writing in process…

Menurut saya, seseorang yang berani bermimpi itu ialah seseorang yang hebat. Sebab, sebuah impiannya akan terwujud dengan cara diperjuangkan dengan menghadapi segala rintangan yang ada. Bermimpi itu mudah, semua orang bisa bermimpi tetapi hanya orang yang mempunyai komitmen berhasil dan menang saja yang akan menikmati keterwujudan mimpinya yang nyata!

Banyak alasan seseorang mempunyai mimpi/harapan yang  melatarbelakangi hidupnya. Bisa jadi karena keadaan terhimpit atau kekurangan membuat seseorang bersemangat untuk sebisa mungkin mengubah nasib hidupnya menjadi lebih baik. Yang pasti sebagian besar dari kita, semua orang ingin sejahtera. Maka kita mengimpikan diri kita menjadi orang yang berhasil dalam segala aspek kehidupan untuk masa depan.

Seiring berjalannya waktu, kita sebagai manusia ada kalanya dihadapkan oleh masalah besar yang tak terduga. Lalu kita ingin menyerah. Padahal kita tahu, mimpi kita akan putus ditengah jalan jika kita tidak gigih/memilih menyerah. Tentu, menyerah bukanlah solusinya.

Besar atau kecilnya sebuah mimpi kita yang kita yakini akan membawa kejayaan pada diri kita kurang lebihnya akan lebih baik jika kita memahami tiga hal sebagai berikut;

1). Saat ini bagi siapa saja dari kita yang masih belum punya impian atau cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik. Hendaklah segera bangun kepercayaan diri untuk berani bermimpi. Memimpikan sesuatu yang realistis. Kita tahu uang, ketrampilan/pengetahuan dan dedikasi bekerja serta waktu ialah aset yang dapat dijadikan modal/sumber bagaimana kita menghadapi hidup.
Dan bagaimana cara kita punya satu motivasi besar untuk sebuah mimpi, pastinya impian tersebut tidak jauh dengan kemampuan yang berasal dari bakat dan minat yang kita miliki.

Sebagai salah satu contoh misalnya, saya saat ini yang sedang bermimpi menjadi penulis. Saya mengakui jika tulisan saya masih polos jika dibandingkan dengan tulisan orang lain. Akan tetapi, dengan adanya mimpi saya menjadi penulis tersebut membuat saya selalu mengatakan dalam hati bahwa saya ingin menjadi penulis, saya adalah penulis, dan saya suka menulis setiap hari. Bagus tidaknya urusan nanti, yang harus saya lakukan setelah menulis ya menulis lagi.

Intinya, poin pertama ialah kita punya satu impian yang sungguh-sungguh kita impikan/obsebsi sudah terpegang dulu!

2). Tanpa disadari apabila poin pertama sudah terpegang pada kita, maka secara sendirinya kita akan punya motivasi yang kuat tumbuh dari hati kita. Motivasi ini tak lepas dari rasa suka/cinta kita terhadap apa yang kita impikan. Rasa suka bercampur bahagia ini menjadikan kita lebih bersemangat. Passion akan terbentuk. Keyakinan untuk terus mengusahakan apa yang kita cita-citakan sangat tinggi.

Diatas saya sudah mengatakan bahwa saya berkeinginann menjadi penulis. Saya hampir saja menyerah untuk tidak menulis lagi sebab saya kebingungan kemana arah tulisan saya ingin saya kembangkan dan saya tujukan kepada siapa. Tak kala saya tidak menutupi bahwa saya mengharapkan tulisan saya dibalas materi, tak ada daya untuk itu sebab tak ada tempat untuk dituntut supaya saya dapat. Saya bukanlah orang yang pandai berfiksi, melainkan hanya suka beropini.

Sempat juga, terselip rasa ingin menyerah berkali-kali mengingat penulis lain yang lebih berpengalaman itu lebih hebat. Dalam hati saya berpendapat kalau sampai kapan pun yang saya tulis hanya sekedar seperti tulisan-tulisan sebelumnya. Semestinya saya berhenti  menulis saja.

Ketika keadaan yang saya rasakan buruk, lalu saya meminta pendapat beberapa penulis yang menurut saya mereka lebih berpengalaman. Dan berikut ini motivasi serta saran dari mereka;

“Om Pepih Nugraha.

salam sehat selalu ya Om”

Salam kembali. Alhamdulillah…

“proyek menulisnya saya masih nol Om Pepih,
yang penting terus nulis saja ya Om sekalipun catatan harian”

Iya, itu bagus seneng

 

“Hallo Om Pepih…
bagaimana Om, apakah Om bisa memberikan sedikit ide buat saya. selebihnya saya yang suka nulis tema sosial budaya dan catatan harian ini…sedang belum punya ide, kemana tujuan saya menulis sebenarnya.
maaf ya oM Pepih kalo saya mengganggu.
salam baik Om”

Seneng, menulis sebenarnya simple, yakni apa yang kita SUKAI (hobi/passion) dan apa yang kita KUASAI (kepakaran/keahlian). Jangan lepas dari kedua hal itu. Tekuni saja, entah itu apa yang kita sukai atau apa yang kita kuasai, nanti akan menemukan bentuknya

.

“Terimakasih banyak Om sarannya. bagaimana untuk membentuk kepercayaan diri untuk konsisten menulis Om dan berkomitmen dengan passion kita. Mengingat begitu ketat dan banyaknya penulis lain yang jauh lebih hebat. latar belakang membuat kurang percaya diri Om”

 

Banyak baca buku, serap informasi yang penting dan bermanfaat, juga ikut forum2 diskusi.

 

“Terimakasih banyak Om Pepih.

sudah dapat pencerahan, dan tinggal diaplikasikan.”

