Aku dan Tuhan

my photo
my photo

Terimakasih Tuhan, aku buka mataku di sini aku masih merasakan aku punya nafsu

Aku masih Kau ijinkan untuk mengarungi waktu

Ada kecemasan di dalam otakku, tentang masa depan yang tak menentu

Terkadang memang kecemasan itu hanya datang dan hilang kemudian berlalu

Mencoba menghadapi saat ini dengan tegar

Dan membiarkan hanya Engkau yang tahu semua teka-teki hidupku

Yang ada padaku itu titipan-Mu

Sepucuk Surat dari Ayah dan Ibu

Anakku

Suatu ketika tiba waktunya aku menua,kumohon engkau mau memahamiku.Seperti saat aku menumpahkan segelas teh hangat yang kau berikan padaku di meja.Kekuatan tanganku pelan-pelan melemah,nak!Jangan kau bentak-bentak aku jika aku suka melakukan apa-apa yang aku suka,tanpa mempedulikan ini salah atau benar menurutmu,karena aku mudah lupa.Ulangilah perkataanmu jika aku tak mendengar apa yang kau katakan atau mungkin kau bisa menuliskannya di kertas.Maklum orang tua pendengarannya sudah dungu.

Penglihatanku juga sudah tak jelas ,maafkanlah aku tak bisa mengenalimu satu-persatu.Tapi aku masih ingat kok waktu kecilmu ,kau memamerkan gambar dari tulisan tanganmu,kau memamerkan mainan dan memamerkan pakaian-pakaian barumu.Maafkanlah jika bauku seperti bau orang tua,aku yang malas mandi .Orang tua sangatlah sensitive tehadap air dingin,kuminta kau mau sabar mengelap badanku yang tinggal tulang dan kulit ini.

Setiap aku berjalan,kuminta kau mau menatihku nak,seperti dulu aku mengajarimu berjalan.Sabar ya nak jika langkahku ini sangat pelan,sekali lagi sabaarlah…Suapilah aku dengan bubur atau makanan yang lembut sebab aku tak ber-gigi lagi seperti waktu dulu aku menyuapimu dengan semangkuk kecil bubur buatanku sendiri,yang hanya bercampurkan nasi dan garam diatas tungku kayu api…

Sempatkanlah barangkali sejenak,untuk bercengkrama denganku .Aku selalu dalam keadaan sendiri dalam sepanjang waktuku.Kau lebih sering sibuk bekerja.Sekalipun aku tak menarik buatmu.Biarpun aku sudah tak punya cerita untukmu .Janganlah kau merasa bosan denganku yang memintamu mengulangi kata-katamu berkali-kali,sebab aku sulit memahami apa pintamu kepadaku.Ingatlah dulu waktu kamu memintaku untuk memainkan layang layang,kau memintanya berkali-kali sampai aku benar-benar mau memainkanya untukmu…

Aku harap kau mau mendengarkanku,nak!

Ketika tiba saatnya aku terbaring sakit,kuharap kau mau merawatku .Mungkin beberapa saat sebelum aku menghabiskan waktu hidupku.Aku yang akan mengompol dan mengobrak-abrik  membuat berantakan saja.Aku harap kau akan memegang tanganku untuk menguatkanku menghadapi kematian.Dan jangan khawatir ketika aku menghadap Sang Pencipta,aku akan mengatakan pada-Nya bahwa kamu mencintai Ayah dan Ibu.

