Jalan-jalan ke Noah’s Ark Hong Kong

14067976291617264071Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah perjalanan wisata yang diadakan oleh suatu lembaga dari komunitas warga Hongkong yang tujuan lembaga itu didirikan untuk membantu memberikan keterampilan kepada  para TKW yang bekerja di Hongkong.Kurang lebihnya hampir seperti sebuah kursus.Dengan pengajar asli warga Negara Hongkong,mereka bersedia mengajar dengan suka-rela .Pelajaran yang diajarkan ada dua yaitu bahasa Inggris dan Komputer.Banyak para TKW yang berminat mengiukutinya ,termasuk saya .Selain gratis ,pengajarnya juga ramah dan baik .Ada kebersamaan menyelimuti hati antara pengajar dan pembelajar .14067980981955978948

Sebenarnya ,saya termasuk orang yang susah diajak jalan-jalan,karena saya tahu di Hongkong hampir semuanya mahal.Saya paling suka kalau liburan berdiam di Perpustakaan jika tidak online ya paling sekedar membaca buku ringan .Tetapi ,karena ditawari jalan-jalan dengan seharga $30 dollar saja di Noah’s Ark ,saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini.Sebelumnya saya tahu sedikit tentang Noah’s Ark dari sebuah brosur.Dari gambarnya ,yang mengesankan adalah sebuah kapal dengan ukuran sangat besar.Kalau Indonesianya ,kapal itu disebut sebagai kapalnya Nabi Nuh .14067981901818789652

Setengah tidak percaya saya,mendengar harga yang ditawarkan kok cuma $30 dollar !Itu sudah termasuk transportasi,tiket masuk,makan siang ,dan souvenir.Aduh !Seneng banget deh pokoknya ya kalau dapet yang gitu-gitu …(hehe).Setelah saya dan rombongan berkumpul dan menikmati apa yang ada di sana,saya menjadi percaya kalau benar $30 dollar bisa dapat semuanya .

Di suatu hari Minggu itu ,pukul 09:00 saya dan teman-teman sudah bersiap diri berkumpul di tempat.Tepatnya di Shai Wan Ho ,tempat di mana saya dan teman-teman belajar.Sembari menunggu semua datang ,seperti biasa kita berpoto-poto .Kurang lebih ada 40 orang ,30 murid dan 10 pengajar ,sebuah bus membawa kami ke Noah’s Ark,Tsuen Wan.Di sepanjang perjalanan kami asyik bermain kuis.Dan tanpa terasa hamper satu jam kami sampai di lokasi.

Dari 30 murid terbagi menjadi 3 kelompok.Yang diketuai oleh pengajarnya.Pertama kita mengelilingi tempat-tempat indah yang ada di sana bagian luarnya.Yang mana ,didekat tempat kapal besar itu ada sebuah pemandangan pantai dan berdiri kokoh jembatan Hongkong terbesar.Menjadikan tempat ini sangat menarik.Bagi pecinta alam ,tepat sekali jika mau bermain di sini karena di sini ada tempat untuk dijelajahi ,terdapat berbagai flora lengkap dari berbagai Negara.Di sini ada tempat menarik yang cocok untuk pengambilan poto pengantin,tempat yang didesain khusus bernuansa romantic.

14067978321861235342Sedangkan didalam sebuah kapal besar itu terdapat tempat-tempat yang memaparkan  ilmu pengetahuan yang bernmanfaat sekali seperti adanya fosil lampau masa lalu,pengenalan hewan insecta,ada permainan anak,music,restoran,souvenir unik dan sebagainya.

14067983441908658595Warna-warni bangunannya menarik …140679844012599417861406798492485307830Sekali berkunjung di sana,menurut saya yang paling mengesankan adalah tempatnya yang unik.Berdekatan dengan pantai menberikan kesan damai .Bangunan-bangunan yang kreatif menggambarkan betapa pemuda Hongkong memang unggul dalam berkreasi.Oh ya ,waktu di dalam ruanangan kapal itu,saya sempat mengikuti ”Bible History”ya saya katakan begitu karena ada pemandu wisata yang menceritakan awal mula sejarah Nabi Nuh.Ceritanya cukup mengesankan,di tambah lagi adanya bukti-bukti peninggalan masa lalu seperti buku-buku dengan tulisan orang terdahulu .Artefak dan diperkuat dengan movie yang berdurasi sekitar 15 menit dengan media 4D.

Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul lima sore,sudah saatnya kita pulang menuju Shai Wan Ho.

*fot02 dari docpri.

Iklan

Kota Blora yang Masih Perawan!

Tugu Pancasila Kota Blora

Haiyaaah, masak ada ya kota kok Virgin. Memangnya ada Kota Gak Virgin? Karena Kota Blora menurut saya belum banyak terpengaruh dengan budaya yang pada umumnya sudah menyebar dihampir Kota Besar yang ada di Indonesia ini. Maka dengan sengaja judulnya mengisyaratkan sebuah kepolosan Kota Blora. Kota yang tanpa terhiasi pemandangan nyata dunia malam, tanpa kemacetan, tanpa polusi udara, tanpa keonaran anak muda, melainkan Kota yang terkesan aman, nyaman dan damai terangkum dalam pandangan mata saya.

Rasanya, bisa sampai di Kota Blora itu seperti mimpi. Saya merencanakan tiba disini sehari sebelum keberangkatan dari Jakarta. Niat hati ingin kembali ke Ambarwa, Semarang. Namun ternyata saya tertarik untuk mampir di rumah salah satu Kompasianer yang sudah akrab sekali dengan saya. Namanya Mbak Yuni Astuti yang pada waktu acara Kompasianival kemarin kita baru pertama kali bertemu.

Berangkat dari Jakarta tanggal (1/12/14))sore sekitar jam tiga, dan sampai di Blora jam setengah delapan dengan menumpangi bus malam Lorena. Harapan saya datang ke tempat ini sangat simple, saya ingin mengetahui sedikit banyak bagaimana keadaan di Kota ini yang mana sebelumnya saya belum pernah datang ke sini dan belum pernah mendapatkan informasi tentang kota ini.

Melihat lebih dekat Kota Blora membuat saya setengah tidak percaya, masalahnya Kota ini jauh berbeda dengan kota yang lainnya.  Beruntung  rumah Mbak Yuni kebetulan berada di pusat kotanya. Siangnya, sekitar jam sepuluhan saya menyempatkan diri untuk menyusuri jalan disepanjang Tugu Pancasila sampai di alun-alun kota ini. Dari serangkaian perjalanan singkat saya itu dapat saya simpulkan bahwa, di Blora sangat bagus untuk dijadikan tempat usaha. Melihat belum banyak para pedagang yang ada di sini.

Blora Mustika yang lenggang

Satu swalayan yang terbesar yaitu Swalayan Luwes, yang ada sejak satu tahun yang lalu. Swalayan ini mampu menyaingi MD Mall, yang sebelumnya sudah ada. Dari konten yang di jual di Luwes sendiri lebih lengkap, menjadikan swalayan Luwes ini banyak dikunjungi pembeli! Idih, kalo Anda di Blora pasti akan kebingungan mencari Matahari, Ramayana atau Hypermart. Masalahnya di sini belum dibangun. Bayangkan saja betapa lenggangnya kota ini.

Sekalipun begitu yang mengesankan dari pandangan mata saya ialah bersih dan nyamannya Kota Blora ini pantas diberi nilai A. Dari setiap satu meter disediakan tong sampah dari DPU, tersedia doa tong sampah untuk sampah organik dan anorganik, setiap pengguna jalan baik sepeda ontel, becak, sepeda motor dan mobil tidak serabutan. Semuanya menertipi peraturan lalu lintas, termasuk patuhnya para pengemudi sepeda motor yang memakai helmet. Sungai yang mengalir tidak dijadikan tempat untuk membuang sampah.

Disepanjang perjalanan saya sengaja mampir di tempat pusat oleh-oleh Kota Blora. Gendu Durian merupakan salah satu makanan khas Blora. Makanan ini sudah ada sejak seratus tahun yang lalu, merupakan makanan bangsawan. Dalam olahan perkilonya membutuhkan 18 kuning telur, tanpa bahan pengawet, dan di oven selama tiga jam. Olahannya berasal dari tepung,gula dan kuning telur dan durian saja! Rasanya manis, harum durian yang enak sekali. Sayangnya, makanan ini tidak banyak diproduksi dan hanya ada dibeberapa tempat tertentu saja, salah satunya yang dekat Tugu Pancasila itu bernama pusat oleh-oleh Grace. Pemiliknya bernama Ervina (34) seorang China yang justru paling tahu rahasia olahan Gendu Durian yang nikmat.Gendhu Durian, makanan khas Kota Blora

