Tinggalkan Anak Demi Kepentingan Lain dan Menitipkan ke Orang Tua Sendiri, Bijaksanakah?

Dewasa ini berdasarkan pemahaman dan apa yang saya lihat dari sekian kebanyakan dari masyarakat kita, telah banyak yang secara disadari atau tidak menerapkan hal yang satu ini. Dimana seseorang anak muda atau seseorang wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak menitipkan anaknya untuk diasuh orang tua dari ibu anak itu sendiri dengan berbagai macam alasan.

Ini sempat berlaku pada kakak saya sendiri. Sebelum menikah dan sesudah menikah, ia termasuk sebagai pekerja pabrik yang katakanlah “betah” bekerja di pabrik. Hingga pada masa akan melahirkan, barulah kakak saya mengambil cuti dan untuk sementara waktu ia tidak bekerja. Selang sebulan setelah kelahiran anaknya yang pertama, ia akhirnya kembali masuk kerja. Melihat kondisi ekonomi yang pas-pasan, tentunya kakak tidak mungkin mencari orang lain untuk membantu mengasuh anaknya selama ia bekerja.

Jam kerja kakak mulai dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam, itu normalnya. Jika pas kebetulan ada lembur, bisa nambah molor waktu kerjanya. Feeling saya mengatakan, bila kakak bekerja lagi yang akan merawat bayi anak kakak pasti ibu saya. Alasan terkuat  jika yang mengasuh ibu saya sendiri selain terikat oleh hubungan darah atau saudara, ibu saya juga seorang yang tidak bekerja alias menganggur.

“Biar ibu yang merawat bayiku, dan biarkan akau kembali bekerja supaya bisa nambah biaya buat beli kebutuhan sehari-harinya”, itu pasti kata kakakku dalam hatinya.

Didalam realita sosial di daerah kita Indonesia, budaya seperti ini rupanya umum/lumrah  dan dianggap sangat biasa-biasa saja. Benar sekiranya apabila membaca itu bukan sekedar didapat dari buku saja. Akan tetap, jika kita mau membaca dari apa yang kita lihat di depan mata kita, maka hati kita pun akan terbuka melihat dan memahami segala sesuatu yang nyata adanya.

Di Indonesia, Negara tercinta kita. Dapatkah Anda membayangkan berapa jumlah Tenaga Kerja Wanita yang diperkerjakan di luar negeri sana? Jumlahnya apabila disatukan dari berbagai Negara bisa jadi ribuan atau bahkan jutaan jiwa. Nah, diantara sejumlah wanita-wanita tersebut kita akan meyakini kalau mereka sebagian ada yang sudah menikah dan ada yang belum menikah!

Kemungkinan besar yang sudah menikah pasti punya anak. Sekarang kita mulai pikirkan baik-baik, jika anak yang ditinggalkan bekerja ke luar negeri itu sudah besar katakanlah sudah bisa berjalan, berbicara dan berpikir mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan. Tetapi, jika sewaktu anak yang ditinggalkan masih membutuhkan perawatan misalkan masih berusia belum genap satu tahun atau masih balita.

Pengalaman pribadi semasa dulu sewaktu saya dalam proses pengiriman bekerja ke luar negeri, saya dipertemukan dengan teman-teman saya yang sengaja/mau tidak mau harus meninggalkan ananknya karena tuntunan pekerjaan. Di sini jika teman saya tidak menitipkan kepada orang tuanya, lalu kepada siapa lagi? Hanya sebagian kecil seorang suami yang mau merawat anaknya dengan sepenuh hati. Selebihnya orang tua dari teman saya sendiri yang sudah menikah dan punya anak tersebut!

Kita beralih pada kasus yang lain misalnya, dampak dari sebuah perceraian atau perpisahan antara ibu dan anak dengan berbagai macam alasan. Di Indonesia termasuk Negara yang mempunyai angka perceraian yang tinggi. Ada sebagian perempuan yang bercerai mau merawat anaknya atau sengaja meninggalkannya. Jelas sudah jika anak masih dalam usia balita, ia butuh perawatan. Si anak kemungkinan akan dirawat oleh ibu jika tidak dititipkan ke tempat penampungan anak terlantar dan sebagainya.

