Menumbuhkan Jiwa Berprestasi Pada Diri Sendiri!

Yang pertama, kita harus bisa mencerna kata “Berprestasi” dengan baik.

Berdasarkan pendapat kita masing-masing, bagaimanakah asumsi kita tentang prestasi? Mungkin beberapa dari kita akan menjawab kalau prestasi itu adalah sebuah kemenangan, seperti berhasilnya kita mendapatkan peringkat juara satu, dua dan tiga atau seterusnya dalam sebuah lomba/kompetisi. Kata berprestasi mungkin juga identik dengan pencapaian nilai-nilai di sekolah yang tinggi.

Bagi saya, menjadi orang berprestasi itu tak dibatasi oleh; umur, kapan dan dimana. Sebab yang saya maksudkan di sini ialah orang yang punya “Jiwa Berprestasi”. Mungkin kita menganggap orang yang cerdas hanya dengan penilaian langsung dari sisi nilai akademis. Padahal, orang yang punya kemampuan akademis juga belum tentu akan sukses dalam bidang yang lainnya.

Iseng mau curhat pengalaman pribadi boleh ya? Dari dulu (lebih seringnya), saya bukanlah anak yang berprestasi di sekolah. Bahkan malah guru-guru saya sudah hafal siapa sih anak yang kalau diajar nerima pelajarannya lambat, siapa sih yang suka dapet nilai jatuh pas ulangan. Entah kenapa juga saya punya muka tembok nggak malu kalau dapat cibiran dibilang anak sulit, sebab belajar di sekolah itu bagi saya nyebelin. Saya lebih suka membaca buku yang memang saya butuhkan untuk dibaca, salah satunya baca buku di perpustakaan. Baca-baca buku mata pelajaran membuat saya mengantuk dan materinya terlalu berat untuk dibaca. Tak heran kalau habis selesai baca isi mapelnya  mental (kabur/ bahasa Jawanya ngilang)tidak masuk ke memori otak ini!

Lalu, Jiwa yang berprestasi itu yang bagaimana?

Waktu lima tahun sesudah SMA berlalu. Teman-teman saya sudah lulus dari kuliahnya dan beberapa ada yang sudah bekerja dan menikah. Dalam benak hati saya, sama sekali tidak ada kata yang mengatakan kalau saya murid yang gagal! Serta saya juga tidak mengatakan kalau saya tidak punya masa depan. Saya yakin, saya masih bisa meraih sebuah prestasi…

Kesimpulannya, berprestasi dan berjiwa prestasi itu tidak sama. Berprestasi, ada waktu, tempat dan kejadian yang jelas. Namun, berjiwa prestasi akan ada bersemayam di hati dan terjadi secara terus-menerus. Sehingga pada masanya sedang terjatuh, ia akan berusaha bangkit kembali sampai apa yang ingin didapatkannya bisa terwujud.

Selidik punya selidik, saya pun menganggap hal-hal ini yang mendukung saya ingin terus punya jiwa prestasi…

Menumbuhkan Kesadaran Diri

Seseorang akan tergerak melakukan sesuatu dengan mudah jika dari dalam dirinya sendiri memang ingin melakukannya. Jadi, melakukan sesuatu secara sadar bermula dari diri sendiri! Tanpa membedakan apa latar belakang kita, garis besar kesadaran seseorang yang dapat menumbuhkan jiwa prestasi yaitu kesadaran ingin mendapatkan ilmu pengetahuan, baik dari pendidikan formal maupun informal. Dari ilmu pengetahuan tersebut ia akan punya idiologi, hobi dan bakat serta impian. Kesadaran orang berprestasi yaitu hidup benar lebih utama daripada hidup sukses.

Menjaga Motivasi

Sebuah kata-kata bijak mampu menahan seseorang yang hampir saja ingin menyerah, atau bahkan bunuh diri. Coba deh kita selami diri kita kembali, misalnya kita sedang mendapati masalah yang menurut kita berat banget untuk dihadapi. Salah satu contohnya kalau orang yang kita cintai atau sayangi tiba-tiba meninggal dunia. Shock, sedih, dan hampa. Itu pasti yang akan kita rasakan. Obatnya hanya ikhlas merelakan ia pergi untuk selamanya. Nah, motivasi itu bagaikan sebuah keikhlasan yang ada karena memang datangnya dari kesadaran hati.

Menurut saya, seseorang yang berjiwa prestasi tak lepas dari begitu besarnya motivasi yang ada pada dirinya sendiri. Tentunya ada orang lain juga yang terlibat dalam pembentukan sebuah motivasi, misalnya orang tua, guru dan kisah inspiratif orang lain yang luar biasa. Singkat kata, motivasi bukan sekedar kata bijak saja namun juga mencakup sebuah kecakapan diri sendiri mengenai kepercayaan diri, semangat, dan keiinginan yang disertai tindakan nyata secara continue.

Berani Bersaing dengan Orang Lain Secara Sehat

Sebagai manusia, mendapati rasa iri dengan keberhasilan orang lain adalah wajar. Namun, kita juga perlu tahu orang yang berhasil itu karena ia pernah berusaha untuk berhasil. Orang yang berjiwa prestasi akan fokus pada kemampuan dan potensi diri sendiri. Mau mengembangkan apa yang jadi ketrampilan pada dirinya, terus mengasah apa yang bisa ia lakukan hingga dapat menumbuhkan manfaat atau sesuatu yang bernilai. Orang berjiwa prestasi akan sadar kalau setiap orang punya takaran rejeki masing-masing sesuai kehendak Tuhan. Sehingga apapun yang dikerjakannya akan berlandaskan pengabdian untuk-Nya semata. Tuhan memberikan waktu 24 jam yang sama dalam perharinya. Dari yang punya kulit hitam sampai kulit putih, udara yang dihirup juga sama-sama oksigen. Jika orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Prestasi Sejati, demi Perubahan yang Baik

Sebaik-baiknya dan seindah-indahnya prestasi yaitu orang yang dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya berprestasi tak harus berdiri di panggung membawa seikat bunga dan ditonton oleh sejuta orang. Berprestasi juga tak harus muluk-muluk. Menjaga baik diri sendiri juga merupakan prestasi. Bahagia dengan hidup kita yang ada, menerima duka kehidupan dengan suka-cita.

Sedikit pemahaman saya menuliskan hal ini menjadikan saya lebih bersemangat lagi, berprestasi bukan hanya karena nilai akademis dari pendidikan formal atau apa saja yang sanggup kita capai dan kerjakan, melainkan berjiwa presetasi boleh dan bisa dimiliki oleh siapa saja tanpa memandang umur dan siapa kita. Sebab, berjiwa prestasi adalah semangatnya orang-orang yang ingin terus bertumbuh kembang maju ke depan demi sebuah perubahan yang baik…

Iklan

Jadi Orang Multitalenta Itu Gampang!

Sedikit renungkan bayi-bayi yang pernah Anda lihat langsung, baik pada saat itu Anda melihat bayi ketika melewati rumah sakit di ruang bersalin, atau di bawah kolong jembatan atau pun bayi Anda sendiri. Tanyakan dalam hati apa yang dapat bayi lakukan? Jangan jadikan alasan bayi belum bisa apa-apa karena tulangnya masih belum kuat, tetapi jika ditakdirkan tulang bayi langsung kuat ia juga tidak akan langsung bisa berjalan.

Para pengamen dan pedagang asongan yang sering kali naik turun dari bus satu ke bus yang lain, mereka hampir semuanya berani tampil selayaknya penyanyi terkenal dan menjadi sales profesional, dari nada suaranya ada rasa percaya diri, dari ketegasan suaranya menandakan ia tidak gugup dan banyak yang akan mengatakan bahwa mereka bisa karena terbiasa. Para sopir bus sekalipun busnya sudah tua dan bunyi busnya jika sedang berjalan terdengar trontonan, tetap saja sopir itu berbakat untuk nyetir mobil. Menyetir mobil itu tidak harus mempunyai mobil terlebih dahulu/ tidak harus menjadi kaya dulu. Karena belajar menyetir mobil itu bisa dilakukan dengan cara meminjam mobil orang atau menyewa. Secara logika, orang sarjana tinggi belum tentu mereka bisa menyetir mobil, alasannya karena ia belum pernah belajar. Orang sopir yang berijasah SD bisa setir mobil dibanding orang sarjana tinggi kan kereeen ya?

