Orang Tua, Perhatikanlah Bahasa Anak Anda!

“Ancriiiit…Bego loe masih hujan begini kenapa mau nekat pulang?”, suara anak SD yang sedang berteduh di depan tempat kerja saya kemarin sore.

Kata “Ancriiit” itu sekedar bahasa galau yang tanpa makna, sedangkan kata “Bego” jika dirasakan lebih dalam maksudnya untuk merendahkan teman si anak SD itu.

Kita kadang tak sampai habis pikir menyempatkan diri kita untuk memperhatikan hal-hal yang sepele ini. Sekalipun terlihat sepele, tapi jika dilakukan secara berulang-ulang kemungkinan akan menjadi sebuah kebiasaan tapi buruk. Kalau kita mau jujur, sebenarnya yang pernah berkata seperti itu bukan hanya anak SD itu saja melainkan kita pun sudah sering melakukannya.

Perkembangan bayi dari yang mulanya tidak bisa apa-apa hingga kemudian tiba masanya ia dapat berjalan dan berbicara, merupakan  salah satu kebahagiaan orang tua. Disadari atau tidak, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekitar anak dalam bersosialisasi akan mempengaruhi bahasa yang  akan diadopsi anak.

Ada pepatah yang mengatakan; mengukir diatas batu lebih mudah daripada mengukir di atas air. Yang artinya, mengajari anak belajar sejak dini (termasuk berbicara yang baik) lebih gampang daripada mengajarinya setelah tua. Kalau misalnya anak sudah dewasa terlanjur punya bahasa yang rusak biasanya orang tua menjadi kualahan untuk memperbaikinya.

Bahasa Erat dengan Emosi Jiwa Anak

Memanjakan anak bukanlah hal yang bagus jika terus berlanjut sebab itu akan membuat anak tidak mampu belajar hidup mandiri. Namun, menelantarkan anak tanpa memberikan perhatian sedikit pun juga akan membuat anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang. Kondisi keluarga yang broken home biasanya sangat besar pengaruhnya terhadap ketidak puasan emosi didalam hati anak. Tak heran, ibu yang sedih akan membuat si anak juga ikut sedih. Mungkin inilah yang namanya naluri…

Anak yang terlihat lebih aktif bergaul dengan siapa saja terkesan terlihat cerdas daripada anak yang pemalu dan pasif. Bisa, karena terbiasa. Ini juga dipunyai oleh anak-anak tertentu yang bersikap ganda. Pernah memperhatikan anak yang pemalu jika bertemu dengan orang baru? Tapi jika dengan keluarga sendiri tidak. Atau juga mungkin kalau anak sedang ada di sekolahan akan menjadi pendiam dibandingkan ketika ia berada di rumah. Anak yang pendiam diantara ia sedang bersama-sama dengan temannya di sekolah alasannya karena ia kurang percaya diri untuk mengekspresikan bahasanya sendiri.

Bahasa Sering Kurang Diperhatikan Tapi Sangat Penting

Bahasa di dalam hati juga termasuk bahasa. Dan sebenarnya, dominasi bahasa dari dalam itulah yang membentuk kepribadian seseorang. Fatalnya jika anak mendapatkan banyak pengaruh kurang baik dari luar, misalnya sejak kecil ia sudah sering mendengarkan kata-kata kasar dari orang tuanya sendiri atau dari orang lain. Sekalipun secara langsung ia tak mengatakannya tapi suatu ketika ia mendapati sebuah masalah yang amat besar menurutnya, bahasa kasar itu akan mencul baik dari bahasa dalam hati atau secara lisan. Gabungan antara bahasa dengan emosi akan membentuk sebuah kebiasaan. Bahasa-bahasa yang baik akan berpengaruh pada emosi  jiwa yang positif. Pada jiwa yang positif inilah anak akan mempunyai rasa  bahagia atau tidak. Susunan bahasa anak secara lisan dapat juga dijadikan sebagai cerminan baik buruknya etika/ nilai kesopanan  anak.

Susunan Bahasa Berpengaruh pada Prestasi Anak?