Alun-alun Kota Blora suasana siang dan malam harinya jauh berbeda. Kalau siang terlihat lenggang, tapi pada malam harinya ramai sekali. Adanya mainan anak-anak yang sengaja diadakan pada malam hari, membuat para pedagang asongan disekitar alun-alun ini dagangannya menjadi laris manis. Pemerintah kota ini sepertinya memang memperhatikan nasib masyarakatnya yang menengah kebawah dengan menfasilitasi memberikan bantuan berupa gerobak dan bantuan modal usaha untuk beberapa pedagang asongan di sini.

Keramaian alun-alun Kota Blora dimalam hari

Dikeesokan harinya saya diantar Mbak Yuni ke tempat ukiran Blora. Sekedar meninjau layaknya seorang traveler, saya menikmatinya. Daerah pusat ukiran ini terletak di Kecamatan Jeponan. Terdapat deretan kios ukiran berjejer. Kayu yang dipakai Kayu Jati, dan berikut ini beberapa ukiran Blora yang  saya jumpai. Terlihat halus, rajin dan khas. Dibandingkan ukiran dengan daerah saya, ukiran Blora lebih bagus dari segi kreatifitas dan variasinya.

Hasil ukiran Kota Blora

Kini Kota Blora sudah tidak asing bagi saya, ingatan saya Blora menjadi perbatasan Kota Cepu, dan berdekatan dengan Purwodadi. Yang indah dipikiran saya, di tempat ini pengguna sepeda ontel dan becak masih lumayan banyak. Menjadikan tempat ini termasuk tempat yang saya sukai. Becak simbol adanya Indonesia yang berangsur-angsur mulai punah. Melihat becak dan sepeda masih ada yang memakainya rasanya senang sekali. Ada juga Taman Mustika yang mempesona, mampir di taman ini ditengah hari atau malam hari untuk sekedar sebagai tempat berkumpul bersama teman atau refreshing juga boleh lho.

Kepulangan anak sekolah dengan mengayuh sepeda ontelnya

Becaaaak....

Pesona Taman Mustika

Berhasilnya saya berkunjung di Kota Blora ini semakin merekatkan hubungan baik saya dengan Mbak Yuni Astuti yang baru saya kenal.Awal perkenalan kita dari kesukaan kita menulis di Kompasiana. Mbak Yuni yang selalu memanggil saya dengan panggilan ”Dik” serasa saya dianggap adiknya sendiri. Momen ini akan menjadi catatan saya yang tidak terlupakan….!

Semalam menginap di Kota Blora, pada hari berikutnya saya ke Kudus mampir di tempat Kompasianer selanjutnya. Siapakah gerangan beliau? Nantikan tulisan berikutnya yaaa…

Sumber poto: Dokumen Pribadi

Persamaan dan Perbedaan Perayaan Hari Imlek di Tiga Negara Berbeda!

Hari Imlek merupakan tahun baru orang Cina, di tempat tinggal asli saya yang berada di Ambarawa, Semarang pas sekali di belakang rumah saya terdapat makam Cina. Tempat itu sudah ada sejak saya masih kecil. Bahkan keberadaan makam Cina itu menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat sekitar rumah saya. Orang di daerah saya bekerja sebagai perawat makam tersebut. Termasuk paman saya juga bekerja di situ! Saat imlek begini, biasanya makam itu akan ramai dikunjungi para peziarah. Yang datang berziarah, banyak juga yang akan memberikan uang angpao kepada pekerja atau anak-anak kecil yang tinggal didaerah sekitar itu, sengaja datang demi mendapatkan uang ampao. Lalu, biasanya juga ada yang namanya pertunjukan tari Barongsai.

Tepat dimalam tahun baru Imlek, tempat ibadah orang Cina akan ramai didatangi masyarakat yang ada di daerah saya, sebab di sana akan ada pesta kembang api yang lumayan panjang. Tak beda seperti pada saat orang menyambut tahun baru Masehi dan Hari Raya Idul Fitri. Yang ada di benak pikiran saya saat tahun baru imlek pasti paman saya akan memberikan kue keranjang, yang merupakan makanan khas orang Cina. Lalu, akan ada banyak lampion khususnya rumah orang keturunan China di Vihara terdekat tempat saya.