Dari ilustrasi dashboard yang belum ditulis itu, dapat kita ambil pelajaran bahwa, sesuatu apa saja yang dari ”NOL” atau ”ZERO” itu memang nosense, kosong, tak bernilai, jika diumpamakan rasa itu hambar dan jika diumpamakan warna itu tak berwarna.

Dari bayi kita bisa mengatakan, bayi belum bisa apa-apa karena mereka belum pernah belajar sesuatu apa-apa. Otaknya masih gress, hatinya masih suci, indera kelimanya masih terbatas melakukan apa saja. Kalau Anda saat ini merasa bahwa diri Anda kurang bernilai, Anda merasa kurang percaya diri terhadap diri Anda sendiri, Anda menganggap bahwa Anda bukan siapa-siapa, itu karena Anda kurang menghargai pengorbanan Anda pernah belajar sesuatu. Sedari bayi sampai sekarang, sudah tak terhitung berapa kali Anda belajar sesuatu, dan hasilnya hanya bisa dirasakan oleh hati Anda sendiri. Menilai baik tentang siapa diri kita ini sama juga kita menghargai perjuangan hidup kita termasuk kita pernah belajar banyak sesuatu. Yang tanpa kita sadari kita sudah sama-sama belajar menahan malu, menerima kekalahan, menerima kekilafan diri, mencoba bangkit, bertahan dalam keadaan terhimpit dari kekurangan jiwa atau materi, belajar menemukan siapa diri kita sendiri ini, belajar lebih berani dan berhasil lagi, menerima kegagalan dan belajar berwelas asih terhadap orang didekat kita.

Pelajaran dari pengamen, pedagang asongan dan sopir angkot. Nah, baru yang ini ada kaitannya dengan ”Jadi Orang Multitalenta itu Gampang!”Melihat dari hati semangat mereka, kita bisa mencontoh bahwa sesuatu baru itu bisa kita kuasai dengan syarat kita mau mencobanya terlebih dahulu. Seperti sisipan isi buku Om Pepih Nugraha yang berjudul ” Kompasiana Etalase Warga Biasa”, dibuku ini Om Pepih mempunyai semangat mendirikan Kompasiana dengan pedoman Learning by doing, belajar dari melakukan(sendiri dan langsung/ bereksperimen demiexperience).

Seperti yang kita tahu, talenta merupakan bakat yang tersimpan dari dalam diri kita, yang ada jika kita sudah mau menggalinya dan mengasahnya secara continue. Sampai bakat itu benar-benar menjadi talenta. Kebanyakan orang dari kita menilai dan menganggap kalau talenta itu satu bidang yang mahir kita geluti. Yang paling mencolok misalnya guru, bertalenta mengajar, dokter bertalenta memeriksa pasien, dan pak gubenur bertalenta dengan memimpin wilayah kekuasaannya, dan bagaimana dengan tukang sapu di pinggir jalan? Bagaimana juga dengan orang-orang pengangguran? Apakah mereka sama sekali tidak punya talenta?

Sekali lagi, resapi kata ”Learning by doing” yang artinya kurang lebih belajar dengan melakukannya, dari sini kita akan merasakan sendiri apa yang ingin kita pelajari dengan mengorbankan diri kita melakukan apa saja yang perlu dilakukan. Tak beda dengan meraih sesuatu, dan memperjuangkannya, suka-duka dan jatuh bangun akan kita dapatkan, akan tetapi dengan melakukan apa yang menjadi rintangan nantinya akan jelas terlihat dari pada kita menginginkan sesuatu tetapi hanya bermimpi saja. Malah jika kita hanya berangan-angan/bermimpi saja yang ada kita akan takut dengan bayangan hal-hal yang negatif dari pikiran kita sendiri.

Jika kita berhasil melakukan/belajar satu hal bukan tidak mungkin kita akan bisa mempelajari hal yang lain. Satu talenta berhasil kita punya dan dapatkan tidak kemungkinan kita bisa juga menciptakan talenta yang lain, asal mau menggali dan mengembangkannya sesuai dengan bakat dan minat kita. Semakin banyak belajar, semakin kita mempunyai desire/rasa suka/minat terhadap sesuatu yang tak terbatas.

Yuuuk, Meminimalisasi Kecemasan Pada Diri Kita Sendiri…

Cemas itu saat kita bingung, was-was dan sedang  memikirkan hal yang tidak benar. Apakah anda sering mengalami kecemasan? Dan sadarkah anda ketika sedang mengalami kecemasan yang berlangsung  agak lama, biasanya antusiasme dan energi anda akan menurun drastis, kemudian berpengaruh pada gangguan fisik dan jiwa anda. Dalam ilmu kesehatan, kecemasan kronis dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti asma, alergi, gangguan jantung, tekanan darah tinggi, dan banyak penyakit lain.

Kecemasan sebenarnya dapat dihilangkan dengan cara melatih pikiran kita agar mau berfokus pada hal-hal yang positif. Misalnya, fokus pada keharmonisan, kedamaian, keindahan, tindakan yang baik, dan pengertian. Intinya, kita cukup mengganti pikiran negative menjadi positif.

Sering kita mencemaskan sesuatu dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti kebenarannya atau lebih tepatnya disebut hanya bayangan. Jika kita mau memahami apa itu bayangan yang menimbulkan kita cemas, bayangan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Karena kecemasan adalah sebuah bayangan dalam pikiran kita maka ia tidak memiliki realitas, prinsip, dan kebenaran. Jadi, tidak masuk akal bila kita mencemaskan bayangan yang tidak nyata.

Mengubah bayangan negatif menjadi bayangan positif tentunya membutuhkan sedikit kerja, tapi bagaimana pun juga dalam hidup kita tidak akan bisa sepenuhnya lari dari rasa cemas.

Tidak Ada Masalah yang Dapat Dipecahkan dengan Rasa Cemas

Setiap kali kita mendapati suatu masalah yang sering kita dapatkan biasanya kita sering merasa cemas terlebih dahulu. Semakin berat masalah dan semakin cemas tingkat tinggilah kita ini. Padahal, kecemasan bukan solusi dari adanya masalah!

Ada tiga cara untuk meminimalkan kecemasan pada kita, diantaranya sebagai berikut;

1). Buatlah keputusan dari apa yang menjadikan anda punya keragu-raguan.

Saat menghadapi masalah hendaknya kita jangan memikirkan hal itu terus-menerus. Hadapi dan segera tuntaskan kecemasan yang ada pada kita dengan membuat sebuah keputusan.

Keputusan sudah diambil, kemudian kita harus  bisa berpegang pada keputusan tersebut. Ingat ya, keputusan anda memang belum tentu benar, tapi tindakan positif apa pun biasanya lebih baik daripada tidak mengambil tindakan samasekali. Jangan membuat kesalahan dengan berharap untuk tidak pernah membuat kesalahan.

2). Percayalah pada diri anda sendiri

Adakalanya kita lebih sering dikritik oleh orang lain ketimbang dipuji. Kemudian saat kita tidak mendapatkan pujian dari orang lain, mungkin kita berpikir bahwa kita punya kekurangan dan tidak mengakui kelebihan  kita. Akhirnya timbullah kecemasan. Mungkin bisa jadi, kita menekankan persepsi kita bagaimana orang lain memandang kita. Namun, bila kita benar-benar meyakini kemampuan dan kekuatan yang ada pada diri kita sendiri, maka kita tidak akan terlalu mempedulikan atau mengharapkan sikap dan pujian orang lain untuk kita. Sama artinya dengan kita punya rasa percaya diri.

3) Anda mau belajar menerima hal-hal yang tak terelakkan

Belajar menerima hal-hal yang tak terelakan bukanlah satu cara yang mudah. Saya sendiri pun suka memilih untuk cemas dan murung setiap kali mengingat apa yang sudah saya rencanakan tapi gagal. Atau menerima kenyataan yang sangat pahit, itu sangat sulit apalagi direlakan. Arti lain dari menerima hal yang tak terelakkan sama dengan ikhlas. Susah senang dalam hidup mari kita belajar untuk bisa menerimanya dengan lapang dada/keikhlasan.