Daddy, I Miss You…

Selamat pagi ayahku yang baik, mengingat siapa tentangmu membuatku menghela nafas lebih dalam. Menjadikan dadaku sedikit sesak terasa. Banyak kenangan yang terjadi diantara kita berdua. Detik ini aku sengaja ingin memanggilmu dari dalam hati, Aku harap engkau mendengarnya sekalipun akan terdengar halus dan samar-samar.
Ayah yang jauh di sana tanpa keberadaanku. Bagaimana kabarmu hari ini, yah? Sudah kau katakan kepada ibu belum, waktu tadi sebelum bekerja tentang badanmu yang mulai merapuh? Dan pagi ini, apakah kau mau menyentuh sajian dari ibu yang lebih sering kulihat hanya ada segelas teh panas kurang manis dan sepiring nasi berlauk sederhana? Berapa buah lagu yang sudah kau nyanyikan di pagi ini, yah? Adakah di tengah lagu-lagu yang kau nyanyikan itu terselipkan siul-siulmu tanda bahwa di pagi ini kau cukup bahagia dengan hidup yang kau punya? Ku yakin, sebelum kau buka sepasang matamu tadi, kau sadar jika aku masih berada di tempat yang jauh. Tempat di mana tidak mungkin sanggup kau jamah .
Biarpun begitu, kuharap ayah tidak banyak mengkhawatirkan keadaanku. Aku di sini baik-baik saja Ayah. Aku bisa menjaga diriku dengan sebaik mungkin. Cukup sekiranya aku sering berbuat salah padamu. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah, bagaimana bisa membahagiakanmu. Supaya harapan berada di sisimu saat kau lemah tak berdaya dapat terwujud. Jangan berpikir aku pergi jauh sebab aku tidak menyayangimu, tetapi memang ada alasan tersendiri dari lubuk hatiku.
Aku tidak tega menyaksikan kehidupanmu sehari-hari bila dengan keadaan yang sama seperti itu, ayah. Sudah kau berikan yang terbaik semampumu, sepenuh jiwa dan ragamu. Semuanya itu kau lakukan dengan tulus. Aku tau itu, karena aku sadar bahwa hidup itu ada rumusnya, maka aku mengambil jalan yang kupilih sendiri. Aku pergi meninggalkanmu dalam waktu yang cukup lama untuk kau nanti. Dengan satu harapan: nasib kita bisa berubah lebih baik. Sebelum kukatakan selamat tinggal padamu, dalam hatiku siap untuk menderita, ayah. Menghadapi tantangan demi tantangan. Kau pun mengatakan sendiri kalau keadaanku ibarat telur berada di ujung tanduk.
Ayah…, aku merindukanmu. Air mataku terus menetes karena aku benar-benar rindu. Aku ingin ayah sekarang ada di depanku. Akan kugenggam hangat jemarimu dan kucium tanganmu, memelukmu sampai rindu ini terlepas.
Ayah, nasehatilah aku 1000 kali lagi, ceritakanlah masa lalumu dulu kepadaku . Agar di saat-saat seperti ini ada yang menghiasi hatiku yang sendiri. Apakah hati nuranimu sedetak dengan hatiku waktu ini, ayah? Aku yang sebenarnya ingin selalu mengetahui roman mukamu, dan bagaimana roman muka yang kau pancarkan, itulah wajah hati yang sedang kau rasa, sekalipun kau diam.
Ayah…, maafkan aku yang belum sanggup membalas baik budimu kepadaku. Jika saja kau berpesan dalam hati untukku, apa yang ingin kau sampaikan? Pasti tidak jauh dengan nasehat-nasehatmu waktu dulu. Saat kau berpesan agar aku mau menjaga baik-baik jati diriku, ingat Tuhan dan belajar ikhlas menjalani apapun yang ada. Aku tahu ayah menaruh kepercayaan besar padaku, dan aku sangat senang dan bangga mendapat kepercayaan itu.
Karena dia aku belajar karate, mempunyai hobi menyanyi, mendengarkan musik, mau belajar disiplin, belajar mengaji, mempunyai mimpi menjadi orang yang berhasil dan percaya diri. Hampir semua yang kulakukan semata-mata untuk mendapat pujian dari ayah, aku bersemangat. Dan satu hal yang paling ayah suka adalah aku pandai memijitnya, beda sekali dengan kakak dan adikku yang tak begitu peduli.
Kenangan di masa lalu kita memang banyak. Karena pikiran kita yang searah. Dalam ingatanku, masih terbayang jelas ayahku berkelahi di dalam bis, waktu kita akan ke rumah saudara di Sukabumi. Jelas ayah marah, karena merasa tidak terima dengan lawannya. Aku lupa apa masalahnya, karena pertengkaran tidak cukup,  kusaksikan ayah berkelahi. Bagaimana aku merasa malu terhadap orang-orang di dalam bis itu. Yang paling banyak ada dipikiranku hanya rasa takut. Digendongnya aku diatas bahu kirinya. aku saat itu baru berumur enam tahun. Kupakai sebuah gaun berwarna oranye dan sandal hitam.Orang yang berkelahi dengan ayah kalah, dan sebelum pergi dia hanya berkata minta maaf.
Sepulang dari acara resepsi saudara, aku dan ayah pulang dengan mengendarai sepeda. Dalam hati, dengan sepeda aku lebih bebas memandangi indahnya pemandangan di Gunung Telomoyo itu. Aku tahu alasan kenapa ayah ngebut, mempercepat lagi dan lagi kelajuannya. Yaitu hanya untuk mengejar keponakan ayah yang berumur 25 tahunan. Sudah kunasehati kalau ayahku sebaiknya pelan-pelan saja karena kita tidak terburu-buru pulang. Tetapi ayah diam tak menjawab. Sampai akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.
Sepasang mata ayah sadar jika di depan adalah keponakannya yang sedang menabrak anak berseragam SMA, dan karena kecepatan laju sepeda tadi masih tinggi dengan jarak dua meter, tidak ada daya ayah untuk mengerem atau berfikir untuk mengarahkan sepedanya kearah yang lain. Tak dapat dihindari kalau kita tabrak menabrak. Tiga detik sebelum aku terjatuh, dalam hati aku ucapkan selamat tinggal untuk ayah. Iya, sebab bisa jadi aku jatuh mati.
Ayahku sengaja jatuh dengan mengarahkan badannya searah dengan badanku, hingga akhirnya aku jatuh di punggung ayah, bukan di aspal yang keras. Syukur, muka ini utuh terselamatkan. Anehnya, ayah menyuruh keponakannya pulang lebih dulu dan dia bilang kalau urusan itu akan dihadapinya sendiri tanpa basa-basi. Sesampai di rumah, ayah senang melihat aku tidak apa-apa. Dan ia mengatakan sengaja menggerakan badannya dengan caranya sendiri untuk melindungi keselamatanku. Rasa tanggung jawab ayah memang besar sekali.

Puisiku Untukmu

Andai saja batinmu mampu kulihat,

Entah berapa banyak sudah deraian air mata hatimu  meleleh hina

Meratapi  kesombongan, nestapa yang  gulita

Ketika tiada satu tempat untukmu sejenak bersembunyi

Ketika tiada satu orang yang tepat mendengar keluh-kesahmu

Ketika itu pula, kamu kebingungan mencari wajah Tuhan

Pura-pura mengerang kesepian

Memasrahkan  kebodohan…

Bukan hanya aku, tapi

Alam pun tahu kamu bukanlah siapa-siapa

Rizki dan karunia telah bermain sesuai takaran dari-Nya

Yang tak bisa dipaksa untuk datang

Dan tak bisa dihindarkan bila menghilang

Benarkah hidup untuk sebuah sandiwara?

Jika amal-amal akan bersua

Janji-janji  tak mau diingkari

Hidup tetap harus berlanjut

Ditengah mimpi sedang terrajut

Harapan tak boleh surut

Kamu

Jangan hanya mimpi

Kamu

Terus lakukan aksi

Kamu

Beranilah taklukkan teka-teki

Kamu

Telanlah  racun-racun pemedih hati

Usah ragu lagi,

Angkat kepalamu

Bersuka-citalah

Berusahalah

Rayakan hidupmu mulai saat ini…

Di sini

Pastilah kamu tak sendiri

Sebab selalu ada Tuhan yang menyertai…

Wanita Seperti yang Kau Ingini

TAK akan menjadi begini, tanpa pernah kau sambut rasaku dulu

Berkat Kuasa-Nya,

Bersamalah kita

Menjalin cinta, merajut cinta berdua…

Dalam kelam kita bertahan

Demi sebuah janji

Teruntuk mimpi-mimpi yang belum terisi

Di sini,

Kembali aku menautkan hati

Padamu yang senantiasa menyayangi

Wahai sandaran jiwa ini

Cukuplah kau menjadi saksi

Bahwa aku berjanji  akan menjadi wanita seperti yang kau ingini

Sampai nanti, sampai mati…

Ketika Kamu Hilang

Dan ketika kamu hilang,

Aku hanya sanggup menasbihkan namamu

Terus memanggilmu,

Dengan harapan kau mendengarkannya

Mengiba padaku

Lalu luluh lah hatimu dan datang menemuiku.

