengan istilah “French Kiss”, dimana ciuman ini dilakukan bukan hanya memainkan kedua bibir saja tetapi lidah diantara keduanya juga bertemu. Ciuman dengan style ini lebih banyak dilakukan sebab banyak pasangan yang menyukainya, bahkan melakukannya dalam waktu yang lama.

Jangan ditanya ya, kalau kalian sudah berpengalaman melakukan satu hal ini dengan pasangan kalian, pasti kalian akan  menjadi kecanduan untuk bisa  melakukannya lagi dan lagi! Saya kira, sebenarnya ciuman bibir dengan waktu yang lama (French kiss) inilah penyebab kenapa banyak terjadi kasus kehamilan di luar nikah pada teman-teman seumuran kita.

Pada intinya saya akan mengingatkan dua hal saja….

Yang pertama, faktor yang mempengaruhi adanya keiinginan untuk berciuman basah.

Dalam hal ini akan ada banyak macam faktor pendorongnya, beberapa diantaranya karena mindset (keyakinan: melakukan atau tidak melakukan), lingkungan pergaulan teman yang berpengaruh, kebutuhan biologis seiring perkembangan fisiologis, adanya sikap remaja yang suka coba-coba atas rasa penasarannya terhadap hal-hal yang baru!

Jika sudah pernah melakukan, perlu diketahui sewaktu ciuman ada beberapa hormone yang membuat seseorang yang berciuman merasakan sensasi yang “beda” diantaranya sebagai berikut;

Saat berciuman basah akan timbulah beberapa hormone, diantaranya Hormon Oxytocin, yang berasal dari hypothalamus otak akan menimbulkan rasa enjoy, Hormon Endorfin yang berperan sebagai penghasil rasa nyaman (bersifat analgesik : pereda rasa sakit, penurun stress), Hormon Adrenalin, yang berperan sebagai pemicu denyut jantung untuk lebih cepat sehingga membuat kalian merasa kuat/bertenaga saat berciuman. Dan hormone Estrogen dan testosterone sebagai pendorong kalian ingin melakukan ciuman basah (libido).

Yang kedua, ketahuilah bahwa jika tidak berhati-hati, ciuman itu bisa jadi jalan tertularnya penyakit. Ada beberapa penyakit yang menular lewat air liur. Disela-sela rongga mulut, gusi dan lidah itu terdapat banyak sekali bakteri. Mulut yang bau tanda bahwa mulut tersebut terdapat banyak bakteri.

Beberapa penyakit yang mungkin bisa ditularkan  lewat air liur itu ialah diantaranya sebagi berikut, penyakit flu yang disebabkan karena virus. Apabila daya tahan tubuh ngedrop maka kondisi tubuh kita akan mudah tertular penyakit ini. Tertular penyakit Glandular Fever, penyakit ini disebabkan oleh virus Mononucleosis dengan gejala sakit pada tenggorokan, kepala terasa sakit, demam, cepat lelah dan turunnya nafsu amakn. Ada juga penyakit Herpes (radang kulit) yang bisa ditularkan melalui air liur. Peyakit ini akan ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung berisi air pada kulit penderita. Herpes biasanya menyerang mulut (disebut Herpes Simplex)dan bagian pinggang bagian atas disebabkan karena virus. Beresiko terkena penyakit Hepatitis B, penyakit kutil ( adanya penebalan kulit yang berlebihan karena virus HPV.

Lalu yang mengerikan satu penyakit ini nih, namanya Meningakokus. Suatu penyakit radang selaput otak dan sum-sum tulang belakang yang disebabkan oleh bakteri. Setelah membaca habis tulisan ini, lalu pertanyaan saya pada kalian;

Sumber referensi :

http://www.seksualitas.net/penyakit-menular-ciuman-bibir.htm

http://www.seksualitas.net/hormon-seks-pemicu-orgasme.htm#_

https://www.facebook.com/permalink.php?id=130199800402977&story_fbid=737916706297947

Godaan-godaan Terberat Cewek di Usia 25

Berada di lingkungan baru memanglah membuat pikiran ini ingin bisa menyesuaikan diri. Dalam hati aku sedang kebingungan dengan siapa diriku sendiri. Aku cewek alias perempuan, jenis kelaminnya betina. Entah sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan dalam-dalam saat ini seolah semua serba berantakan. Kalau aku ini sebuah tulisan diatas kertas, tulisan itu akan berupa coretan-coretan yang sembarangan. Kalau aku ini sebuah benang, benang itu ruwet. Seruet pikiranku ini.

Hampir saja aku ingin menyerah menghadapi situasi dan kondisi yang sedang terjadi pada detik ini! Namun, bisik hati mengatakan bahwa kenyataan apapun yang menimpa diri dan yang sedang dihadapi sekalipun terasa berat, pahit dan sebenarnya tidak aku sukai mau atau tidak mau aku harus bisa ikhlas untuk mau menjalaninya. Aku hanyalah anak muda yang selalu beranggapan kalau aku ini serba kekurangan dan terbelakang. Entah kenapa hatiku selalu menuntut kalau aku harus berubah menjadi tidak kuper lagi dan lagi.

Tanpa aku sadari, pikiran ruwet ini ternyata mempengaruhi mood dalam kesukaanku menulis. Dan pada akhirnya, terhenyak jiwa ini untuk berbagi cerita sekalipun sederhana. Pelan-pelan aku tata kembali hati dan pikiranku serileks mungkin. Mencoba lagi melapangkan dada ini dengan suka-cita. Belajar menyayangi diri, dengan tidak mencantumkan image negatif yang berlebihan terhadap diriku sendiri.

Kali ini aku ingin berbagi dengan sejuta cewek yang ada di seluruh Indonesia. Dengan sedikit tulisan ini mudah-mudahan bisa mencerahkan hati cewek-cewek yang hatinya sedang mendung, gelisah dan kurang percaya diri…!

***

Bener nih, kamu ngaku cewek! Aku yakin, sejak kecil dulu kita sudah disimboliskan dengan bunga, bukan? Keanggunan, kelembutan dan keluguan sebenarnya kita sudah dibantu oleh orang-orang di sekitar kita untuk mendapatkan itu semenjak kita masih dini. Dari itulah emak kita memakaikan baju rok bermotif bunga atau boneka, membiarkan rambut kita lebih panjang daripada potongan anak laki-laki seperti biasanya. Suara kita asli lebih halus daripada laki-laki. Masih ingatkah kamu pertama kalinya kamu dandan setelah melihat ibumu memoleskan lipstiknya di depan cermin?