4). Pastikan benak kita selalu sibuk, tapi jangan beri tugas melampaui kemampuan kita

Kita mesti bisa mewaspai terhadap hal-hal sepele yang bisa buat kita cemas. Tak jarang, ketika cemas biasanya kita suka untuk tak berbuat apa-apa, berdiam diri, murung dan tak punya gairah semangat hidup.

Salah satu hal yang bisa dilakukan ketika dilanda cemas misalnya, membaca buku inspiratif, mendengarkan music, bermeditasi, berkonsentrasi pada hal yang bermanfaat, atau melakukan hobi yang lainnya dapat meminimalis kecemasan kita.

5). Lakukan sekarang

Pernah nggak anda, setiap kali kehilangan mood atau cemas, anda memilih untuk melakyukan apa yang anda suka, daripada yang tidak disukai. Kemudian kita cenderung menunda-nunda pekerjaan. Tanpa kita sadari sebenarnya hal tersebut dapat merugikan diri kita sendiri.

Satu langkah jitu untuk menghindari kebiasaan menunda-nunda yaitu, tanamkan pada diri kita untuk mau menyelesaikan pekerjaan yang tidak kita sukai terlebih dahulu, kemudian kita bisa melakukan pekerjaan yang menyenangkan lainnya.

Jangan meributkan hal-hal sepele. Jangan biarkan hal-hal kecil (yang bisa buat kita cemas) – merusak kebahagiaan kita.

  • Dale Carnegie

Semoga Bermanfaat.

Cara Mudah untuk Menyegarkan Pikiran dari Stress

Pernahkah Anda menghitung berapa kali Anda mengidap stress setiap minggunya? Barangkali yang mempunyai anak,stress memikirkan kebutuhan anaknya,menghadapi kenakalan anaknya atau mungkin karena anaknya sedang tak sejalan hati dan pikiran dengan orang tuanya. Barangkali seorang guru dibuat stress oleh murid-muridnya.Seorang anak muda dewasa tak jarang stress setelah putus cinta!Pekerjaan banyak juga bisa membuat kita stress.Susahnya mencari uang saat ini sungguh memang sudah banyak membuat kita stress berkepanjangan…

Dengan mempunyai pikiran yang stress maka tekanan darah kita akan naik ,pikiran tak jernih,dan mudah terbawa emosi.Pastinya kita tak ingin setiap hari atau dalam keseharian selalu mengidap stress yang seperti itu bukan?.Berikut kiat untuk mensiasatinya;

1.Tenangkan hati dan pikiran,ambil nafas dalam -dalam,pusatkan pikiran untuk bisa fokus dengan penenangan hati

2.Jangan mudah terbawa emosi,jika ingin marah sebaiknya pikirkan kembali apa untungnya marah.Membantukah?

3.Tempatkan diri kita dengan orang-orang yang bahagia dalam arti berpikiran jernih sehingga kita bisa sharing masalah yang sedang kita hadapi bersama mereka

4.Bacalah buku yang bisa menyegarkan pikiran Anda pulih kembali

5.Dengarkanlah musik kesukaan Anda

6.Carilah sesuatu yang hanya untuk Anda bisa nikmati,misalnya sekedar jalan santai sejenak atau makan makanan kesukaan Anda

7.Kuatkan pikiran Anda dengan pikiran positif

8.Tertawalah bersama rekan dekat Anda,hindarkan diri Anda dari pengisolasian diri

9.Bangun kekuatan hati selalu berjiwa optimis yakin  bahwa setiap masalah yang kita hadapi pasti ada jalan keluarnya

10.Berdo’a

Sebagai manusia suka-duka adalah hal yang sudah biasa harus kita hadapi ,dari satu masalah ada seribu jalan keluarnya.Jangan biarkan pikiran kita stress hanya hal yang sepele saja.Masih ada banyak hal yang lebih penting untuk kita pikirkan lainnya.

Filsafat Hidup

Bagi orang yang berpendidikan tinggi, mungkin ilmu pengetahuan adalah sebuah kekuatan hidupnya. Bagi orang yang cinta terhadap materi, mungkin kekayaan adalah sebuah kekuatannya. Bagi orang yang menganggap bahwa pasangan dan anak-anaknya adalah hal yang sangat  berharga di atas segala-galanya, maka pasangan dan anak-anaknya akan menjadi sebuah kekuatannya. Bagi orang yang suka merias diri, mungkin kecantikan menjadi bagian kekuatan hidupnya.

Pertanyaan : “Kekuatan apa yang dimiliki oleh orang-orang  terlantar yang ada  di sepanjang jalanan untuk mau mempertahankan hidupnya sendiri?  Padahal, mereka tidak punya rumah, tidak punya apa-apa dalam hidupnya, mungkin kita berpikir mereka tidak punya masa depan.”

Jika kita mau merenungkan diri; ilmu yang baik hanyalah ilmu yang dapat mendatangkan manfaat baik untuk diri sendiri atau orang lain. Dan setinggi-tingginya ilmu pengetahuan yang kita cari itu tak kan ada batasnya. Ketidak adanya batasan ini, bagi orang yang menganggap ilmu adalah kekuatan maka selamanya orang ini beresiko tidak akan pernah puas dengan ilmu-ilmunya yang sudah didapatkan. Sudah S1 mau S2  dan seterusnya!

Untuk kekayaan sebagai kekuatan, seandainya menguatkan pastilah hanya bersifat sementara saja. Terbukti, dari kita semua kalau sudah meninggal akan tidak membawa apa-apa. Begitu juga dengan anak atau pasangan yang dijadikan sebagai kekuatan. Saya setuju dengan orang yang mengatakan bahwa pasangan dan anak adalah “titipan-Nya”. Dan terakhir dari kiasan yang kita ambil di atas, bagaimanapun juga kecantikan yang alami dan abadi hanyalah kecantikan dari dalam. Kecantikan wajah dan penampilan hanya akan raib ditelan waktu dan usia!

Lalu, jika kita mengaitkan antara orang terlantar di jalan dan ternyata kekuatan dari asumsi orang-orang diatas itu hanya semu, lantas sebenarnya  dimanakah letak kekuatan sejati  itu?.

Sepanjang hidup yang kita jalani, disadar atau tidak, perjalanan panjang hidup kita ini semua merupakan rangkaian dari bagaimana kita “belajar” tentang sesuatu yang baru dan baru lagi. Belajar tidak bisa didapatkan secara instan melankan buruh proses step by step.

Dalam hidup, kita akan berada pada keadaan jauh dengan kata “bahagia” selama kita belum mampu hidup seimbang!

Hidup seimbang? Badan kita harus bisa diseimbangkan dengan kejiwaan kita. Berpikir tidak boleh terlalu dan juga tidak boleh kosong sama sekali. Kalau kita kurang tidur, pasti kita akan mengantuk dan artinya tidurnya kurang cukup dengan lamanya waktu kerja/kurang imbang.

Kondisi alam ternyata sudah mengajari kita untuk senantiasa hidup seimbang. Adanya gaya gravitasi antara planet-planet dengan bumi, membuat bumi dan planet berada pada keseimbangannya. Keberadaan lama waktu jam dinding kita antara siang dan malam merupakan contoh keseimbangan. Malam dalam keadaan gelap, dan siang sangat terang berkat permainan antara bulan dan matahari yang seimbang! Sering kita tak menyadari jika pantat itu berfungsi sebagai penyeimbang tubuh kita.

Seimbang menjalin hubungan antara kita dengan ortu, kita dengan Tuhan, kita dengan sesama!

Demikianlah mungkin esensi hidup yang sebenarnya…??

Kita hidup selalu ingin bisa berhasil memenuhi kebutuhan  yang bersifat duniawi dan kita perlu materi. Bahkan pujian atau apresiasi orang lain. Kemudian, kekuatan apa yang kita perlukan ketika kita menghadapi keadaan sulit pada diri kita? Berpisah dengan orang yang kita cintai, kehilangan harta yang sudah kita miliki, kenyataan yang tak sesuai dengan impian, seringkali membuat kita merasa terjatuh, lalu ingin menyerah menghadapi hidup ini!

Ketika hati kita merasa lemah dan butuh kekuatan, apakah cincin batu akik yang akan menguatkan hati kita? Apakah pujian-pujian dari orang lain yang akan menguatkan hati kita?