Kembalilah kasih,

Air mataku memohonmu untuk berada di sini,

Hatiku menjerit sakit

Tanpa pesan, engkau pergi entah kemana

Bawalah ragaku, bawalah jiwaku, sebab hidup matiku ingin selalu bersamamu

Tak ingin kau pergi jauh dariku walau sekejap

Aku tak ingin sayang.

Ketika kamu hilang, aku larut dalam kehampaan

Hilanglah arah hidupku

Hilanglah aku

Karena aku adalah kamu

Titik Terang Hidup Painem

"Hidup itu adalah sebuah proses dimana menjadi bijak, menjadi lebih dewasa, dan menjadi lebih baik akan tercipta dari dasar hati nurani. Bukan dari seleksi alam atau sebuah pemaksaan/tuntunan dari orang lain. Memahami arti kata menjadi diri sendiri, akan tak jauh beda dengan bagaimana kita mempertanggung jawabkan diri kita sendiri. Baik di hadapan Tuhan, manusia atau alam semesta...."

-please enjoy this my simple short story-

Masih diingatnya dengan jelas sebuah cerita nyata yang kemarin malam sempat Painem baca, yaitu tentang sebuah kisah matinya seorang suami dari seorang istri dimana keduanya merupakan pasangan yang serba baik-baik. Dengan sadar ia pun mengingatkan pada dirinya sendiri kalau kesenangan dunia itu tak abadi. Hal inilah yang membuatnya terus mencoba bertahan hidup sekalipun keadaannya dirasakan kurang menyenangkan

 Dalam keadaan yang kalut, ia punya kekuatan untuk tidak mati dengan cara bunuh diri, tidak pula menjatuhkan diri menjadi wanita pelacur, dan ia masih mau menyentuhkan kepalanya dengan tanah sebagai tanda bahwa di hatinya ada nama-Nya walau ia hanya mampu mengingat nama Tuhannya dengan tersendat-sendat . Sudah terlalu banyak kesalahan yang dilakukannya, membuat Painem menganggap dirinya bukan wanita solehah.

Bila saja Painem harus jujur mengungkapkan mulai kapan ia merasakan hidupnya kurang nyaman baginya, ia akan menjawab sedari kecil semenjak dulu! Sebelum adik kandungnya lahir, setelah pertama kali ia tahu jika kakinya terkena borok dan harus diperiksakan ke sana-sini. Yang jelas, ia mulai merasakan kesusahan hidup ketika ia mampu mengingat beberapa kenangan yang masih tersimpan di dalam otaknya!

Painem kini bukan anak kecil lagi. Ia mengaku sangat waras, ia punya cita-cita dan kini sudah mudeng  dengan yang namanya berpacaran. Di suatu malam yang sunyi, sebelum ia memejamkan matanya untuk tidur pikirannya dibiarkannya liar. Dalam kekesalan hati yang tak terhingga itu, ia tak mampu berbuat banyak selain pasrah, tak mungkin ia lari dari tempatnya saat ini kembali ke tempat asalnya bersama ortu dan keluarganya sebelum ada kejelasan dengan masa depannya. Ia tak punya pikiran juga untuk menjadi gelandangan biarpun sudah lebih dari sepuluh kali ia mengatakan tidak betah berada di tempat baru.

“Aku membiarkanmu menghadapi keadaan seperti ini, supaya kamu tahu jika hidup itu perlu diperjuangkan. Sesulit apapun hidup harus dijalani dengan ikhlas. Inilah ujian, hanya orang-orang yang mampu melewati ujian hidup yang akan menikmati kemenangan hidup. Ayo semangat, dekatkan diri kepada Allah!”, segelintir kata-kata pacar Painem kembali  terngaung halus didalam hantinya dan menguatkan.

Painem bertanya dalam hati, “Sampai kapan aku bertahan dalam keadaan ini. Lebih banyak sendiri, terkurung, aku bukan seorang Kartini, jaman sudah merdeka. Ya!”.

Rupanya Painem mulai bosan dengan hidupnya sendiri. Atau karena Painem memang kurang bisa bersyukur sehingga segala apa yang dilakukannya selalu tidak nyaman dan menimbulkan ia mengeluh lagi.

Diotaknya teringat banyak tentang seorang lelaki yang dianggapnya sebagai pacar. Dan setiap kali pikiran dan hatinya tertuju dengan sosok kekasihnya, mulailah hatinya bergejolak! Ada rindu, ada cemburu, ada sayang bercampur marah, geram dan kecewa campur menjadi satu.

“Ah, kendalikan saja emosimu. Hidup bukan berisikan cinta dan cemburu. Kamu tahu?”, demikianlah ucapan untuk Painem dari kekasihnya setiap kali ia berusaha menenangkan hati.

Lambat laun Painem sadar bahwa hidupnya telah banyak bergantung pada kekasihnya yang ia anggap hebat sehebat-hebatnya. Di kala yang sama, kondisi kekasihnya pun kurang baik. Apa daya untuk bermesrahan?

Malam itu bagi Painem malam yang kelabu. Mata benar-benar kantuk, tak mau juga untuk terpejam dan tidur terlelap. Dibangunkannya tubuhnya yang sudah menyusut akibat tak teratur makan. Lalu, berwudhu.

Ditunaikannya salat taubat dan syukur masing-masing dua rakaat. Sengaja dikeluarkannya suara yang sedang melantunkan ayat-ayat suci dalam do’anya. Didengarkannya sendiri suara itu sembari ia berusaha memahami apa yang sanggup ia artikan maknanya dalam bahasanya sendiri.

Ditengah do’a itu hadirlah wajah ibunya yang mulai menua. Hatinya ibunya yang selalu dirundung duka dan bermuka mendung. Tubuh ibunya yang mulai meringkih. Air mata terus meleleh dengan derasnya.

Juga seraut wajah ayahnya yang menggambarkan jika dihati ayahnya tersimpan sejuta pilu dengan ulah Painem.

“Kenapa aku lebih banyak memikirkan seseorang yang kuanggap kekasihku. Bukan ingat Tuhan, bukan orang tua. Perilakuku sangat buruk, aku tak berdaya bagaimana aku bisa mengubah keadaan terhimpitku ini cepat atau lambat. Dimanakah prestasi, dimanakah harga diri ini….?”, Tanya hati Painem sambil membiarkan air mata dan ingusnya mengalir dalam waktu yang sama.

