Rinduku Untuk Ibu

Bu, aku kangen.

Ibuku, maaf ya aku nggak apal kapan Ibu lahir dan genap berusia berapa ibu sekarang. Aku juga nggak pernah ingat-ingat kapan ibu ulang tahun. Itulah alasan kenapa aku nggak pernah merencanakan untuk memberi ibu hadiah dan kue ulang tahun.  Aku ingatnya tanggal ultah seseorang yang diam-diam kukagumi, walau ia menyakiti hati. Bu, sedari kecil aku memanggilmu dengan sebutan “Mae’’, dan begitulah adat ditempat kita telah terbiasa dengan menyebut nama Ibu dalam bahasa Jawanya.

Saat ini, aku menjauhimu demi sesuatu yang tak pasti bu, kurang lebihnya seperti itu ya?

Ibu. Jika seandainya engkau dekat disisiku, seperti dulu aku bersama ibu tidur dalam sekamar. Aku ingin sekali memandangi raut wajahmu yang lupa akan segala kesalahan terbesarku padamu selama ini. Kau selalu bisa memaafkanku bu, aku yakin itu. Sebesar apapun salahku padamu bu, kau tak pernah menaruh benci dan dendam padaku. Itulah kehebatan ibu.

Semakin aku larut dalam kesedihan merindukan ibu, aku merasakan getaran sukma ibu hadir di sini. Menyatu di tempat ini dan membuatku optimis untuk tetap berjuang menggapai cita-cita demi kehidupan kita yang lebih baik. Amin, insyaAllah!

Tersadar bahwa aku terdampar di sini, sendiri, menanggung hidup dengan jiwa raga sendiri , rasanya dunia ini ada yang kurang. Bukan dunia kurang indah bu, tetapi rasa kurang ini timbul tak lepas dari resiko atas apa yang telah aku pilih, juga tak lepas dari kehendak-Nya!

Begitu nekatnya aku untuk bisa berada di sini. Ibu sempat menangis sedih atas kepergianku ini. Aku paham, sebenarnya keberadaanku itu penting bagimu bu. Maafkan aku bu. Keadaan kita belum berubah, aku harus melanjutkan perjuangan hidup kembali hingga akhirnya aku berharap akan ada titik terang untuk masa depan kita.

Bu, telah banyak kenangan yang manis, asem, dan pahit diantara kita. Dan aku tak mau melupakan kenangan sekian lama aku bersama ibu.

“Ibu apakabar, ibu baik dan sehat? Ibu jangan banyak pikiran yang macem-macem ya. Bagaimana dengan ayah, apakah dia masih kumat marah-marah nggak jelas…, Aku di sini baik-baik saja kok. Aku bisa jaga diri, ibu jangan khawatir sama aku ya!’’

Begitulah yang sering kusampaikan lewat genggaman telephone yang hanya berdurasi kurang sepuluh menit setiap kali aku jauh di perantauan.

Tiba-tiba lamunanku menjadi kaku seketika.

Kebandelanku selama ini mungkinkah tak lepas dari kutukan mulut  ibu yang  pernah melontarkan kata bandel padaku sewaktu aku susah nurut sama pesan-pesan ibu dulu? Ibu suka berpesan kalo aku nggak boleh buat kakak dan adik nangis, itu saat aku masih kecil dan kakak-adikku juga masih kecil sebab jeda umur kami yang tak jauh saja. Sewaktu besar pun  hampir sama, aku nggak boleh bikin ulah yang bisa memancing ayah marah atau kecewa sebab kemarahan ayah pasti akan lari ke Ibu! Hih aku memang suka bikin geram saja sih…

“Kemarin kakakmu, sekarang lagi adikmu sudah kamu buat menangis kesakitan gara-gara kamu tempelengi sebenarnya kenapa sih Ut?’’, kata-kata itu terlontar dari mulut ibu sembari melempar jagung kering berikat-ikat mengarah ketubuhku dan sepasang matanya tak dapat menyembunyikan kekesalannya terhadapku.

Aku hanya mampu merapat ke dinding tembok dan menangis merasakan kerasnya jagung-jagung yang menghantam tubuhku.

“Ampun, bu. Cukup-cukup aku janji nggak ngulang lagi…!’’, sambil terus menangis.

Di hari yang berbeda. Piring putih berhiaskan tiga bunga ditepinya masih teringat jelas pecah menjadi dua sebab ibu sengaja mengeprukkan piring itu di atas kepalaku.

“……..THEEEEK!’’