Pola pikir anak berhubungan langsung dengan kapasitas bahasa anak itu sendiri. Bagaimana anak berpikir secara realistis, berlogika, bermimpi atau bercita-cita semuanya bermula dari tata bahasa yang dimilikinya. Dalam hal ini sangat penting sebagai orang tua untuk mau memberikan dukungan penuh terhadap proses belajar anak. Dimana kondisi anak itu masih labil, mungkin anak tahu ia harus berkembang dengan banyak belajar sedangkan mood anak adakalanya akan naik turun.

Ada tiga tips sederhana untuk yang dapat dilakukan oleh  orang tua untuk mencegah kerusakan bahasa pada anak;

1). Sebagai orang tua, sebelum menasehati anak agar berbahasa yang baik dan benar, berikan contoh terlebih dahulu agar mau mengendalikan bicaranya sendiri baik di depan anak maupun depan orang lain. Yang demikian biasanya anak akan lebih patuh untuk mau melakukan  tanpa memprotes orang tuanya.

2). Jaga hubungan harmonis pada keluarga. Keharmonisan keluargalah yang akan menjadi sumber kedamaian, ketentraman, dan kehangatan antar anggota keluarga. Saling menghormati dan menghargai. Dengan keadaan yang kondusif seperti itu, sekiranya dapat meminimalis kegaduhan rumah tangga.

3). Menjaga Komunikasi dengan baik antara orang tua dan anak secara berkelanjutan dengan terbuka. Maka dari itu, sebagai orang tua harus bisa menciptakan suasana nyaman bagi anaknya, agar si anak dapat leluasa mengutarakan apa saja yang sedang ia ingin sampaikan kepada orang tuanya. Bagi orang tua yang super sibuk dengan pekerjaannya, tetap meluangkan waktu bersama anak sekalipun satu jam atau dua jam dalam perharinya  itu sangat penting. Pada umumnya, setelah anak mulai beranjak dewasa ia akan punya rasa malu dan ingin menjaga jarak dengan orang tuanya. Bagaimana pun juga orang tua tetap punya kewajiban untuk senantiasa mendampingi anak-anaknya hingga sampai tiba ,masanya ia akan hidup mandiri.

Semoga Bermanfaat

Iklan

Menumbuhkan Jiwa Berprestasi Pada Diri Sendiri!

Yang pertama, kita harus bisa mencerna kata “Berprestasi” dengan baik.

Berdasarkan pendapat kita masing-masing, bagaimanakah asumsi kita tentang prestasi? Mungkin beberapa dari kita akan menjawab kalau prestasi itu adalah sebuah kemenangan, seperti berhasilnya kita mendapatkan peringkat juara satu, dua dan tiga atau seterusnya dalam sebuah lomba/kompetisi. Kata berprestasi mungkin juga identik dengan pencapaian nilai-nilai di sekolah yang tinggi.

Bagi saya, menjadi orang berprestasi itu tak dibatasi oleh; umur, kapan dan dimana. Sebab yang saya maksudkan di sini ialah orang yang punya “Jiwa Berprestasi”. Mungkin kita menganggap orang yang cerdas hanya dengan penilaian langsung dari sisi nilai akademis. Padahal, orang yang punya kemampuan akademis juga belum tentu akan sukses dalam bidang yang lainnya.

Iseng mau curhat pengalaman pribadi boleh ya? Dari dulu (lebih seringnya), saya bukanlah anak yang berprestasi di sekolah. Bahkan malah guru-guru saya sudah hafal siapa sih anak yang kalau diajar nerima pelajarannya lambat, siapa sih yang suka dapet nilai jatuh pas ulangan. Entah kenapa juga saya punya muka tembok nggak malu kalau dapat cibiran dibilang anak sulit, sebab belajar di sekolah itu bagi saya nyebelin. Saya lebih suka membaca buku yang memang saya butuhkan untuk dibaca, salah satunya baca buku di perpustakaan. Baca-baca buku mata pelajaran membuat saya mengantuk dan materinya terlalu berat untuk dibaca. Tak heran kalau habis selesai baca isi mapelnya  mental (kabur/ bahasa Jawanya ngilang)tidak masuk ke memori otak ini!

Lalu, Jiwa yang berprestasi itu yang bagaimana?