Tidak ada yang mampu menguatkan diri kita yang sedang lemah selain kekuatan yang dibangun oleh dari dalam hati dan jiwa kita sendiri ! spiritualitas masing-masing orang sangat personal.

# Hadapi, Hayati, dan Nikmati Hidup…

Jangan Jadi Masalah. Pisahkan Dirimu dari Masalah

Bismillahirohmanirohim. Minimal tulisan ini menjadi penyemangat diri sendiri.

humor sebuah "Masalah"/ Dok : www.flickr.com
humor sebuah “Masalah”/ Dok : http://www.flickr.com

Kita memang selalu lebih kuat menilai siapa diri kita ini sesuai dengan apa yang kita bayangkan sendiri daripada berdasarkan penilaian manapun, termasuk orang lain. Keyakinan ini membuat saya memaklumi suasana hati saya hari ini, entah pagi ini saya rasakan ada yang ganjil dengan diri saya. Saya terfokus pada perasaan yang tertuju pada sesuatu yang saya anggap masalah.

Mencoba tidak menjadikan masalah sebagai satu hal yang “menakutkan” maka ada tiga poin yang akan saya jabarkan;

1). Masalah ada, hanya sebagai romantika hidup…

Sesuatu dianggap masalah sebab kita merasakan ada kesulitan terhadap apa yang sedang kita hadapi. Bisa kesulitan karena tidak cukup uang, tidak cukup kemampuan, tidak cukup dalam berpikir mencari jalan keluar dari suatu persoalan dan sebagainya.

Masalah ada di depan mata kita sebab inilah wujud dari keterbatasan kita sebagai manusia yang biasa. Yang tak luput dari kekurangan dan alpha. Hikmah dari adanya masalah, kita akan mau bergaul dengan orang lain jika dirasa kita perlu butuh bantuan orang lain. Menjadikan kita lebih tahan banting, lebih dewasa dan berpengalaman dalam menjalani kehidupan. Jadi keberadaan masalah itu hal yang biasa, masalah ada hanya sebagai romantika hidup saja.

2). Yakinilah bahwa Diri Kita Pasti Bisa Menghadapi Masalah…

Tuhan tidak akan memberikan suatu beban (masalah) kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan hamba itu sendiri.

Mari sejenak kita simak bersama beberapa penegasan seorang Ahli  Ahli terhadap potensi manusia yang tidak terbatas;

Dr. Michael R. Anastasio dari Universitas Harvard menegaskan bahwa untuk menghitung jumlah sel dalam otak dibutuhkan waktu lebih dari lima ribu tahun. Akal manusia memiliki 150 sel lebih. Dengan kemampuan menyimpan lebih dari 2.000.000 informasi dalam satu detik.

Mata kita memiliki kemampuan untuk membedakan lebih dari 10.000.000 warna dengan cepat. Penciuman kita memiliki kemampuan mengenal lebih dari 50.000 jenis bau-bauan dalam tempo waktu singkat. Indra pengecap kita memiliki kemampuan mengenali banyak benda yang dingin, hangat, manis, pahit, dan berbagai rasa lainnya. Kerja jantung kita sangat mengagumkan, meski tidak pernah kita hitung ia berdegup lebih dari 100.000 kali setiap hari.

Potensi semua itu merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa untuk kita. Dengan adanya akal, bukan tidak mungkin kita akan mampu mencari solusi dari setiap masalah yang sedang kita hadapi.

3). Jangan Sampai Masalah Menguasai Diri Kita

Seringkali jika saya mengingat masalah besar dalam hidup saya, saya lebih suka murung, tidak bersemangat dan ingin menyerah dalam menghadapi hidup. Namun, setelah saya berpikir ulang ternyata kondisi seperti ini adalah saat-saat masalah malah menguasai diri saya.

Kuasailah masalah, dan jangan sampai masalah menguasai kita. Untuk bisa menjadi demikian kita perlu berhati-hati dalam mengasumsikan diri kita sendiri. Jaga ucapan kata hati kita tentang “Aku” (diir kita sendiri). Karena kata “Aku” meliputi segalanya di setiap tempat, waktu, serta pada setiap materi dan energy.

Ketika kita mengatakan “Aku gagal” berarti kegagalan itu berlaku pada setiap tempat, setiap waktu, setiap pikiran, bahasa, dan potensi(termasuk potensi spiritual). Kata setelah “Aku” dapat menimbulkan masalah untuk kita, sebab dari keyakinan (persepsi) kita sendiri.

Sebaiknya kita mengatakan diri kita dengan kata yang positif, misalnya “Aku percaya diri..”, “Aku kreatif dan mampu menemukan solusi dari masalah apapun”. Dengan demikian, berarti kita memberikan gizi yangbaik terhadap otak kita.

Terakhir dari saya, berikut ini kalimat sebagai penyegaran pikiran kita terhadap masalah :

“Posisi seseorang terletak bukan pada saat tenang dan damai, melainkan saat menghadapi MASALAH dan Kontraversi!”

“Tidak ada masalah yang solusinya tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia”

“Untuk mengatasi masalah tanpa masalah, larilah ke PEGADAIAN …..!!!”→ haaa haaa haaa…(ini obat penghilang masalah dari saya).

Malu Jadi Manusia Kurang Intelektualitas, Ini Solusi Kesuksesanmu…!

#hidup cerah luar biasa dengan SQ (Spiritualitas Quantum)

Dunia yang seperti kita lihat ini merupakan wujud  dari dunia kasat mata/nyata. Dunia lain sering kita sebut manakala kita percaya akan keberadaan dunia ghaib (ada tetapi tidak tampak). Tuhan kita ada tetapi tak tampak, begitu pula dengan syaitan, Jin, Malaikat. Saya beranggapan bahwa keberadaan makhluk ghaib tersebut tak beda dengan keberadaan Ruh Jiwa kita. Coba anda bayangkan ya, ketika pada saatnya kita meninggal dunia dan raga kita akan terpisah oleh ruhnya, maka yang terjadi hanyalah roh jiwa itu akan tetap ada atau hidup entah itu melayang-layang, berdiam diri di suatu tempat dan tepatnya hanya Dia yang tahu.

Keberadaan malaikat ditakdirkan Tuhan ada dengan segala  kepatuhannya. Malaikat  merupakan makhluk suci, tunduk dengan perintah-Nya, yang  selalu  berdzikir kepada-Nya, dan melakukan tugas sesuai dengan kewajibannya. Pernah saya dengar sebelumnya kalau manusia yang suci hati nuraninya, suka mendekatkan diri kepada Allah, dan bertaqwa dengan sungguh-sungguh, maka derajatnya bak  malaikat. Tapi, kalau manusia yang memilih mengumbar nafsunya, tidak meyakini bahwa segala kekuatan itu bersumber dari-Nya, dan hidupnya punya aturan sendiri  maka ia akan direndahkan derajatnya lebih rendah dari hewan!

Malaikat diciptakan dari cahaya, manusia diciptakan dari tanah, sedangkan syaitan diciptakan dari api. Kalau Jin dari apa? Anda tahu…Jin ada yang patuh dengan perintah Allah, ada pula yang tidak. Jika kita mau membuka pikiran kita, karunia bukan hanya sekedar rejeki berupa kepandaian, kecerdasan, kecantikan, atau kedudukan status sosial yang tinggi saja melainkan,  kesehatan di tubuh kita ini pun merupakan anugerah dari-Nya yang terindah! Bagaimana tidak, sel darah merah kita itu sangat berukuran mikrokopis dengan jumlah berjuta-juta sel darah. Apabila pengetahuan kita kurang, pastilah kita menganggap darah merah itu hanya sebuah cairan seperti air. Ketika kita luka dan mengeluarkan darah, beberapa saat kemudian darah akan membeku atau mongering, bayangkan jika darah yang keluar tidak mengering?

Sepasang mata kita terdapat lensa mata yang tidak ternilai harganya, sebuah lensa yang terbentuk dari hasil aktifitas biologis manusia yang pada awalnya hanya berupa mani yang bercampur (menjijikkan jika kita melihat dan mendengarnya). Begitu juga dengan otak, otak lebih canggih dari kerja computer. Allah dikatakan “Maha”, sebab kekuasaannya yang tidak ada tandingannya. Dikatakan Allah Maha Satu, orang berakal (sekalipun tidak cerdas ) akan memahami (belum tentui meyakini ) kalau sebenarnya Allah itu satu dan tidak punya tandingan (ingat ya, tandingan Ahok dulu FPI, wekekekekekk…).