Terus terang dan secara terbuka aku adalah cewek yang menyandang usia 23 tahun, dan lima bulan lagi nih aku akan genap 24 tahun. Memang benar kalau aku sudah banyak tak ingat lagi memori sepanjang 23 tahun kebelakang kemarin. Akan tetapi, dari relung hatiku ini yang paling dalam aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda saat menjelang usia 24 tahun yang mendekati 25 tahun ini. Suer dan seriuuus …!

Godaan-godaan terberat cewek yang belum mapan menjelang usia ke-25

Siapa kamu? Adalah suatu pertanyaan yang hampir setiap detik menghantui diri, selebihnya buat cewek yang kebanyakan masalah dalam hidupnya. Bermasalah dengan jiwanya karena berbagai macam alasan, baik masalah dengan keluarganya, dengan temannya, dengan lingkungan atau sebagainya.

Usia 25 untuk seorang cewek bisa menjadi wajah penuh keceriaan dan sebaliknya. Khusus yang nggak ceria dan manyun, beberapa poin ini mewakili sumber permasalahan Anda yang paling dominan;

1). Siapa pun kamu asal cewek yang berumur 25-an, siap-siap saja untuk mendinginkan telingamu dari orang-orang yang mempertanyakan kapan kamu mau nikah padahal kenyataannya kamu sedang jadi jomblowati!

Berkenalan dengan orang baru memanglah indah, saling kenal-mengenalkan satu sama lain. Tanya kesana-kemari ujung-ujungnya nanti akan ditanya, kapan nikah ya. Dari orang tua, jelas mereka berpikiran kalau putrinya  cepat atau lambat butuh nikah. Tak heran, pertanyaan akan banyak muncul dari teman-teman yang kenal dengan kita, dasar manusia memang suka penasaran kok. He he he

2). Bermula dari pertanyaan kapan mau nikah yang bertubi-tubi itu, selain jomblo alias nggak punya gebetan. Pikiran akan dipusatkan kepada pekerjaan yang mapan, dan minimal bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Bagi yang bergelar sarjana, atau anak dari orang punya yang bisa gabung kerja dengan orang tuannya. Mungkin nggak banyak masalah untuk itu. Namun bagi cewek yang nggak punya skill apa-apa  karena faktor malas dan kemampuan berpikir serba pas-pasan, ia akan gelageban terhadap ketidak sanggupannya memenuhi tuntunan sebagai cewek remaja alangkah lebih pantasnya jika bekerja.

3). Pendidikan yang pada mulanya suatu kewajiban seperti pada saat SD, SMP, dan SMA yang gunanya untuk tidak menjadi bodoh dan sebagai jembatan menuju perguruan tinggi, diusia 25-an pendidikan lekat dengan status dan jabatan.

Si X bekerja sebagai guru di sekolahan tertentu, atau si B menjadi dokter di RS tertentu. Alasan yang mendasar saat sebagai cewek kita sadar bahwa kenapa kita masih saja menjadi bukan mereka, karena kita hanya punya kapasitas berpikir yang pas-pasan atau karena nggak punya uang buat lanjut kuliah merupakan suatu alasan yang mudah untuk dijadikan sebabnya.

Ada yang mengatakan kalau pendidikan bukan jaminan seseorang bisa sukses, namun ternyata memanfaatkan masa belajar di sekolah dengan sebaik mungkin tetaplah suatu jalan yang bagus dikala kita sadar kalau diusia 25 tahun tanpa prestasi belajar. Coba deh nyari pekerjaan hanya bermodal ijazah SMA, pasti akan tidak mudah dalam mencarinya kecuali pabrik atau penjaga toko. Lagi, kalau ada reuninan, minder nggak kalau kita ketemu teman lama tapi kita masih bukan siapa-siapa?

4). Usia 25-an adalah usia dimana tuntunan dari lingkungan terhadap  kita untuk menjadi benar-benar dewasa sangatlah tinggi. Kita dianggap bukan sebagai anak kecil lagi.

Menjadi dewasa tidak semuanya bisa mandiri. Permasalahan yang dihadapi masa-masa usia ini bagi remaja cewek sangatlah beragam. Bagi yang punya teman soulmate biasanya lebih terbuka terhadap teman yang sudah menjadi sahabatnya. Lain halnya dengan cewek yang kepribadiannya tertutup. Apa-apa mesti dipikir sendiri dan tak heran jika banyak cewek yang stress serta depresi dengan dirinya sendiri.

5). Kehilangan kepercayaan diri.

Apapun bentuk permasalahannya sebagai cewek yang menyandang umur segituan, satu hal penting yang harus dipegang erat-erat dan dijadikan sebagai pedoman hidup. Kita jangan sekali-kali sampai kehilangan kepercayaan diri. Rasa malas tak bersemangat jika sekiranya kita sudah ingin menyerah dalam menghadapi hidup kita. Menjadi wanita pantas lemah lembut namun jangan sampai direndahkan dengan laki-laki. Gender kita sama dengan laki-laki, hak-hak kita sebagai perempuan ada! Menjadi cewek bisa belajar dari mana saja dan tidak harus dari sarjana kertas, jadi cewek nggak bekerja di kantor elit asalkan kita punya etos kerja yang tinggi. Jadi cewek yang jomblowati itu hanyalah masalah soal waktu, jodoh tak akan kemana.

Nikmatilah hidup, dan jadikanlah usia yang ke-25 an ini sebagai pemompa semangat kita untuk berusaha menjadi siapa diri kita sendiri.

Strees Berat Gara-gara Ciuman

Semalam aku tidur lebih awal dari biasanya, sekalipun tak banyak melakukan apa-apa, tapi entah mengapa tumben sekali badanku terasa pegal dan kurang nyaman. Sekitar habis waktu isya, aku langsung tidur. Alarm sudah aku setting jam sembilan malam, berharap bisa bangun dan melakukan sesuatu yang mungkin kurasa perlu. Karena tidur kenyenyakan, aku terbangun ketika ada salah satu teman mengirim SMS sebab HP bergetar. Melihat waktu, baru sekitar jam dua lebih seperempat.

Terbangun dan pikiran menjadi sadar, aku kemudian duduk merenung seorang diri. Meratapi diri sendiri, mengakui bahwa diriku belum berbuat sesuatu yang berarti. Tanpa alasan yang jelas, aku tiba-tiba ingin mati. Aku merasa bosan dengan semua yang ada. Sudah kurencanakan aku mau tidur selama tiga hari berturut-turut tanpa melakukan apa-apa, kalau bisa stop makan, stop buka FB dan stop main HP. Aku sedang strees berat! Aku punya mimpi, aku merasa sedang dalam proses meraihnya. Rupa-rupanya aku kurang puas dengan usaha yang aku lakukan selama ini, tetapi tetap saja sebuah mimpi itu tak bisa terjadi secara spontan melainkan butuh perjuangan.

