Pertemuan yang Mengesankan, di Taman Ismail Marzuki

Bunda Pipiet sebagai sebagai penyelenggara acara/ gambar nyomot punya Aisy
Bunda Pipiet sebagai penyelenggara acara/ gambar nyomot punya Aisy
Sengaja memang, jatah libur kerja Hari Minggu kemarin saya minta untuk diambil hari Saptu ini saja, berharap bisa mengikuti acara peleuncuran buku karya sahabat saya Dewi DeAn dan Aisy Lastatie yang diselenggarakan di TIM(Taman Ismail Marzuki). Kedua sahabat saya itu, saat ini sedang bekerja dan kuliah di Negara Malaysia. Saya mulai mengenal keduanya melalui Facebook kira-kira satu tahun yang lalu.
Saya dengar bahwa Dewie itu berasal dari Sumatra, dan si Aisy atau Desi berasal dari Temanggung. Wah, kalau Temanggung mah dekat banget sama tempat tinggal saya yang di Semarang tuh…
Tidak menyangka, hari ini saya bisa bertemu dengan mereka berdua. Nama dan poto mereka yang biasanya hanya nongol di akun Facebook, kini saya sudah dapat melihat secara langsung bentuk asli wajah keduanya tanpa adanya rasa penasaran  lagi.
Oh ya, tadi sewaktu saya berangkat naik bus Kopaja 502 sempat saya kebablasan jauh dan harus balik naik bus dengan nomor yang sama menuju ke TIM. Dasar saya ini orang yang berpikir setelah bertindak, ya langsung saja setelah nyasar tanpa mengeluh pun saya nyari bus lagi.
Ini merupakan pertama kalinya saya di TIM. Saya pikir, gedung yang dijadikan tempat acara berada di depan setelah pintu gerbang. Eh kok pintunya tutupan saja? Rupanya gedung yang dipakai untuk acara berada di sebelah dalamnya lagi. Jalanlah saya ke area dalam dan Dewie menjeput saya. Dari kejauhan nampaklah dia berjalan untuk menjemput saya, pertama kali bertemu dengannya, rasanya seneng banget.
“Awieeeeeeeee…!”, dari belakang sengaja saya membuat Dewie terkejut.
“Ya Allah, Uut”sambil pamer gigi
Salaman, cium pipi, (#pelukan nggak ya…Wie?)
Sesampai di tempat acara, di dalam ruangannya masih sepi. Hanya ada tiga-empat orang yang baru hadir. Barulah di sana saya bertemu sama Desi dan Mbak Resti Utami. Ketemu, salaman, cipika-cipiki…nah, baru ngobrol!
“Hoooeii, yang ini dari Hong Kong!”, Aisy menyambut saya dengan senyum hangat. Mbak Resti pun menampakkan diri.
“Kamu kok kurus tho Ut?”, tanya Dewi
“Masak sih Wie, biasa saja kok”, jawab saya sambil memperlihatkan pergelangan tangan saya
Tak lama kemudian kami larut dalam obrolan yang asyik. Saya melihat di dekat pintu masuk tempat acara diselenggarakan tampak buku perdana yang sedang di-launching-kan. Diantaranya karya unggulan dari Dewie DeAn yang berjudul “Seronoknya Negeri Jiran” yang ditulis oleh Dewie dan kawan-kawan. Juga ada buku karya Aisy berjudul “Babu Backpacper”. Selain itu ada buku-buku karya Bunda Pipiet Senja dengan judul “Jejak Cinta Sevilla”, “Dalam Semesta Cinta”, dan lainnya. Kali ini pula saya baru bertemu dengan Bunda Pipiet, menyalaminya dan memperkenalkan diri. Setelah kehadiran Bunda di tempat acara ada. Tidak lama kemudian acra pun dimulai. Melihat jumlah orang yang terbatas saat itu saya diberi kepercayaan untuk menjadi penerima tamu sekaligus menjaga buku.
Dewie DeAn sedang mengawali menjadi narsum pertama.
Dewie DeAn sedang mengawali menjadi narsum pertama.
Duduk di kursi paling belakang, saya menyaksikan betapa sahabat saya Dewie dan Aisy ini sudah punya mental untuk menguasai panggung. Basic  kedua anak tersebut memang sudah jago atau biasa menghadapi orang. Dewie yang aktif dalam suatu organisasi di Universitasnya, selalu aktif dalam berbagai macam acara, dan lagi Aisy yang berpengalaman bekerja secara professional mengingat kunci-kunci apartemen majikannya untuk klien-kliennya beserta parkir-parkir mobilnya membuat ia tampak lincah berpikir dan berbicara.
Aisy Lastaty sedang membacakan karya yang telah dituliskannya.
