Tekat Kuat Menjadi Penulis, Semoga Ada Padaku!

“Apa? Kamu ingin ke Jakarta hanya untuk menulis? Aku tahu, tulisanmu itu hanya untuk mendapat sebutan orang sana-sini, berdiamlah saja di rumah. Jangan kamu sampai keblerengen gemerlapnya duniawi. Kamu tahu, menjadi penulis itu tak gampang!”, cerocos ayah dalam ingatanku malam ini.

Awalnya ayah tak setuju, tapi akhirnya aku diijinkan pergi juga. Rabu, 17 Desember 2014 sekitar jam empat sore aku sudah berada di Terminal Bawen, Semarang, Jawa Tengah. Bersiap menuju ke Jakarta untuk yang kedua kalinya. Aku mendapatkan uang saku satu juta rupiah dari ayahku. Uang itu ialah uang dari gelang yang dijual ayah untuk membayar cangkok sawah buruhnya. Ngeri, aku masih ingat pas aku sedang di penampungan mau berangkat ke Hong Kong dulu, dalam keadaan seperti  itu aku menyaksikan wajah penuh harap oleh ayahku. Ia  mendatangiku hanya untuk diijinkan menjual gelang yang aku belikan untuk ibu. Belum sempat aku melihat ibu memakainya, niatku membeli demi bisa membuat ibu merasa sedikit istimewa.

Sehari sebelum aku berangkat ke Jakarta, ibuku marah besar kepada ayahku. Ia rupanya tak mau kutinggal. Ibu mengira, ia akan kena marah ayah jika aku pergi lagi dari rumah. Kekhawatirannya dituduh menjadi seorang ibu yang tak bisa menasehati anaknya sangat tinggi. Semalamnya sebelum aku pergi, aku melihat ibuku tidur berada dibelakangku dan lebih rendah lagi. Aku terkejut tak kala aku kebangun ditengah tidur malamku itu melihat kakiku berada di atas kepala ibu. Raut wajah ibu sedih, aku berpikir mungkin karena ibu benar-benar tak ingin aku tinggalkan lagi.

Pagi hari sebelum keberangkatan.  Di Hari Rabu itu juga, aku sengaja memijit badan ayahku yang kusentuh hangat. Ia sedang sakit, pening kepala dan badannya kelelahan. Tubuhnya kurus kering. Warna kulitnya coklat pekat. Ayahku adalah sosok yang suka aku agung-agungkan. Yang selalu aku banggakan, aku rindukan, bahkan aku jadikan panutan dalam belajar untuk bisa tegar menghadapi segala macam kehidupan. Sambil memijit, aku dinasehati banyak oleh ayah.

“Awalilah segala apa yang kamu kerjakan dengan bismillah…!’’, pesan ayah.

“Aku sebenarnya lebih suka kamu berada di rumah, bekerja di dekat rumah, dan seandainya kamu mau ikuti saja belajar merias pengantin. Aku pikir kamu berbakat untuk itu”, ayah membujukku agar tak pergi lagi.

Aku bingung untuk menjawab tawaran ayah, lagi pula aku termasuk anak yang keras kepala. Aku tak tau kenapa setiap aku sedang menginginkan  sesuatu yang baru, aku belum bisa berhenti untuk berusaha mendapatkannya sekalipun pada akhirnya aku akan gagal atau terjatuh.

“Untuk mengubah nasib, kita memang harus berani berubah yah. Berjuang semaksimal mungkin, semampu yang dapat kita lakukan”, tangkasku.

Aku katakan kepada ayah seperti itu, padahal dalam hati kecilku tak tau apa yang sebenarnya harus aku lakukan. Di Jakarta akan kerja apa, di Jakarta mau tinggal dimana dan sampai kapan akan bisa bertahan membayar kos-kosan, juga makan sehari-hari jika hanya berkantongkan uang satu juta rupiah saja? Aku sama sekali tidak berpikir keras bahwa ijazah SMA-ku apakah masih laku untuk melamar kerja atau tidak. Sudah kupatok sendiri, kalau aku tak mau menjadi penjaga toko, tak mau menjadi karyawan pabrik, dan hayalanku keajaiban akan dapat pekerjaan yang sesuai dengan harapanku itu akan ada, minimal tidak menjadi pembantu rumah tangga lagi! Waaah kok bisa begitu…?