Benar sekiranya jika dalam suatu keadaan suka dan duka itu semua ada hikmahnya. Termasuk pengalaman saya ikut kerja sama orang yang punya Ras/keturunan Cina. Bagaimana tidak, sepuluh bulan lamanya saya berada satu atap dengan orang Cina yang tinggal di Indonesia tepatnya di Pontianak, Kalimantan Barat. Ini juga merupakan pengalaman saya pertama kali tahu bagaimana sih orang Cina merayakan tahun baru Imlek di Indonesia.

Selain di Pontianak, saya pernah berpengalaman merasakan tahun baru di Negara Singapura. Dimana Negara Singapura mempunyai penduduk terbesar dengan keturunan Cina terbanyak. Juga di Hong Kong, yang malah hampir seluruh warganya adalah Cina. Gimana ya keseruan perayaan Imlek diantara tiga Negara ini? Apakah Anda bisa menebak tempat mana yang paling ramai? Tempat mana juga yang orang Cinanya tidak pelit memberikan Angpaou?

Perayaan Imlek di Pontianak Indonesia. Kurang lebihnya seperti ini, di pusat Kota Pontianak ternyata ada banyak orang yang berketurunan Tiong Hoa/ Cina. Mereka pada umumnya punya penghidupan yang lebih mapan dibandingkan dengan warga kita yang biasa(termasuk saya). Ada yang menjadi pedagang dan pegawai di sebuah lembaga. Satu minggu sebelum Hari Imlek, kebanyakan orang Cina akan membersihkan rumahnya, mulai dari perabot sampai hampir seluruh isi rumahnya yang ada. Apa-apa pokoknya dilap, dari yang atap rumah sampai yang bawah(lantai).

Mereka akan membuat baju keluarga yang bermotif sama. Lalu membuat makanan khas sebagai persediaan tamu yang akan datang. Membuat  soup minuman dari biji bunga anggrek, bunga matahari yang sudah lama dikeringkan, dan rasanya cukup manis. Ada kue keranjang. Di malam harinya, bunyi petasan aduuuuh………. ramainya. Bahkan sangat ramai sekali!!! Winggg…dooor, Winggggg…doooor, Wingggg dooor sampai nggak bisa tidur semaleman. Dari tempat yang satu dengan tempat yang lainnya bunyi petasan saling bersahut-sahutan. Jalan-jalan lebih padat ketimbang hari biasanya. Banyak orang yang keluar rumah demi menyaksikan pesta kembang api! Selayaknya Hari Raya Idul Fitri, tepat pada saat Hari Imlek tiba, saya diajak berkunjung di rumah-rumah saudara mereka. Lumayan dapet uang tambahan(Angpaou).  Terlihat pula hampir disetiap rumah orang Cina akan ada lampu lampion yang bergelantungan di depan rumah atau di dalam rumahnya. Buah yang disajikan sebagai persembahan sembayangnya berupa jeruk kuning besar atau apel.

Di Singapura, saya sempat melewati perayaan Hari Imlek selama dua kali. Sekalipun saya tidak libur dan hanya berada di tempat saya bekerja saat Imlek, tapi saya bisa merasakan suasana yang ada saat Imlek. Terasa sekali, kehadiran Imlek membuat kebanyakan orang Singapura mensucikan hari tersebut. Jauh hari sebelum  Imlek, biasanya orang akan lebih giat membersihkan tempat tinggalnya. Hampir semua barang yang ada di rumahnya mesti kena lap. Di Singapura, saat imlek tiba akan ada banyak lampu lampion dan kue keranjang. Akan ada acara sembahyang dimana-mana. Tetapi tidak ada petasan seperti di Indonesia. Restoran pada saat itu malah ramai sekali.

