Bahagia yang sudah saya temukan….

Kebahagiaan

Ialah suatu keadaan dimana seseorang dalam keadaan senang, bahagia karena suka-cita. Jika saya mengingat-ingat kembali kapan saya bisa merasakan benar-benar bahagia, jawabannya yaitu setelah saya melewati hari ke-8280 lebih dalam hidup saya! Sekian lama saya berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup saya dengan berbagai cara dan macam perjuangan.

Sebelum saya mendapatkan sebuah kebahagiaan jiwa, saya sering antusias menyimak siapa saja yang suka memberikan masukan atau motivasi  kepada saya, saya paling suka mencuri-curi pikiran teman-teman saya yang saya anggap pintar, saya suka diam-diam memperhatikan gelagat orang-orang sukses yang ada di depan mata saya.

Kurang tidur untuk dihabiskan merenung, ngalamun, bahkan berimajinasi  sering saya lakukan dalam setiap harinya. Dan makan tak teratur pun, cukup lekat terjadi pada diri saya. Semuanya demi berhasilnya saya mendapatkan sebuah kebahagiaan sejati, saya sadar diri untuk mendapatkan perubahan yang signifikan dalam hidup saya, saya harus berubah, sayangnya saya kurang tahu berubah yang bagaimana sih sebenarnya?!

Pikir saya bahagia sepertinya tepat untuk orang-orang yang bebas masalah dalam hidupnya, bahagia seolah-olah untuk mereka yang punya kasih sayang dari keluarga yang utuh dan berkecukupan, kebahagiaan sekiranya keadaan yang baik-baik saja atau orang yang punya jalan hidup serba mulus…

Tapi, kebahagiaan ternyata bukan itu, sebab orang bijak berkata, “Posisi seseorang bukan terletak pada saat ia sedang dalam keadaan tenang dan damai (bahagia), tapi ketika ia dihadapkan dengan tantangan dan kontraversi…”

Orang yang merasa kurang bahagia dalam hidupnya, artinya ia punya masalah dengan jiwanya…

“Orang yang paling menderita adalah orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri. Sikap ini akan melahirkan serangkaian masalah yang tiada berujung. Semua masalah itu ada dalam diri sendiri. Jika itu dibiarkan , lambat laun ia akan menderita gangguan kejiwaan dan penyakit fisik. Karena itu Allah berfirman, (sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi yang ada pada diri mereka sendiri, Al-Ra’d : 11)

Citra diri, menghargai diri sendiri, menerima diri sendiri, mencintai diri sendiri, menghormati diri sendiri, percaya diri, kesadaran diri, dan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh diri sendiri, semua itu ada di dalam jiwa manusia, di dalam file-file akalnya dan tersimpan kuat di dalam akal bawah sadar. Penyebab penderitaan seseorang adalah dirinya sendiri melalui pikiran negatif tentang diri sendiri yang terjadi berkali-kali, kemudian diikat oleh perasaan hingga menjadi keyakinan. Setelah itu, keyakinan diulang kembali menjadi perasaan. Lalu, keyakinan diubah menjadi perasaan hingga menjadi kebiasaan yang dibawa sepanjang hidup”. (Sumber : Terapi Berpikir Positif, oleh Dr. Ibrahim Elfiky, hal 164).

Dari sini saya baru menemukan jawaban dari sebuah kebahagiaan.

Standar Kebahagiaan seseorang, standar yang mana?

Apa yang ada di dunia ini semuanya  tidak ada yang abadi. Merasa cukup atau tidaknya dengan apa yang ada pada diri kita tergantung darimana kita menerima dan mensyukuri berkat dan karunia-Nya. Jika ada orang lain yang lebih unggul dari kita, bukan tidak mungkin ada pula orang lain yang nasibnya lebih memprihatinkan daripada kita. Rejeki  setiap orang sudah punya takarannya sendiri-sendiri. Saya kira dengan posisi seperti ini, maka setiap orang dari kita pasti punya standar kebahagiaan tersendiri. Puncak kebahagiaaan saya berbeda dengan puncak kebahagiaan anda.

Tebak, sebenarnya di dunia ini siapa yang paling pantas bahagia?