“Ayah tahu Tukul Arwana? Asal mula dia itu orang biasa, sekarang dia bisa tenar karena perjuangan hidupnya. Tentunya sebuah perjuangan itu dari enol, Yah nggak bisa sekaligus. Sewaktu aku membaca kisahnya hidupnya ia pernah juga menjadi sopir kok, pernah kelaparan dan pernah kesusahan. Dan  agar nasib kita berubah menjadi lebih baik memang kita harus mau merubahnya sendiri…”, tuturku kepada ayah dengan harapan, ayah menyetujui  tentang kebulatan tekatku untuk berada di Jakarta.

Sedih. Setiap kali aku teringatkan bayangan ibuku.

Pengalaman ibuku pernah jatuh kecelakaan ditabrak sepeda motor, membuat kaki kanan ibu menjadi rapuh dan harus berjalan terhuyung-huyung. Setiap kuperhatikan baik-baik rambut ibu, tampak rambutnya menipis akibat sering rontok. Matanya yang sebelah mulai berkedip tak beraturan, membuatku punya rasa takut jika sewaktu-waktu ibu sakit atau apa. Badan ibu lebih kecil daripada aku.

“Hati-hati ya nduk kamu di jalan, jika nanti kamu nggak betah di sana segera pulanglah saja ya biar kamu bisa makan masakan ibu lagi”, ibu mengatakan itu sambil tersenyum lalu memelukku, tak lama kemudian ia tampak sedih  dengan tak bisa menunda air matanya untuk jatuh berderai.

“Iya Bu, aku tahu. Aku pasti bisa jaga diri. Aku akan baik-baik saja nanti!”

Kami berpelukan sekali lagi tanpa mampu mengatakan sepatah kata apapun.

“Aku akan ikut rewang ke rumah Makdemu, jika nanti aku belum sempat pulang pesanku hati-hati saja ya untukmu, kamu harus jaga diri”.

Saat itu ibu mulai melangkahkan kaki berjalan keluar dan tampak tubuhnya semakin jauh.

Dari belakang, diam-diam aku melihat ibu yang terus berjalan dengan langkah-langkah kecilnya. Aku ikut ingin menangis dengan perasaan iba ketika ibu sesekali menggerakkan jemarinya kemukanya. Pikirku ibu sedang membasuh air mata. Ibu pasti sedih!

Kurasakan pipiku mulai basah, aku bergegas berlari menyusul ibu. Memeluk ibu di tepi jalan itu. Dalam hatiku, sangat berharap untuk bisa membahagiakan ibu dan berusaha menemukan arti dalam hidupku sendiri.

Tak lama kemudian, ibu sudah tak nampak lagi. Yang tertinggal sampai saat ini hanya warna baju yang dikenakan ibu saat terakhir itu. Mengingat pelukan ibu, membuatku teringat sewaktu aku pulang dari Blora dulu. Kepulanganku dari Jakarta yang pertama kalinya, disambut haru oleh ibu. Ibu mendekapku dengan suka-cita. Dia berpikir tak akan meninggalkannya lagi. Dan dia akan tenang jika aku berada di rumah. Namun, kini kenyataannya aku tega meninggalkannya lagi untuk yang kesekian kalinya.

Di Jakarta aku ingin menjadi Penulis

Ya. Hanya satu itu saja, yaitu penulis! Aku tak peduli mau dikategorikan penulis kelas apa. Kelas teri, silahkan…Kelas kacangan, silahkan…atau tanpa kelas pun silahkan…

Di Jakarta akan ada banyak pelajaran kepenulisan yang berbagai macam, banyak acara-acar a blogger yang diselenggrakan, semakin banyak bergaul semakin baik jalinan networknya terhadap sesame blogger. Itu dalam pikiranku!

Yang  penting dari dulu sampai kedepannya, aku akan menulis sesuai dengan apa saja yang sedang ingin aku tuliskan. Niat pertamaku untuk menulis cukup sebagai jalan bagaimana aku bisa meng-explore isi hatiku sendiri kepada orang lain. Aku suka menulis tentang motivasi atas dasar karena aku pernah dimotivasi oleh guru terhebatku. Berkat ketulusannya mengajarnya, aku gagal membunuh diriku sendiri. Aku sadar, di alam raya nyata ini pasti akan ada banyak orang-orang yang kehilangan harapan hidup dan ingin menyerah, sedikit banyak yang bisa aku tulis sekiranya bisa membangkitkan gairah hidup orang lain itu harapan besarku. Katakanlah aku ingin berbagi semangat! Menurutku, motivasi itu sama juga dengan pendalaman tentang kejiwaan seseorang. Banyak saat ini orang bertubuh sehat tapi sakit jiwanya.

