Titik Terang Hidup Painem

"Hidup itu adalah sebuah proses dimana menjadi bijak, menjadi lebih dewasa, dan menjadi lebih baik akan tercipta dari dasar hati nurani. Bukan dari seleksi alam atau sebuah pemaksaan/tuntunan dari orang lain. Memahami arti kata menjadi diri sendiri, akan tak jauh beda dengan bagaimana kita mempertanggung jawabkan diri kita sendiri. Baik di hadapan Tuhan, manusia atau alam semesta...."

-please enjoy this my simple short story-

Masih diingatnya dengan jelas sebuah cerita nyata yang kemarin malam sempat Painem baca, yaitu tentang sebuah kisah matinya seorang suami dari seorang istri dimana keduanya merupakan pasangan yang serba baik-baik. Dengan sadar ia pun mengingatkan pada dirinya sendiri kalau kesenangan dunia itu tak abadi. Hal inilah yang membuatnya terus mencoba bertahan hidup sekalipun keadaannya dirasakan kurang menyenangkan

 Dalam keadaan yang kalut, ia punya kekuatan untuk tidak mati dengan cara bunuh diri, tidak pula menjatuhkan diri menjadi wanita pelacur, dan ia masih mau menyentuhkan kepalanya dengan tanah sebagai tanda bahwa di hatinya ada nama-Nya walau ia hanya mampu mengingat nama Tuhannya dengan tersendat-sendat . Sudah terlalu banyak kesalahan yang dilakukannya, membuat Painem menganggap dirinya bukan wanita solehah.

Bila saja Painem harus jujur mengungkapkan mulai kapan ia merasakan hidupnya kurang nyaman baginya, ia akan menjawab sedari kecil semenjak dulu! Sebelum adik kandungnya lahir, setelah pertama kali ia tahu jika kakinya terkena borok dan harus diperiksakan ke sana-sini. Yang jelas, ia mulai merasakan kesusahan hidup ketika ia mampu mengingat beberapa kenangan yang masih tersimpan di dalam otaknya!

Painem kini bukan anak kecil lagi. Ia mengaku sangat waras, ia punya cita-cita dan kini sudah mudeng  dengan yang namanya berpacaran. Di suatu malam yang sunyi, sebelum ia memejamkan matanya untuk tidur pikirannya dibiarkannya liar. Dalam kekesalan hati yang tak terhingga itu, ia tak mampu berbuat banyak selain pasrah, tak mungkin ia lari dari tempatnya saat ini kembali ke tempat asalnya bersama ortu dan keluarganya sebelum ada kejelasan dengan masa depannya. Ia tak punya pikiran juga untuk menjadi gelandangan biarpun sudah lebih dari sepuluh kali ia mengatakan tidak betah berada di tempat baru.

“Aku membiarkanmu menghadapi keadaan seperti ini, supaya kamu tahu jika hidup itu perlu diperjuangkan. Sesulit apapun hidup harus dijalani dengan ikhlas. Inilah ujian, hanya orang-orang yang mampu melewati ujian hidup yang akan menikmati kemenangan hidup. Ayo semangat, dekatkan diri kepada Allah!”, segelintir kata-kata pacar Painem kembali  terngaung halus didalam hantinya dan menguatkan.

Painem bertanya dalam hati, “Sampai kapan aku bertahan dalam keadaan ini. Lebih banyak sendiri, terkurung, aku bukan seorang Kartini, jaman sudah merdeka. Ya!”.

Rupanya Painem mulai bosan dengan hidupnya sendiri. Atau karena Painem memang kurang bisa bersyukur sehingga segala apa yang dilakukannya selalu tidak nyaman dan menimbulkan ia mengeluh lagi.

Diotaknya teringat banyak tentang seorang lelaki yang dianggapnya sebagai pacar. Dan setiap kali pikiran dan hatinya tertuju dengan sosok kekasihnya, mulailah hatinya bergejolak! Ada rindu, ada cemburu, ada sayang bercampur marah, geram dan kecewa campur menjadi satu.

“Ah, kendalikan saja emosimu. Hidup bukan berisikan cinta dan cemburu. Kamu tahu?”, demikianlah ucapan untuk Painem dari kekasihnya setiap kali ia berusaha menenangkan hati.