Waktu lima tahun sesudah SMA berlalu. Teman-teman saya sudah lulus dari kuliahnya dan beberapa ada yang sudah bekerja dan menikah. Dalam benak hati saya, sama sekali tidak ada kata yang mengatakan kalau saya murid yang gagal! Serta saya juga tidak mengatakan kalau saya tidak punya masa depan. Saya yakin, saya masih bisa meraih sebuah prestasi…

Kesimpulannya, berprestasi dan berjiwa prestasi itu tidak sama. Berprestasi, ada waktu, tempat dan kejadian yang jelas. Namun, berjiwa prestasi akan ada bersemayam di hati dan terjadi secara terus-menerus. Sehingga pada masanya sedang terjatuh, ia akan berusaha bangkit kembali sampai apa yang ingin didapatkannya bisa terwujud.

Selidik punya selidik, saya pun menganggap hal-hal ini yang mendukung saya ingin terus punya jiwa prestasi…

Menumbuhkan Kesadaran Diri

Seseorang akan tergerak melakukan sesuatu dengan mudah jika dari dalam dirinya sendiri memang ingin melakukannya. Jadi, melakukan sesuatu secara sadar bermula dari diri sendiri! Tanpa membedakan apa latar belakang kita, garis besar kesadaran seseorang yang dapat menumbuhkan jiwa prestasi yaitu kesadaran ingin mendapatkan ilmu pengetahuan, baik dari pendidikan formal maupun informal. Dari ilmu pengetahuan tersebut ia akan punya idiologi, hobi dan bakat serta impian. Kesadaran orang berprestasi yaitu hidup benar lebih utama daripada hidup sukses.

Menjaga Motivasi

Sebuah kata-kata bijak mampu menahan seseorang yang hampir saja ingin menyerah, atau bahkan bunuh diri. Coba deh kita selami diri kita kembali, misalnya kita sedang mendapati masalah yang menurut kita berat banget untuk dihadapi. Salah satu contohnya kalau orang yang kita cintai atau sayangi tiba-tiba meninggal dunia. Shock, sedih, dan hampa. Itu pasti yang akan kita rasakan. Obatnya hanya ikhlas merelakan ia pergi untuk selamanya. Nah, motivasi itu bagaikan sebuah keikhlasan yang ada karena memang datangnya dari kesadaran hati.

Menurut saya, seseorang yang berjiwa prestasi tak lepas dari begitu besarnya motivasi yang ada pada dirinya sendiri. Tentunya ada orang lain juga yang terlibat dalam pembentukan sebuah motivasi, misalnya orang tua, guru dan kisah inspiratif orang lain yang luar biasa. Singkat kata, motivasi bukan sekedar kata bijak saja namun juga mencakup sebuah kecakapan diri sendiri mengenai kepercayaan diri, semangat, dan keiinginan yang disertai tindakan nyata secara continue.

Berani Bersaing dengan Orang Lain Secara Sehat

Sebagai manusia, mendapati rasa iri dengan keberhasilan orang lain adalah wajar. Namun, kita juga perlu tahu orang yang berhasil itu karena ia pernah berusaha untuk berhasil. Orang yang berjiwa prestasi akan fokus pada kemampuan dan potensi diri sendiri. Mau mengembangkan apa yang jadi ketrampilan pada dirinya, terus mengasah apa yang bisa ia lakukan hingga dapat menumbuhkan manfaat atau sesuatu yang bernilai. Orang berjiwa prestasi akan sadar kalau setiap orang punya takaran rejeki masing-masing sesuai kehendak Tuhan. Sehingga apapun yang dikerjakannya akan berlandaskan pengabdian untuk-Nya semata. Tuhan memberikan waktu 24 jam yang sama dalam perharinya. Dari yang punya kulit hitam sampai kulit putih, udara yang dihirup juga sama-sama oksigen. Jika orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Prestasi Sejati, demi Perubahan yang Baik

Sebaik-baiknya dan seindah-indahnya prestasi yaitu orang yang dapat memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya berprestasi tak harus berdiri di panggung membawa seikat bunga dan ditonton oleh sejuta orang. Berprestasi juga tak harus muluk-muluk. Menjaga baik diri sendiri juga merupakan prestasi. Bahagia dengan hidup kita yang ada, menerima duka kehidupan dengan suka-cita.