Aisy Lastaty sedang membacakan karya yang telah dituliskannya.
Cuaca tiba-tiba saja memang mendung. Eh, tanpa saya menduga Kak Anazkia datang menghadiri acara ini. Warna orange jilbab dan bajunya masih segar dalam ingatan saya. Kak Anaz yang sekarang mulai dikenal sama orang banyak sebab berhasilnya ia menembus berbagai medsos, menjadikan ia  semakin hari semakin harum saja namanya. Salut dan semangat terus buat Kak Anaz.
Peserta yang hadir dalam launching buku Seronok Negeri Jiran dan Babu Backpacper di TIM
Peserta yang hadir dalam launching buku Seronok Negeri Jiran dan Babu Backpacper di TIM
Bunda Pipiet yang pada kenyataannya sudah sepuh, siapa kira kalau suara lantangnya mampu membuat orang yang berada di dalam ruangan tersebut terpaku untuk mendengarkan dengan apa yang sedang beliau bicarakan. Sebenarnya acara ini merupakan bagian dari kerja sama Bunda dengan putra-putrinya Zhizhi Siregar dan Muhammad Karibun Haikal. Sayangnya keduanya lagi backpaper di Kota Lombok, dan Bunda dalam acara bertemankan sang menantu saja. Beliau lah yang membuka dan menutup acara yang diselenggarakan. Turut hadir beberapa tamu istimewa, dan pihak  dari sponsor Cargo Mandiri Sejahtera.
Waktu dua sahabat saya mejeng di depan nih, mereka diberikan kesempatan untuk menceritakan awal mula mereka tertarik pada tulis-menulis. Mereka juga menceritakan kenapa menjadi TKI yang bekerja di Malaysia. Sumber inspirasi mereka berada di depan tamu-tamu yang hadir ialah, sebagai penyemangat untuk orang lain bahwa menulis itu bisa dilakukan oleh siapa saja asalkan punya minat dan kemauan. “TKI bisa menulis, khan h-e-b-a-t!”
Nama Rita Audriyanti, seketika melintas dipikiran saya setelah beliau ikut serta menjadi narasumber. Wajahnya yang tak jauh dengan photo yang ada di akun Facebooknya, Mbak ini berwajah oval nan ayu, feminim dan saya suka.  Mbak Rita ternyata penulis buku berjudul “Haji Koboi”.
Saat Mbak Rita mendekat saya, saya senyum.
“Kayaknya aku kenal wajah kamu?”, ujarnya.
“Hihihi………….” saya nyengir.
“Kamu Seneng Utami!”, Mbak Rita menunjukku sambil menampakkan wajah mimiknya penuh keyakinan bahwa namaku Seneng Utami.
Acara yang dimulai kira-kita setengah dua siang itu, akhirnya ditutup sekitar jam limaan. Sungguh mengesankan.
Selepas itu, saya, Mbak Anaz, Mbak Resti, Dewie dan Aisy jalan bersama menuju masjid. Lalu makan bareng, dan nonton bioskop bareng. American Snaping, judulnya. Sebelum nonton, kita sempat ndeprok bareng di lantai. Kita ngobrol ngalur-ngidul, oh iya yang ngajarin ndeprok di lantai pertama kalinya tuh si Aisy.
Di dalam bioskop, baru sekitar setengah jam kita sudah bosen melihat movie-nya lama-lama karena tema ceritanya kurang seru.
Akhirnya, bye bye Kak Anaz pulang duluan ya?
Sempat, kami berempat ke hotel yang diinapi Aisy sejenak untuk menaruh barang-barang bawaan. Back ke luar lagi, nyari bajaj buat saya.
Semoga pelukan itu menjadi awal sebuah pelukan ya sahabat. Walau kita sudah jauh lagi, namun nama dan karya kalian kini ada selalu dekat dengan saya. Terimakasih saya sangat bahagia bertemu kalian.
DSC_6901
Bidadari kecil dari Kak Zhizhi Siregar, buat comel-comelan. Besok kalo udah gedhe bakal jadi pesaingnya Mbak A wie dan Aisy ya dek?
Iklan

7 pemikiran pada “Pertemuan yang Mengesankan, di Taman Ismail Marzuki

  1. Not sure if i get all of it. But this sounds like a very welcoming book event. Very brave of the participatntst to stand up and share their stories to the audience. I don’t know if I can do that, reading out my own work. Giving a speech on a topic to an audience is one thing, but reading out your work is another – you need more expression and emotion for that 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s