Alhamdulillah, dari bos Kompasiana saya dapat vitamin dan mampu menumbuhkan semangat menulis saya lagi. Saya terus mengingat-ingat apa pesan Om Pepih dari inboknya, “yakni apa yang kita SUKAI (hobi/passion) dan apa yang kita KUASAI (kepakaran/keahlian). Jangan lepas dari kedua hal itu. Tekuni saja, entah itu apa yang kita sukai atau apa yang kita kuasai, nanti akan menemukan bentuknya. Dan ditambah lagi,

Banyak baca buku, serap informasi yang penting dan bermanfaat, juga ikut forum2 diskusi.

Terimakasih-terimakasih rasanya ingin berterimakasih sebanyak-banyaknya sama Om Pepih.

Suatu hari saya sempat merasa bahwa saya kurang relasi dalam hal kepenulisan serta belum punya grop mana yang harus saya dekati demi mengasah kemampuan menulis ini lebih terarah. Saya mendengar bahwa ada teman saya yang seperti saya penulis pemula lebih dulu berhasil meluncurkan karya bukunya dalam bentuk novel. Keberhasilannya tak lepas dari kedekatannya dengan penulis senior terkenal di Indonesia. Jalan pikiran saya mengatakan, apakah relasi dengan penulis senior akan membantu terarahnya nasib tulisan yang kita tulis? Tanpa sengaja saya iseng mengirim pesan inbok di Fb dengan Om Aji Najiullah Thaib,

Halo Om apakabar

haruskah saya iri hati sama teman saya yang sudah menerbitkan buku

?

kenapa saya ada rasa iri ya

wajarkah?

Rasa iri kalau menimbulkan efek positif ya bagus..tapi kalau sebaliknya ya gak bagus..harus iri dgn kesuksesan orang lain..tapi efeknya harus positif

bener juga om

dia beruntung

daripada saya

Ya dong..tidak semua rasa iri itu jelek..

Semua berjalan sesuai dngan waktunya..dia kebagian diantrian paling depan..itu saja bedanya

temen sy deket sama yang terkenal itu tuh

dia anak dekat sekalipun maya

itu tak lepas dari keberuntungan juga ya OM

Gak ada yng namanya faktor keberuntungan dalam sebuah usaha..semua atas kehendak-Nya..mendekatlah kepada ya Maha Menentukan..bukan kepada manusia tami..

 

 

“Mendekatlah kepada Allah, itu yang membuat saya terenyuh haru mengingat saat ini saya suka melupakan-Nya!’’

Membangun kepercayaan diri untuk memantapkan hati untuk lanjut menulis bukan semudah membalikkan telapak tangan. Lagi-lagi saya dihinggapi perasaan resah dan gelisah apa yang harus saya tulis dan kemana focus tulisan saya dapat saya tentukan sebenarnya? Sampai sekarang saya sendiri belum tahu.

Berkonsultasi sama senior lainnya, Om Dian.

Saya  memang tidak ingin mengiring kamu pada topik tulisan tertentu, karena kalau saya melakukannya, maka yang kamu dapatkan adalah kebosanan karena hanya membahas hal yang sama setiap hari. Tulislah apa saja yang kamu inginkan. Hingga pada suatu saat nanti brandingmu terbentuk secara alami, dimana kekuatan tulisanmu.

.

Kurang lebihnya dari Om Dian demikian.

Eh nggak tahunya dalam waktu yang sama saya mendapatkan sebuah tanggapan dari seorang Blogger Asian-Australian bernama Mabel Kwong yang menambah gairah saya menulis.

“I believe you when you say you are a writer, Seneng. Very interesting background that you have, having lived in Indonesia, Singapore and Hong Kong and having friends from all over the world. Hahaha, that is funny you borrowed books from the library (too many, too long I’m guessing) and need to pay a fee 😀 Like you, I like looking at photos and pictures in books as they help to tell the stories alongside the words.

I studied Bahasa Melayu for ten years in high school in Malaysia and Singapore so I understood some of what you said here. But it has been quite a while since I am used to the language so forgive me if I interpret it wrong 😀

Keep writing. I love your writing energy and you write with such honesty :)”

Sebagai penutupnya, saya akan sempilkan poin yang ketiga.

3). Sebuah proses itu memang harus dinikmati. Semangat dan motivasi untuk menulis telah bersemayam. Tinggal bagaimana saya berusaha mendisiplinkan diri untuk terus menulis dan menulis. Bukan berlebihan, tapi dari kebiasaan-kebiasaan tersebut saya yakin akan ada banyak pengalaman yang dapat saya ambil baik buruknya. Tentunya saya nggak boleh malas membaca seperti pesan Om Pepih, saya juga harus berusaha mendekatkan diri kepada-Nya seperti pesan Om Aji Najiullah Thaib, dan saya nggak perlu lagi cemas kalau akan berakhir apa tulisan saya ini.

Saat ini saya bermimpi menjadi penulis dan masih terus belajar untuk menulis, minimal mendisiplinkan diri untuk menulis dan menulis. Saya mulai mengerti, menulis memberikan manfaat kepada saya dalam membentuk rasa percaya diri, mengenal siapa saya, menjadikan saya berlatih berpikir dan tidak membiarkan pikiran kosong. Berkat menulis juga, kini relasi lebih mudah didapatkan.

Bagi saya, modal utama atau aset dalam mewujudkan sebuah mimpi ialah adanya willingness/kemauan yang timbul dari hati, adanya energy(tenaga dan pikiran), adanya waktu, yang semuanya ter-SUMBANG dalam proses usaha mewujudkan itu semua menjadi nyata.

Mimpi saya menjadi penulis, bagaimana dengan mimpi Anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s