Larut dalam renungan, menjadikanku teringat beberapa waktu yang lalu mendapat curhatan dari salah satu teman dekatku. Kedekatannya sangat baik. Mungkin karena ia percaya padaku, dengan terbuka ia menceritakan masalah pribadinya kepadaku. Dia mengatakan bahwa ia sedang dilanda strees berat, ia sengaja melakukan aborsi karena hamil diluar nikah dengan cowoknya. Saat mendengar berita yang mengagetkan itu, dalam pikiranku langsung membayangkan wah ini pasti gara-gara ciuman temenku bisa strees seperti ini! Sekilas, ia tampak bahagia, tetapi pada saat tertentu apalagi saat sendiri ia berubah murung. Ada tekanan didalam jiwanya.

Pengalaman pernah mendapat cerita itu, menjadikanku berpikir. Setiap orang pasti punya masalah yang menjadikan strees, depresi atau frustasi. Aku merasa sedang terjatuh, aku butuh kekuatan. Bayanganku melayang pada seorang gadis bernama Galuh Ayu. Sososk inspirasi menulisku. Dia seorang penulis, dengan keterbatasan fisiknya ia mempunyai semangat hidup yang luar biasa. Aku paham, streesku karena mimpi-mimpiku sendiri, terkadang aku semangat karena mimpiku tapi dilain waktu mimpiku melemahkanku. Merasa butuh semangatnya, kemudian aku membuka kembali tulisan yang pernah ia tuliskan. Dan berikut sedikit catatan yang aku tulis di buku harianku;

”Jangan takut meyakini sesuatu hal yang mustahil dilakukan, dikerjakan atau diwujudkan. Sebab, ketakutan yang muncul dari diri sendiri itulah yang justru akan menjadi penghalang terbesar munculnya sebuah keajaiban bernilai tinggi. Jika tak ada seorang pun berada untuk mendukungmu, maka jangan khuwatir. Tuhan akan senantiasa mendukung dan mendampingimu selalu, selama kita percaya hanya kepadaNya.”

”Semua impian, harapan & cita-cita adalah kunci untuk tetap bertahan. Bertahan dalam keterasingan, keterpurukan, ketidak pastian, bahkan pada kebencian.”

”Semua menjadi mungkin ketika keyakinan itu telah mengakar dan menjadi harapan dalam upaya untuk mewujudkannya.”

(kata motivasi yang terakhir kuperoleh*)

”Saat ini, aku tidak mau yang lain kecuali merapikan keyakinan-keyakinan, keteguhan-keteguhan hati ini yang terpuruk sedikit retak dimana-mana. Aku masih ingin menjaganya erat-erat. Aku masih ingin menjadi aku. Bukan kamu, dia, kalian, ataupun mereka.”

Aku suka dengan tulisan Mbak Galuh ini, dan ketika aku menyadari bahwa dari penulis ini aku mempunyai semangat untuk bisa menulis, dan seperti tidak bisa dipercaya, jumlah tulisanku dua kali lipat dari tulisannya di Kompasiana. Barangkali ia sekarang aktif dengan pekerjaan yang lain sehingga sudah jarang menulis lagi. Jumlah tulisan yang lebih banyak bukan tanda aku lebih hebat, melainkan menjadikanku sadar bahwa ternyata ”Semangat menulisku itu ada!”

Strees itu merupakan satu hal yang sering tidak bisa kita hindarkan dari kehidupan kita, tak lepas dari datangnya suatu masalah yang datangnya tak terduga. Apapun masalahnya, menjadi bijak itu sulit tanpa adanya kesadaran dari dalam jiwa kita sendiri.

Karena semangat ini, akhirnya rencanaku sudah kugagalkan sangat awal. Aku tidak setuju jika tiga hari kedepan kerjaannya mau tidur doang, stop FB, Stop maen HP dan stop makan. Yang paling penting itu tadi, ”Jika tak ada seorang pun berada untuk mendukungmu, maka jangan khuwatir. Tuhan akan senantiasa mendukung dan mendampingimu selalu, selama kita percaya hanya kepadaNya.”

Jadi, aku masih punya mimpi-mimpi yang hidup kembali saat ini, syukurlah….*

Pendukung Artikel: http://www.kompasiana.com/galuhayu

Sahabat Lebih Peduli daripada Teman

 “Teman, apa yang terjadi padamu? Kita sudah berteman sejak SMP, sampai SMA pun kita satu sekolah. Dulu kau yang begitu lugu, berbeda dengan aku yang nakal. Tapi kenapa sekarang kau berubah 180 derajad? Aku sungguh tak suka melihatmu memasang foto tak seronoh dan statusmu seperti orang frustasi. Senakal-nakalnya aku dulu aku masih dalam koridor etika. Aku tulis ini karena ku sayang padamu. Maaf jika ku menyinggung perasaanmu. Kewajibanku sebagai sahabatmu. Tulisan ini akan ku kirim ke inboxmu … ku tak ingin kau berjalan terlalu jauh di jalur yang kau tempuh sekarang”.

Tadi malam saya sempat berulang-ulang membaca pesan tersebut, tanpa sanggup menahan air mata saya untuk terus meleleh. Kurang lebih sudah lima tahun kami tak bertemu. Tapi melihat pesan itu, saya merasakan ada orang yang masih peduli dengan saya, masih ada orang yang member sayang kepada saya dan  dari pesan itu pula, terkias masih ada keiinginan untuk  menjaga sebuah persahabatan yang sudah terjalin.

Pesan itu saya terima dari salah satu teman perempuan saya, sekitar satu tahun yang lalu, yang mana sebelumnya kami pernah bersahabatan  selama 6 tahun. Kami saling mengenal baik, dari kelas satu sampai kelas tiga SMP kami selalu berada di kelas yang sama. Pernah duduk sebangku setahun di kelas tiganya, sering bermain bersama, bertukar pikiran mengerjakan tugas belajar dan tertawa bersama. Bahkan kami sempat mendaftar satu sekolahan yang sama pula di SMA dulu. Dia mengenal saya, dan saya pun mengenal dia dengan baik.