Makanan Khas Imlek di Singapura yang biasanya satu piring dimakan bareng sekeluarga besar? Sumber: http://www.tahunbaruimlek2011.blogspot.com

Ada makanan khusus untuk perayaan Imlek di Singapura. Contohnya, di Restoran Vegetarian akan ada makanan yang berasal dari sekumpulan wortel yang diiris tipis panjang yang lembut, ada sejenis ketimun yang diiris serupa, disajikan dalam piring besar. 10$ atau 20$ sudah biasa orang akan memberikan untuk dibagi-bagikan sebagai angpou. Minimal sebagai syarat. Mereka mempercayai bahwa semakin banyak angpaou yang disebarkan maka akan semakin banyak pula rejeki yang akan diterima kembali. Buah yang disajikan sebagai persembahan sembayangnya berupa jeruk kuning besar atau apel, sama seperti di Pontianak.

Banyaknya para penjual mainan semacam ini saat Imlek tiba/ Sumber: http://www.likalikulakonku.blogspot.com

Dan terakhir merayakan Hari Imlek di Hong Kong. Keunikan hari Imlek di Hong Kong suasananya jauh lebih lenggang ketimbang di Indonesia dan di Singapura. Tiga atau dua hari sesudah Hari Imlek kondisi pasar sepi dan angkutan umum pun tidak seramai seperti biasanya. Fasilitas umum seperti Perpustakaan, dan pertokoan banyak yang tutup. Restoran tidak banyak yang buka. Kecuali hanya restoran tertentu seperti Mc Donald. Di Hong Kong akan ada banyak lampu lampion terpasang di rumah-rumah. Ada tempat pertunjukan yang menampilkan keindahan lampu. Seperti pada saat itu ada sejuta lampu gemerlap menghiasi sebuah lapangan di Victoria Park. Ada barongsai yang keliling seperti karnaval tujuh belasan di Indonesia, keroyokan.

Di sana ada banyak sekali kue keranjang, makanan khas Hari Imlek tidak sebanyak seperti di Indonesia atau Singapura, di Hong Kong makanan hanya disediakan sebagai syarat. Buah yang disajikan sebagai persembahan sembayangnya berupa jeruk kuning besar saja. Sebenarnya di Hong Kong enak lho saat Hari Imlek tiba, karena pekerja akan diliburkan sampai tiga hari/empat hari. Sayangnya, fasilitas umum seperti perpustakaan tidak dibuka. Jadi sedih dan bigung mau main kemana. Toh mau jalan-jalan ketempat mal-mal juga sepi deh!

Sedikit pengalaman tentang Hari Imlek yang pernah saya alami selama ini….

Soto Kebo Bikin Aku Kaget Plus Pengen Mencicipi

Ini lho Soto Kebo yan pertamakali saya makan...
Ini lho Soto Kebo yan pertamakali saya makan…

”Kamu mau nggak makan Soto Kebo, atau kamu suka Bakso?”

Pertanyaan itu saya dapatkan dari Mbak Dinda Pertiwi, seorang Kompasianer dari Kudus. Kebetulan setelah saya berkunjung di rumah Kompasianer bernama Mbak Yuni Astuti di Blora, hari berikutnya saya langsung ke Kudus. Boleh dikatakan saya kurang waras sebab niat hati main sampai Kudus itu tanpa rencana. Pada hari sebelum keberangkatan saya ke Kudus, baru itulah saya meminta nomor telepon Mbak Dinda hanya lewat Facebook. Dan niat keiinginan saya ke Kudus sudah saya beritahukan terlebih dahulu dengan Kompasianer lain bernama Mas Masluh Jamil.

Cie…ileh, yaelah, dan seperti saya ini gelandangan yang selamat berkat Kompasianer-kompasianer ini.

Ingatan saya masih jelas keberadaan saya di tempat Mbak Yuni disambut dengan hangat sampai saya melangkahkan kaki menuju Kudus. Dasar saya anak yang penakut tapi nekat, hanya diberitahu naik bus jurusan ini dan turun di mana begitu saja tetap saya lakukan demi niat saya. Jalan-jalan ngelantur, berharap mendapatkan sebuah inspirasi. Tanggal (3/12/14) sekitar jam setengah dua siang, dari Blora saya menuju Rembang. Dalam ingatan otak saya, saya harus turun di Pentungan. Idih, mulanya mendengar Pentungan itu apa? Tugu kah, pasar kah atau tempat apa yang jelas saya belum bisa membayangkannya. Sebenarnya ada rasa takut campur bingung, belum lagi setelah turun nanti naik bus yang apa lagi…

Setengah berani setengah takut juga, tapi tetap nekat menuju ke Kudus sana. Kebingunganku akhirnya teringankan oleh kesediaan Mas Masluh Jamil akan menjemputku setelah saya sampai di Kudus nanti.