Saya itu terkadang merasa sediiih… untuk menikmati rasa kegalauan, kegundahan, dan ketidak nyamanan yang timbul di benak hati saya. Tanpa sebab yang jelas, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan saya. Saya beranggapan kalau saya kurang bersyukur, dan masih ingin mendapatkan yang lebih lagi dari ini. Andai boleh memilih, saya ingin hidup sesuai keiinginan apa yang pernah saya pikirkan atau rencanakan. Kenyataan hidup itu takdir dan ketentuan-Nya, yang suka-duka harus bisa kita terima, kita hadapi, dengan kesungguhan hati atau ikhlas. Tuhan menganugerahkan Rizki dan nikmat serta karunia-Nya kepada kita tanpa minta dibalas dengan sajen (duit, buah-buahan, ingkung atau menyan yang dibakar beserta do’a –do’a sembarangan ).

Cukup bagi Allah mendapatkan balasan dari apa yang pernah Dia berikan kepada kita dengan sebuah syukur. Syukur yang dilafalkan dengan pujian baik secara lisan atau di dalam hati yang jelas Dia akan mendengar, sebab Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Diingat-ingat lagi ya kalau “Maha “ tadi berarti bahwa tidak ada tandingan yang mampu menyaiingi kekuatan Allah.

Pada mulanya syukur diucapkan, kemudian yang penting lagi dari itu kita membuktikan syukur kita dengan nyata. Keberadaan mata buat melihat yang baik-baik (kalau bisa), adanya mulut untuk bicara yang baik-baik saja (kalau bisa ), keberadaan tangan untuk mengambil barang yang halal (kalau bisa ).

Itu pendapat saya tentang galau akibat kurang bersyukur, lalu ada lagi yang saya anggap kenapa kegalauan datang dengan menyadari keberadaan syaitan. Syaitan tercipta dari api, tidak mau menyembah kepada Allah. Kerjaannya Cuma mau mengajak manusia berbuat dosa. Syaitan itu juga kawin dan beranak pinak, kalau bisa dilihat jumlahnya berjubel-jubel kali ya ? Untung Allah menciptakan syaitan yang tak dapat dilihat oleh mata manusia, jika dapat maka itu sungguh tidak mungkin sebab saya pun tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi setiap harinya.

Manusia lebih sempurna dari makhluk lain, juga terpandang lebih baik dari syaitan. Kenapa kita takut syaitan? Bukankah syaitan akan takut kepada kita jika kita mau berdo’a (menyebut asma-Nya ). Pikirkan saja, jika kita mendapati rasa galau barangkali syaitan sedang bekerja membujuk kita untuk berbuat dosa. Berdo’a, tenangkan hati dan pikiran, kuasai diri sendiri dan yaklinkan jangan mau dan mudah untuk diberdayai oleh syaitan yang terkutuk. Lalu sentil saja kuping syaitannya!

Hidup itu misterius, begitu pula dengan kematian kita. Tetaplah punya keyakinan bahwa yang diperhitungkan Allah hanya akan diberatkan berapa timbangan amal baik-buruk kita, usahakan agar kita mau memperbaiki diri dari hari ke hari. Sebaik-baiknya matinya manusia jika ia mati terkubur dengan hormat. Bukan mati dimutilasi dan ditemukan didalam sebuah plastic dengan bau yang menyengat tak sedaaap. Menjaga keimanan hati perlu dibiasakan diri, supaya kalau sekali-sekali kita mati mudah-mudahan sebelum nafas terakhir kita terhembus kita mampu mengingat  nama-Nya walau satu kali.

#hidup cerah luar biasa dengan EQ (Emotion Quantum)

Emosi. Biasa kita akan memaknai sebuah emosi dengan anggapan yang buruk/negatif. Padahal yang dinamakan emosi itu bisa berupa, kemarahan, perasaan bahagia, dan kecewa. Persis dong sam apermen nano-nano.

Bagaimana bisa Emosi yang ada pada kita ini berpengaruh besar pada kecerdasan, serta kesuksesan atau kenerhasilan hidup seseorang. Contoh yang sederhana misalnya, seorang anak yang punya kemampuan berpikir sedang-sedang saja akan mampu memahami atau mengerti materi pelajaran tertentu jika ia mau mengulangny asampai 10 kali. Maka ia pun membacanya berkali-kali sampai ia bisa. Lalu dibandingkan dengan anak cerdas yang menyombongkan diri tak mau membaca materi tersebut. Pada saat ulangan tiba, kemungkinan besar siapa yang lebih Lucky?

Kerja emosi itu merupakan gabungan dari pola pikir kita beserta saraf-saraf neuron yang ada diseluruh tubuh kita. Emosi mempengaruhi seseorang untuk mau atau tidaknya melakukan sesuatu/bekerja. Emosi lekat sekali dengan kondisi kejiwaan seseorang. Orang yang bisa menguasai dirinya akan tidak gugup jika ia berbicara di depan umum, berbeda sekali dengan orang yang kurang percaya diri jika harus berbuat begitu.

Emosilah yang akan menjadi cambuk untuk diri sendiri tentang bagaimana kita berusaha untuk terus mau gigih berjuang meraih segala apa yang sudah kita cita-citakan untuk menjadi nyata.

Pikiran positif, berpengaruh pada jiwa yang damai. Emosi pun akan stabil. Dan pasti kita punya rasa percaya diri.

Orang lain atau rekan kita yang sudah sukses, biarlah mereka lebih dulu berhasil, biarkan orang yang sudah sukses itu menikmati hasil usahanya. Jangan minder jika anda berpikir kurang dalam pengetahuan Intelektualitas (tak menganyam pendidikan secara formalitas). Ilmu dapat didapatkan dari mana saja dan jaringan networking dalam sosialitas dapat didapatkan dengan mudah asal kit amau membuka diri, tetapiintregitas (semangat untuk meraih sukses) itu datangnya dari diri sendiri.

Bunda Pipiet Senjaaa…

Kiprah Pipiet Senja mulai aktif dalam kepenulisan, sastra dan seni dimulainya sejak ia berusia 17 tahun…

“Menjadi seorang pengarang itu menyenangkan. Bukan Cuma mengkhayal. Tentu lebih sekedar itu…”, demikianlah gumam Pipiet Senja  kepada Bu Zaidar, salah satu gurunya di SMP. Sejak itu mimpinya ingin menjadi Kowad (seorang prajurit)  dan bukan menjadi pengarang, menurutnya Kowad  itu sangat keren sekalipun sejak di bangku SMP kondisi tubuhnya harus rajin ditransfusi darah akibat chirosis hepatitis, dengan semangat ia yakin penyakitnya bisa sembuh dan tak ada alasan untuk menjadi Kowad.

Kondisi kesehatannya yang kurang baik, pernah membuat Pipiet Senja keluar sekolah, dan itu membuatnya sangat sedih, sebab keiinginan belajarnya sangat tinggi.

Selanjutnya, ketika asa dan mimpinya mulai bergairah kembali Pipiet Senja punya kegemaran baru, diantaranya yaitu: berkorespondensi, mengunjungi perpustakaan, menyimak dunia remaja di radio, mengisi acara-acara remaja di radio dengan lagu dan puisi, drama radio, artikel sastra, pelangi budaya dsb. Sebelum nama penanya bernamakan Pipiet Senja, ia punya nama pena “Tauresita”, diambil dari bintangnya yaitu Taurus.

Pada tahun 1975 nama Pipiet Senja mulai berkibar di radio-radio swasta kota kembang. Dan dalam kondisi kesehatannya yang harus keluar masuk di rumah sakit untuk melakukan tranfusi darah sama sekali tak menyurutkan semangatnya untuk mengirimkan puisi-puisinya ke berbagai media cetak. Karya pertamakalinya sempat dimuat oleh Majalah Aktuil terbitan Bandung. Perpuisi dihargai 1.500 rupiah. Mendadak Pipiet Senja dihujani surat dari pelosok Indonesia yang membuatnya lebih bersemangat lagi untuk menulis,menulis dan terus menulis….