Namanya juga sudah sahabat, mau jarang komunikasi atau bahkan lama nggak ketemu pun kalau keterikatan batin masih kuat dan ada, sekiranya rasa peduli itu masih ada. Adat orang Indonesia berpakaian tanpa lengan dan memakai celana atau rok diatas lutut memang masih dinilai kurang baik. Terlepas niatnya untuk bergaya atau disengaja. Kala itu sewaktu saya masih ada di HK yang nota bene pada hari libur kerja adalah hari kebebasan, bebas mau nyamar jadi laki-laki, bebas mau jadi santri, bebas mau jadi apa saja deh. Jauh hari, sebelum saya membiasakan diri memakai jilbab sempat saya pun terpengaruh teman dekat saya untuk berpakaian vulgar.

Seperti biasa, kebiasaan kita kalau pas libur dan bersenang-senang itu selfie. Merasa potonya cantik (menurut diri sendiri), lalu diunggahlah kemudian di FB. Jadilah sahabat saya mengirimkan pesan untuk saya tersebut. Saya juga masih ingat, mendapatkan teguran dari sahabat yang juga pernah jadi satu sama saya selama tiga tahun. Kedekatannya lebih intens sebab kami pernah tinggal sekosan selama satu tahun. Dia bilang begini ; “Kalau diibaratkan kacang, kamu mau memilih kacang yang masih ada kulitnya atau yang sudah dibuka ?”. Kala itu saya kurang merasakan teguran menyengat ini. Sebab bagi saya, penampilan berbusana yang menurut  sahabat  saya dirasa kurang baik, itu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan penampilan teman-teman yang lebih berani lainnya.

Sedikit sebagai perenungan hari ini, memang busana bukanlah symbol satu-satunya yang menandakan seseorang itu baik atau tidak hatinya. Akan tetapi, adat negeri ini tetap menilai bahwa berpakaian yang sopan adalah lebih baik daripada yang membuat  mata silau. Dan lagi yang lebih penting bagi saya, sebuah rasa dari seorang sahabat dalam jangka panjang pasti akan berbeda dengan rasa seorang teman, sekalipun keduanya saling sama-sama mengenal kita.

Oiya, ada juga ya kita mendengar sahabat yang berkhianat? Bagaimana pun juga, sahabat sejati tetap akan mempertahankan silaturahmi daripada untuk keegoisan dan kepentingan pribadi.

Cara Mudah Lupakan Mantan Pacar

Cinta itu fifty-fifty (50-50). Saling menyukai, saling menerima, saling menghargai.  Saling menguatkan, saling menjaga, saling menyemangati, saling percaya, saling memberi dan ikatan hatinya saling menyatu.

Ada akalanya perjalanan hubungan pacaran tidak selamanya mulus, karena agar cinta bisa bertahan, cinta butuh pengorbanan. Sebelum nembak dulu atau mugkin ditembak, pastilah ada sejarah siapa yang suka duluan. Entah siapa yang memulai duluan… Lalu, kemudian timbullah kata “Jadian!”

Bisa jadi karena ada pihak ketiga, ada satu hal yang buat hubungan kalian retak akibat ketidak percayaan, mungkin kamu atau dia ada yang terlalu menuntut, dan sebagainya. Yang pasti, kali ini aku ingin siapa saja yang habis saja putus sama pacarnya usah galau berkepanjangan, tak perlu depresi sampai-sampai nggak mau makan, nggak mau mandi, nggak mau keluar rumah kan repot?

Berikut beberapa hal yang perlu kalian mengerti agar bisa move On setelah putus sama pacar ;

1). Pasca putus, usah pikirkan mantan pacar kita mau balikan sama kita atau tidak

Apapun masalahnya yang buat hubungan pacaran bisa putus, biasanya siapa yang punya rasa suka berlebih, (mungkin kamu atau dia) akan punya pikiran untuk bisa jadian lagi. Sebab, siapa yang punya rasa sukanya lebih itu akan mengorbankan banyak energi  dalam memperjuangkan cintanya ketimbang yang disukai. Siapa yang punya rasa suka lebih, ia akan melakukan apa saja agar sebisa mungkin hubungannya bisa bertahan. Nah, ketika putus cinta tiba siapa coba yang patah hatinya sangat  dalam kalau bukan si pengorban cinta itu sendiri?

2). Secakep apapun mantan kita, belum tentu mantan kita menganggap kita juga cakep (mantan jangan terlalu dipikirin kecakepannya).

Kalau pas kita ingat apa sih yang buat kita merasa suka terhadapnya(mantan) baik itu dari fisik atau kebaikannya dimata hati  kita. Yang pasti kita akan menganggap kalau mantan kita punya kelebihan yang beda dibandingkan dengan orang lain. Misalnya, kalian pernah suka mantan kalian dari cara mantan kalian melirik, tersenyum, berbicara dengan suara halus dan cara bagaimana ia menunjukkan kasih sayangnya. Sesudah putus, akan timbul kekhawatiran rasa takut kehilangan akan keindahan-keindahan apa yang dimiliki mantan menurut penilaian mata  kita. Padahal, belum tentu mantan kita beranggapan demikain tentang kita.

3). Kenangan manis dari mantan pacar selalu menjadi luka saat sudah berpisah.

Putusnya hubungan pacaran, justru akan menghidupkan kembali kenangan indah masalalu. Kapan mula bertemu, saat-saat bercanda-tawa bersama, jalan bersama dan makan bersama. Membuat kenangan-kenagan tersebut ingin kalian ulang kembali, timbullah hasrat ingin balikan, timbullah rasa takut kehilangan dan kegalauan.

Usahakanlah jangan menghubungi mantan pacar baik dari kontak langsung atau tak langsung, buang jauh-jauh atau sembunyikan sesuatu yang bisa mengingatkan pikiran kita kepada mantan kita. Pikirkan sesuatu yang lain. Jika masih kepikiran, biarkanlah pikiran berlalu dan cari kesibukan untuk memikirkan hal yang lainnya.

4). Galau, resah, gelisah hanya karena mantan pacar : perasaan yang tidak penting!

Jika mantan pacar menghantui pikiran dan hati kalian, serta kalian beranggapan bahwa dengan putusnya hubungan kalian itu membuat hidup kalian menjadi  berantakan, menjadikan kalian tidak bersemangat dan bergairah dalam menjalani hidup lagi. Itu adalah anggapan yang sangat besar salahnya! Tahukah kalian jika; galau, resah dan gelisah itu hanyalah perasaan akibat emosi saja?

5). Berpisah berarti kita akan dapat pasangan yang lebih baik darinya (berpikir positif).

Memang setelah putus dihati akan timbul rasa sakit (apalagi kalau sebenarnya kita masih punya rasa suka sama mantan). Tapi, yakinlah bahwa putus merupakan jalan terbaik. Yang aku tahu, parahnya dari beberapa pengalaman orang yang pernah putus pacaran ada yang punya cita-cita tidak mau menjalin hubungan pacaran lagi. Sebab takut sakit hati dan takut patah hati.