”Pokoknya nanti kamu turun di Kudus, kasih tahu aku kamu di mana lalu aku jemput!”

Hadew, serangkaian kata itu membuatku ingin meringis melulu. Mas Masluh kira Kudus itu kecil banget. Jadi misalnya saya turun di mana saja, dia pikir dimana pun dekat menurutnya. Karena bingung, sekaligus ingin bisa sampai sana. Pada mulanya saya mengatakan jemput saja saya di Terminal Kudus,atau di suatu pasar. Eh, tetapi setelah diingat-ingat lagi Mbak Dinda Pertiwi tadi menyarankan turun di Ngembal, akhirnya saya turun dari Bus Jurusan Surabaya-Semarang itu turun di Ngembal saja. Benar deh, saya pun turun di tempat ini. Tidak lama kemudian Mas Masluh menjemput saya dengan sepeda motornya.

Gang Melati dekat masjid. Menjadi tujuan utama saya supaya sampai di rumah Mbak Dinda Pertiwi sore bertabur gerimis menjelang maghrib itu. Oh ya, selama diperjalanan ada sesuatu yang menarik menambah wawasan saya diantaranya yaitu melewati Rembang. Sumpah, kekuperan saya selama ini baru melihat langsung kalau Rembang itu penghasil garam. Mata pencaharian di Kota Rembang yang dominan salah satunya membuat garam. Jadi terpikirkan kalau air di Rembang asin rasanya. Untuk air minum, pastinya orang Rembang tidak semudah mendapatkannya seperti di daerah saya di Ambarawa, Semarang dan tempat-tempat yang menghasilkan air normal lainnya.

Panorama Rembang
Panorama Rembang, ladang garam

Saya masih ingat, sepanjang jalan yang dijadikan tempat pembuatan garam/area ladang garam sangat luas sekali. Terdapat juga ikan asin yang berhasil ditangkkap dan dijemur. Bau asin. Ada beberapa rumah yang bangunannya seperti rumah kurcaci. He he he, saya  mengira ada banyak kurcaci di Rembang tapi ternyata itu gudang garam!

Kembali kecerita selanjutnya, saat saya sampai di rumah Mbak Dinda Pertiwi. Sampai di tempat masih hujan. Tetapi setelah berada di dalam rumah rasa dingin menjadi sirna saat kami asyik mengobrol. Saat itu pula perbincangan antara Mbak Dinda Pertiwi dengan Mas Masluh menjadi hangat sebab ternyata keduanya Kompasianer sama-sama dari Kudus.

Hari berikutnya saya beruntung diajak jalan-jalan mengunjungi Menara Kudus dan Musium Kretek. Sengaja memilih dua tempat itu sebab yang terdekat dari rumah Mbak Dinda dua tempat itu. Disepanjang perjalanan, saya melihat suasana Kota Kudus lebih ramai dibandingkan dengan Blora. Kata Mbak Dinda, Kudus itu menjadi tempat belanjanya orang yang mampir dari Kota Blora, Demak, dan Rembang. Pantes saja di sini terkesan ramai. Kami sempat naik angkot, naik becak dan bahkan jalan kaki.

Menara Kudus menjadi tujuan pertama kami. Saya menyaksikan banyak sekali pengunjung yang datang untuk berdo’a ramai-ramai di makam Sunan Kudus ini. Baik yang sudah tua atau anak-anak sekolah. Tepat di Menara Kudus yang berada di sebelah masjidnya, saya melihat menara itu tersusun dari batu bata saja. Setengah tidak percaya mendengar kata Mbak Dinda kalau batu bata ini tersusun hanya dari putih telur. Dalam hati saya, kenapa bisa sekuat ini yaaa batu batanya hanya dari rekatan putih telur? Atau karena yang membangun itu sunan…

Batu bata ini direkatkan dari putih telur? percayakah Anda...
Batu bata ini direkatkan dari putih telur?
percayakah Anda…

Baju, souvenir, dan makanan khas dijual di area terbuka di luar Menara Kudus tersebut. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Musium Kretek. Sekitar 500 meter sebelum sampai di tempat, kami mampir di rumah makan. Jadi kaget, penasaran dan benar-benar ingin mencoba menikmati Soto Kebo setelah ditawari Mbak Dinda Pertiwi sejak sebelum kami berengkat pergi tadi.