Setelah itu setahun berikutnya, Pipiet Senja mulai menulis cerpen. Tak ada hambatan, karyanya langsung dimuat di harian lokal seperti  Gala, Bandung Pos, Pikiran Rakyat, atau Mandala. Honor cerpen kala itu berkisar 7.500- 12.500 rupiah. Cukup lumayan untuk bisa membiayai tranfusi darahnya.

Sebelum Pipiet Senja punya mesin ketik sendiri, ia sering numpang di kantor RW di Bale Desa untuk mengetik , itu ia lakukan setiap kali karyawan di kantor Bale itu sudah pulang. Dan di bulan Mei 1977, barulah ia punya mesin ketik  dari pemberian adiknya En yang dinamainya dengan sebutan “Denok” sebagai hadiah ultahnya. Sejak punya mesin ketik sendiri, produktivitas menulisya semakin tinggi. Karyanya mulai merambah ke harian-harian dan majalah terbitan Ibu Kota, Surabaya, Ujung Pandang, Medan, dan Padang. Semangat yang menggebu dalam menulis ini sebenarnya lebih banyak karena desakan untuk bisa memenuhi ketergantungannya akan tranfusi darah, sehingga ketika ada cibiran dari luar sama sekali tak menyurutkan semangat Pipiet Senja untuk terus berkarya.

Azyumardi Azra, merupakan seorang editor yang pertama kali menyemangati Pipiet Senja untuk menulis novel berisikan nilai-nilai islami. Sedangkan pesan dari Ayah Pipiet Senja sendiri, yang sampai saat ini dijadikan sebagai pegangan dalam dunia kepenulisan, bahkan hingga puluhan tahun kemudian  yaitu demikian; “Biasakan dirimu dengan kritikan-kritikan begitu. Jangan dibikin sakit hati. Sebaliknya kamu harus senang. Karena itu berarti karyamu dilirik orang. Percayalah, kritikan itu akan membuatmu semakin selektif untuk menulis yang lebih baik”.

Pipiet Senja saat sehat dan punya waktu senggang kala itu, selalu berusaha keras meningkatkan pengetahuannya, wawasannya tentang dunia sastra, dan budaya secara autodidak, ia mulai bersosialisasi, bergaul dengan komunitas sesama penulis. Kemudian bergabunglah ia dengan YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) di Jalan Naripan Bandung. Dari sini ia mulai ketemu langsung dengan para seniman. Dalam acara YPK yang diselenggarakan, sering mengundang nara sumber seperti  Saini K.M, Jakob Sumardjo, Wilson Nadaek, Remy Syldo, Otih Rostoyati dll.

Diusianya ke-19 Pipiet Senja, ia berhasil menerbitkan novel untuk pertama kalinya dengan judul “Biru yang Biru”. Honornya seratus ribu rupiah melebihi gaji ayahnya yang saat itu bekerja sebagai seorang Pamen.

“Kamu punya talenta luar biasa, Pipiet Senja, rekam terus jejak sejarahmu itu. Satu hari nanti, kamu akan merasakan sendiri nikmatnya menjadi seorang penulis”, ucap Titie Said usai mewawancarai  Pipiet  Senja untuk Majalah Kartini.

Sebab uangnya untuk tranfusi darah sengaja diulur-ulur untuk kebutuhan yang lain, Pipiet Senja terbiasa menyembunyikan rasa sakitnya dari kekurangan darah. Setiap kali rasa sakit mendera di sekujur tubuhnya, yang ia lakukan dengan mensugesti diri sendiri; “aku sehat wal afiat!”

Pipiet Senja mulai menulis sejak usianya 17 tahun dengan memoar pertamanya berjudul “ Sepotong Hati di Sudut Kamar”. Dua kata motivasi dari Pipiet Senja mana kala dihadapkan dengan permasalahan, ia senantiasa berpikiran positif. Keyakinan hatinya mengatakan demikian, “Kita yang berencana, tetapi Sang Pencipta yang menggariskan takdir kita. Kehidupan terus berlanjut, life must go on! Dan satu lagi, semangatnya dalam setiap kali ia mengirimkan karyanya ke redaksi yaitu ia selalu menyelipkan dengan berbekal keyakinan akan kemurahan Allah swt, ditambah mental badak sehingga tak heran naskah-naskah yang dikirim ke redaksi dapat diterima dan bisa menghasilkan uang.

Pada suatu event tahun 1979 yaitu tepatnya pada sebuah acara Temu Sastrawan Nusantara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saat inilah ia pertama kali bisa bertemu dengan para seniman bernama Sutan Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, Ajip Rosidi, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, Titis Basino, Th. Prihatimi, Astrid Susanto, Rayani Sriwidodo,  Ebiet G. Ade yang bermimpi jadi penyair tapi malah jadi penyanyi, dan banyak lagi sastrawan senior yang karyanya sudah ia kenal sebelumnya. Saat ini pula, Pipiet Senja berkenalan dengan seorang pemuda Tapanuli bermarga Siregar yang kemudian hari menjadi pasangan hidupnya.

Bagaimanakah kisah cinta Pipiet Senja dengan pemuda itu selanjutnya? Dan bagaimanakah perjuangan jiwa dan raga seorang Pipiet  Senja untuk bertahan dalam liku-liku kehidupannya, sehingga walaupun keadaannya selalu dihadapkan dengan berbagai macam masalah kehidupan sedikitpun tak menyurutkan ia untuk terus menulis dan terus berkarya hingga tulisan-tulisannya berjumlah ratusan lebih? Dengan menulis, putra pertama Pipiet Senja telah menjadi Master IT, manager disebuah perusahaan teknologi bonafide dan putri keduanya berhasil menjadi sarjana hukum yang sudah menjadi seorang pengacara hebat! Dengan menulis, ia bisa menunaikan ibadah haji di Mekkah. Berkeliling dunia untuk menjadi motivator dalam bidang kepenulisan di pelosok manca negara dan pelosok negeri ini…

Dalam novelnya yang berjudul “ Dalam Semesta Cinta “ jawaban dari pertanyaan- pertanyaan di atas tersebut terjawab. Secara pribadi, isi dari novel ini menginspirasi saya semakin yakin bahwa hanya Allah sebaik-baiknya penolong hidup saya. Pipiet Senja telah membuktikan keistiqomahan hatinya, menjalani hari-harinya yang sulit dengan keikhlasan, kesabaran dan penuh tawakal kepada Allah dalam setiap kata-katanya yang terangkai dengan santun, itu penuh makna. Dan yang tidak kalah pentingnya, untuk menjadi seorang penulis yang hebat dibutuhkan perjuangan yang hebat seperti yang sudah Bunda Pipiet Senja perjuangkan selama ini…

Salam hebatku teruntuk Bunda Pipiet Senja, mudah-mudahan beliau selalu dalam perlindungan-Nya…

Amin.

Tekat Kuat Menjadi Penulis, Semoga Ada Padaku!

“Apa? Kamu ingin ke Jakarta hanya untuk menulis? Aku tahu, tulisanmu itu hanya untuk mendapat sebutan orang sana-sini, berdiamlah saja di rumah. Jangan kamu sampai keblerengen gemerlapnya duniawi. Kamu tahu, menjadi penulis itu tak gampang!”, cerocos ayah dalam ingatanku malam ini.

Awalnya ayah tak setuju, tapi akhirnya aku diijinkan pergi juga. Rabu, 17 Desember 2014 sekitar jam empat sore aku sudah berada di Terminal Bawen, Semarang, Jawa Tengah. Bersiap menuju ke Jakarta untuk yang kedua kalinya. Aku mendapatkan uang saku satu juta rupiah dari ayahku. Uang itu ialah uang dari gelang yang dijual ayah untuk membayar cangkok sawah buruhnya. Ngeri, aku masih ingat pas aku sedang di penampungan mau berangkat ke Hong Kong dulu, dalam keadaan seperti  itu aku menyaksikan wajah penuh harap oleh ayahku. Ia  mendatangiku hanya untuk diijinkan menjual gelang yang aku belikan untuk ibu. Belum sempat aku melihat ibu memakainya, niatku membeli demi bisa membuat ibu merasa sedikit istimewa.