Pelengkap suka yaitu hanya duka. Jika sekiranya hubungan pacaran menjadikan kalian tidak merasa nyaman, buat apa dipertahankan. Dan jangan sampai hanya karena putus pacaran prestasi di sekolah kalian anjlok drastis. Jangan jadikan mantan kalian segala-galanya. Jika memang jodoh, siapa pun orangnya akan datang pada kalian tepat pada masanya. Berpisah atau putus, artinya kita akan mendapatkan pasangan baru yang lebih baik. Seandainya dia yangakan hadir di hati kalian (bisa jadi kedatangannya kembali dengan membawa cerita dan hikmah yang berbeda).

Jangan sampai mantan pacar menjadikan pikiran kita sempit. Berapa lama masa pacaran bukan salah satu alasan untuk bisa bersama selamanya. Yang pernah pacaran selama 5 tahun belum tentu akan menjadi pasangan hidup ke jenjang pernikahan. Kenapa pacaran saja dipikirin sampai pusing tujuh keliling? Toh juga pacaran…..

Tekat Kuat Menjadi Penulis, Semoga Ada Padaku!

“Apa? Kamu ingin ke Jakarta hanya untuk menulis? Aku tahu, tulisanmu itu hanya untuk mendapat sebutan orang sana-sini, berdiamlah saja di rumah. Jangan kamu sampai keblerengen gemerlapnya duniawi. Kamu tahu, menjadi penulis itu tak gampang!”, cerocos ayah dalam ingatanku malam ini.

Awalnya ayah tak setuju, tapi akhirnya aku diijinkan pergi juga. Rabu, 17 Desember 2014 sekitar jam empat sore aku sudah berada di Terminal Bawen, Semarang, Jawa Tengah. Bersiap menuju ke Jakarta untuk yang kedua kalinya. Aku mendapatkan uang saku satu juta rupiah dari ayahku. Uang itu ialah uang dari gelang yang dijual ayah untuk membayar cangkok sawah buruhnya. Ngeri, aku masih ingat pas aku sedang di penampungan mau berangkat ke Hong Kong dulu, dalam keadaan seperti  itu aku menyaksikan wajah penuh harap oleh ayahku. Ia  mendatangiku hanya untuk diijinkan menjual gelang yang aku belikan untuk ibu. Belum sempat aku melihat ibu memakainya, niatku membeli demi bisa membuat ibu merasa sedikit istimewa.

Sehari sebelum aku berangkat ke Jakarta, ibuku marah besar kepada ayahku. Ia rupanya tak mau kutinggal. Ibu mengira, ia akan kena marah ayah jika aku pergi lagi dari rumah. Kekhawatirannya dituduh menjadi seorang ibu yang tak bisa menasehati anaknya sangat tinggi. Semalamnya sebelum aku pergi, aku melihat ibuku tidur berada dibelakangku dan lebih rendah lagi. Aku terkejut tak kala aku kebangun ditengah tidur malamku itu melihat kakiku berada di atas kepala ibu. Raut wajah ibu sedih, aku berpikir mungkin karena ibu benar-benar tak ingin aku tinggalkan lagi.

Pagi hari sebelum keberangkatan.  Di Hari Rabu itu juga, aku sengaja memijit badan ayahku yang kusentuh hangat. Ia sedang sakit, pening kepala dan badannya kelelahan. Tubuhnya kurus kering. Warna kulitnya coklat pekat. Ayahku adalah sosok yang suka aku agung-agungkan. Yang selalu aku banggakan, aku rindukan, bahkan aku jadikan panutan dalam belajar untuk bisa tegar menghadapi segala macam kehidupan. Sambil memijit, aku dinasehati banyak oleh ayah.

“Awalilah segala apa yang kamu kerjakan dengan bismillah…!’’, pesan ayah.

“Aku sebenarnya lebih suka kamu berada di rumah, bekerja di dekat rumah, dan seandainya kamu mau ikuti saja belajar merias pengantin. Aku pikir kamu berbakat untuk itu”, ayah membujukku agar tak pergi lagi.

Aku bingung untuk menjawab tawaran ayah, lagi pula aku termasuk anak yang keras kepala. Aku tak tau kenapa setiap aku sedang menginginkan  sesuatu yang baru, aku belum bisa berhenti untuk berusaha mendapatkannya sekalipun pada akhirnya aku akan gagal atau terjatuh.

“Untuk mengubah nasib, kita memang harus berani berubah yah. Berjuang semaksimal mungkin, semampu yang dapat kita lakukan”, tangkasku.

Aku katakan kepada ayah seperti itu, padahal dalam hati kecilku tak tau apa yang sebenarnya harus aku lakukan. Di Jakarta akan kerja apa, di Jakarta mau tinggal dimana dan sampai kapan akan bisa bertahan membayar kos-kosan, juga makan sehari-hari jika hanya berkantongkan uang satu juta rupiah saja? Aku sama sekali tidak berpikir keras bahwa ijazah SMA-ku apakah masih laku untuk melamar kerja atau tidak. Sudah kupatok sendiri, kalau aku tak mau menjadi penjaga toko, tak mau menjadi karyawan pabrik, dan hayalanku keajaiban akan dapat pekerjaan yang sesuai dengan harapanku itu akan ada, minimal tidak menjadi pembantu rumah tangga lagi! Waaah kok bisa begitu…?

“Ayah tahu Tukul Arwana? Asal mula dia itu orang biasa, sekarang dia bisa tenar karena perjuangan hidupnya. Tentunya sebuah perjuangan itu dari enol, Yah nggak bisa sekaligus. Sewaktu aku membaca kisahnya hidupnya ia pernah juga menjadi sopir kok, pernah kelaparan dan pernah kesusahan. Dan  agar nasib kita berubah menjadi lebih baik memang kita harus mau merubahnya sendiri…”, tuturku kepada ayah dengan harapan, ayah menyetujui  tentang kebulatan tekatku untuk berada di Jakarta.

Sedih. Setiap kali aku teringatkan bayangan ibuku.

Pengalaman ibuku pernah jatuh kecelakaan ditabrak sepeda motor, membuat kaki kanan ibu menjadi rapuh dan harus berjalan terhuyung-huyung. Setiap kuperhatikan baik-baik rambut ibu, tampak rambutnya menipis akibat sering rontok. Matanya yang sebelah mulai berkedip tak beraturan, membuatku punya rasa takut jika sewaktu-waktu ibu sakit atau apa. Badan ibu lebih kecil daripada aku.