Penyajian Soto Kebo ini kuahnya ditempatkan seperti wadah minuman dawet ayu. Ada dua kendil besar kanan kiri yang biasanya dipanggul itu. Tradisional banget kesannya. Setelah dicoba, rasanya ternyata luar biasa. Mangkoknya lebih kecil dari mangkok biasa, sudah rasanya enak membuat saya ingin menambah lagi. Alasan malu, jadi keiinginan itu cukup tertahan saja. Hi hi hi…

Menurut cerita dari Mbak Dinda Pertiwi, Sunan Kudus mengajarkan bahwa untuk menghormati penganut agama Hindu, masyarakat yang menganut agama Islam dilarang menyembelih binatang Kerbau/Kebo. Sebab, orang Hindu menjadikan Sapi sebagai binatang sucinya. Karena kepercayaan dan adat daerah Kudus yang masih kuat, sampai sekarang tidak heran apabila banyak warung makan di Kudus menyediakan makanan berdagingkan Kerbau. Saya sendiri mendengar Soto Kebo malah baru pertama kali ini. Terdengar asing, malah membuat saya penasaran untuk mencicipinya…

Berkat Kompasianer Kudus Mbak Dinda Pertiwi dan Mas Masluh Jamil, saya bisa sampai di sini untuk ytang pertama kalinya.
Berkat Kompasianer Kudus Mbak Dinda Pertiwi dan Mas Masluh Jamil, saya bisa sampai di sini untuk ytang pertama kalinya.

Satu catatan yang cukup manarik, bahwa di Kudus ada rumah penuh dengan ukiran. Harga saat ini jika terjual bisa sampai 1 Miliar lebih lho.Perjalanan singkat mampir di tempat Kompasianer super keren yang menambah wawasan saya…

Kota Blora yang Masih Perawan!

Tugu Pancasila Kota Blora
Tugu Pancasila Kota Blora

Haiyaaah, masak ada ya kota kok Virgin. Memangnya ada Kota Gak Virgin? Karena Kota Blora menurut saya belum banyak terpengaruh dengan budaya yang pada umumnya sudah menyebar dihampir Kota Besar yang ada di Indonesia ini. Maka dengan sengaja judulnya mengisyaratkan sebuah kepolosan Kota Blora. Kota yang tanpa terhiasi pemandangan nyata dunia malam, tanpa kemacetan, tanpa polusi udara, tanpa keonaran anak muda, melainkan Kota yang terkesan aman, nyaman dan damai terangkum dalam pandangan mata saya.

Rasanya, bisa sampai di Kota Blora itu seperti mimpi. Saya merencanakan tiba disini sehari sebelum keberangkatan dari Jakarta. Niat hati ingin kembali ke Ambarwa, Semarang. Namun ternyata saya tertarik untuk mampir di rumah salah satu Kompasianer yang sudah akrab sekali dengan saya. Namanya Mbak Yuni Astuti yang pada waktu acara Kompasianival kemarin kita baru pertama kali bertemu.

Berangkat dari Jakarta tanggal (1/12/14))sore sekitar jam tiga, dan sampai di Blora jam setengah delapan dengan menumpangi bus malam Lorena. Harapan saya datang ke tempat ini sangat simple, saya ingin mengetahui sedikit banyak bagaimana keadaan di Kota ini yang mana sebelumnya saya belum pernah datang ke sini dan belum pernah mendapatkan informasi tentang kota ini.

Melihat lebih dekat Kota Blora membuat saya setengah tidak percaya, masalahnya Kota ini jauh berbeda dengan kota yang lainnya.  Beruntung  rumah Mbak Yuni kebetulan berada di pusat kotanya. Siangnya, sekitar jam sepuluhan saya menyempatkan diri untuk menyusuri jalan disepanjang Tugu Pancasila sampai di alun-alun kota ini. Dari serangkaian perjalanan singkat saya itu dapat saya simpulkan bahwa, di Blora sangat bagus untuk dijadikan tempat usaha. Melihat belum banyak para pedagang yang ada di sini.

