Sahabat Lebih Peduli daripada Teman

 “Teman, apa yang terjadi padamu? Kita sudah berteman sejak SMP, sampai SMA pun kita satu sekolah. Dulu kau yang begitu lugu, berbeda dengan aku yang nakal. Tapi kenapa sekarang kau berubah 180 derajad? Aku sungguh tak suka melihatmu memasang foto tak seronoh dan statusmu seperti orang frustasi. Senakal-nakalnya aku dulu aku masih dalam koridor etika. Aku tulis ini karena ku sayang padamu. Maaf jika ku menyinggung perasaanmu. Kewajibanku sebagai sahabatmu. Tulisan ini akan ku kirim ke inboxmu … ku tak ingin kau berjalan terlalu jauh di jalur yang kau tempuh sekarang”.

Tadi malam saya sempat berulang-ulang membaca pesan tersebut, tanpa sanggup menahan air mata saya untuk terus meleleh. Kurang lebih sudah lima tahun kami tak bertemu. Tapi melihat pesan itu, saya merasakan ada orang yang masih peduli dengan saya, masih ada orang yang member sayang kepada saya dan  dari pesan itu pula, terkias masih ada keiinginan untuk  menjaga sebuah persahabatan yang sudah terjalin.

Pesan itu saya terima dari salah satu teman perempuan saya, sekitar satu tahun yang lalu, yang mana sebelumnya kami pernah bersahabatan  selama 6 tahun. Kami saling mengenal baik, dari kelas satu sampai kelas tiga SMP kami selalu berada di kelas yang sama. Pernah duduk sebangku setahun di kelas tiganya, sering bermain bersama, bertukar pikiran mengerjakan tugas belajar dan tertawa bersama. Bahkan kami sempat mendaftar satu sekolahan yang sama pula di SMA dulu. Dia mengenal saya, dan saya pun mengenal dia dengan baik.

Namanya juga sudah sahabat, mau jarang komunikasi atau bahkan lama nggak ketemu pun kalau keterikatan batin masih kuat dan ada, sekiranya rasa peduli itu masih ada. Adat orang Indonesia berpakaian tanpa lengan dan memakai celana atau rok diatas lutut memang masih dinilai kurang baik. Terlepas niatnya untuk bergaya atau disengaja. Kala itu sewaktu saya masih ada di HK yang nota bene pada hari libur kerja adalah hari kebebasan, bebas mau nyamar jadi laki-laki, bebas mau jadi santri, bebas mau jadi apa saja deh. Jauh hari, sebelum saya membiasakan diri memakai jilbab sempat saya pun terpengaruh teman dekat saya untuk berpakaian vulgar.

Seperti biasa, kebiasaan kita kalau pas libur dan bersenang-senang itu selfie. Merasa potonya cantik (menurut diri sendiri), lalu diunggahlah kemudian di FB. Jadilah sahabat saya mengirimkan pesan untuk saya tersebut. Saya juga masih ingat, mendapatkan teguran dari sahabat yang juga pernah jadi satu sama saya selama tiga tahun. Kedekatannya lebih intens sebab kami pernah tinggal sekosan selama satu tahun. Dia bilang begini ; “Kalau diibaratkan kacang, kamu mau memilih kacang yang masih ada kulitnya atau yang sudah dibuka ?”. Kala itu saya kurang merasakan teguran menyengat ini. Sebab bagi saya, penampilan berbusana yang menurut  sahabat  saya dirasa kurang baik, itu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan penampilan teman-teman yang lebih berani lainnya.

Sedikit sebagai perenungan hari ini, memang busana bukanlah symbol satu-satunya yang menandakan seseorang itu baik atau tidak hatinya. Akan tetapi, adat negeri ini tetap menilai bahwa berpakaian yang sopan adalah lebih baik daripada yang membuat  mata silau. Dan lagi yang lebih penting bagi saya, sebuah rasa dari seorang sahabat dalam jangka panjang pasti akan berbeda dengan rasa seorang teman, sekalipun keduanya saling sama-sama mengenal kita.

Oiya, ada juga ya kita mendengar sahabat yang berkhianat? Bagaimana pun juga, sahabat sejati tetap akan mempertahankan silaturahmi daripada untuk keegoisan dan kepentingan pribadi.

Iklan
Dikirimkan di Muda

4 pemikiran pada “Sahabat Lebih Peduli daripada Teman

  1. Saya rasa pantas untuk bersyukur karena masih ada yang peduli. Yang lebih buruk adalah kalau tidak ada siapa pun yang mau peduli :hehe.
    Paling tidak saran si teman sekarang sudah dilaksanakan, kan? :hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s