Pada sebagian besar pernikahan dini pun bisa juga terjadi dengan hal yang serupa. Bagaimana merawat anak setelah lahir, akan membutuhkan bantuan orang tua dari ibu. Terlihat jika hal ini terjadi, ketergantungan kepada bantuan ibu sangat tinggi. Melahirkan anak sendiri. Semestinya harus bisa merawat sendiri lho…

Sempat mencengangkan di benak hati saya, tepat di hari kemarin. Sewaktu ada yang mencetakkan foto dari seorang ibu yang hampir separuh baya. Mendengar ia menelepon dengan Bahasa Jawa, saya lalu mengajak ngobrol dengannya,

“Ibu dari  jawa, jawanya mana bu?”

“Iya, dari Pekalongan”.

“Wah, saya dari Semarang bu. Bu, ini poto cucunya ya?”, tanyaku penasaran.

“Bukan, ini si bontot yang ada di Pekalongan saya tinggal sama embahnya!”

Dalam hati saya hanya bisa berkata, bukankah sebenarnya kelahiran anak itu menjadi sebuah tanggung jawab dari seorang ibu yang melahirkan? Dan jika anak secara sengaja atau tidak dititipkan kepada orang tua si pemilik anak, bukankah itu akan menjadi beban bagi pengasuhnya walau pada kenyataannya memang masih ada hubungan darah.

Barangkali ini bisa menjadi alasan kenapa orang luar negeri seperti Singapura, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Arab Saudi, dan Negara-negara lain yang membutuhkan tenaga perempuan dari bangsa kita sendiri untuk diperkerjakan di sana.

Negara yang sudah saya sebut diatas, merupakan Negara maju. Mereka sebagian besar mempunyai kehidupan yang mapan. Mereka sanggup membayar tenaga kerja dari Indonesia dengan uangnya. Sepengetahuan saya selama di Singapura dan Hong Kong, mereka yang punya anak kecil/balita tidak menitipkan anaknya kepada orang tuanya sebab ia mampu membayar pengasuh yang didatangkan dari Indonesia.

Saya akhirnya berpikir dan merenung.

Apapun alasannya seorang ibu yang mempunyai anak sekalipun dalam keadaan terhimpit, tetap akan lebih baik jika ia merawatnya dengan tangannya sendiri.

Kedua, saya menyimpulkan bahwa Negara kita disedot Negara lain untuk dibutuhkan tenaganya untuk menolong mengatasi masalah yang ada di keluarga Negara-negara di atas. Sedangkan dari orang kita butuh uangnya.

Bukankah salah jika saya mengatakan tenaga orang kita digunakan untuk menolong masalah yang ada di keluarga  Negara-negara yang saya sebut di atas? Pengalaman saya di Hong Kong, majikan laki-laki sebagai polisi dan yang perempuannya sebagai perawat. Saat pagi sampai menjelang malam mereka tidak ada di rumah, sedangkan kedua anaknya masih berusia 4 dan 5 tahun. Neneknya seorang pekerja di sebuah lembaga tertentu. Tidak mungkin neneknya akan mengurus anak-anak dari keluarga majikan saya. Jika tidak mengambil tenaga kerja dari Indonesia, bukankah ini akan menjadi masalah bagi keluarga tersebut??

Saya akhirnya berpikir dan merenung, ternyata banyak alasan yang mendasari seorang ibu menaruh kepercayaan kepada ibunya untuk mengasuh anaknya demi sebuah kepentingan yang lain.

“Apapun alasannya seorang ibu yang mempunyai anak sekalipun dalam keadaan terhimpit, tetap akan lebih baik jika ia merawatnya dengan tangannya sendiri!”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s