“Hati-hati ya nduk kamu di jalan, jika nanti kamu nggak betah di sana segera pulanglah saja ya biar kamu bisa makan masakan ibu lagi”, ibu mengatakan itu sambil tersenyum lalu memelukku, tak lama kemudian ia tampak sedih  dengan tak bisa menunda air matanya untuk jatuh berderai.

“Iya Bu, aku tahu. Aku pasti bisa jaga diri. Aku akan baik-baik saja nanti!”

Kami berpelukan sekali lagi tanpa mampu mengatakan sepatah kata apapun.

“Aku akan ikut rewang ke rumah Makdemu, jika nanti aku belum sempat pulang pesanku hati-hati saja ya untukmu, kamu harus jaga diri”.

Saat itu ibu mulai melangkahkan kaki berjalan keluar dan tampak tubuhnya semakin jauh.

Dari belakang, diam-diam aku melihat ibu yang terus berjalan dengan langkah-langkah kecilnya. Aku ikut ingin menangis dengan perasaan iba ketika ibu sesekali menggerakkan jemarinya kemukanya. Pikirku ibu sedang membasuh air mata. Ibu pasti sedih!

Kurasakan pipiku mulai basah, aku bergegas berlari menyusul ibu. Memeluk ibu di tepi jalan itu. Dalam hatiku, sangat berharap untuk bisa membahagiakan ibu dan berusaha menemukan arti dalam hidupku sendiri.

Tak lama kemudian, ibu sudah tak nampak lagi. Yang tertinggal sampai saat ini hanya warna baju yang dikenakan ibu saat terakhir itu. Mengingat pelukan ibu, membuatku teringat sewaktu aku pulang dari Blora dulu. Kepulanganku dari Jakarta yang pertama kalinya, disambut haru oleh ibu. Ibu mendekapku dengan suka-cita. Dia berpikir tak akan meninggalkannya lagi. Dan dia akan tenang jika aku berada di rumah. Namun, kini kenyataannya aku tega meninggalkannya lagi untuk yang kesekian kalinya.

Di Jakarta aku ingin menjadi Penulis

Ya. Hanya satu itu saja, yaitu penulis! Aku tak peduli mau dikategorikan penulis kelas apa. Kelas teri, silahkan…Kelas kacangan, silahkan…atau tanpa kelas pun silahkan…

Di Jakarta akan ada banyak pelajaran kepenulisan yang berbagai macam, banyak acara-acar a blogger yang diselenggrakan, semakin banyak bergaul semakin baik jalinan networknya terhadap sesame blogger. Itu dalam pikiranku!

Yang  penting dari dulu sampai kedepannya, aku akan menulis sesuai dengan apa saja yang sedang ingin aku tuliskan. Niat pertamaku untuk menulis cukup sebagai jalan bagaimana aku bisa meng-explore isi hatiku sendiri kepada orang lain. Aku suka menulis tentang motivasi atas dasar karena aku pernah dimotivasi oleh guru terhebatku. Berkat ketulusannya mengajarnya, aku gagal membunuh diriku sendiri. Aku sadar, di alam raya nyata ini pasti akan ada banyak orang-orang yang kehilangan harapan hidup dan ingin menyerah, sedikit banyak yang bisa aku tulis sekiranya bisa membangkitkan gairah hidup orang lain itu harapan besarku. Katakanlah aku ingin berbagi semangat! Menurutku, motivasi itu sama juga dengan pendalaman tentang kejiwaan seseorang. Banyak saat ini orang bertubuh sehat tapi sakit jiwanya.

Dengan menulis aku ingin menyuarakan semangat hidup, menyuarakan persamaan kita sebagai manusia biasa, menyuarakan apa yang jarang disuarakan, dan sebagai salah satu cara untuk mengubah pandangan negatif tanpa cela!

Bukan hanya kalian, namun alam pun tahu siapa aku! Dari dalam hatiku bilang, aku malu jika sadar aku bukanlah jebolan mahasiswa yang pandai memahami berbagai hal sehingga akan punya bahan tulisan yang berkualitas. Tapi, ketika aku sedang mau meliarkan jalan pikiranku dalam bentuk tulisan, gairah kepercayaan diriku seketika itu akan hadir.

Batinku bilang, aku malu jika aku membandingkan diri dengan penulis-penulis handal lainnya. Bila diibaratkan sebagai pertandingan, aku bukan level yang pantas untuk diikutsertakan dalam pertandingan kepenulisan apapun. Dan dari sekarang aku akan mengatakan bahwa penulis lain itu memang bagus-bagus alias berbakat. Jika aku ingat satu hal ini, memang sering membuatku ingin tidak menulis lagi. Tapi, jika tidak menulis lagi yang aku dapatkan hanya perasaan tak tenang. Menulis sudah menjadi kebutuhan hidupku.

Aku pun akhirnya menjadi merasa sangat bodoh akibat dari tulisanku sendiri. Dalam diam, aku bertanya kenapa aku terdampar di sini? Bertahan di sini untuk apa? Mencari dan mengejar apa? Benarkah demi bisa menjadi seorang penulis? Jika iya, mulai sekarang aku harus menargetkan diri berapa rupiah yang harus aku usahakan dari tulisan-tulisanku.

Mak Jeleeeb! Bagiku, satu tulisan bermanfaat untuk satu orang jauh lebih bermakna daripada satu tulisan dibaca oleh lebih seribu orang (atau pun dibayar) tanpa memberikan pesan/kebaikan apa-apa.

Bapak, Ibukku ini hanyalah sedikit ambisi yang menggebu akibat kepercayaan diri yang timbul dari menulis, tidak lebih! Bagaimana pun jalan dan akhirnya, aku sanggup menikmatinya.

Hei Muda, Mantapkan Hati Sebelum Bertunangan!

Hubungan saya dengan mantan tunangan terjalin sudah lama, kira-kira 3 tahun. Itupun lebih lama dalam hubungan jarak jauhnya. Ia secara lahir batin bisa menerima keadaan saya apa adanya. Dilihat dari fisiknya, ia seperti laki-laki normal pada umumnya. Orangnya sederhana, kalem dan selalu tampil tenang. Hubungannya dengan keluarga saya dapat dibilang harmonis, sekalipun saya dalam keadaan jauh tetapi sesibuk apapun ia bekerja masih tetap mau menyempatkan untuk bersilaturahmi dalam sebulan sekali.

Dasar niat hatinya ingin menikahi saya jelas, ia terdorong untuk menjadikan saya menjadi seorang yang lebih baik. Ia pengertian, dan selalu bisa menghindari percek-cokan diantara kita berdua dengan halus. Pernah beberapa kali saya dibawa main ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Mereka sangat senang akan kehadiran saya saat itu. Sudah direncanakan pula saya akan menjadi menantunya setelah saya kembali bekerja di luar negeri.

