Women In You, Gathering with Dewi ‘Dee’ Lestari

Dewi ‘Dee’ Lestari– selain dikenal sebagai penulis, Dee juga dikenal sebagai penyanyi. Berkat keberadaan Komunitas dari Perempuan, saya sangat senang bisa bergabung mengikuti sebuah acara spesial dalam menyambut Hari Kartini tahun ini. Tepat tanggal 18 April 2015, di The Flavor Bliss Alam Sutra, yang letaknya di seberang Mall Livingworld Alam Sutera Tangerang sebuah acara Gathering with Dewi Lestari diadakan dengan tema “Women In You”.

Bunda Elisa, Dewi Dee, dan moderator/ Dok : Bunda Elisa Koraag
Bunda Elisa, Dewi Dee, dan moderator/ Dok : Bunda Elisa Koraag

Jam dua belas saya sampai di tempat acara. Kemudian, setelah dilakukan pembukaan acara jam satu, Dewi Dee langsung naik ke atas panggung siap-siap membagi inspirasi kepada kita yang hadir. Oiya, selain dari Komunitas  dari Perempuan, telah hadir pula Komunitas PEDAS dan komunitas lainnya.Tamu yang hadir lumayan banyak dan sangat seru. Selain emak-emak (ada yang bawa anak dan bawa suami, ha ha ha colek Pak Belalang),  ada juga beberapa tamu yang masih single (calon emak-emak kece).

Dari pertama kali melihat Dee jalan menuju panggung, langsung timbulah rasa antusias pada diri saya. Mata saya lebih fokus untuk Dewi Dee, dan menyimak apa saja yang disampaikan.

Dalam obrolannya di atas panggung acara, Dewi Dee mengaku bahwa sejak ia masih kecil ia punya hobi menyannyi. Baginya, menyanyi itu sesuatu yang mengalir alami saja dalam hidupnya. Dikenal sebagai penyayi  bermula dari keaktifannya menjadi backing vocal di sekolahannya, sekitar tahun 1993-1995 kala itu. Sewaktu ia masih berumur 17 tahun, suatu hari di sekolahnya ia ketahuan nggak ikut P4, dimana sebenarnya ia punya tugas untuk ikutan jadi backing vocal tersebut. Eh karena sengaja ngumpet dari tugas sekolah, tapi Dewi Dee malah ditawar ikutan backing vocal sebuah band. Hingga berlangsung  selama dua tahun yaitu sekitar 1993-1995. Nah, dari sinilah dunia menyanyinya mulai merambah naik.

Dalam dunia kepenulisan, Dewi Dee mengaku nggak ngeh bisa jadi penulis seperti saat ini. Kisah bermula dari kelas 5 SD, yang mana dulu ia pernah berkhayal membayangkan bagaimana rasanya sih seandainya di sebuah toko buku itu ada karya tulisannya sendiri?

Kemudian setelah itu, Dewi Dee sengaja membeli buku kosong dan ia pun mulai menulisi penuh buku tersebut.  ? Dalam hatinya  mengatakan, “Begini ya kalau punya buku sendiri dan rasanya mungkin hebat jika saya bisa punya buku karya sendiri!”.

Seiring berjalannya waktu, Dewi Dee menulis dan terus menulis. Ia sempat juga mengirim tulisan-tulisannya ke beberapa redaksi. Sayangnya selalu ditolak dan itu membuat ia menjadi kurang percaya diri terhadap tulisannya sendiri.

Sebab nggak nembus-nembus ke redaksi, Dewi Dee tak mau ambil pusing untuk mencoba terus menulis.  Tahun 2000 Dewi Dee berniat untuk membukukan manuscript tulisannya Supernova menjadi sebuah novel sebagai  hadiah istimewa diusianya yang ke-25. Teman-teman Dewi Dee menyarankan sebaiknya ia  membukukan karyanya sendiri  daripada lewat percetakan penerbit agar lebih cepat jadi, alasannya. Akhirnya, proses pengeditan tulisan dan percetakan itu pun selesai dalam jangka waktu Bulan Januari – September saja. Nggak tanggung-tanggung Dewi Dee langsung mencetak bukunya sebanyak 5000 ekslempar!