Beberapa saat sebelum piring itu kurasakan menghantam kepalaku, aku hanya diam dan memejamkan mata. Ketakutanku bercampur pasrah andai saja akan kusaksikan linangan darah merah segar menjalar di bagian tubuhku.

“Ibu, setega itukah kau padaku hanya karena kebandelanku?’’, bisik hatiku setelah itu.

Kusaksikan piring itu menjadi dua sama besarnya, tak ada setetes darah pun yang keluar. Tak ada luka sedikit pun pada kepalaku kecuali kumasih merasakan benturannya saja!

(Aku mulai mengenal pacar).

“Hei, seharian dari mana saja kamu? Tahu nggak kamu ayahmu jadi bermuka masam sama aku karena kamu main lama nggak pulang-pulang!’’, suara ibu mengeras sambil mencoba memukuliku dengan sebuah tongkat kayu panjang.

Seketika itu aku bingung mau jawab apa.

Di dekat lemari baju, aku menjawabnya dengan nada marah dan membentak!

“Aku bukan anak-anak lagi, aku sudah remaja yang pantas untuk bermain dengan temanku seharian begini. Jangan kekang aku untuk di rumah terus, aku butuh kebebasaaaaan………….!!!’’, marahku yang dahsyat saat itu sebab pukulan berkali-kali  sudah kurasakan.

Malamnya, pikiranku buntu. Kuniatkan hatiku untuk merantau jauh dari keluargaku yang pengekang!

***

Ah, itu semua telah berlalu. Kini kutahu, marahmu padaku semua karena bukti perhatianmu padaku. Ibu marah karena aku telah berbuat salah dan keliru. Benar menurutku, belum tentu benar untuk ibu.

Mengingat berapa usiaku dan telah kulihat sendiri tubuhku, ternyata aku sudah layak menjadi seorang ibu. Bu, kau tahu kan aku berpengalaman menggendong bayi dan memandikannya? Bahkan aku pun pernah menghadapi bayi-bayi yang kelaparan dan demam. Aku ngerti, bersosialisasi seperti “arisan” salah satu hal yang penting dalam lingkungan masyarakat sebagai ibu. Menjadi seorang istri juga harus pengertian dengan suami. Sabar menghadapi mertua dan sebagainya…

Diujung usiaku yang beranjak layak menjadi ibu, entah kenapa aku belum bisa membalas budi baikmu bu.

Bu, rasukilah aku dengan roh kesabaran yang tinggi darimu bu. Ibu adalah satu-satunya perempuan yang paling sabar diseluruh dunia ini. Begitu berat beban yang ada di pundak ibu, ibu tetap tegar menghadapi hidup ini. Ibu selalu berusaha untuk bertahan, walaupun keadaan sangat sulit bahkan sampai yang tersulit sekalipun! Darimu aku belajar menjadi tegar, menjadi tidak putus asa, dan ikhlas menerima keadaan yang ada.

Ibu harus kuat. Dan aku harus sekuat ibu! Ibu harus merdeka, dan aku harus semerdeka ibu! Ibu harus bahagia, dan aku harus sebahagia ibu!

Semestinya aku bersyukur Tuhan mengijinkanku untuk tahu wajah asli siapa ibuku. Ibuku ialah kamu bu. Dari ilmu genetika, hanya ibu satu-satunya yang menjadi ibuku yang sah dan asli!

Bagaimana bisa aku membuat ibu tersenyum kembali bu? Haruskah aku menuruti semua pesan-pesanmu, bu? Kenapa sampai sekarang belum juga aku mampu membelikanmu sehelai baju, sebuah gelang emas, apalagi menjanjikan ibu berangkat naik haji?

Air mataku lebih dulu mengungkapkan perasaan betapa sesungguhnya aku sangat kangen ibu. Kudo’akan detik ini dan nanti hingga bila mana kita bertemu kembali Ibu dalam keadaan sehat dan bahagia. Bu, semoga ibu tahu jika dalam diamku ini bukan berarti aku acuh padamu ya bu…Jelas bukan bu, jangan sampai ibu berpikiran itu. Dalam hati aku masih sayang ibu, aku masih membutuhkan ibu ada! Walaupun keberadaanku pada kenyataannya selalu menjauh

Sudah waktunya aku move on dari keterpurukan demi bisa membahagiakanmu, bu!

***

Sebagai perenungan hatiku yang kesekiannya, ijinkan aku berbisik ke dalam hatimu,

“Ibu, aku rindu”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s