Lalu, ia mulai benci pernah bermimpi menjadi orang lain yang ia anggap hebat! Kenyataannya bukan seperti yang ada dibenak hatinya sendiri, kenyataannya bukan seperti apa yang pernah ia rencanakan. Ia menjadi sadar kalau ia bukan Tuhan. Ia pun tahu, bahwa apa yang sedang ia hadapi termasuk sejarah yang akan melengkapi kisah hidupnya pribadi nanti.

Dilipatnya baik-baik mukena berwarna putih polos itu menjadi satu dengan sajadah merahnya. Ia membaringkan kembali tubuhnya yang berangsur-angsur lemah.

Sebelum terpejam, mata itu sempat menatap keatas tanpa menyadari apa yang sedang dilihatnya. Hatinya seolah berkata membuat kesimpulan dari apa yang baru saja ia renungkan atas kehidupannya sendiri, demikian.

“ Bagaimana pun juga aku harus bersyukur kepada-Mu ya Allah ya Tuhanku. Engkau masih mencukupi keadaanku, beserta keluargaku. Keindahan dunia telah mengkaburkan pandanganku jauh dari ketakwaan pada-Mu. Saat ini aku merasakan dampak buruknya akibat ketidak takwaan itu. Hingga aku sungguh tak dapat berkutik dari kekuasaan-Mu ini. Aku tak boleh bergantung pada manusia, tak juga dengan kekasihku. Kusadari apa yang aku cari entah semuanya hilang kemana, biarkanlah saat ini apa yang ingin Kau ambil dariku Tuhan, ambillah. Tapi satu, jangan sampai Engkau mengambil atau melepas kepercayaanku pada-Mu.

Jika sekiranya keadaan burukku ini akan menjadi penghilang dosa-dosa masa laluku, ikhlaskanlah  hati ini untuk menerima dengan apa yang ada. Kuakui aku sering melupakan-Mu, aku sering melalaikan diri. Bahkanmembiarkan jiwa raga ini jatuh dalam limbah dosa.

Keiinginanku untuk bertahan hidup kini hanya satu. Aku ingin mati sahid dihadapan-Mu ya Allah. Aku akan berusaha ikhlas menjalani hidup yang tersisa ini, dengan suka-cita. Cukuplah Engkau menjadi panutan hatiku. Penenang jiwaku dari perasaan iri hati, dendam dan cemburu yang timbul sewaktu-waktu.

Ya Allah, ya Robbi, ya Tuhanku  aku sungguh malu pada-Mu. Engkau telah tahu bahwa dihadapan manusia aku miskin jiwa dan harta. Apalagi dihadapan-Mu”.

Semuanya seperti gelap, tapi aku yakin Inilah titik terang hidup Painem.

Dan ia adalah, Aku!

(…..pulas*)

Re…

Regina adalah cewe yang baik-baik, ia patuh sama aturan ortunya, sangat baik, cerdas, pemimpi yang hebat dan periang. Wajahnya imut, rambutnya ikal. Ia ketidaksukaannya hadir ketika melihat rambutnya sendiri di depan cermin yang menyatu dengan pintu lemari baju di rumahnya. Tak heran jika ia pernah dua kali memotong rambutnya sendiri tanpa sepengetahuan emaknya. Dicukurlah rambutnya sendiri itu dengan gunting mirip gunting bedah! Plentas-plentos hasilnya, malah bikin ketawa setiap orang yang melihatnya.Ayah Regina lebih menyayanginya daripada kakaknya! Entah apa yang membuat keduanya menjadi lebih dekat, apakah karena sewaktu lahir ayahnya melihat langsung bayi Regina? Itu yang menjadi pertanyaan didalam hati emak Regina. Emaknya juga menganggap kalau sikap dan watak Regina tak beda jauh dengan ayahnya. Semenjak kecil, Regina terlatih hidup lebih bisa berpikiran terbuka terhadap ayahnya. Ia bahkan diajari untuk berantem sama ayahnya lewat take won do. Sayangnya, korban percobaannya jatuh pada kakaknya sendiri saat Regina marah dan tidak puas, tak segan-segan ia akan berani mengajak berantem kakaknya.

Di luar rumah, Regina sosok anak yang kalem, pendiam, pemalu, dan jaim. Jauh berbeda saat ia sedang di rumah bersama keluarganya. Piring sampai dikeprukkan di atas kepalanya sebab emaknya benar-benar sudah tidak tahan lagi melihat ulah Regina yang super buandelll…Jagung-jagung kering terikat lima buah tersiram ketubuhnya saat emaknya melihat langsung kakaknya teraniaya kesakitan. Dan Regina melihat pasrah sewaktu emaknya memukulkan centong ke kepalanya sendiri sebagai ungkapan kalah menghadapi kenakalan Regina!

Regina nakal? Bandel! Kenapa…..

Suatu hari pernah emaknya menceritakan langsung kepada Regina, bahwa sewaktu Regina lahir ayahnya sedang berada di rumah, berbeda sekali dengan saat kelahiran kakak dan adiknya Regina yang dilahirkan tanpa disaksikan langsung oleh ayahnya. Semenjak umur 2 tahun penyakit yang diderita Regina ialah penyakit kulit. Hampir setiap malam, ortunya mengolesi supertetra di setiap bisul-bisulnya yang berisikan kuning nanah. Setiap kali musim tanam padi dan mau panen padi, tidak jarang ia diajak orang tuanya bermukim di sana. Itulah salah satu sebab Regina gatalan. Walaupun begitu, ia senang bisa menikmati hangatnya matahari dipagi hari. Merasakan panas terik matahari, dinginnya hujan dan merelakan diri jika badannya menjadi kotor kumuh yang terpenting selalu dekat dengan emaknya.

Emak Regina dalam kesehariannya bekerja membantu mencarikan rumput untuk seekor kuda ayahnya yang ada di rumah. Biasanya emak Regina akan merumput setelah urusan rumah sudah beres, seperti memasak, mencuci baju, membersihkan rumah. Sosok emaknya dari dulu sampai sekarang masih sama. Tampak selalu polos, seumur hidup Regina belum pernah melihat emaknyanya lebih cantik karena berdandan. Sekali saja emaknya membeli sebuah lipstik, namun tetap saja ia malu untuk memakainya. Sekali saja emaknya membeli anting emas, hanya tergeletak di bawah bantal tanpa mau memakainya. Wajahnya yang kurang lebih hampir sama dengan wajah Regina, lebih sering terlihat kurang bahagia dan murung.

