Bunda Pipiet Senjaaa…

Kiprah Pipiet Senja mulai aktif dalam kepenulisan, sastra dan seni dimulainya sejak ia berusia 17 tahun…

“Menjadi seorang pengarang itu menyenangkan. Bukan Cuma mengkhayal. Tentu lebih sekedar itu…”, demikianlah gumam Pipiet Senja  kepada Bu Zaidar, salah satu gurunya di SMP. Sejak itu mimpinya ingin menjadi Kowad (seorang prajurit)  dan bukan menjadi pengarang, menurutnya Kowad  itu sangat keren sekalipun sejak di bangku SMP kondisi tubuhnya harus rajin ditransfusi darah akibat chirosis hepatitis, dengan semangat ia yakin penyakitnya bisa sembuh dan tak ada alasan untuk menjadi Kowad.

Kondisi kesehatannya yang kurang baik, pernah membuat Pipiet Senja keluar sekolah, dan itu membuatnya sangat sedih, sebab keiinginan belajarnya sangat tinggi.

Selanjutnya, ketika asa dan mimpinya mulai bergairah kembali Pipiet Senja punya kegemaran baru, diantaranya yaitu: berkorespondensi, mengunjungi perpustakaan, menyimak dunia remaja di radio, mengisi acara-acara remaja di radio dengan lagu dan puisi, drama radio, artikel sastra, pelangi budaya dsb. Sebelum nama penanya bernamakan Pipiet Senja, ia punya nama pena “Tauresita”, diambil dari bintangnya yaitu Taurus.

Pada tahun 1975 nama Pipiet Senja mulai berkibar di radio-radio swasta kota kembang. Dan dalam kondisi kesehatannya yang harus keluar masuk di rumah sakit untuk melakukan tranfusi darah sama sekali tak menyurutkan semangatnya untuk mengirimkan puisi-puisinya ke berbagai media cetak. Karya pertamakalinya sempat dimuat oleh Majalah Aktuil terbitan Bandung. Perpuisi dihargai 1.500 rupiah. Mendadak Pipiet Senja dihujani surat dari pelosok Indonesia yang membuatnya lebih bersemangat lagi untuk menulis,menulis dan terus menulis….

Setelah itu setahun berikutnya, Pipiet Senja mulai menulis cerpen. Tak ada hambatan, karyanya langsung dimuat di harian lokal seperti  Gala, Bandung Pos, Pikiran Rakyat, atau Mandala. Honor cerpen kala itu berkisar 7.500- 12.500 rupiah. Cukup lumayan untuk bisa membiayai tranfusi darahnya.

Sebelum Pipiet Senja punya mesin ketik sendiri, ia sering numpang di kantor RW di Bale Desa untuk mengetik , itu ia lakukan setiap kali karyawan di kantor Bale itu sudah pulang. Dan di bulan Mei 1977, barulah ia punya mesin ketik  dari pemberian adiknya En yang dinamainya dengan sebutan “Denok” sebagai hadiah ultahnya. Sejak punya mesin ketik sendiri, produktivitas menulisya semakin tinggi. Karyanya mulai merambah ke harian-harian dan majalah terbitan Ibu Kota, Surabaya, Ujung Pandang, Medan, dan Padang. Semangat yang menggebu dalam menulis ini sebenarnya lebih banyak karena desakan untuk bisa memenuhi ketergantungannya akan tranfusi darah, sehingga ketika ada cibiran dari luar sama sekali tak menyurutkan semangat Pipiet Senja untuk terus berkarya.

Azyumardi Azra, merupakan seorang editor yang pertama kali menyemangati Pipiet Senja untuk menulis novel berisikan nilai-nilai islami. Sedangkan pesan dari Ayah Pipiet Senja sendiri, yang sampai saat ini dijadikan sebagai pegangan dalam dunia kepenulisan, bahkan hingga puluhan tahun kemudian  yaitu demikian; “Biasakan dirimu dengan kritikan-kritikan begitu. Jangan dibikin sakit hati. Sebaliknya kamu harus senang. Karena itu berarti karyamu dilirik orang. Percayalah, kritikan itu akan membuatmu semakin selektif untuk menulis yang lebih baik”.

Pipiet Senja saat sehat dan punya waktu senggang kala itu, selalu berusaha keras meningkatkan pengetahuannya, wawasannya tentang dunia sastra, dan budaya secara autodidak, ia mulai bersosialisasi, bergaul dengan komunitas sesama penulis. Kemudian bergabunglah ia dengan YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) di Jalan Naripan Bandung. Dari sini ia mulai ketemu langsung dengan para seniman. Dalam acara YPK yang diselenggarakan, sering mengundang nara sumber seperti  Saini K.M, Jakob Sumardjo, Wilson Nadaek, Remy Syldo, Otih Rostoyati dll.