Pernahkah anda melihat anak kecil yang pikirannya masih polos, pengetahuannya masih kurang, tapi ia terlihat bahagia? Apakah ia bahagia karena uang? Mereka bahagia bukan karena apa-apa, melainkan karena dari hatinya ada rasa bahagia.

Dalam keadaan sadar, kebahagiaan hanya akan ada mana kala kita sedang berpikiran positif. Dengan berpikir positif, otak mampu berpikir jernih, dan pikiran yang baik berpengaruh pada perasaan jiwa/hati.

Hidup kadang tak bersahabat, tetapkah harus bahagia?

Seringkali dari kita jika mendapati sebuah masalah, yang paling mudah kita lakukan yaitu dengan menangis, bersedih, mengeluh, marah, kecewa, kesal, benci, hilang kesadaran karena terlalu emosional. Benar?

Biar pun demikian, waktu yang terkesan hidup akan dinyatakan dengan adanya dentingan jarum jam yang terus bergerak dari detik yang satu ke detik selanjutnya tanpa henti (kecuali baterai jamnya habis).

Senja yang menghilang dengan jeda waktu kesekian akan kembali muncul.

Dan tahukah anda, sedalam apapun masalah yang ada pada diri kita dunia akan tetap indaaah…! Tanyakan dalam hati, perlukah saat mendapat masalah kita membungkamkan diri berlama-lama dan membiarkan kita tidak bahagia. Saat masalah menyapa, mantapkan diri bahwa kita pasti bisa melaluinya.

Kebahagiaan Sejati

Bersyukur. Mensyukuri atas apa yang ada pada diri kita dan apa yang ada pada hidup kita bukan perkara yang mudah! Itu terbukti selama anda dan saya masih belum bisa bahagia saat ini juga.

Dalam Aladdin Factor karya Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen dituliskan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran ini adalah pengarahnya. Jika arah yang ditentukan bersifat negative maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori kearah negatif. Sebaliknya, jika pengarahannya positif maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa, lebih baik kita berpikiran positif. Bersyukur dapat mempengaruhi pikiran positif pada otak kita. Yang kemudian akan berpengaruh pada emosi/ perasaan kita untuk merasa bahagia.

Sebagai penutupnya, inilah sedikit banyak rekam jejak saya merasa benar-benar bahagia;

Bagi saya, bahagia itu serupa dengan mimpi yang mampu saya wujudkan menjadi nyata, berhasil menjadi berkat usaha ( do’a dan kerja). Langsung saja saya cerita ya, saya benar-benar bahagia ketika saya berhasil mengalahkan teman-teman saya dalam lomba lari, saya benar-benar bahagia dengan berhasilnya saya punya peringkat satu walaupun seumur hidup hanya sekali, saya benar-benar bahagia ketika lelaki yang menjadi idola hati saya dapat saya kait, walaupun mungkin hanya sekejap dan berlalu, saya bahagia ketika semua yang saya impikan bisa menjadi kenyataan.

Lalu, jika saya masih punya keyakinan yang demikian sampai sekarang maka saya tidak akan bahagia seumur hidup. Sebab, terlalu banyak mimpi saya yang tak sanggup saya wujudkan.

Banyak dari kita punya pendapat, jika suatu saat nanti hidupnya berubah lebih baik, kita akan bahagia. Ternyata itu salah. Kebahagiaan tetap bisa dinikmati sekarang juga. Kebahagiaan tak pernah jauh dari hidup anda, dan hidup kita, sebab kebahagiaan sejati letaknya di hati.

Iklan

6 pemikiran pada “Bahagia yang sudah saya temukan….

  1. Perasaan tidak bahagia itu datang hanya ketika kita fokus pada sesuatu yang tidak kita punya. Saat fokus dialihkan, ke arah positih, ke arah kelimpahan yg kita punya, bujan hanya perasaan tak bahagia yang kenyap, Allah juga akan memperbanyak kebahagiaan itu. Begitu yang saya percayai selama ini Mbak Seneng. Moga-moga benar ya…Nice writing 🙂

  2. Bagus sekali pembahasannya Mbak. Dan saya setuju, kita bahagia kalau kita mau bahagia, tidak harus ada penyebab eksternalnya. Kita bisa bahagia sesuka hati kita. Sesederhana itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s