Ayahnya sudah menjadi kusir sejak lama sebelum ia menikahi emak Regina. Pada awalnya ayah Regina sedang mencari rumput, tepat di depan rumah Makdenya. Sebelum dinikahi, emak Regina putih, cantik dan anggun mempesona. Rambutnya hitam panjang sampai melebihi pinggangnya. Melihat begitu moleknya emak Regina, ayah Regina sampai terkena sabit yang tajam. Bercucuranlah darah seketika itu. Namun, sama sekali tidak meninggalkan bekas rasa sakit apapun seketika sebab kecantikan emak Regina dimata ayahnya sangat luar biasa!

***

Regina ikut sedih tanpa bisa berbuat apa-apa.  Saat itu ia hanyalah anak yang baru mau masuk SD, ia belum sampai untuk ikut meminta belas kasian kepada ayahnya setiap kali ayahnya pulang dari kerjanya sebagai kusir, sering ia mendengar keluahan ibunya yang setiap hari hanya diberikan uang serba pas-pasan. Beras satu kg saat itu hanya Rp. 1.000,- saja. Dan uang jajan Regina serta kakaknya hanya selebar Rp.100,-, sebungkus permen kecil  biasa saat itu hanya Rp. 25,-

Regina masih terlalu kecil untuk dijadikan sebagai tempat curahan hati dari emaknya. Hingga pada saat hujan deras itu, emaknya tak kuasa membendung tangis yang bercucuran keluar dari kelopak matanya sendiri. Ia berniat untuk melarikan diri dan menghilang, tidak betah dengan ulah ayah Regina yang seenaknya sendiri. Tapi tekat untuk mempertahankan diri dekat dengan anak-anaknya, akhirnya ia tidak pernah mengulangi hal itu lagi sampai saat ini.

Minuman keras, mabuk, berjudi, beli nomor, mungkin satu atau dua kali hingga ayahnya terkabarkan dari mulut ibu Regina sendiri kalau ia doyan wanita. Yang lebih sadisnya, pada pernikahan awalnya dulu ayahnya pernah membawa wanita lain tidur di dalam rumahnya. Sekali lagi Regina hanyalah anak yang masih kecil, tapi hatinya sudah terlalu banyak mendengar cerita buruk yang menimpa emaknya sendiri. Regina hanya diam, sedih dan larut bersama perasaan ibunya yang galau tak terkira.

Jalan emak Regina untuk mendapatkan uang tambahan belanja ialah ia menyempatkan diri membuat kerupuk yang berasal dari ketela pohon di parut. Pekerjaan itu memang sepele dan hasilnya tidak seberapa. Tapi, Regina tahu bahwa ibunya memperkerjakannya dengan sepenuh hati. Ia melihat ibunya dengan sabar memarut satu persatu ketela yang ada di hadapannya. Hasil dari sari pati ketela itulah bahan dasar utama untuk membuat kerupuk. Regina masih ingat emaknya mencampur sari pati itu dengan vanillli, juga bahan lainnya yang sudah Regina lupakan. Setelah tercampur, baru emak Regina memasaknya. Sesudah itu lalu dicampur dengan pewarna, hingga nanti kerupuknya akan berwarna-warni.

Kakak Regina yang ia ketahui sebenarnya asyik, ia ingat boneka Barbie pertama dari emaknya yang kembar dengan punya kakaknya. Boneka berambut pirang, berpakaian baju rok langsungan, bersepatu high heel dan ada tasnya berwarna pink. Setiap kali sepatu itu tak sengaja jatuh dan tidak ketemu, begitu sedihnya hati Regina. Ingin ia bisa menemukannya sepatu barbie yang hilang itu dan memasangkannya kembali.

Dan apa-apa jika membeli sesuatu emak Regina membiasakan diri untuk membeli barang yang sama untuk Regina dan kakaknya. Semacam jepit rambut yang berwarna hitam itu. Hihihih asli rambut Regina hanyalah sedikit, tapi jepitnya minta ampun besarnya.

***

Emaknya merasakan keanehan pada perutnya sendiri. Semenjak berada di nama tempat emaknya pengajian dan membawa Regina juga mengikuti acara di sana. Rasanya perut emak Regina tidak enak terus-menerus. Regina tidak tahu jika emaknya hamil dan ingin melahirkan. Tubuh emaknya sangat kecil sampai-sampai perut buncit ibunya samasekali tidak diartikan Regina.

(Bersambung)

Rinduku Untuk Ibu

Bu, aku kangen.

Ibuku, maaf ya aku nggak apal kapan Ibu lahir dan genap berusia berapa ibu sekarang. Aku juga nggak pernah ingat-ingat kapan ibu ulang tahun. Itulah alasan kenapa aku nggak pernah merencanakan untuk memberi ibu hadiah dan kue ulang tahun.  Aku ingatnya tanggal ultah seseorang yang diam-diam kukagumi, walau ia menyakiti hati. Bu, sedari kecil aku memanggilmu dengan sebutan “Mae’’, dan begitulah adat ditempat kita telah terbiasa dengan menyebut nama Ibu dalam bahasa Jawanya.

Saat ini, aku menjauhimu demi sesuatu yang tak pasti bu, kurang lebihnya seperti itu ya?

Ibu. Jika seandainya engkau dekat disisiku, seperti dulu aku bersama ibu tidur dalam sekamar. Aku ingin sekali memandangi raut wajahmu yang lupa akan segala kesalahan terbesarku padamu selama ini. Kau selalu bisa memaafkanku bu, aku yakin itu. Sebesar apapun salahku padamu bu, kau tak pernah menaruh benci dan dendam padaku. Itulah kehebatan ibu.

Semakin aku larut dalam kesedihan merindukan ibu, aku merasakan getaran sukma ibu hadir di sini. Menyatu di tempat ini dan membuatku optimis untuk tetap berjuang menggapai cita-cita demi kehidupan kita yang lebih baik. Amin, insyaAllah!

Tersadar bahwa aku terdampar di sini, sendiri, menanggung hidup dengan jiwa raga sendiri , rasanya dunia ini ada yang kurang. Bukan dunia kurang indah bu, tetapi rasa kurang ini timbul tak lepas dari resiko atas apa yang telah aku pilih, juga tak lepas dari kehendak-Nya!

