About Me

Bagiku, hanya semangat dari jiwa saja yang membuatku ingin bertahan dalam menghadapi kenyataan hidupku yang sebenarnya. Seandainya semangat itu tiada, bisa jadi pikiran ini akan mengeluh dan menyesali hidup yang masih terus berlalu. Tanpa pernah aku tahu sampai kapan akan berakhir…

Sedikit banyak Rejeki yang dikaruniakan Tuhan kepadaku barangkali sudah ada takarannya dan itu pasti sesuai dengan usaha dan kemampuan yang aku miliki. Aku terkadang merasa beruntung diberikan sepasang mata yang normal dan sempurna, tapi ketika aku memposisikan diriku di antara orang lain. Sampai saat ini aku merasakan ketidak puasan akan apa yang telah aku capai hadir menggelayuti  jiwaku. Terlihat sangat jelas, banyak orang lain yang lebih dari aku. Dan aku masih  bukan siapa-siapa diantara mereka.

Tidak sekali dua kali, setiap aku ingat kerasnya jalan hidup ortuku aku ingin bisa mikul duwur mendem jero nama ortuku sendiri. Setiap kali tak sengaja aku melihat orang yang kurang beruntung daripada aku, rasanya aku ingin juga membantu meringankan beban hidupnya. Tapi, bagaimana caranya? Memimpikan dua hal itu bisa terjadi, rasanya seperti aku bermimpi ketinggian dan tak mungkin aku bisa mewujudkannya!

Jatuh bangun menjalani perjalanan hidup itu hampir semua orang mengalaminya. Bahkan, aku lebih sering mendengarkan kisah-kisah orang yang hebat mengarungi kenyataan hidupnya yang sangat pahit dengan suka-cita. Tentunya itu bisa mereka taklukkan tak lepas dari semangat hidupnya yang membara…

Entah kenapa kali ini aku ingin jujur pada diriku sendiri  bahwa sebenarnya aku miskin tak punya apa-apa. Aku bukanlah anak muda yang seperti pada umumnya. Yang aktif Twitteran, instagraman, path-an, aku sering menyadari akan ke-kuperanku sendiri. Aku nggak banyak tahu dunia sinetron, dan nggak suka lihat sinetron. Penampilanku juga jauh dari pemain sinetron di negeri ini. Setelah sekian lama aku belajar mencari nafkah dari hasil keringatku sendiri,aku merasa bahwa aku sudah layak hidup mandiri tanpa menggantungkan pemberian uang ortu lagi. Sekarang aku mengusahakan mendapatkan uang demi sesuap nasi  dengan keringat sendiri dalam keseehariannya. Kalau aku ingatlagi, uang dari hasil kerjaku yang nggak ngumpul-ngumpul dan berjumlah tak seberapa, aku sempat berpikir kalau aku termasuk anak yang miskin. Sesuai dengan adat. Terdengar kurang nyaman memang, dan  menurut adat orang jawa bilang, hal ini saru kalau seandainya sampai orang lain tahu jika aku berani mengeluhkan kemiskinanku  sendiri.

Menganggap diri sendiri miskin dan serba kekurangan, lebih jelasnya aku ini kurang bisa mensyukuri nikmat yang ada. Tapi, yang terpenting bagiku saat ini bagaimana aku bisa mengoptimalkan segala kekuranganku ini untuk meraih yang namanya sebuah KESUKSESAN?

23 tahun, aku! Aku bukanlah anak yang termasuk baik dari segi mental. Kekuranganku yang sangat dominan yaitu aku suka minderan, merendahkan diri sendiri , mudah galau dan belum bisa melusruskan iman yang ada didalam hatiku sebaik-baiknya. Sebagai penganut Islam, aku masih suka solat subuh telat. Aku masih kesulitan menjilbabi hatiku. Aku menilai diriku belum dewasa seutuhnya. Bagaimana pun juga, orang lain akan menganggap bahwa aku sudah cukup umur, berakal dan bukan anak-anak lagi!

Menurutku, saat ini aku sudah punya logika pikiran yang realistis. Menjadi remaja, lambat laun aku mulai mengenal dan tahu dunia orang berumah tangga, mulai bisa membedakan apa yang disukai oleh bapak-bapak masa kini dan ibu-ibu masa kini. Aku juga menganggap diriku lebih senior dibandingkan dengan anak SD dan SMP.