Sayangnya hasil dari percetakan tak sesuai dengan yang diharapkan sebab dalam isi cerita novelnya ada beberapa yang mengalami perubahan alur cerita, atau dapat dibilang terjadi perubahan penempatan tulisan. Sehingga ia pun menahan pemasarannya terlebih dahulu. Dewi Dee adalah sosok yang perfectsionis, sehingga ia mengedit dan mencetak ulang novel yang sudah jadi tersebut, sebanyak 2000 ekslempar!

Jadi jumlah total semua bukunya yang dicetak sebanyak 7000 ekslempar dan sesudah itu, ia baru memasarkan ke publik. Sungguh GILA dan NEKAT, padahal pada masa itu buku bestseller pada umumnya dalam setahun hanya akan terjual sejumlah 3000 ekslempar saja. Bayangkan, bagaimana mungkin novel Dewi Dee terjual 7000 ekslempar dalam jangka waktu 14 hari?

Dewi Dee saat itu baru tahu kalau dalam jangka waktu 3 bulan, uang dari hasil penjualan bukunya akan cair. Karena kehabisan uang dan stock buku tak ada dan ia mesti mencetak buku lagi hingga akhirnya ia pun rela meminjam uang dulu demi memenuhi permintaan toko buku.

Ia mengatakan mimpinya yang jadi kenyataan itu adalah sebuah jawaban dari khayalannya sewaktu ia di bangku kelas 5 SD dulu. Berkat kekukuhan dan konsistennya dalam menulis, pada akhirnya pun ia mampu mewujudkan mimpinya jadi kenyataan!

Dalam sesi tanya jawab dengan tamu yang hadir pada acara tersebut, ia menambahkan bahwa untuk mengatasi rasa jenuh atau bosan menulis, maka yang ia lakukan selama ini dengan membuat target kapan seharusnya ia selesai menulis. Bicara soal target, seolah kita jadi membayangkan kalau tulisan kita itu ada yang menunggu, atau ada batas waktu sebagai contoh misalnya kalau kita ikutan lomba, ibarat kita sedang dikejar DL. Dengan begitu akan lahirlah sebuah kedisiplinan menulis pada diri kita. Menulis harus konsisten dan ada ruang waktu yang cukup.

Mengenai buku-buku yang disukai Dewi Dee, ia sangat suka terhadap buku apa saja yang menjadi keiingintahuannya. Mulai dari buku-buku non-fiksi, filsafat, hingga scince. Dan untuk senantiasa menyegarkan pikirannya sendiri, Dewi Dee lebih suka baca puisi. Selain simple puisi juga punya kandungan bahasa yang berkesan, katanya.

Perahu kertas merupakan salah satu hasil karya novel Dewi Dee yang pembuatannya sangat unik, temanya tentang dunia mahasiwa jadi ceritanya ia sengaja  menyewa kosan putri di Bogor yang cukup makan waktu 20 menit dari rumahnya, hanya demi mendapatkan feel-nya sewaktu ia masih sebagai anak mahasiswa dulu. Dimana saat itu ia sudah 10 tahun sesudah lulus kuliah.

Dan untuk filosofi kopi misalnya, ini merupakan sebuah kisah cerita yang terinspirasi dari ketakutannya yang luar biasa terhadap kecoak! Dari sinilah ia memunculkan imajinasi bagaimana seandainya seekor kecoak bisa mencintai manusia. Sedangkan kopi, ia terinspirasi setelah ia belajar membuat roti, yang mana kala itu pengajar yang membuat roti menyarankan sebaiknya ia pakai ragi instan. Timbulah kemudian asumsi bahwa setiap makhluk hidup atau benda itu punya “story” tersendiri. Tak beda dengan sebuah kopi, seperti halnya setiap orang dari kita akan punya karakteristik tersendiri terhadap kopi. Mungkin dari kit ada yang suka kopi hanya dengan gula, atau kopi gula ditambah creamer, dsb.