Kejadian itu sekitar dua tahun yang lalu. Namun siapa kira selama saya berada di luar negeri, di benak hati saya timbul suatu obsesi yang sangat kuat sekali! Keyakinan saya seperti tidak bisa diubah. Permulaannya yaitu saat saya mulai menulis dan menayangkan tulisan tersebut kepada publik, telah membuat saya punya pikiran baru. Dalam pikiran ini jika seandainya terjadi benar saya dan dia menikah, sudah pasti hidup saya akan berada di bawah tangan mantan tunangan saya. Memang benar sekiranya surga ditelapak kaki seorang suami jika sudah ada hubungan pernikahan yang resmi!

Saya membayangkan apabila saya menjadi istrinya, dijanjikan saya harus mau ikut tinggal dan berada di dekat tempat kerjaannya. Tempat itu masih desa yang biasa saja. Setelah menikah paling saya akan hamil(insyaAllah) dan nganggur di rumah sembari mempertahankan perut saya besar berisikan janin. Saya tidak bisa bebas melangkahkan kaki kemana saya ingin pergi. Padahal, timbulnya keiinginan untuk bisa mendapatkan ilmu kepenulisan pada diri saya itu besar sekali. Keyakinan saya memantapkan untuk bisa tinggal di Jakarta.

Pada akhirnya saya pun memberitahukan kepada ayah saya untuk memutuskan pertunangan saya dengan mantan itu. Pertama ia menganggap saya guyon, sebab ia sama sekali tidak tau alasan apa yang jelas dari saya tentang kenapa saya ingin putus. Ia juga percaya bahwa dirinya tidak punya kesalahan yang berarti pada saya. Dan justru saya lah yang bersalah. Saya salah besar terhadapnya. Keegoisan saya sangat tinggi, yang saya pikirkan hanya lah jika saya tidak mengambil tindakan yang tegas maka saya akan menjalani rumah tangga atas dasar keterpaksaan. Saya tidak mau melanjutkan hubungan diantara saya dengannya hanya demi menjaga nama baik orang tua saya dan orang tuanya.

Keputusan di hati saya memang serba membingungkan, benar pada saat itu. Seingat saya ia merupakan salah satu orang yang sudah banyak berkorban untuk hidup saya. Menegarkan saya kembali dalam keterpurukan dan ia tak pernah menyakiti saya sekecil apapun.

Setelah orang tuanya mendengar kabar kurang baik atas putusnya hubungan ini, diberitakan bahwa orang tuanya hanya pasrah. Sepasrah orang tua saya sendiri!

Seiring bergulirnya waktu kini saya baru mengerti betapa saya sudah berbuat kesalahan besar dalam hidup saya. Namun yang perlu saya pahami betul, bukan dari malu atau tidak malu. Ini sebuah komitmen untuk belajar berani mengambil sebuah resiko. Ketika saya mampu memutar pikiran saya seandainya saya tidak memutuskan pertunangan itu. Saya mungkin saat ini sudah bunting, terkurung di rumah, saya tidak sebebas ini menjalani hari-hari sesuai dengan keiinginan hati saya. Lebih baik memang saya putuskan agar ia mendapatkan gadis lainnya, dan tidak memendam kekecewaan terhadap saya lebih lama.

Saya bersyukur, motivasi dalam menulis saya sangat tinggi. Sampai-sampai berjuta kata yang ingin saya tuliskan semuanya buyar dan gagal untuk bisa dituliskan satu persatu. Masih meraba-raba jalan mana yang bisa ditelusuri dan dijadikan pegangan untuk kedepannya nanti. Sedang mencoba dan memulai hidup saya  didedikasikan untuk menulis-menulis-dan menulis. Tentunya tidak asal menulis. Menulis perlu sebuah pengorbanan besar, tekat yang kuat, perlu materi isi tulisan dan tentunya berharap segera ingin bisa lebih baik lagi.

Semua yang terjadi sudah berlalu. Kenyataan yang ada tak jauh sama seperti apa yang pernah saya harapkan. Saya mungkin telah menjadi catatan hitam di mata orang tuanya, bahkan orang tua saya sendiri. Dengan bijak, orang tua saya meminta saya untuk tidak terlalu memikirkan banyak tentang hal ini. Jodoh rejeki semua ada di tangan-Nya walaupun sebenarnya orang tua saya sempat kecewa.

Dalam realita sosial, pertunangan yang gagal bukan hal yang tidak biasa terjadi. Akan tetapi berdasarkan pengalaman pribadi, sebaiknya siapa saja yang belum terlanjur bertunangan sebaiknya pikirkanlah matang-matang. Ambil keputusan yang bulat untuk benar-benar mau bertunangan atau tidak. Bertunangan merupakan langkah pertama jalinan sakral diayunkan sebelum pelaminan datang!

Tanpa mempedulikan pekerjaan apa untuk bisa berada dan tinggal di Jakarta dalam beberapa waktu selanjutnya. Tetap ini akan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Apapun resiko setelah saya bukan menjadi tuangannya lagi, harus saya terima dengan lapang dada. Inikah buah keegoisan diri sendiri? Bagaimana pun juga saya menganggap diri saya egois jika saya melakukan pernikahan secara terpaksa, sebab kemauan saat ini saya hanya ingin berada di sini, Kota Jakarta yang tidak mungkin saya jamah jika saya menikah dengannya.

Sekali lagi, sebelum Anda memutuskan pilihan untuk bertunangan atau menikah atau yang lain dan sebagainya, alangkah baiknya jika Anda berpikir dua kali….

Pilihan adalah tantangan!

Jenis LDR(Long Distance Relationship) yang Harus Dihindari Cewe!

Jenis LDR (Long Distance Relationship) yang Harus Kalian Hindari apa saja, ikuti yang ini dulu yahh…!

Sebagai anak muda yang sudah tahu hubungan pacaran, menjadi jomblo itu ibarat berada di neraka! Malu banget jika dipergoki teman atau sahabat yang ngata-ngatain kalo kita itu nggak laku, kurang gaul dan sebagainya. Intinya teman kita menilai kita ini kurang pas jika kita sebagai anak ABG nggak punya gebetan alias jomblo.

Sebenarnya menjalin hubungan pacaran itu nggak selamanya menyenangkan, semua tergantung dari bagaimana kita menjalin dan menjaga hubungan yang sudah tercipta. Kalo misalnya kita punya pacar tapi bawaannya mau marah melulu, bukankah lebih baik kalo kita ngejomblo saja. Daripada tiap hari pengennya berantem dan makan hati terus yah sama pacar??