Blora Mustika yang lenggang
Blora Mustika yang lenggang

Satu swalayan yang terbesar yaitu Swalayan Luwes, yang ada sejak satu tahun yang lalu. Swalayan ini mampu menyaingi MD Mall, yang sebelumnya sudah ada. Dari konten yang di jual di Luwes sendiri lebih lengkap, menjadikan swalayan Luwes ini banyak dikunjungi pembeli! Idih, kalo Anda di Blora pasti akan kebingungan mencari Matahari, Ramayana atau Hypermart. Masalahnya di sini belum dibangun. Bayangkan saja betapa lenggangnya kota ini.

Sekalipun begitu yang mengesankan dari pandangan mata saya ialah bersih dan nyamannya Kota Blora ini pantas diberi nilai A. Dari setiap satu meter disediakan tong sampah dari DPU, tersedia doa tong sampah untuk sampah organik dan anorganik, setiap pengguna jalan baik sepeda ontel, becak, sepeda motor dan mobil tidak serabutan. Semuanya menertipi peraturan lalu lintas, termasuk patuhnya para pengemudi sepeda motor yang memakai helmet. Sungai yang mengalir tidak dijadikan tempat untuk membuang sampah.

Disepanjang perjalanan saya sengaja mampir di tempat pusat oleh-oleh Kota Blora. Gendu Durian merupakan salah satu makanan khas Blora. Makanan ini sudah ada sejak seratus tahun yang lalu, merupakan makanan bangsawan. Dalam olahan perkilonya membutuhkan 18 kuning telur, tanpa bahan pengawet, dan di oven selama tiga jam. Olahannya berasal dari tepung,gula dan kuning telur dan durian saja! Rasanya manis, harum durian yang enak sekali. Sayangnya, makanan ini tidak banyak diproduksi dan hanya ada dibeberapa tempat tertentu saja, salah satunya yang dekat Tugu Pancasila itu bernama pusat oleh-oleh Grace. Pemiliknya bernama Ervina (34) seorang China yang justru paling tahu rahasia olahan Gendu Durian yang nikmat.

Gendhu Durian, makanan khas Kota Blora
Gendhu Durian, makanan khas Kota Blora

Alun-alun Kota Blora suasana siang dan malam harinya jauh berbeda. Kalau siang terlihat lenggang, tapi pada malam harinya ramai sekali. Adanya mainan anak-anak yang sengaja diadakan pada malam hari, membuat para pedagang asongan disekitar alun-alun ini dagangannya menjadi laris manis. Pemerintah kota ini sepertinya memang memperhatikan nasib masyarakatnya yang menengah kebawah dengan menfasilitasi memberikan bantuan berupa gerobak dan bantuan modal usaha untuk beberapa pedagang asongan di sini.

Keramaian alun-alun Kota Blora dimalam hari
Pemandangan alun-alun Kota Blora dimalam hari

Dikeesokan harinya saya diantar Mbak Yuni ke tempat ukiran Blora. Sekedar meninjau layaknya seorang traveler, saya menikmatinya. Daerah pusat ukiran ini terletak di Kecamatan Jeponan. Terdapat deretan kios ukiran berjejer. Kayu yang dipakai Kayu Jati, dan berikut ini beberapa ukiran Blora yang  saya jumpai. Terlihat halus, rajin dan khas. Dibandingkan ukiran dengan daerah saya, ukiran Blora lebih bagus dari segi kreatifitas dan variasinya.

Hasil ukiran Kota Blora
Hasil ukiran Kota Blora

Kini Kota Blora sudah tidak asing bagi saya, ingatan saya Blora menjadi perbatasan Kota Cepu, dan berdekatan dengan Purwodadi. Yang indah dipikiran saya, di tempat ini pengguna sepeda ontel dan becak masih lumayan banyak. Menjadikan tempat ini termasuk tempat yang saya sukai. Becak simbol adanya Indonesia yang berangsur-angsur mulai punah. Melihat becak dan sepeda masih ada yang memakainya rasanya senang sekali. Ada juga Taman Mustika yang mempesona, mampir di taman ini ditengah hari atau malam hari untuk sekedar sebagai tempat berkumpul bersama teman atau refreshing juga boleh lho.

Kepulangan anak sekolah dengan mengayuh sepeda ontelnya
Kepulangan anak sekolah dengan mengayuh sepeda ontelnya
Becaaaak....
Becaaaak….
Pesona Taman Mustika
Pesona Taman Mustika