Hal yang Dirasakan Anak, Ketika Anak Mendapatkan Dukungan Dari Orang Tua

Orang tua saya merupakan salah satu orang tua yang tidak suka memaksakan kehendak terhadap anak-anaknya alias tidak neko-neko, tapi orang tua saya lebih memberikan kelonggaran untuk anaknya untuk bisa memiliki pilihan dan keputusan sendiri yang tentunya sesuai dengan minat anaknya masing-masing. Kebetulan saya anak nomor dua dari tiga berdsaudara yang suka merantau. Atau dapat dikatakan saya suka ngelayap jauh dari rumah deh, entah kenapa mungkin selagi masih muda saya ingin mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

Saya mengingat kembali, kapan orang tua saya memberikan kepercayaan seperti itu kepada saya yaitu saat saya berhak memilih sekolah SMP mana yang ingin saya daftar setelah saya lulus SD. Ketika itu pula kemudian saya mulai belajar membuat pertimbangan dan memutuskan sesuatu. Alasan saya memilih sekolah Negeri hanya satu, saya ingin bisa mendalami pelajaran agama Islam lebih baik sebab sedari kelas satu SD saya hanya mendapatkan pelajaran Nasrani dari sekolahan.

Kemudian, semakin bergulirnya waktu ternyata orang tua saya tidakberubah. Selain aktif menjalin komunikasi, mereka juga mendukung terhadap apa yang saya kerjakan di sekolah. Hingga kesempatan untuk memilih sekolah mana yang ingin saya jadikan sekolah lanjutan di SMA pun tiba. Dan juga, setelah lulus saya pun diberikan kepercayaan untuk memilih jalan mana yang ingin saya tempuh.

Orang tua mana yang tidak terpukul hatinya ketika ada salah satu anaknya yang meminta ijin untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga di luar jawa mengingat dasarny asaya adalah anak yang nggak ngerti apa-apa (ini sangat mengkhawatirkan bagi ortu saya), sedangkan orang tua itu sudah berupaya semaksimal mungkin untuk bisa membiayai kebutuhan pendidikan  anaknya  dengan sebaik-baiknya?

Orang tua mana yang punya cita-cita anaknya menjadi kaki tangan orang lain?

Saat itu, saya merasakan sudah membuat orang tua saya bersedih hati. Walau dengan berat hati, akhirnya mereka pun menyetujui keputusan dan pilihan saya. Selama diperantauan, mereka tak henti-hentinya berpesan agar saya mau berhati-hati dan bisa menjaga diri. Mereka sama sekali tidak menuntut apa-apa dari hasil keringat saya.

Kurang lebih sepuluh bulan saya merantau untuk pertama kalinya, dan sepulangnya lagi-lagi saya semakin membuat konyol orang tua saya dengan meminta ijin bekerja menjadi pembantu di luar negeri.
Masih teringat saat ini bagaimana orang tua saya menahan nafas panjang dan sesaknya kala itu.

Dalam hati memang mereka bimbang dan sebenarnya takut akan keselamatan saya untuk bekerja di luar negeri pertama kalinya, tapi sebagai bentuk dukungan terhadap apa yang menjadi pilihan dan keputusan saya. Orang tua saya berpesan agar saya harus punya semangat mau mengubah nasib demi kehidupan yang lebih baik( tentunya bukan dinilai dari segi materi saja).

Singkat cerita meminta ijin untuk bekerja di luar negeri saya lakukan selama dua kali di tempat yang berbeda. Tersadar, saya kini sudah kembali di Indonesia, dan apabila saya ingat kalau ternyata sampai saat ini juga saya masih mengedepankan pilihan dan keputusan saya. Saya ingin menyampaikan beribu terimakasih kepada orang tua saya. Dengan terwujudnya apa yang saya inginkan, saya merasa mendapatkan kebebasan yang sah. Selayaknya seekor burung yang tidak dikurung didalam sangkar saja melainkan orang tua saya telah mengijinkan saya terbang bebas ke awan biru diatas sana….

Merantau jauh dengan orang tua, jalannya tak selalu mulus seperti  pada saat kita melewati jalan Tol. Selain suka pasti ada duka! Tapi, saya lebih bisa menikmati dan mengambil hikmah dari setiap apapun yang terjadi terhadap hidup saya kali ini. Saya percaya, orang tua tetap ingin anaknya mendapatkan sesuatu yang terbaik dari pilihan dan keputusannya sendiri, bukan berarti orang tua tak peduli namun mereka lebih menghargai apa yang menjadi alasan kenapa anaknya mau melakukan apa yang menjadi keputusannya.
Saya ingat kembali kenapa dengan berat hati orang tua melepas saya namun mereka  tetap masih bisa memberikan dukungan terhadap apa yang jadi keputusan saya, sebab sebelumnya saya sudah membicarakan maksud dan tujuan dari apa yang ingin saya lakukan kepada mereka berbicara dari hati ke hati. Tidak mudah meluluhkan hati orang tua, tapi jika didasari niat yang baik apa pun yang jadi kekhawatiran orang tua kemungkinan besar bisa diatasi.

Bagi saya, dukungan, motivasi dan rasa kasih sayang dari orang tua itu lebih berharga daripada orang tua hanya memberikan kebutuhan materi tapi samasekali kurang memperhatikan psikologi anak-anaknya.

“Berapa jumlah anak yang stress akibat dari rasa tertekan akibat paksaan orang tua untuk jadi anak ini dan itu? “

Beberapa sumber menyatakan bahwa orang tua yang terlalu menekankan anaknya untuk jadi ini itu bisa membuat anak stress. Berikut sumber link-nya yang dapat kita baca bersama :

http://female.kompas.com/read/2012/01/30/09400587/5.Perilaku.Orangtua.yang.Bikin.Anak.Stres

http://www.tribunnews.com/kesehatan/2014/12/07/jangan-bikin-anak-stres-karena-target-orangtua

http://www.tempo.co/read/news/2012/03/20/173391560/Empat-dari-Lima-Anak-Alami-Tekanan-Batin

Iklan

4 thoughts on “Hal yang Dirasakan Anak, Ketika Anak Mendapatkan Dukungan Dari Orang Tua

  1. Ya, memanglah demikian sepantasnya ya. Pada sejatinya memang tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya menjadi menderita, atau sakit, atau terpuruk. Semacam membuka mata saya nih, membaca tulisan ini :hehe. Jadi membuat saya berusaha untuk lebih mempertimbangkan lagi saran dan pendapat orang tua. Bebas tak berarti lupa, kan.
    Terima kasih ya, Mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s