Sedikit pemahaman saya menuliskan hal ini menjadikan saya lebih bersemangat lagi, berprestasi bukan hanya karena nilai akademis dari pendidikan formal atau apa saja yang sanggup kita capai dan kerjakan, melainkan berjiwa presetasi boleh dan bisa dimiliki oleh siapa saja tanpa memandang umur dan siapa kita. Sebab, berjiwa prestasi adalah semangatnya orang-orang yang ingin terus bertumbuh kembang maju ke depan demi sebuah perubahan yang baik…

Tanda-tanda Cowok yang Lagi PDKT

Sebagai remaja menjadi perempuan alias cewek, anehnya saya kurang suka kalau ada cowok yang mau PDKT dengan saya. Bukan berarti kalau saya itu orangnya terlalu ya, tapi yang jelas saya nggak suka dengan tingkah cowok dengan berbagai macam pendekatannya kalau sedang kecantol saya. Ih, judes ya sekaligus PD abies…?

Kenapa demikian. Saya pun mencoba memahami diri saya sendiri dengan sebaik-baiknya. Dan ternyata, kesimpulannya hanya simple banget : saya bukan tipe cewek yang suka dirayu, digoda dan digonjang-ganjingkan hatinya supaya bisa rontok lalu terjatuh dengan hati lawan jenis yang sedang sengaja menggoda saya. Ha ha ha.

Wkwkkwkwkw, apa saya itu pernah patah hati hingga menjadi begini?

Jawaban yang tepat yaitu, saya lebih suka kecantol daripada dicantol.Pengalaman telah mengajari saya untuk merasakan betapa menderitanya kecantol cowok itu, apalagi kalau saya mencoba untuk mendapatkannya (menjadi kekasihnya)…Mencintai sama dengan mengeluarkan energi dan sebaliknya, dicintai akan mendapatkan energi…

No way, demi cinta sampai mau-maunya dapat jampi-jampi dari Mbah Dukun dan secara pribadi saya merasa punya hak untuk memilih siapa cowok yang sesuai dengan selera saya. Kemudian cowok itu bisa menerima saya apa adanya. Esensi cinta bagi saya adalah saling suka-menyukai bukan karena apa, melainkan hanya karena saling merasa cocok diantara keduanya saja.

Berbeda pemikiran, berbeda pula pendapatnya masing-masing orang. Begitu juga dengan saya, yang punya asumsi seperti yang sudah saya ceritakan diatas tadi. Benar bagi saya, belum tentu benar bagi kalian. Dan kali ini saya ingin menuliskan beberapa poin tanda-tanda cowok yang lagi PDKT sama cewek. He he he, siapa tahu setelah membaca tulisann ini diantara kalian ada yang menyadari bahwa di dekat kalian ada seseorang yang diam-diam sedang ingin mendekatimu 🙂

Tanda yang Pertama, cowok yang sedang ingin PDKT dengan cewek akan lebih sering keinget nama dan tentang cewek yang sedang dikaguminya, baik siang, pagi, sore, dan malam. Serta suka keinget cewek pujaannya baik ia sedang berada di teras, pinggir jalan atau di bawah kolong jembatan. Tak heran jika tiba-tiba saja cowok itu lebih intens mengirim pesan kepadamu(cewek).

Tanda yang Kedua, jika cowok itu lagi sedang bertemu langsung denganmu. Ia akan terkesan grogi sendiri, salah tingkah dan aneh. Jangan kaget kalau cowok yang lagi PDKT senyumannya suka dimanis-manisin. Ditambah lagi sama rayuan mautnya yang menurutnya ajimumpung bingit! Mulailah muncul kata-kata yang berbunga-bunga.

Tanda yang Ketiga, cowok yang lagi PDKT sama cewek biasanya akan berusaha untuk bisa mencari informasi tentang cewek yang sedang digandrunginya dengan rasa ingin tahu yang menggebu dan tinggi. Beruntung kalau mungkin nama ceweknya dapat di searching di Google, nah kalau sama sekali nggak bisa diakses lewat internet bisa jadi si cowok terpaksa curi tahu lewat teman lain, atau berani menanyakan langsung sama cewek itu.

