Sayangi dan Lindungi Perempuan

Perempuan/ Dokpri
Perempuan/ Dokpri

Kesan menjadi wanita akan lebih feminim atau keibuan apabila ia sudah melewati jembatan perkawinan. Dimana aura kewanitaannya akan mulai terpancar dengan segala kemungkinannya dapat mengandung dan mempunyai buah hati. Hanya wanita yang bisa membuahi janin bayi, hanya wanita yang bisa mengeluarkan ASI untuk disusukan bayi. Wanita-wanita seperti pada gambar di atas terlihat masih seger-seger. Mereka masih ranum  menjadi seorang ibu.

Sampai saat ini, berdasarkan pengamatan pribadi saya sendiri, apa yang pernah saya dengar dari beberapa curhatan teman yang sudah menikah dengan suka-dukanya, yang masih membayangi hati dan pikiran otak saya justru tepat pada beberapa diantara mereka yang mengalami kegagalan berumah tangga baik di usia pernikahan yang masih muda atau yang sudah sekian tahun menjalin hubungan pernikahan.

Menurut saya, kesejahteraan perempuan setelah menikah itu terletak pada keharmonisan seorang suami. Dalam berumah tangga, standar adat dan budaya di negeri kita mempercayai bahwa sebagai istri mesti patuh kepada suami. Tentunya pada hal-hal yang dibenarkan. Tapi, (maaf) bagi istri-istri yang malah tak mau patuh pada suami bisa jadi seperti filmnya “Suami-suami Takut Istri”.

Diantara isi dari buku nikah di negara kita yang berlaku, sebagai seorang istri tidak diwajibakan untuk mencari nafkah sebab kewajiban mencari nafkah adalah kewajiban suami (kalau suami mampu bekerja). Kebanyakan, pada kenyataan umumnya,  berumah tangga itu ternyata tanggung jawab untuk memenuhi  kebutuhan hidupnya malah semakin bertambah dan terus bertambah seiring dengan perkembangan usia anaknya.

Bagi yang sudah punya pekerjaan dan pendapatan yang mapan mungkin tak menjadi masalah. Namun, biasanya pasangan yang sudah berumah tangga yang kurang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dengan baik akan cenderung suka melakukan percek-cokan dan kesalahpahaman dalam berumah tangga!

Melihat realita sosial hubungan rumah tangga yang dilanda  konflik dengan permasalahan yang berbeda-beda, menurut saya peran seorang suami sangat berpengaruh besar sekali terhadap kedamaian rumah tangga. Sebenarnya permasalahan ekonomi bisa diatasi dengan sebaik-baiknya tanpa perlu adanya sebuah pertengkaran dalam rumah tangga apabila antara seorang suami dan istrinya bisa menjalin hubungan komunikasi yang baik.

Komunikasi yang baik di sini tentunya tercipta dibarengi dengan perasaan saling menghormati diantara keduanya. Menyelesaikan persoalan dengan jalan musyawarah, menutupi kekurangan pasangan dengan kelebihan masing-masing dan saling pengertian.

Tidak ada yang enak jika jalinan rumah tangga sering berada pada jauhnya keharmonisan. Bagi yang sudah tidak betah dengan sikon yang ada mungkin jalan satu-satunya yang dipilih yaitu bercerai. Dan bagi seorang istri yang mau bertahan walau dipersulit oleh suami, mungkin bertahannya demi status anak-anak  agar nasib mereka masih diakui punya seorang ayah yang sah, dsb. Sungguh sangat memprihatinkan.

Diantara para wanita yang sudah punya anak dan bercerai dengan suaminya. Saya kadang berpikir, kenapa ya sebelum menikah mereka sepertinya baikan. Dan kalau pas saya kebetulan mendengar tetangga saya ngambek-ngambekan dengan masalah rumah tangganya hingga mungkin salah satu diantaranya ada yang menjelek-jelekkan atau mungkin hingga sampai ringan tangan, kenapa juga baru sekarang? Kalau mungkin ada yang mengaku sangat benci sama pasangannya, kenapa kebencian itu hadir setelah mereka sudah punya anak.

Tak satu atau dua wanita yang sudah menjadi  seorang  istri mengeluhkan telah menyesal memilih suaminya sendiri dengan bilang begini : “Dulunya mah suami saya nggak gitu orangnya (dulu sangat baik)…”

Imej sebagai wanita yang dilekatkan dengan kewajiban untuk mematuhi kebijakan suaminya, hendaknya suami jangan buat satu hal ini sebagai permainan. Ya, sekiranya benar istri harus menurut sama suami. Tapi, suami tak boleh seenaknya sendiri main serong kanan-kiri, main judi, mabuk dan merendahkan harkat martabat istri.

Jujur, saya sangat benci sekali jika melihat seorang suami yang melecehkan istrinya sendiri. Hal ini dapat terlihat jelas bagaimana cara dan gaya bicaranya terhadap istrinya sendiri. Saya sangat benci melihat seorang suami yang tega main ringan tangan menganiaya istrinya sendiri.

Apalagi, kodrat seorang wanita yang lebih sensitif dengan perasaanya, biasanya wanita akan mudah menangis dan bersabar saja dalam menghadapi keadaan yang kurang menguntungkan bagi mereka yang mendapatkan  perlakuan kurang baik oleh suaminya .

Keluarga yang tidak bahagia, kita sudah biasa menyebutnya dengan istilah broken home, dan anak-anak korban broken home lebih mudah mengalami gangguan jiwa daripada yang bukan broken home. Hati anak selalu mengatakan bahwa kerukunan antara ayah dan ibunya adalah bagian dari kebahagiaannya. Kedamaian dan kasih sayang dari ayah dan ibunya adalah semangatnya dalam menimba ilmu dan berpengaruh besar pada prestasi di sekolahnya.

Iklan

9 pemikiran pada “Sayangi dan Lindungi Perempuan

  1. Hmm, dulu saya pernah dengar kalau sifat asli itu justru baru terlihat setelah menikah dan punya anak, sewaktu pacaran adanya yang baik-baik saja. Sepertinya itu ada benarnya, ya. Semoga semua orang bisa jujur dalam status hubungan apapun :)).

  2. pernikahan itu menurut saya juga seperti sebuah perjalanan panjang… kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi di depan, i.e jalan mulus, berlubang, jurang dsb… tapi memang penting banget sih untuk menemukan pasangan yang tidak egois dan saling memahami satu sama lain (baik perempuan maupun laki-laki ), sehingga bersama-sama tetap bisa melanjutkan perjalanan bersama…

  3. saya sering heran dgn para perempuan yang di kasari suami,apa ketika pacaran tidak pernah terlihat ya tanda2 kalau suami kita ini punya sifat senang melakukan kekerasan, biasanya kalau pacaran agak lama kemungkinan kelihatan sifat asli suami, walaupun memang benar sih sifat manusia memang bisa berubah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s