Pendiam : Sifat atau Gangguan Jiwa ?

Secara fisik saya merupakan sosok anak perempuan yang sehat jasmani. Tetapi, bagaimana banyak orang percaya jika sebenarnya saya merupakan salah satu orang yang mungkin mengidap gangguan kejiwaan. Masalah kejiwaan bukan sekedar menjadi gila seperti orang yang  kehilangan kesadaran pada umumnya. Tapi, gangguan jiwa yang ada pada saya lebih tepatnya yaitu saya kurang bisa merasa nyaman dengan diri saya sendiri.

Ketidaknyamanan ini timbul akibat dari pikiran saya sendiri, dimana hampir mendekati usia 24 tahun saya masih punya kebiasaan buruk lebih banyak berdiam. Sudah pasti, orang yang suka berdiam dan membatasi pergaulan dengan orang lain itu akan punya pikiran yang sesuai dengan apa yang dipikirkannya saja. Selama pikiran sadar mampu berpikir rasional secara stabil itu tidak masalah. Dan yang menjadikan masalah ialah ketika saya berdiam dalam keadaan sendiri, tanpa mau membagikan masalah dengan teman/sahabat dekat.

Pengalaman nyata dalam hidup saya, saya akui jika sejak balita saya lebih banyak menghabiskan waktu berada di rumah. Bergaul paling dengan bertemu saudara dekat rumah, bermain paling dengan kakak ponakan, sudah. Karena rasa percaya diri tak terbentuk sejak dini, saya lalu menjadi anak yang pasif dalam bergaul hingga saya berada di bangku SMA. Kegagalan saya bergaul dengan percaya diri diantara teman-teman SMA tak lepas gagalnya saya bergaul dengan teman-teman SMP atau SD dulu. Hal ini  membuat saya sungkan berangkat sekolah, dan sekolah saya lakukan demi membuang malu dari anggapan orang tua atau orang lain jika saya tidak bersekolah.

Keluar SMA, saya punya tekat untuk bisa mengubah keadaan saya sendiri. Yang tadinya pendiam, saya ingin punya kepercayaan diri untuk bergaul dengan teman lainnya. Saya saat itu mulai berubah cerewet setelah saya punya teman dekat. Dalam masa perubahan itu, saya dihadapkan dengan masalah-masalah yang rumit. Memang saya sudah tidak pendiam lagi, tapi mindset saya ketika dihadapkan dengan suatu masalah tetap saja dalam penyelesainnya saya masih menggunakan kebiasaan lama seperti saat saya pendiam dulu, yaitu dengan mengisolasisasikan diri/ memurungkan diri.

Diam, murung, memendam masalah, dan seperti terkutuki tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Itu setiap kali saya mendapati masalah. Saya sadar, cepat atau lambat saya harus berubah. Itu juga tak lepas demi kebaikan saya sendiri dan untuk masa depan yang lebih baik.

Saya selama ini belum pernah mengunjungi dokter ahli jiwa mana pun, kemudian demi bisa menghilangkan keganjalan yang ada di jiwa saya, saya paksakan diri untuk membaca banyak buku. Buku saya jadikan untuk  jalan  saya mencari obat penawar diri dari kekurangan yang ada ini. Saya mulai tertarik membaca buku yang mengulas tentang kebahagiaan, buku-buku yang berisikan kata-kata motivasi, serta buku-buku yang berbau kata stress, depresi, dan frustasi, serta bagaimana cara penanggulangannya. Dari buku-buku inilah, kesadaran dan jiwa saya hidup, rasa kehampaan, kekosongan akibat kurangnya bersosialisasi dengan teman  lain/orang lain sedikit banyak dapat terkendali..

Bukan saya sengaja masih membiarkan diri saya untuk berdiam diri, tetapi pekerjaan saat ini membatasi keiinginan saya untuk bergaul dengan orang lain lebih luas lagi.

Inti dari sedikit kisah nyata diatas bagi saya ialah, sesungguhnya betapa pentingnya bersosialisasi itu ditanamkan sejak anak masih dini. Apapun kekurangan yang ada pada anak, baik kekurangan fisik atau mental, peran orang tua untuk membentuk  anak agar punya rasa kepercayaan diri wajib ditanamkan betul-betul. Kegagalan anak bergaul/bersosialisasi pada tahun pertama akan mempengaruhi tahun-tahun berikutnya. Sebagai contoh yaitu saya. Menjadi pendiam dengan tak mampu bergaul dengan orang lain sampai umur 18 tahun itu sangat menyiksa batin saya.

Kini saya menyadari, apa yang pernah terjadi pada hidup saya tak lepas dari hasil pemikiran dan keputusan yang sudah saya ambil sebelumnya. Dan hasil pemikiran dan keputusan yang saya ambil hari ini, akan berpengaruh besar terhadap hari-hari saya kedepan atau selanjutnya. Pikiran merupakan sumber kebahagiaan dan ketidak bahagiaan, dan semuanya tergantung pada apa yang kita putuskan untuk dipikirkan. Untuk berubah, langkah pertamanya yaitu ubah pikiran sebaik-baiknya.

Dalam hidup, sudah pasti kita tak bisa hidup sendiri, kita semua butuh keberadaan/bantuan orang lain. Jadi, semestinya kita hidup ini  harus bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, bergaul, dan berinteraksi dengan orang lain.

Sedikit tulisan ini mudah-mudahan menjadikan siapapun yang punya masalah seperti saya dapat segera terobati. Sekali lagi, manusia akan berubah jika pikirannya juga berubah (  yang baik).

Semoga bermanfaat

Iklan

9 thoughts on “Pendiam : Sifat atau Gangguan Jiwa ?

  1. saya juga pendiam dan saya menyebutnya introvert. memang karakter sy seperti itu. memang orang introvert sering dipandang tak gaul, atau pendiam itu tadi. Tapi saya merasa saya memiliki cara yang berbeda dengna orang ekstrovert yang dianggap orang supel.

  2. Kadang memang ada orang yang seperti itu. Tapi orang bisa berubah. Mbak pun juga, saya yakin. Mengetahui ada sesuatu yang keliru dalam hidup adalah satu langkah awal. Tinggal dilanjutkan ke bagaimana usaha mengubahnya, dan seberapa siap menghadapi tantangan. Sebenarnya, menurut saya semua itu tinggal ke bagaimana kita menempatkan diri :)).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s