Tanda yang Keempat, cowok yang PDKT sama cewek akan mau melakukan apa saja buat bisa menaklukkan hati si cewek. Kalau mungkin cewek punya tipe matre, wah si cowok mesti sabar nih buat mau membelikan ini-itu sesuai kemauan si cewek.

Tanda yang Kelima, si cowok yang sedang jatuh cinta entah si cewek yang sedang dikejarnya nanti akan berhasil atau tidak menjadi kekasihnya. Tetap si cowok akan punya rasa semangat yang luar biasa setiap kali teringat si cewek yang sedang dikaguminya.

Tanda yang Keenam, cowok yang sedang melakukan PDKT biasanya akan terkesan lebih rapi dan perhatian sama penampilannya sendiri. Tadinya kalau mungkin si cowok itu biasanya mandi dua kali sehari, bisa jadi karena sedang kasmaran dalam sehari ia mau mandi sekali dalam sehari.

Ngomong-ngomong soal cowok yang sedang PDKT sama cewek jadi keinget almarhum salah satu teman laki-laki sekolah saya sewaktu saya lanjut studi habis SMA dulu. Pas PDKT-nya sama saya, dia belum sempat mendapatkan jawaban yang pasti dari saya, sehari sebelum ajalnya tiba, saya merasa bersalah sekali tidak membalas pesan SMS nya. Dan akhirnya kenapa saya baru bisa membuka hati saya untuknya setelah ia sudah tidak bernyawa?

Semoga dia ikhlas jika sampai kapan pun saya belum bisa memberikan jawaban apakah saya menerima PDKT-nya yang sudah ia lakukan kepada saya atau tidak. Yang jelas, Tuhan punya rencana yang lebih baik dan hanya Dia saja yang tahu jodoh hamba-hamba-Nya.

Hal yang Dirasakan Anak, Ketika Anak Mendapatkan Dukungan Dari Orang Tua

Orang tua saya merupakan salah satu orang tua yang tidak suka memaksakan kehendak terhadap anak-anaknya alias tidak neko-neko, tapi orang tua saya lebih memberikan kelonggaran untuk anaknya untuk bisa memiliki pilihan dan keputusan sendiri yang tentunya sesuai dengan minat anaknya masing-masing. Kebetulan saya anak nomor dua dari tiga berdsaudara yang suka merantau. Atau dapat dikatakan saya suka ngelayap jauh dari rumah deh, entah kenapa mungkin selagi masih muda saya ingin mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

Saya mengingat kembali, kapan orang tua saya memberikan kepercayaan seperti itu kepada saya yaitu saat saya berhak memilih sekolah SMP mana yang ingin saya daftar setelah saya lulus SD. Ketika itu pula kemudian saya mulai belajar membuat pertimbangan dan memutuskan sesuatu. Alasan saya memilih sekolah Negeri hanya satu, saya ingin bisa mendalami pelajaran agama Islam lebih baik sebab sedari kelas satu SD saya hanya mendapatkan pelajaran Nasrani dari sekolahan.

Kemudian, semakin bergulirnya waktu ternyata orang tua saya tidakberubah. Selain aktif menjalin komunikasi, mereka juga mendukung terhadap apa yang saya kerjakan di sekolah. Hingga kesempatan untuk memilih sekolah mana yang ingin saya jadikan sekolah lanjutan di SMA pun tiba. Dan juga, setelah lulus saya pun diberikan kepercayaan untuk memilih jalan mana yang ingin saya tempuh.

Orang tua mana yang tidak terpukul hatinya ketika ada salah satu anaknya yang meminta ijin untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga di luar jawa mengingat dasarny asaya adalah anak yang nggak ngerti apa-apa (ini sangat mengkhawatirkan bagi ortu saya), sedangkan orang tua itu sudah berupaya semaksimal mungkin untuk bisa membiayai kebutuhan pendidikan  anaknya  dengan sebaik-baiknya?

Orang tua mana yang punya cita-cita anaknya menjadi kaki tangan orang lain?

Saat itu, saya merasakan sudah membuat orang tua saya bersedih hati. Walau dengan berat hati, akhirnya mereka pun menyetujui keputusan dan pilihan saya. Selama diperantauan, mereka tak henti-hentinya berpesan agar saya mau berhati-hati dan bisa menjaga diri. Mereka sama sekali tidak menuntut apa-apa dari hasil keringat saya.

