Kota Blora yang Masih Perawan!

Tugu Pancasila Kota Blora

Haiyaaah, masak ada ya kota kok Virgin. Memangnya ada Kota Gak Virgin? Karena Kota Blora menurut saya belum banyak terpengaruh dengan budaya yang pada umumnya sudah menyebar dihampir Kota Besar yang ada di Indonesia ini. Maka dengan sengaja judulnya mengisyaratkan sebuah kepolosan Kota Blora. Kota yang tanpa terhiasi pemandangan nyata dunia malam, tanpa kemacetan, tanpa polusi udara, tanpa keonaran anak muda, melainkan Kota yang terkesan aman, nyaman dan damai terangkum dalam pandangan mata saya.

Rasanya, bisa sampai di Kota Blora itu seperti mimpi. Saya merencanakan tiba disini sehari sebelum keberangkatan dari Jakarta. Niat hati ingin kembali ke Ambarwa, Semarang. Namun ternyata saya tertarik untuk mampir di rumah salah satu Kompasianer yang sudah akrab sekali dengan saya. Namanya Mbak Yuni Astuti yang pada waktu acara Kompasianival kemarin kita baru pertama kali bertemu.

Berangkat dari Jakarta tanggal (1/12/14))sore sekitar jam tiga, dan sampai di Blora jam setengah delapan dengan menumpangi bus malam Lorena. Harapan saya datang ke tempat ini sangat simple, saya ingin mengetahui sedikit banyak bagaimana keadaan di Kota ini yang mana sebelumnya saya belum pernah datang ke sini dan belum pernah mendapatkan informasi tentang kota ini.

Melihat lebih dekat Kota Blora membuat saya setengah tidak percaya, masalahnya Kota ini jauh berbeda dengan kota yang lainnya.  Beruntung  rumah Mbak Yuni kebetulan berada di pusat kotanya. Siangnya, sekitar jam sepuluhan saya menyempatkan diri untuk menyusuri jalan disepanjang Tugu Pancasila sampai di alun-alun kota ini. Dari serangkaian perjalanan singkat saya itu dapat saya simpulkan bahwa, di Blora sangat bagus untuk dijadikan tempat usaha. Melihat belum banyak para pedagang yang ada di sini.

Blora Mustika yang lenggang

Satu swalayan yang terbesar yaitu Swalayan Luwes, yang ada sejak satu tahun yang lalu. Swalayan ini mampu menyaingi MD Mall, yang sebelumnya sudah ada. Dari konten yang di jual di Luwes sendiri lebih lengkap, menjadikan swalayan Luwes ini banyak dikunjungi pembeli! Idih, kalo Anda di Blora pasti akan kebingungan mencari Matahari, Ramayana atau Hypermart. Masalahnya di sini belum dibangun. Bayangkan saja betapa lenggangnya kota ini.

Sekalipun begitu yang mengesankan dari pandangan mata saya ialah bersih dan nyamannya Kota Blora ini pantas diberi nilai A. Dari setiap satu meter disediakan tong sampah dari DPU, tersedia doa tong sampah untuk sampah organik dan anorganik, setiap pengguna jalan baik sepeda ontel, becak, sepeda motor dan mobil tidak serabutan. Semuanya menertipi peraturan lalu lintas, termasuk patuhnya para pengemudi sepeda motor yang memakai helmet. Sungai yang mengalir tidak dijadikan tempat untuk membuang sampah.

Disepanjang perjalanan saya sengaja mampir di tempat pusat oleh-oleh Kota Blora. Gendu Durian merupakan salah satu makanan khas Blora. Makanan ini sudah ada sejak seratus tahun yang lalu, merupakan makanan bangsawan. Dalam olahan perkilonya membutuhkan 18 kuning telur, tanpa bahan pengawet, dan di oven selama tiga jam. Olahannya berasal dari tepung,gula dan kuning telur dan durian saja! Rasanya manis, harum durian yang enak sekali. Sayangnya, makanan ini tidak banyak diproduksi dan hanya ada dibeberapa tempat tertentu saja, salah satunya yang dekat Tugu Pancasila itu bernama pusat oleh-oleh Grace. Pemiliknya bernama Ervina (34) seorang China yang justru paling tahu rahasia olahan Gendu Durian yang nikmat.Gendhu Durian, makanan khas Kota Blora

Alun-alun Kota Blora suasana siang dan malam harinya jauh berbeda. Kalau siang terlihat lenggang, tapi pada malam harinya ramai sekali. Adanya mainan anak-anak yang sengaja diadakan pada malam hari, membuat para pedagang asongan disekitar alun-alun ini dagangannya menjadi laris manis. Pemerintah kota ini sepertinya memang memperhatikan nasib masyarakatnya yang menengah kebawah dengan menfasilitasi memberikan bantuan berupa gerobak dan bantuan modal usaha untuk beberapa pedagang asongan di sini.

Keramaian alun-alun Kota Blora dimalam hari

Dikeesokan harinya saya diantar Mbak Yuni ke tempat ukiran Blora. Sekedar meninjau layaknya seorang traveler, saya menikmatinya. Daerah pusat ukiran ini terletak di Kecamatan Jeponan. Terdapat deretan kios ukiran berjejer. Kayu yang dipakai Kayu Jati, dan berikut ini beberapa ukiran Blora yang  saya jumpai. Terlihat halus, rajin dan khas. Dibandingkan ukiran dengan daerah saya, ukiran Blora lebih bagus dari segi kreatifitas dan variasinya.

Hasil ukiran Kota Blora

Kini Kota Blora sudah tidak asing bagi saya, ingatan saya Blora menjadi perbatasan Kota Cepu, dan berdekatan dengan Purwodadi. Yang indah dipikiran saya, di tempat ini pengguna sepeda ontel dan becak masih lumayan banyak. Menjadikan tempat ini termasuk tempat yang saya sukai. Becak simbol adanya Indonesia yang berangsur-angsur mulai punah. Melihat becak dan sepeda masih ada yang memakainya rasanya senang sekali. Ada juga Taman Mustika yang mempesona, mampir di taman ini ditengah hari atau malam hari untuk sekedar sebagai tempat berkumpul bersama teman atau refreshing juga boleh lho.

Kepulangan anak sekolah dengan mengayuh sepeda ontelnya

Becaaaak....

Pesona Taman Mustika

Berhasilnya saya berkunjung di Kota Blora ini semakin merekatkan hubungan baik saya dengan Mbak Yuni Astuti yang baru saya kenal.Awal perkenalan kita dari kesukaan kita menulis di Kompasiana. Mbak Yuni yang selalu memanggil saya dengan panggilan ”Dik” serasa saya dianggap adiknya sendiri. Momen ini akan menjadi catatan saya yang tidak terlupakan….!

Semalam menginap di Kota Blora, pada hari berikutnya saya ke Kudus mampir di tempat Kompasianer selanjutnya. Siapakah gerangan beliau? Nantikan tulisan berikutnya yaaa…

Sumber poto: Dokumen Pribadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s