Begitu nekatnya aku untuk bisa berada di sini. Ibu sempat menangis sedih atas kepergianku ini. Aku paham, sebenarnya keberadaanku itu penting bagimu bu. Maafkan aku bu. Keadaan kita belum berubah, aku harus melanjutkan perjuangan hidup kembali hingga akhirnya aku berharap akan ada titik terang untuk masa depan kita.

Bu, telah banyak kenangan yang manis, asem, dan pahit diantara kita. Dan aku tak mau melupakan kenangan sekian lama aku bersama ibu.

“Ibu apakabar, ibu baik dan sehat? Ibu jangan banyak pikiran yang macem-macem ya. Bagaimana dengan ayah, apakah dia masih kumat marah-marah nggak jelas…, Aku di sini baik-baik saja kok. Aku bisa jaga diri, ibu jangan khawatir sama aku ya!’’

Begitulah yang sering kusampaikan lewat genggaman telephone yang hanya berdurasi kurang sepuluh menit setiap kali aku jauh di perantauan.

Tiba-tiba lamunanku menjadi kaku seketika.

Kebandelanku selama ini mungkinkah tak lepas dari kutukan mulut  ibu yang  pernah melontarkan kata bandel padaku sewaktu aku susah nurut sama pesan-pesan ibu dulu? Ibu suka berpesan kalo aku nggak boleh buat kakak dan adik nangis, itu saat aku masih kecil dan kakak-adikku juga masih kecil sebab jeda umur kami yang tak jauh saja. Sewaktu besar pun  hampir sama, aku nggak boleh bikin ulah yang bisa memancing ayah marah atau kecewa sebab kemarahan ayah pasti akan lari ke Ibu! Hih aku memang suka bikin geram saja sih…

“Kemarin kakakmu, sekarang lagi adikmu sudah kamu buat menangis kesakitan gara-gara kamu tempelengi sebenarnya kenapa sih Ut?’’, kata-kata itu terlontar dari mulut ibu sembari melempar jagung kering berikat-ikat mengarah ketubuhku dan sepasang matanya tak dapat menyembunyikan kekesalannya terhadapku.

Aku hanya mampu merapat ke dinding tembok dan menangis merasakan kerasnya jagung-jagung yang menghantam tubuhku.

“Ampun, bu. Cukup-cukup aku janji nggak ngulang lagi…!’’, sambil terus menangis.

Di hari yang berbeda. Piring putih berhiaskan tiga bunga ditepinya masih teringat jelas pecah menjadi dua sebab ibu sengaja mengeprukkan piring itu di atas kepalaku.

“……..THEEEEK!’’

Beberapa saat sebelum piring itu kurasakan menghantam kepalaku, aku hanya diam dan memejamkan mata. Ketakutanku bercampur pasrah andai saja akan kusaksikan linangan darah merah segar menjalar di bagian tubuhku.

“Ibu, setega itukah kau padaku hanya karena kebandelanku?’’, bisik hatiku setelah itu.

Kusaksikan piring itu menjadi dua sama besarnya, tak ada setetes darah pun yang keluar. Tak ada luka sedikit pun pada kepalaku kecuali kumasih merasakan benturannya saja!

(Aku mulai mengenal pacar).

“Hei, seharian dari mana saja kamu? Tahu nggak kamu ayahmu jadi bermuka masam sama aku karena kamu main lama nggak pulang-pulang!’’, suara ibu mengeras sambil mencoba memukuliku dengan sebuah tongkat kayu panjang.

Seketika itu aku bingung mau jawab apa.

Di dekat lemari baju, aku menjawabnya dengan nada marah dan membentak!

“Aku bukan anak-anak lagi, aku sudah remaja yang pantas untuk bermain dengan temanku seharian begini. Jangan kekang aku untuk di rumah terus, aku butuh kebebasaaaaan………….!!!’’, marahku yang dahsyat saat itu sebab pukulan berkali-kali  sudah kurasakan.

Malamnya, pikiranku buntu. Kuniatkan hatiku untuk merantau jauh dari keluargaku yang pengekang!

***

Ah, itu semua telah berlalu. Kini kutahu, marahmu padaku semua karena bukti perhatianmu padaku. Ibu marah karena aku telah berbuat salah dan keliru. Benar menurutku, belum tentu benar untuk ibu.

Mengingat berapa usiaku dan telah kulihat sendiri tubuhku, ternyata aku sudah layak menjadi seorang ibu. Bu, kau tahu kan aku berpengalaman menggendong bayi dan memandikannya? Bahkan aku pun pernah menghadapi bayi-bayi yang kelaparan dan demam. Aku ngerti, bersosialisasi seperti “arisan” salah satu hal yang penting dalam lingkungan masyarakat sebagai ibu. Menjadi seorang istri juga harus pengertian dengan suami. Sabar menghadapi mertua dan sebagainya…

Diujung usiaku yang beranjak layak menjadi ibu, entah kenapa aku belum bisa membalas budi baikmu bu.

Bu, rasukilah aku dengan roh kesabaran yang tinggi darimu bu. Ibu adalah satu-satunya perempuan yang paling sabar diseluruh dunia ini. Begitu berat beban yang ada di pundak ibu, ibu tetap tegar menghadapi hidup ini. Ibu selalu berusaha untuk bertahan, walaupun keadaan sangat sulit bahkan sampai yang tersulit sekalipun! Darimu aku belajar menjadi tegar, menjadi tidak putus asa, dan ikhlas menerima keadaan yang ada.

Ibu harus kuat. Dan aku harus sekuat ibu! Ibu harus merdeka, dan aku harus semerdeka ibu! Ibu harus bahagia, dan aku harus sebahagia ibu!

Semestinya aku bersyukur Tuhan mengijinkanku untuk tahu wajah asli siapa ibuku. Ibuku ialah kamu bu. Dari ilmu genetika, hanya ibu satu-satunya yang menjadi ibuku yang sah dan asli!

Bagaimana bisa aku membuat ibu tersenyum kembali bu? Haruskah aku menuruti semua pesan-pesanmu, bu? Kenapa sampai sekarang belum juga aku mampu membelikanmu sehelai baju, sebuah gelang emas, apalagi menjanjikan ibu berangkat naik haji?