Dalam keadaan terhimpit seberat  apapun, aku berpikir tak mungkin bunuh diri atau berbuat konyol sesuka hatiku. Sebab aku menyadari, menjadi terkenal, menjadi kaya atau menjadi sukses dalam mengejar dunia jika tanpa adanya esensi kebenaran, bagiku itu tak perlu. Aku bukanlah anak suci, tapi aku yakin kebenaran hidup jika aku mau berpedoman pada apa yang menjadi keyakinanku sendiri. Antara benar dan salah, bagiku dan bagi orang lain belum tentu sama. Dan aku senang bisa punya keyakinan sendiri berdasarkan kemampuanku berpikir.

Karena diamku, aku bukanlah seorang yang gemar aktif bersosialisai atau berkecimpung dalam suatu organisasi. Dulunya aku kira ini bawaanku sejak kecil. Tapi, saat massa-nya tiba aku punya hasrat menjatuhkan diri dalam kegiatan sosial, sampai saat ini aku belum bisa mewujudkannya. Semua tak lepas dari sikonku saat ini yang terikat oleh pekerjaan.

Aku sempat berpikir, begitu cepatnya jaman ini bergerak dan berubah. Sebenarnya bukan aku saja yang selalu ketinggalan jaman, tapi juga negeriku ini. Tak mampu aku mengubah negeriku, menjadi negeri bebas korupsi. Tak mampu aku jadi orang yang mampu mengubah negeri ini jadi negri yang bebas dari kemiskinan. Tak mampu aku mengubah negeri ini jadi negeri yang bebas dari negeri pengirim TKW yang dipekerjakan sebai pembantu rumah tangga. Sedangkan kenyataannya aku hanyalah mantan pembantu yang bekerja di luar negeri. Aku anak remaja yang tanpa reputasi, tapi terlalu banyak ambisi. Barangkali…

Kadang aku menyelidiki dalam hati, kenapa sih orang bisa kaya. Kenapa orang bisa super jenius. Kenapa orang bisa mandiri dan hidup dinamis.

Kesimpulannya cukup satu saja. Bahwa hasil yang maksimal bermula dari kerja atau usaha yang maksimal. Bagiku tidak berlaku jika aturan orang pemakan babi itu dinilai kurang, atau orang yang berjubah itu artinya beragama. Bisa jadi orang pemakan babi lebih bermoral atau sebaliknya. Sebab Tuhan akan membagikan kepandaiannya kepada siapa, atau Tuhan akan membagikan kekayaannya kepada siapa, bergantung dari seberapa dalam usaha dari kita masing-masing.

Apabila aku ingat kembali masa tersulit dalam hidupku, memang benar hanya Tuhan satu-satunya yang kujadikan pelarian keluh kesahku. Tapi yang jelas, penegar diri kita ketika menghadapi keadaan tersulit bukan orang yang diam-diam aku cemburui kelebihannya. Bukan pula orang yang kuanggap lebih beruntung daripada aku dengan segala kehidupannya yang berkecukupan.

Dari sini aku mulai tahu bahwa memperjuangkan diri dari zona kemiskinan dan keterbelakangan itu hanya akan berhasil jika ada usaha nyata dari diri sendiri. Juga dengan pertolongan Tuhan. Aku membenarkan janji-Nya yang ini; “Allah (Tuhan) akan meninggikan derajat seseorang dengan ilmu dan iman. Tentunya yang membawa manfaat.

Selama ini sebenarnya aku tak tahu tujuan jelas hidupku sendiri. Seiring bergulirnya waktu, yang aku pikir dan ingat saat ini aku sedang berusaha mewujudkan apa yang aku impikan. Tapi, tak tau kenapa sepertinya hidupku masih jauh dari perubahan sebelumnya.

Menertawakan sendiri akan kebodohan dan kealpaan diri, seringkali aku lakukan. Dan tak jarang pula setelah itu aku jadi ingat orang-orang atau teman-temanku yang pernah menertawakan siapa diriku ini dengan remeh.

Tentunya aku ingin tetap menjadi aku. Harapanku kedepan aku tak ingin jadi orang bermuka dua. Aku bisa hidup dengan lapang dada dan memegang kebenaran sebagai semangat hidupku bukan memberatkan kesenangan sesaat yang malah serba menghancurkan.

Kenyataan yang pahit lebih manis jika diterima dengan lapang dada, seperti layaknya singkong rebus lebih nikmat daripada sebungkus roti keju dalam bayangan pikiran saja…

Dan demi kehidupanku dan kehidupan orang lain yang penuh misteri, semoga keadaan yang seperti ini tak menjadikan aku orang yang sombong andai saja keberadaan atau kecukupan dalam hidupku suatu saat nanti dapat aku raih…

 

Iklan

20 thoughts on “About Me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s