Sehari sebelum aku berangkat ke Jakarta, ibuku marah besar kepada ayahku. Ia rupanya tak mau kutinggal. Ibu mengira, ia akan kena marah ayah jika aku pergi lagi dari rumah. Kekhawatirannya dituduh menjadi seorang ibu yang tak bisa menasehati anaknya sangat tinggi. Semalamnya sebelum aku pergi, aku melihat ibuku tidur berada dibelakangku dan lebih rendah lagi. Aku terkejut tak kala aku kebangun ditengah tidur malamku itu melihat kakiku berada di atas kepala ibu. Raut wajah ibu sedih, aku berpikir mungkin karena ibu benar-benar tak ingin aku tinggalkan lagi.

Pagi hari sebelum keberangkatan.  Di Hari Rabu itu juga, aku sengaja memijit badan ayahku yang kusentuh hangat. Ia sedang sakit, pening kepala dan badannya kelelahan. Tubuhnya kurus kering. Warna kulitnya coklat pekat. Ayahku adalah sosok yang suka aku agung-agungkan. Yang selalu aku banggakan, aku rindukan, bahkan aku jadikan panutan dalam belajar untuk bisa tegar menghadapi segala macam kehidupan. Sambil memijit, aku dinasehati banyak oleh ayah.

“Awalilah segala apa yang kamu kerjakan dengan bismillah…!’’, pesan ayah.

“Aku sebenarnya lebih suka kamu berada di rumah, bekerja di dekat rumah, dan seandainya kamu mau ikuti saja belajar merias pengantin. Aku pikir kamu berbakat untuk itu”, ayah membujukku agar tak pergi lagi.

Aku bingung untuk menjawab tawaran ayah, lagi pula aku termasuk anak yang keras kepala. Aku tak tau kenapa setiap aku sedang menginginkan  sesuatu yang baru, aku belum bisa berhenti untuk berusaha mendapatkannya sekalipun pada akhirnya aku akan gagal atau terjatuh.

“Untuk mengubah nasib, kita memang harus berani berubah yah. Berjuang semaksimal mungkin, semampu yang dapat kita lakukan”, tangkasku.

Aku katakan kepada ayah seperti itu, padahal dalam hati kecilku tak tau apa yang sebenarnya harus aku lakukan. Di Jakarta akan kerja apa, di Jakarta mau tinggal dimana dan sampai kapan akan bisa bertahan membayar kos-kosan, juga makan sehari-hari jika hanya berkantongkan uang satu juta rupiah saja? Aku sama sekali tidak berpikir keras bahwa ijazah SMA-ku apakah masih laku untuk melamar kerja atau tidak. Sudah kupatok sendiri, kalau aku tak mau menjadi penjaga toko, tak mau menjadi karyawan pabrik, dan hayalanku keajaiban akan dapat pekerjaan yang sesuai dengan harapanku itu akan ada, minimal tidak menjadi pembantu rumah tangga lagi! Waaah kok bisa begitu…?

“Ayah tahu Tukul Arwana? Asal mula dia itu orang biasa, sekarang dia bisa tenar karena perjuangan hidupnya. Tentunya sebuah perjuangan itu dari enol, Yah nggak bisa sekaligus. Sewaktu aku membaca kisahnya hidupnya ia pernah juga menjadi sopir kok, pernah kelaparan dan pernah kesusahan. Dan  agar nasib kita berubah menjadi lebih baik memang kita harus mau merubahnya sendiri…”, tuturku kepada ayah dengan harapan, ayah menyetujui  tentang kebulatan tekatku untuk berada di Jakarta.

Sedih. Setiap kali aku teringatkan bayangan ibuku.

Pengalaman ibuku pernah jatuh kecelakaan ditabrak sepeda motor, membuat kaki kanan ibu menjadi rapuh dan harus berjalan terhuyung-huyung. Setiap kuperhatikan baik-baik rambut ibu, tampak rambutnya menipis akibat sering rontok. Matanya yang sebelah mulai berkedip tak beraturan, membuatku punya rasa takut jika sewaktu-waktu ibu sakit atau apa. Badan ibu lebih kecil daripada aku.

“Hati-hati ya nduk kamu di jalan, jika nanti kamu nggak betah di sana segera pulanglah saja ya biar kamu bisa makan masakan ibu lagi”, ibu mengatakan itu sambil tersenyum lalu memelukku, tak lama kemudian ia tampak sedih  dengan tak bisa menunda air matanya untuk jatuh berderai.

“Iya Bu, aku tahu. Aku pasti bisa jaga diri. Aku akan baik-baik saja nanti!”

Kami berpelukan sekali lagi tanpa mampu mengatakan sepatah kata apapun.

“Aku akan ikut rewang ke rumah Makdemu, jika nanti aku belum sempat pulang pesanku hati-hati saja ya untukmu, kamu harus jaga diri”.

Saat itu ibu mulai melangkahkan kaki berjalan keluar dan tampak tubuhnya semakin jauh.

Dari belakang, diam-diam aku melihat ibu yang terus berjalan dengan langkah-langkah kecilnya. Aku ikut ingin menangis dengan perasaan iba ketika ibu sesekali menggerakkan jemarinya kemukanya. Pikirku ibu sedang membasuh air mata. Ibu pasti sedih!

Kurasakan pipiku mulai basah, aku bergegas berlari menyusul ibu. Memeluk ibu di tepi jalan itu. Dalam hatiku, sangat berharap untuk bisa membahagiakan ibu dan berusaha menemukan arti dalam hidupku sendiri.

Tak lama kemudian, ibu sudah tak nampak lagi. Yang tertinggal sampai saat ini hanya warna baju yang dikenakan ibu saat terakhir itu. Mengingat pelukan ibu, membuatku teringat sewaktu aku pulang dari Blora dulu. Kepulanganku dari Jakarta yang pertama kalinya, disambut haru oleh ibu. Ibu mendekapku dengan suka-cita. Dia berpikir tak akan meninggalkannya lagi. Dan dia akan tenang jika aku berada di rumah. Namun, kini kenyataannya aku tega meninggalkannya lagi untuk yang kesekian kalinya.

Di Jakarta aku ingin menjadi Penulis

Ya. Hanya satu itu saja, yaitu penulis! Aku tak peduli mau dikategorikan penulis kelas apa. Kelas teri, silahkan…Kelas kacangan, silahkan…atau tanpa kelas pun silahkan…

Di Jakarta akan ada banyak pelajaran kepenulisan yang berbagai macam, banyak acara-acar a blogger yang diselenggrakan, semakin banyak bergaul semakin baik jalinan networknya terhadap sesame blogger. Itu dalam pikiranku!

Yang  penting dari dulu sampai kedepannya, aku akan menulis sesuai dengan apa saja yang sedang ingin aku tuliskan. Niat pertamaku untuk menulis cukup sebagai jalan bagaimana aku bisa meng-explore isi hatiku sendiri kepada orang lain. Aku suka menulis tentang motivasi atas dasar karena aku pernah dimotivasi oleh guru terhebatku. Berkat ketulusannya mengajarnya, aku gagal membunuh diriku sendiri. Aku sadar, di alam raya nyata ini pasti akan ada banyak orang-orang yang kehilangan harapan hidup dan ingin menyerah, sedikit banyak yang bisa aku tulis sekiranya bisa membangkitkan gairah hidup orang lain itu harapan besarku. Katakanlah aku ingin berbagi semangat! Menurutku, motivasi itu sama juga dengan pendalaman tentang kejiwaan seseorang. Banyak saat ini orang bertubuh sehat tapi sakit jiwanya.

Dengan menulis aku ingin menyuarakan semangat hidup, menyuarakan persamaan kita sebagai manusia biasa, menyuarakan apa yang jarang disuarakan, dan sebagai salah satu cara untuk mengubah pandangan negatif tanpa cela!

Bukan hanya kalian, namun alam pun tahu siapa aku! Dari dalam hatiku bilang, aku malu jika sadar aku bukanlah jebolan mahasiswa yang pandai memahami berbagai hal sehingga akan punya bahan tulisan yang berkualitas. Tapi, ketika aku sedang mau meliarkan jalan pikiranku dalam bentuk tulisan, gairah kepercayaan diriku seketika itu akan hadir.