Air mataku lebih dulu mengungkapkan perasaan betapa sesungguhnya aku sangat kangen ibu. Kudo’akan detik ini dan nanti hingga bila mana kita bertemu kembali Ibu dalam keadaan sehat dan bahagia. Bu, semoga ibu tahu jika dalam diamku ini bukan berarti aku acuh padamu ya bu…Jelas bukan bu, jangan sampai ibu berpikiran itu. Dalam hati aku masih sayang ibu, aku masih membutuhkan ibu ada! Walaupun keberadaanku pada kenyataannya selalu menjauh

Sudah waktunya aku move on dari keterpurukan demi bisa membahagiakanmu, bu!

***

Sebagai perenungan hatiku yang kesekiannya, ijinkan aku berbisik ke dalam hatimu,

“Ibu, aku rindu”.

Selir Hatimu…

Aku mulai merasa punya malaikat bersayap putih bersih, bulu-bulu halusnya memancarkan sinar yang menyejukkan mata. Sapaannya selalu aku rindukan, setiap siang dan malam. Tak kala subuh datang, aku diingatkan untuk salat. Sudah lama aku malas salat.

Melihat profilnya, aku yakin kamu orang baik-baik. Kamu bukan orang sembarangan. Tampak kamu tersenyum penuh kewibawaan. Pantas sekali dijadikan sosok panutan. Sebab kebijaksanaan dari wajahmu tak bisa dibohongi. Aku masih buta siapa kamu yang sebenarnya, tapi ada jalan lain yang mampu mengisahkan sedikit banyak cerita tentang kamu dari tutur kata jiwamu.

Hariku mulai semangat tepat pada detik itu. Sewaktu aku malu, telat salat subuh! Hatiku menjadi teduh, setelah jilbab menutupi kepalaku tepat pada jam pagi yang damai itu! Dalam ingatanku bahagia ada kamu. Pekenalan denganmu itu mampu menautkan hatimu pada hatiku. Bukan sekedar karena aku ingin mendapatkan apa yang ingin aku dapatkan. Melainkan aku ingin mengenalmu lebih jauh, lebih dalam, dan dekat selalu!

Dari mulanya salat subuh, aku mengusahakan untuk bisa salat lima waktu. Aku mulai membiasakan diri untuk berhijab. Aku mulai punya semangat, aku merasa lebih hidup dengan berhasilnya aku menemukan kamu datang dalam hidupku tanpa diduga!

Lagi-lagi kamu ada benak pikiranku. Sumpah aku benar-benar bahagia mengingat kamu sangat baik! Pertama, menyemangatiku. Kedua, menginspirasiku lewat kisah hidupmu. Ketiga, membantuku menemukan jalan cita-citaku. Sampai pada akhirnya, aku lebih banyak mengingat kebaikan-kebaikanmu.

Jika bukan karena semangat yang luar biasa dari jiwamu dalam menghadapi hidup ini, aku yakin kamu akan tak seindah ini! Belum bertemu saja aku sudah kagum padamu. Seindah itu hati dan jiwamu, apa rahasianya?

Atau barangkali aku menganggapmu sebagai seseorang yang misterius! Hatiku percaya, kekuatan dalam hatimu itu sungguh luar biasa untuk menjadi orang yang maju…

Akhirnya, kekagumanku padamu yang tak bisa dikendalikan lagi itu tertuang pada sebuah tulisan sakral. Bagaimana bisa tulisan itu menjadi pengikat awal kita menjalin cinta? Dan kita menjadi begini, tulisan itu juga menjadi teka-teki sebenarnya Rahasia Allah itu apa, Tuhan menghadirkan rasa suka diantara kita, Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu, Tuhan mengijinkan kita menjalin ikatan hidup bersama, Tuhan sampai sekarang masih mengijinkan kita saling menjaga cinta rahasia kita.

Hanya saja, Tuhan belum mengijinkan kita hidup seatap. Tuhan belum menginjinkan kita menikmati hembusan nafas kita yang saling dekat berhembusan.

****

Ya. Aku di sini untuk mengejar mimpiku yang sedang aku perjuangkan! Entah sebenarnya apa mauku, dan apa yang ingin aku tuju dan dapatkan. Aku sendiri kurang tahu. Aku hanya sekedar menuruti kata hati. Hatiku yang pernah bilang dan mensugesti diriku sendiri untuk berada dan tinggal di sini dalam beberapa waktu kedepan ini. Memang aku hanya mampu untuk bertahan seperti ini. Apa adanya tanpa bisa berbuat banyak dan lebih dari ini.

Dalam sehari-hari aku masih lebih banyak sendiri. Tanpa kawan, tanpa teman, dan keluarga di sisi. Aku hanya seorang diri. Aku sudah bosan begini, aku ingin hidupku punya kawan. Tapi entah lah, atau mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku yang harus aku lalui seperti ini. Aku masih berjuang bertahan, di sini hanya karena aku tak bisa jauh darimu.

Hati cemas saat aku sedang tak didekatmu. Semenjak perkenalan itu, telah berbulan-bulan aku menantikan keberadaanmu dihadapanku. Setelah ketemu, aku tambah yakin jika kamu berjiwa berlian. Aku sudah terpaut padamu. Tubuhku lemas, mataku kosong sekosong pikiranku, jika jauh denganmu. Dalam setiap detik, ingin kamu ada di sisiku. Walau pun itu suaramu.

Aku tahu, orang tuaku berat melepas kepergianku. Mereka mengaku lebih senang dan tenang jika aku bisa patuh terhadapnya! Hanya itu sebenarnya yang mereka minta dariku, bukan yang lainnya. Ketika pikiran dan hati ini terpusat pada namamu, aku seolah punya raga tanpa tulang. Karena aku merindukanmu, karena aku tak bisa jauh darimu. Karena aku sangat ingin menghabiskan detik-detik terakhir kita dalam suka-duka!

Kita berdua pernah merakit mimpi menjadi baju-baju yang kita pakai setiap hari. Oh, apakah mimpiku akan tercapai hanya dengan cara dekat denganmu. Aku pun tak tau atau mungkin karena ketulusan yang ada di hatimu itu membuat aku luluh? Apakah aku sudah salah, terlalu meyakinimu bahwa kamu sedikit banyak akan mengubah hidupku lebih terarah?

Saat ini, aku hanya ingin dekat denganmu. Selalu ada di sisimu. Sekalipun itu sekejap, sekalipun kau akan datang dan menghilang kembali. Teringat saat aku jauh darimu dan tak sanggup menggenggam jemarimu yang mulai mengeriput. Aku hanya sanggup menangis tersedu dalam hati. Jiwaku sangat merindukanmu, ingin mendatangimu dan memelukmu.