Seberapa pentingnya hubungan pacaran bagi kalian semua bergantung pada keyakinan kita masing-masing! Diantara anak muda seperti kita-kita ini, ada yang menganggap pacaran itu sesuatu yang kurang penting lho. Mereka pikir, kebanyakan pacaran hanya akan menyita waktu, konsentrasi berpikir dan kalo lagi marahan pasti menyita energy…

Bagi aku sendiri, pacaran itu kuanggap nggak penting . Itu saat aku sedang berada di bangku sekolah. Lantas sampai SMA aku anak jomblo terus!

Berikutnya setelah aku mulai ngenal yang namanya cowok, nggak tahu kenapa aku jatuh cinta untuk yang  pertama kali sama cowok tapi kok belum pernah ketemu. Saat itu aku di Jawa, ia sedang bekerja di Medan. Awalnya sih sekedar iseng aja. Kebetulan waktu itu temenku sedang telponan, lalu telponnya dikasih ke aku gitu. Hubungannya mengalir begitu aja pada awalnya. Aku masih bisa cuek-cuek bebek dan nggak terlalu memikirkan dampak negatife dari hubugan kita ini! Eh, ternyata nggak terasa aku menjalaninya hampir sampai satu tahun menjalin hubungan LDR ini brooo….

Bayangin aja ya, hampir setahun menunggu kehadiran si cowok itu. Belum pernah ketemu aja sudah sayang-sayangan, aku manggil dia mas, dan  dia manggil aku dik. Sok perhatian gitu, sering-sering nanyain, “…..sudah makan belum, sedang sibuk apa sekarang, gimana kabarnya? Sehat, sedang pilek kah atau sudah mandi berlum. Makan sama sayur jengkol atau Cuma sama tempe goreng yaaaang…….??’’

Ih, perasaan percakapanya Cuma gitu-gitu doang  saban hari! Nggak ada manis-manisnya, mana bisa ngapel  atau nge-date kayak cewek-cewek yang gebetannya berada di dekat rumahnya. Mana bisa makan bareng, jalan bareng sama renang bareng. Yang ada Cuma ngambek bareng kalo pas bosen nggak tau mau ngobrolin apa. Titik!

Maksa-maksaain kirim photo yang terbaru. Sudah tambah dua minggu saja, kelabakannya minta ampun pengen lihat muka yang terbaru, uhuuui…yang teraktual dan dipikir mukanya yang baru tambah rapi atau cantik malah tambah ancur…(Cape deh )!

Oh ya aku ini sudah termasuk cewek yang blo’on lho mengenai pengalaman LDR-LDR –an begini. Bagaimana nggak, sewaktu aku dan dia ketemuan takdir memisahkan kita untuk berjauhan kembali. Sekian lama nunggu buat lihat batang hidungnya, ternyata kita cuman dua hari ketemuan. Bayangiiin…d.u.a hari…

Suer Cuma dua hari. Dan yang hebohnya lagi neeh, ketemu bukannya ngilangin kangen tapi aku makin kangen aja. Apalagi kalo keinget sama lirikan matanya yang jutek, sambil senyumnya yang jual mahal setengah mengejek. Uhhhhhhhhh…kangen lagi jadinya!

Setelah pisah, karena kita sama-sama bekerja. Selama berjauhan itu pula aku masih menyimpan rasa buat hatinya. Seakan ingin berjuang mempertahankan berapa lama bisa betah sama cowok/cinta pertamanya itu. Yaelah, dibalik pesonanya ia seorang yang materialis.

“Dek, aku tolong belikan hape baru yahhh…hapeku yang beli dua hari yang lalu mati karena habis kejebuuuur air nih!’’

“Enak saja, memangnya aku yang menjeburkan hape kamuw…??’’

“Please dong dek, katanya sayang…eh katanya cintraaaa…”

Aku Cuma nggak mau kehilangan dia saja, takut disamber cewek lain. Dan akhirnya aku mau-maunya ngirim uang ke rekeningnya  dengan nomor sekain-sekian. Bla-bla-bla so on!

Selain cowok matre, yang perlu kalian  hindari ialah cowok-cowok yang demikian….

1). Jangan pernah mau menjalin hubungan pacaran LDR dengan cowok yang nggak jelas statusnya.

Sudah ngaku-ngaku single, nggak punya pasangan, masih joko ting-ting , walaupun ia bekerja yang terhormat dan lebih mapan dari kita. Say no to ‘’Pacaran!’’. Belum pernah ketemu, dan tidak ada seorang pun yang dapat dijadikan sumber nanya-nanya tentang dia. Lebih baik hindari. Acuhkan muka ganteng di mata kita. Hatinya belum tentu ganteng kok!

2). Jangan mau sama pasangan cowok LDR yang belum pernah ketemu atau sudah ketemu dengan merelakan/mengirim  gambar yang tak pantas diperlihatkan kepadanya.

Sebagai cowok yang jantan gagah berani nan gantle nggak bermental tempeh, sudah pasti cowok akan menikahi dengan sah. Mau menghadap ortu kita, baru menikahi kita dan baru gitu deh…

3). Jangan lanjutkan hubungan LDR jika hanya banyak mendatangkan masalah atau sial yang nggak bisa ngomong sopan sama cewe.

Yang namanya cowok berhati mulia, mau digebukin berapa kali atau mau dibolak-balik bentuknya kayak gimana tanpa kita perlu takut badannya gosong, ya akan tetep baik kok. Sebaiknya kita tetep harus bisa tenang aja. Yang namanya jodoh  pasti nggak bakalan kemana. Salah satu ciri cowok yang brutal/kurang baik. Mulutnya pasti lose contol kalo ngomong. Perhatikan saja kalo dia sedang ngambek, sifat aslinya bakal keliatan bener deh.

4). Sekali lagi sebagai pengingat saja. Seperti  kasus yang pernah aku alami. Seharusnya jangan sampai deh kalo kita mau memberikan sesuatu kepada cowok hanya beralasan karena cintraaa…

Pada hakekatnya, seorang perempuan yang pantas diberi. Bukan sebaliknya. Jangan minder menjomblo. Jomblo bukan berarti nggak bisa bahagia. Jomblo nggak berarti nggak normal atau nggak merdeka sebagai anak muda. Jomblo hanya soal waktu saja. Perbaiki jiwa dan hati. Yakini dengan kesungguhan hati. Jiwa yang baik/cewe yang baik special untuk cowok yang baik……………