Batinku bilang, aku malu jika aku membandingkan diri dengan penulis-penulis handal lainnya. Bila diibaratkan sebagai pertandingan, aku bukan level yang pantas untuk diikutsertakan dalam pertandingan kepenulisan apapun. Dan dari sekarang aku akan mengatakan bahwa penulis lain itu memang bagus-bagus alias berbakat. Jika aku ingat satu hal ini, memang sering membuatku ingin tidak menulis lagi. Tapi, jika tidak menulis lagi yang aku dapatkan hanya perasaan tak tenang. Menulis sudah menjadi kebutuhan hidupku.

Aku pun akhirnya menjadi merasa sangat bodoh akibat dari tulisanku sendiri. Dalam diam, aku bertanya kenapa aku terdampar di sini? Bertahan di sini untuk apa? Mencari dan mengejar apa? Benarkah demi bisa menjadi seorang penulis? Jika iya, mulai sekarang aku harus menargetkan diri berapa rupiah yang harus aku usahakan dari tulisan-tulisanku.

Mak Jeleeeb! Bagiku, satu tulisan bermanfaat untuk satu orang jauh lebih bermakna daripada satu tulisan dibaca oleh lebih seribu orang (atau pun dibayar) tanpa memberikan pesan/kebaikan apa-apa.

Bapak, Ibukku ini hanyalah sedikit ambisi yang menggebu akibat kepercayaan diri yang timbul dari menulis, tidak lebih! Bagaimana pun jalan dan akhirnya, aku sanggup menikmatinya.

Motivasi Saya Untuk Hari Ini…

“Kita sebagai remaja, bangkit dari keterpurukan hidup itu penting!”
Masa remaja selain merupakan masa yang indah penuh dengan suka-cita, sudah tentu duka juga tetap akan ada. Masalah yang dihadapi oleh remaja sangatlah bervariasi. Dan jika kalian tahu judul buku “Chicken Soup For The Teenage Soul”, kurang lebihnya permasalahan remaja seperti yang terulas dalam buku tersebut. Dimana akan ada banyak cerita tentang  pelajar remaja yang frustasi karena kesulitan belajar di sekolahnya, ada yang depresi karena keluarganya yang broken home, ada pula remaja yang stress karena putus pacar, mempunyai rasa minder bergaul dengan teman, pacaran lalu hamil diluar nikah dan sebagainya.
Remaja satu degan remaja lainnya dalam menghadapi sebuah masalah tentunya tidak akan sama. Remaja yang punya sikap terbuka kepada teman dekatnya mungkin lebih mudah memecahkan masalahnya daripada remaja yang bersikap tertutup dan pemurung.
Saya boleh dibilang sebagai anak muda perempuan yang sudah menginjak usia remaja alias ABG. Terkadang saya merasa sudah dewasa, dan ada kalanya pula saya masih belum bisa mengendalikan diri (bersikap kekanak-kanaan). Secara fisik, saya sudah tergolong  anak remaja yang matang. Tapi, secara psikologis (kemampuan berpikir dan merasakan/memutuskan sesuatu) masih belum seutuhnya matang. Semua tidak lepas dari tingkah laku dan kebiasaan saya sebelumnya.
Latar belakang kita yang berbeda menjadikan sebagian masa remaja kita ada yang menyenangkan dan ada juga yang tidak. Namun, yang terpenting ialah tentang bagaimana kita bijaksana terhadap kenyataan yang kita hadapi.
Masa remaja, identik dengan masa indahnya menjalin pertemanan, masa keemasan untuk mengumpulkan ilmu, dan semangat demi masa depan.
Remaja hendaknya jangan terjatuh hanya karena hal-hal berikut ini;
1). Karena Cinta
Katanya, kalau sudah cinta susah mau bilang apa? Remaja atau ABG dikalangan masyarakat kita telah banyak teracuni oleh siaran acara sinetron yang ada di layar Televisi. Banyak yang menganggap bahwa, anak puber yang gaul ya yang enggak jomblo gitu lho. Anak jomblo biasanya suka galau, bukankah ini masalah?
Karena cinta, banyak yang patah hati karena putus cinta. Karena cinta, banyak yang merelakan diri jatuh dalam limbah dosa. Misalnya, hamil di luar nikah dsb. Cerita tentang anak puber gantung diri setelah putus cinta pun ada kan? Cinta yang salah ialah cinta yang terlalu dicintai, sehingga ketika putus cinta/ terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari bercinta membuat dirinya sendiri stress dan frustasi.
2). Karena Merendahkan Diri
Rendah hati dengan rendah diri itu jelas berbeda. Kalau rendah diri sama saja kurang percaya diri, menganggap orang lain lebih mampu/hebat daripada kita. Padahal orang lain yang lebih mampu/hebat daripada kita itu semua tak lepas dari usahanya masing-masing.
Biasanya remaja yang kurang bergaul akan mempunyai kecenderungan bersikap tertutup dan pemalu. Ia akan sangat mudah terkena penyakit minder, kurang percaya diri dan pemalu. Maka dari itu, bagi kalian yang merasa masih suka menyendiri ayo segera move on ya! Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi baik, demi kebaikan diri kita sendiri juga.  Yakinkanlah bahwa percaya diri itu penting untuk dimiliki oleh kita semua, dan akan menjadi dasar utama bersosialisai.
Percaya diri dapat dihadirkan ada pada diri kita jika kita bisa mengenal siapa diri kita(menerima kekurangan dan kelebihan diri). Mengasah potensi yang ada pada diri kita. Dan punya mental positif!
3). Karena tidak mengerti arah dan tujuan masa depan sendiri
Hidup itu menurut saya bagaikan sebagai resiko dari sebuah pilihan yang telah kita pilih. Saat ini yang kita miliki tentunya ada kegagalan dan keberhasilan. Seberapa dalam kemampuan yang kita miliki semua bergantung pada usaha yang telah kita upayakan.
Kenyataan yang ada di depan mata kita sekarang entah pahit atau manis, itu merupakan buah dari apa yang telah kita pilih dan lakukan. Dan saat kita terjatuh karena sesuatu, sering kita ingin menyerah menghadapi hidup ini. Kurang bergairah dalam menjalani hidup, tak semangat, membuat pikiran kita kurang mampu berpikir secara optimal.
Jika kita tak tau arah tujuan hidup, kita akan mudah terpengaruh oleh orang lain. Yang berbahaya jika terpengaruh pada hal-hal yang negatif. Kita akan menjadi orang yang tak bisa mengendalikan diri!
Melihat berbagai macam persoalan yang sudah kita ulas di atas, tak jarang dari kita hidup di masa remaja itu seolah terasa sulit! Sebagai remaja, tanpa adanya semangat hidup yang membara maka kita tidak akan punya arahdan tujuan hidup. Lalu, apa yang bisa membuat kita semangat selain kita punya mimpi/cita-cita?
Menjadi remaja muda bersemangatlah, bermimpilah yang realistis sesuai dengan bakat dan kemampuan/potensi yang sudah kita miliki.
Boleh galau karena cinta, tapi sewajarnya saja. Boleh minder dan iri, tapi minder dan irilah dengan teman-teman yang berprestasi sehingga kita terpacu untuk berusaha semaksimal mungkin dan mau berlomba-lomba dalam kebaikan/prestasi. Dan yang tak kalah pentingnya yaitu memahami arah tujuan hidup kita kedepan, itu merupakan vision yang akan menjadi semangat kita hidup sebagai remaja yang bahagia.
Sebab remaja yang bahagia itu bukan remaja yang harus kaya dari segi materi, yang cantik/cakep, pandai bergaya, melainkan kaya akan kebahagiaan yang ada didalam hidupnya.
Ingatlah, perjalanan hidup setelah remaja itu sangat panjang dan tanggung jawab kita akan semakin besar. Kita yang perempuan akan menjadi ibu, dan yang laki-laki akan menjadi seorang ayah tentunya. Kita akan dihadapkan pada lingkungan masyarakat, dihadapkan pada kebutuhan berumah tangga dan kehidupan yang demikian itu akan terus berjalan/bergulir.
Selagi masih muda, semangat! Sekali terjatuh, yuuuk bangkit lagi. Jika jatuh lagi, jangan pikir dua kali untuk segera bangkit dan bangkit lagi.