Lambat laun Painem sadar bahwa hidupnya telah banyak bergantung pada kekasihnya yang ia anggap hebat sehebat-hebatnya. Di kala yang sama, kondisi kekasihnya pun kurang baik. Apa daya untuk bermesrahan?

Malam itu bagi Painem malam yang kelabu. Mata benar-benar kantuk, tak mau juga untuk terpejam dan tidur terlelap. Dibangunkannya tubuhnya yang sudah menyusut akibat tak teratur makan. Lalu, berwudhu.

Ditunaikannya salat taubat dan syukur masing-masing dua rakaat. Sengaja dikeluarkannya suara yang sedang melantunkan ayat-ayat suci dalam do’anya. Didengarkannya sendiri suara itu sembari ia berusaha memahami apa yang sanggup ia artikan maknanya dalam bahasanya sendiri.

Ditengah do’a itu hadirlah wajah ibunya yang mulai menua. Hatinya ibunya yang selalu dirundung duka dan bermuka mendung. Tubuh ibunya yang mulai meringkih. Air mata terus meleleh dengan derasnya.

Juga seraut wajah ayahnya yang menggambarkan jika dihati ayahnya tersimpan sejuta pilu dengan ulah Painem.

“Kenapa aku lebih banyak memikirkan seseorang yang kuanggap kekasihku. Bukan ingat Tuhan, bukan orang tua. Perilakuku sangat buruk, aku tak berdaya bagaimana aku bisa mengubah keadaan terhimpitku ini cepat atau lambat. Dimanakah prestasi, dimanakah harga diri ini….?”, Tanya hati Painem sambil membiarkan air mata dan ingusnya mengalir dalam waktu yang sama.

Lalu, ia mulai benci pernah bermimpi menjadi orang lain yang ia anggap hebat! Kenyataannya bukan seperti yang ada dibenak hatinya sendiri, kenyataannya bukan seperti apa yang pernah ia rencanakan. Ia menjadi sadar kalau ia bukan Tuhan. Ia pun tahu, bahwa apa yang sedang ia hadapi termasuk sejarah yang akan melengkapi kisah hidupnya pribadi nanti.

Dilipatnya baik-baik mukena berwarna putih polos itu menjadi satu dengan sajadah merahnya. Ia membaringkan kembali tubuhnya yang berangsur-angsur lemah.

Sebelum terpejam, mata itu sempat menatap keatas tanpa menyadari apa yang sedang dilihatnya. Hatinya seolah berkata membuat kesimpulan dari apa yang baru saja ia renungkan atas kehidupannya sendiri, demikian.

“ Bagaimana pun juga aku harus bersyukur kepada-Mu ya Allah ya Tuhanku. Engkau masih mencukupi keadaanku, beserta keluargaku. Keindahan dunia telah mengkaburkan pandanganku jauh dari ketakwaan pada-Mu. Saat ini aku merasakan dampak buruknya akibat ketidak takwaan itu. Hingga aku sungguh tak dapat berkutik dari kekuasaan-Mu ini. Aku tak boleh bergantung pada manusia, tak juga dengan kekasihku. Kusadari apa yang aku cari entah semuanya hilang kemana, biarkanlah saat ini apa yang ingin Kau ambil dariku Tuhan, ambillah. Tapi satu, jangan sampai Engkau mengambil atau melepas kepercayaanku pada-Mu.

Jika sekiranya keadaan burukku ini akan menjadi penghilang dosa-dosa masa laluku, ikhlaskanlah  hati ini untuk menerima dengan apa yang ada. Kuakui aku sering melupakan-Mu, aku sering melalaikan diri. Bahkanmembiarkan jiwa raga ini jatuh dalam limbah dosa.

Keiinginanku untuk bertahan hidup kini hanya satu. Aku ingin mati sahid dihadapan-Mu ya Allah. Aku akan berusaha ikhlas menjalani hidup yang tersisa ini, dengan suka-cita. Cukuplah Engkau menjadi panutan hatiku. Penenang jiwaku dari perasaan iri hati, dendam dan cemburu yang timbul sewaktu-waktu.

Ya Allah, ya Robbi, ya Tuhanku  aku sungguh malu pada-Mu. Engkau telah tahu bahwa dihadapan manusia aku miskin jiwa dan harta. Apalagi dihadapan-Mu”.

Semuanya seperti gelap, tapi aku yakin Inilah titik terang hidup Painem.

Dan ia adalah, Aku!

(…..pulas*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s