Dengan menulis aku ingin menyuarakan semangat hidup, menyuarakan persamaan kita sebagai manusia biasa, menyuarakan apa yang jarang disuarakan, dan sebagai salah satu cara untuk mengubah pandangan negatif tanpa cela!

Bukan hanya kalian, namun alam pun tahu siapa aku! Dari dalam hatiku bilang, aku malu jika sadar aku bukanlah jebolan mahasiswa yang pandai memahami berbagai hal sehingga akan punya bahan tulisan yang berkualitas. Tapi, ketika aku sedang mau meliarkan jalan pikiranku dalam bentuk tulisan, gairah kepercayaan diriku seketika itu akan hadir.

Batinku bilang, aku malu jika aku membandingkan diri dengan penulis-penulis handal lainnya. Bila diibaratkan sebagai pertandingan, aku bukan level yang pantas untuk diikutsertakan dalam pertandingan kepenulisan apapun. Dan dari sekarang aku akan mengatakan bahwa penulis lain itu memang bagus-bagus alias berbakat. Jika aku ingat satu hal ini, memang sering membuatku ingin tidak menulis lagi. Tapi, jika tidak menulis lagi yang aku dapatkan hanya perasaan tak tenang. Menulis sudah menjadi kebutuhan hidupku.

Aku pun akhirnya menjadi merasa sangat bodoh akibat dari tulisanku sendiri. Dalam diam, aku bertanya kenapa aku terdampar di sini? Bertahan di sini untuk apa? Mencari dan mengejar apa? Benarkah demi bisa menjadi seorang penulis? Jika iya, mulai sekarang aku harus menargetkan diri berapa rupiah yang harus aku usahakan dari tulisan-tulisanku.

Mak Jeleeeb! Bagiku, satu tulisan bermanfaat untuk satu orang jauh lebih bermakna daripada satu tulisan dibaca oleh lebih seribu orang (atau pun dibayar) tanpa memberikan pesan/kebaikan apa-apa.

Bapak, Ibukku ini hanyalah sedikit ambisi yang menggebu akibat kepercayaan diri yang timbul dari menulis, tidak lebih! Bagaimana pun jalan dan akhirnya, aku sanggup menikmatinya.

Iklan

9 thoughts on “Tekat Kuat Menjadi Penulis, Semoga Ada Padaku!

  1. Terharu bacanya… Lepas dan ekspresif! :’)
    Tuhan Maha Mendengar. Serintih apapun niat baik dan cita-cita kita, pasti didengar oleh-Nya. Sabar, berusaha, dan berdoa. Insylh suatu saat nanti akan terwujud mimpi kamu itu.
    Semangat! 😀

  2. Sorry to hear your parents aren’t that supportive of you writing. Sometimes they just want what’s the best for us and want to teach us the value of looking into the future and planning to support ourselves then. Mine aren’t that supportive too…but if we’re passionate about it we will keep going.

  3. Terimakasih Mabel, kamu lebih bisa memahami apa yang saya tuliskan. ya, sekiranya seperti itu. orang tuaku kurang setuju, tapi aku tetap keep going. love you Mabel.

  4. Semangat ya Mbak :))
    Saya punya teman, dia pedagang sayuran. Kerja dari dini hari sampai siang bolong. Tapi dia punya tekad kuat sebagai penulis juga. Dan dia menulis, di ponselnya. Tanpa laptop, tanpa komputer, cuma itu. Dia mengirim tulisannya ke mana-mana. Dia menulis di dini hari di sela-sela membongkar sayuran. Dia rela bangun jam 1 pagi cuma untuk bisa menulis beberapa paragraf.
    Gagal, pasti. Dia sedih, iya. Tapi dia tidak menyerah. Akhirnya, apa yang ia usahakan itulah yang ia tuai. Kini beberapa novelnya sudah terbit.
    Saya harap semangat Mbak bisa terus menyala apa pun yang terjadi. Manusia punya kemampuan yang tidak berbatas, Mbak. Yang membatasi itu cuma kemauan. Kalau Mbak mau, saya yakin Mbak bisa.
    Selamat berjuang, Mbak :)).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s