Kurang lebih sepuluh bulan saya merantau untuk pertama kalinya, dan sepulangnya lagi-lagi saya semakin membuat konyol orang tua saya dengan meminta ijin bekerja menjadi pembantu di luar negeri.
Masih teringat saat ini bagaimana orang tua saya menahan nafas panjang dan sesaknya kala itu.

Dalam hati memang mereka bimbang dan sebenarnya takut akan keselamatan saya untuk bekerja di luar negeri pertama kalinya, tapi sebagai bentuk dukungan terhadap apa yang menjadi pilihan dan keputusan saya. Orang tua saya berpesan agar saya harus punya semangat mau mengubah nasib demi kehidupan yang lebih baik( tentunya bukan dinilai dari segi materi saja).

Singkat cerita meminta ijin untuk bekerja di luar negeri saya lakukan selama dua kali di tempat yang berbeda. Tersadar, saya kini sudah kembali di Indonesia, dan apabila saya ingat kalau ternyata sampai saat ini juga saya masih mengedepankan pilihan dan keputusan saya. Saya ingin menyampaikan beribu terimakasih kepada orang tua saya. Dengan terwujudnya apa yang saya inginkan, saya merasa mendapatkan kebebasan yang sah. Selayaknya seekor burung yang tidak dikurung didalam sangkar saja melainkan orang tua saya telah mengijinkan saya terbang bebas ke awan biru diatas sana….

Merantau jauh dengan orang tua, jalannya tak selalu mulus seperti  pada saat kita melewati jalan Tol. Selain suka pasti ada duka! Tapi, saya lebih bisa menikmati dan mengambil hikmah dari setiap apapun yang terjadi terhadap hidup saya kali ini. Saya percaya, orang tua tetap ingin anaknya mendapatkan sesuatu yang terbaik dari pilihan dan keputusannya sendiri, bukan berarti orang tua tak peduli namun mereka lebih menghargai apa yang menjadi alasan kenapa anaknya mau melakukan apa yang menjadi keputusannya.
Saya ingat kembali kenapa dengan berat hati orang tua melepas saya namun mereka  tetap masih bisa memberikan dukungan terhadap apa yang jadi keputusan saya, sebab sebelumnya saya sudah membicarakan maksud dan tujuan dari apa yang ingin saya lakukan kepada mereka berbicara dari hati ke hati. Tidak mudah meluluhkan hati orang tua, tapi jika didasari niat yang baik apa pun yang jadi kekhawatiran orang tua kemungkinan besar bisa diatasi.

Bagi saya, dukungan, motivasi dan rasa kasih sayang dari orang tua itu lebih berharga daripada orang tua hanya memberikan kebutuhan materi tapi samasekali kurang memperhatikan psikologi anak-anaknya.

“Berapa jumlah anak yang stress akibat dari rasa tertekan akibat paksaan orang tua untuk jadi anak ini dan itu? “

Beberapa sumber menyatakan bahwa orang tua yang terlalu menekankan anaknya untuk jadi ini itu bisa membuat anak stress. Berikut sumber link-nya yang dapat kita baca bersama :

http://female.kompas.com/read/2012/01/30/09400587/5.Perilaku.Orangtua.yang.Bikin.Anak.Stres

http://www.tribunnews.com/kesehatan/2014/12/07/jangan-bikin-anak-stres-karena-target-orangtua

http://www.tempo.co/read/news/2012/03/20/173391560/Empat-dari-Lima-Anak-Alami-Tekanan-Batin

Aku dan Tuhan

my photo
my photo

Terimakasih Tuhan, aku buka mataku di sini aku masih merasakan aku punya nafsu

Aku masih Kau ijinkan untuk mengarungi waktu

Ada kecemasan di dalam otakku, tentang masa depan yang tak menentu

Terkadang memang kecemasan itu hanya datang dan hilang kemudian berlalu

Mencoba menghadapi saat ini dengan tegar

Dan membiarkan hanya Engkau yang tahu semua teka-teki hidupku

Yang ada padaku itu titipan-Mu