Diusianya ke-19 Pipiet Senja, ia berhasil menerbitkan novel untuk pertama kalinya dengan judul “Biru yang Biru”. Honornya seratus ribu rupiah melebihi gaji ayahnya yang saat itu bekerja sebagai seorang Pamen.

“Kamu punya talenta luar biasa, Pipiet Senja, rekam terus jejak sejarahmu itu. Satu hari nanti, kamu akan merasakan sendiri nikmatnya menjadi seorang penulis”, ucap Titie Said usai mewawancarai  Pipiet  Senja untuk Majalah Kartini.

Sebab uangnya untuk tranfusi darah sengaja diulur-ulur untuk kebutuhan yang lain, Pipiet Senja terbiasa menyembunyikan rasa sakitnya dari kekurangan darah. Setiap kali rasa sakit mendera di sekujur tubuhnya, yang ia lakukan dengan mensugesti diri sendiri; “aku sehat wal afiat!”

Pipiet Senja mulai menulis sejak usianya 17 tahun dengan memoar pertamanya berjudul “ Sepotong Hati di Sudut Kamar”. Dua kata motivasi dari Pipiet Senja mana kala dihadapkan dengan permasalahan, ia senantiasa berpikiran positif. Keyakinan hatinya mengatakan demikian, “Kita yang berencana, tetapi Sang Pencipta yang menggariskan takdir kita. Kehidupan terus berlanjut, life must go on! Dan satu lagi, semangatnya dalam setiap kali ia mengirimkan karyanya ke redaksi yaitu ia selalu menyelipkan dengan berbekal keyakinan akan kemurahan Allah swt, ditambah mental badak sehingga tak heran naskah-naskah yang dikirim ke redaksi dapat diterima dan bisa menghasilkan uang.

Pada suatu event tahun 1979 yaitu tepatnya pada sebuah acara Temu Sastrawan Nusantara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saat inilah ia pertama kali bisa bertemu dengan para seniman bernama Sutan Takdir Alisjahbana, Subagio Sastrowardoyo, Ajip Rosidi, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, Titis Basino, Th. Prihatimi, Astrid Susanto, Rayani Sriwidodo,  Ebiet G. Ade yang bermimpi jadi penyair tapi malah jadi penyanyi, dan banyak lagi sastrawan senior yang karyanya sudah ia kenal sebelumnya. Saat ini pula, Pipiet Senja berkenalan dengan seorang pemuda Tapanuli bermarga Siregar yang kemudian hari menjadi pasangan hidupnya.

Bagaimanakah kisah cinta Pipiet Senja dengan pemuda itu selanjutnya? Dan bagaimanakah perjuangan jiwa dan raga seorang Pipiet  Senja untuk bertahan dalam liku-liku kehidupannya, sehingga walaupun keadaannya selalu dihadapkan dengan berbagai macam masalah kehidupan sedikitpun tak menyurutkan ia untuk terus menulis dan terus berkarya hingga tulisan-tulisannya berjumlah ratusan lebih? Dengan menulis, putra pertama Pipiet Senja telah menjadi Master IT, manager disebuah perusahaan teknologi bonafide dan putri keduanya berhasil menjadi sarjana hukum yang sudah menjadi seorang pengacara hebat! Dengan menulis, ia bisa menunaikan ibadah haji di Mekkah. Berkeliling dunia untuk menjadi motivator dalam bidang kepenulisan di pelosok manca negara dan pelosok negeri ini…

Dalam novelnya yang berjudul “ Dalam Semesta Cinta “ jawaban dari pertanyaan- pertanyaan di atas tersebut terjawab. Secara pribadi, isi dari novel ini menginspirasi saya semakin yakin bahwa hanya Allah sebaik-baiknya penolong hidup saya. Pipiet Senja telah membuktikan keistiqomahan hatinya, menjalani hari-harinya yang sulit dengan keikhlasan, kesabaran dan penuh tawakal kepada Allah dalam setiap kata-katanya yang terangkai dengan santun, itu penuh makna. Dan yang tidak kalah pentingnya, untuk menjadi seorang penulis yang hebat dibutuhkan perjuangan yang hebat seperti yang sudah Bunda Pipiet Senja perjuangkan selama ini…

Salam hebatku teruntuk Bunda Pipiet Senja, mudah-mudahan beliau selalu dalam perlindungan-Nya…

Amin.

Iklan

5 thoughts on “Bunda Pipiet Senjaaa…

  1. Inspiratif sekali ya. Keterbatasan dan kekurangan tidak menjadi halangan untuk bisa berprestasi. Bunda Pipiet Senja saja bisa, apa alasan kita sampai bilang tidak bisa? :hehe.

  2. Inspirational story about chasing your dreams. There are many challenges to going after our passion, sometimes they are out of our control…but miracles happen sometimes.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s