Aku tak tau, sampai kapan kisahku ini bersamamu akan berujung. Dan kita tak peduli akan itu! Cinta. Apakah ini benar yang namanya cinta? Seharusnya kita berdua bahagia. Semestinya kita benar-benar bahagia dengan kedekatan kita saat ini. Aku mampu melihat sorotan matamu yang diam. Aku sudah bisa merasakan hangatnya pelukan tubuhmu yang menenangkan jiwaku.

Ayah-ibu. Maafkan aku. Terimakasih akan kesempatan yang engkau berikan kepadaku. Dalam hatiku masih mempercayai jika mimpiku memang harus diperjuangkan. Harus! Walau aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sungguh nggak tahu.

Aku tak beda dengan perempuan yang dungu. Aku bebal. Aku kurang menyenangkan! Apa yang bisa aku banggakan selama ini. Keglamoran aku nggak sanggup, sebab aku nggak punya apa-apa, aku hanya punya seribu pengalaman penuh luka dan kecewa. Tapi bagaimana pun juga, aku akan lebih lemah jika jauh darimu. Hatiku telah kutambatkan hanya padamu ketika kesempatan aku dinikahi seorang laki-laki itu datang.

Jelas pintamu padaku, dulu! Kamu ingin hubunganku dengan tunanganku itu, putus. Demi bisa hidup sama kamu. Demi bisa bercinta denganmu.

Pasti Tuhan lebih tahu bagaimana keadaan hatiku yang sebenarnya. Tuhan  lebih adil memilih kan jodoh pada hamba-hambanya. Begitu aslinya aku ini wanita bejat, begitu mudahnya Tuhan memelencongkan hatiku pada pusaran hatimu. Ya, hanya pada hatimu.

Apa yang terjadi saat ini masih lekat dengan perjalanan selama kita belum bertemu. Dan pada kenyataannya, semua serba terbalik. Mimpi kita menjadi porak poranda. Ada-ada saja alasan yang membuat kita merasa terombang-ambing dalam kekalutan. Wajahku sama sekali tidak istimewa, bahkan dalam jiwaku ini.

Sekarang hati kita saling terdiam menghadapi kenyataan. Kita telah disatukan karena cinta. Sebab aku ingin mendapatkan ilmu yang banyak dan mencuri segala apa saja yang bisa aku curi darimu. Mulai dari kebaikan-kebaikanmu, dari kecerdasan jalan pikiranmu, rasa percaya dirimu yang tinggi dan aku suka kamu. Sesungguhnya dari dalam dasar hatiku aku benar-benar menyukaimu. Aku berani katakan bahwa aku cinta kamu.

Kanda. Dalam kesunyian dititik malam, tanpa hujan dan tanpa awan. Seiring dengan air mata ini yang hambar. Aku ingin mengungkapkan rasa terimakasihku padamu, sebab kanda mengerti bahwa aku menyukaimu, mengagumimu, dan jatuh hati padamu. Aku sadar siapa kanda. Selalu dalam ingatanku mengatakan bahwa kanda adalah cahaya yang akan mampu mengubah hidupku menjadi lebih baik.

Kanda menerima rasaku itu merupakan sesuatu yang harus aku syukuri. Aku hanya mampu menyembunyikan rasa terharu setiap kali kanda bilang sedang kangen padaku. Aku hanya mampu menahan keinginanku untuk memeluk kanda sekencang-kencangnya dengan perasaan bahagia setiap kali aku mendapatkan pengorbanan kanda yang luar biasa tulus untukku.

Bukan untuk materi, bukan untuk reputasi. Melainkan aku punya pegangan hidup! Itulah yang aku cari kanda. Bagaimana aku harus tegar, bagaimana aku harus bangkit dari segala keterpurukan dan keputus asaan!

Rahasia Allah.

Hanya itu yang selalu menjadi ikrar kita berdua setiap kali kita dihadapkan dengan sesuatu yang membuat kita gila. Seberat apa pun, kita selalu mencoba untuk mempertahankan hubungan rahasia kita ini. Mencoba menjaganya rapat-rapat sampai pada akhirnya kita berharap akan berakhir dengan satu kebahagiaan saja!

Aku pernah bahagia tak kala pertama kali kamu memanggilku sayang, sayang karena cinta! Mustahil kamu bisa cinta padaku, memendam rindu dalam diammu, dan menjadi sahabat sepanjang hariku tanpa jemu. Itu dulu.

Aku pernah bahagia ketika jemari kita saling menyentuh dan menggenggam. Gemetaran seluruh tubuhku, tak terkendali. Ingin dipeluk kamu, dan tak dilepas lagi. Lalu, aku hanya mampu menunduk dan terpaku. Salah besar aku mencintaimu dan ingin memilikimu. Salah! Aku sering mengatakan itu, tapi keberadaan Tuhan mampu mengubah segalanya. Hingga kini ada kisah diantara kita berdua. Yang saling tak bisa dijauhkan lagi.

Bagaimana aku percaya jika kaki kita sudah saling berpaut? Surgaku kini  bearada di ujung kakimu.

****

Ah, tapi bukankah itu sesuatu yang paling kita tunggu? Bertemu entah dimana denganmu, memandang wajahmu, menatapmu, menyentuh tanganmu, menyapamu, tersenyum dihadapanmu, memelukmu dan aku sungguh ingin memilikimu. Kau tau itu?

Ketika pikiran hati ini terpusat padamu, dan semuanya hanya berpusat padamu. Aku merintih dalam hati tersiksa akan semua hal yang terjadi diantara kita. Semua sudah terlanjur, begitu juga aku terlanjur mencintaimu. Jatuh hati padamu. Aku tak peduli dengan kata orang lain akan pilihanku ini.

Nafasmu adalah sumber nafasku. Aku membutuhkan itu, tanpa keberadaanmu, aku tak tau siapa diriku ini! Lagi.

Denganmu aku berani bermimpi, bersamamu aku berani bermimpi. Dan keberadaanmu itu bukan mimpi. Kamu ada untukku kanda. Dalam pelukanmu, aku menemukan kerinduanmu yang dalam tersimpan untukku. Aku mengerti apa arti hembusan nafasmu yang tanpa perlu dipertanyakan mengapa? Hangat hatiku setiap kali aku berada didekatmu, (andai saja kamu tahu itu kanda….)

-menangis-