Daddy, I Miss You…

Selamat pagi ayahku yang baik, mengingat siapa tentangmu membuatku menghela nafas lebih dalam. Menjadikan dadaku sedikit sesak terasa. Banyak kenangan yang terjadi diantara kita berdua. Detik ini aku sengaja ingin memanggilmu dari dalam hati, Aku harap engkau mendengarnya sekalipun akan terdengar halus dan samar-samar.
Ayah yang jauh di sana tanpa keberadaanku. Bagaimana kabarmu hari ini, yah? Sudah kau katakan kepada ibu belum, waktu tadi sebelum bekerja tentang badanmu yang mulai merapuh? Dan pagi ini, apakah kau mau menyentuh sajian dari ibu yang lebih sering kulihat hanya ada segelas teh panas kurang manis dan sepiring nasi berlauk sederhana? Berapa buah lagu yang sudah kau nyanyikan di pagi ini, yah? Adakah di tengah lagu-lagu yang kau nyanyikan itu terselipkan siul-siulmu tanda bahwa di pagi ini kau cukup bahagia dengan hidup yang kau punya? Ku yakin, sebelum kau buka sepasang matamu tadi, kau sadar jika aku masih berada di tempat yang jauh. Tempat di mana tidak mungkin sanggup kau jamah .
Biarpun begitu, kuharap ayah tidak banyak mengkhawatirkan keadaanku. Aku di sini baik-baik saja Ayah. Aku bisa menjaga diriku dengan sebaik mungkin. Cukup sekiranya aku sering berbuat salah padamu. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah, bagaimana bisa membahagiakanmu. Supaya harapan berada di sisimu saat kau lemah tak berdaya dapat terwujud. Jangan berpikir aku pergi jauh sebab aku tidak menyayangimu, tetapi memang ada alasan tersendiri dari lubuk hatiku.
Aku tidak tega menyaksikan kehidupanmu sehari-hari bila dengan keadaan yang sama seperti itu, ayah. Sudah kau berikan yang terbaik semampumu, sepenuh jiwa dan ragamu. Semuanya itu kau lakukan dengan tulus. Aku tau itu, karena aku sadar bahwa hidup itu ada rumusnya, maka aku mengambil jalan yang kupilih sendiri. Aku pergi meninggalkanmu dalam waktu yang cukup lama untuk kau nanti. Dengan satu harapan: nasib kita bisa berubah lebih baik. Sebelum kukatakan selamat tinggal padamu, dalam hatiku siap untuk menderita, ayah. Menghadapi tantangan demi tantangan. Kau pun mengatakan sendiri kalau keadaanku ibarat telur berada di ujung tanduk.
Ayah…, aku merindukanmu. Air mataku terus menetes karena aku benar-benar rindu. Aku ingin ayah sekarang ada di depanku. Akan kugenggam hangat jemarimu dan kucium tanganmu, memelukmu sampai rindu ini terlepas.
Ayah, nasehatilah aku 1000 kali lagi, ceritakanlah masa lalumu dulu kepadaku . Agar di saat-saat seperti ini ada yang menghiasi hatiku yang sendiri. Apakah hati nuranimu sedetak dengan hatiku waktu ini, ayah? Aku yang sebenarnya ingin selalu mengetahui roman mukamu, dan bagaimana roman muka yang kau pancarkan, itulah wajah hati yang sedang kau rasa, sekalipun kau diam.
Ayah…, maafkan aku yang belum sanggup membalas baik budimu kepadaku. Jika saja kau berpesan dalam hati untukku, apa yang ingin kau sampaikan? Pasti tidak jauh dengan nasehat-nasehatmu waktu dulu. Saat kau berpesan agar aku mau menjaga baik-baik jati diriku, ingat Tuhan dan belajar ikhlas menjalani apapun yang ada. Aku tahu ayah menaruh kepercayaan besar padaku, dan aku sangat senang dan bangga mendapat kepercayaan itu.
Karena dia aku belajar karate, mempunyai hobi menyanyi, mendengarkan musik, mau belajar disiplin, belajar mengaji, mempunyai mimpi menjadi orang yang berhasil dan percaya diri. Hampir semua yang kulakukan semata-mata untuk mendapat pujian dari ayah, aku bersemangat. Dan satu hal yang paling ayah suka adalah aku pandai memijitnya, beda sekali dengan kakak dan adikku yang tak begitu peduli.
Kenangan di masa lalu kita memang banyak. Karena pikiran kita yang searah. Dalam ingatanku, masih terbayang jelas ayahku berkelahi di dalam bis, waktu kita akan ke rumah saudara di Sukabumi. Jelas ayah marah, karena merasa tidak terima dengan lawannya. Aku lupa apa masalahnya, karena pertengkaran tidak cukup,  kusaksikan ayah berkelahi. Bagaimana aku merasa malu terhadap orang-orang di dalam bis itu. Yang paling banyak ada dipikiranku hanya rasa takut. Digendongnya aku diatas bahu kirinya. aku saat itu baru berumur enam tahun. Kupakai sebuah gaun berwarna oranye dan sandal hitam.Orang yang berkelahi dengan ayah kalah, dan sebelum pergi dia hanya berkata minta maaf.
Sepulang dari acara resepsi saudara, aku dan ayah pulang dengan mengendarai sepeda. Dalam hati, dengan sepeda aku lebih bebas memandangi indahnya pemandangan di Gunung Telomoyo itu. Aku tahu alasan kenapa ayah ngebut, mempercepat lagi dan lagi kelajuannya. Yaitu hanya untuk mengejar keponakan ayah yang berumur 25 tahunan. Sudah kunasehati kalau ayahku sebaiknya pelan-pelan saja karena kita tidak terburu-buru pulang. Tetapi ayah diam tak menjawab. Sampai akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan.
Sepasang mata ayah sadar jika di depan adalah keponakannya yang sedang menabrak anak berseragam SMA, dan karena kecepatan laju sepeda tadi masih tinggi dengan jarak dua meter, tidak ada daya ayah untuk mengerem atau berfikir untuk mengarahkan sepedanya kearah yang lain. Tak dapat dihindari kalau kita tabrak menabrak. Tiga detik sebelum aku terjatuh, dalam hati aku ucapkan selamat tinggal untuk ayah. Iya, sebab bisa jadi aku jatuh mati.
Ayahku sengaja jatuh dengan mengarahkan badannya searah dengan badanku, hingga akhirnya aku jatuh di punggung ayah, bukan di aspal yang keras. Syukur, muka ini utuh terselamatkan. Anehnya, ayah menyuruh keponakannya pulang lebih dulu dan dia bilang kalau urusan itu akan dihadapinya sendiri tanpa basa-basi. Sesampai di rumah, ayah senang melihat aku tidak apa-apa. Dan ia mengatakan sengaja menggerakan badannya dengan caranya sendiri untuk melindungi keselamatanku. Rasa tanggung jawab ayah memang besar sekali.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s