Untuk riset menulis, Dewi Dee biasa melakukan empat cara, diantaranya yaitu melalui searching-nya di Daftar Pustaka, melalui internet, wawancara dan langsung datang ke TKP.

Menurut Dewi Dee, menulis adalah sebuah karya, dengan proses yang terus menerus supaya bisa tergali seberapa jauh kemampuan menulis kita, lebih bagus lagi jika tulisan kita punyai nilai manfaat yang dapat dibagikan kepada orang lain. Dan pada akhirnya tulisan akan kembali kepada diri kita sendiri.

Women in You– Dewi Dee bilang, menjadi perempuan harus siap untuk menahan rasa sakit 9 x dari pria! Perempuan sebagai ibu rumah tangga punya multi peran diantaranya, harus bisa mengurus apa yang ada di rumah tangganya,  mempertahankan eksistensi diri, ibarat kalau main tangkap bola, bolanya yang harus ditangkap berjumlah banyak dan nggak boleh jatuh. Hadew.

Menjadi perempuan bukan sekedar punya rambut panjang saja, tapi kualitas dari diri perempuan itu sendiri. Kata dari Women in You, sama dengan kekuatan perempuan yang ada dari dalam! Arti kekuatan terdapat pada perempuan, tak harus kuat menjadi pendidik yang keras. Melainkan bisa dengan kelembutan. Ia sangat salut dan kagum akan sosok ibunya sendiri terhadap penampilannya yang sederhana tapi selalu enak dipandang mata juga bagaimana ibunya bisa memberikan kasih sayang yang baik. Bukan rahasia lagi kalau perempuan itu biasanya suka capek pikiran, beruntung kebanyak perempuan suka ngobrol, dan itu lah penyeimbangnya (atau bisa dibilang capek pikiran dan cerewet itulah yang menyehatkannya).

Sedikit trik dan tips menjalin hubungan dengan pasangan, Dewi Dee menganggap pasangan adalah partner kita! Untuk menjaga mitra yang baik dengannya maka yang harus dijaga ialah sebuah “Komunikasi yang baik”.

Sebelum ngobrol bareng dengan Dewi Dee berakhir, sempat juga Bunda Elisa Koraag sebagai perwakilah Komunitas PEDAS tampil di depan berbagi kisah inspirasi. Cukup menarik juga. Sesudah itu acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Lalu diisi dengan pembacaan puisi dari komunitas PEDAS.

Komunitas pedas ikut menyemarakkan acara dengan membacakan puisi untuk perempuan/ Dok : Mbak Dian Anthie
Komunitas PEDAS ikut menyemarakkan acara dengan membacakan puisi untuk perempuan/ Dok : Mbak Dian Anthie

Kemudian ada kuis lumayan kocak yaitu fashion show bagi peserta yang merelakan diri untuk maju ke depan!

 Acara kemudian masih dilanjutkan dengan adanya performace dari Dewi Dee yang dimulai pukul  tujuh malam. Bener-bener seru deh acaranya, saya nggak nyesel bisa ikutan acara ini….

Performance Dewi Dee
Performance Dewi Dee/ Dok : Mbak Dian Anthie

Iklan

10 thoughts on “Women In You, Gathering with Dewi ‘Dee’ Lestari

  1. Woow, acaranya lengkap dan menarik serta inspiratif sekali. Kita mesti belajar untuk bisa dapat ilmunya Mbak Dee ini, Mbak, dengan tetap konsisten menulis, sedikit demi sedikit :)). Bisa ketemu langsung itu pasti rasanya senang sekali ya Mbak :)). Terima kasih sudah berbagi.

  2. Eits, ada colekan sampe ke Bogor, hehe. Asyik memang ketemu Dee dan menimba ilmu dari doski. Walaupun acara sepertinya kurang oke karena peserta ga dikasih rundown acara. Yang paling seneng justru ketemu teman2 blogger yang selama ini cuma bertegur sapa lewat blog. Ada Uni Evi, Utami, Melly, Mbak Lidya, Orin, Bunda Yati, dll….. Apalagi pake makan2 di Tebet 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s