Re…

Regina adalah cewe yang baik-baik, ia patuh sama aturan ortunya, sangat baik, cerdas, pemimpi yang hebat dan periang. Wajahnya imut, rambutnya ikal. Ia ketidaksukaannya hadir ketika melihat rambutnya sendiri di depan cermin yang menyatu dengan pintu lemari baju di rumahnya. Tak heran jika ia pernah dua kali memotong rambutnya sendiri tanpa sepengetahuan emaknya. Dicukurlah rambutnya sendiri itu dengan gunting mirip gunting bedah! Plentas-plentos hasilnya, malah bikin ketawa setiap orang yang melihatnya.Ayah Regina lebih menyayanginya daripada kakaknya! Entah apa yang membuat keduanya menjadi lebih dekat, apakah karena sewaktu lahir ayahnya melihat langsung bayi Regina? Itu yang menjadi pertanyaan didalam hati emak Regina. Emaknya juga menganggap kalau sikap dan watak Regina tak beda jauh dengan ayahnya. Semenjak kecil, Regina terlatih hidup lebih bisa berpikiran terbuka terhadap ayahnya. Ia bahkan diajari untuk berantem sama ayahnya lewat take won do. Sayangnya, korban percobaannya jatuh pada kakaknya sendiri saat Regina marah dan tidak puas, tak segan-segan ia akan berani mengajak berantem kakaknya.

Di luar rumah, Regina sosok anak yang kalem, pendiam, pemalu, dan jaim. Jauh berbeda saat ia sedang di rumah bersama keluarganya. Piring sampai dikeprukkan di atas kepalanya sebab emaknya benar-benar sudah tidak tahan lagi melihat ulah Regina yang super buandelll…Jagung-jagung kering terikat lima buah tersiram ketubuhnya saat emaknya melihat langsung kakaknya teraniaya kesakitan. Dan Regina melihat pasrah sewaktu emaknya memukulkan centong ke kepalanya sendiri sebagai ungkapan kalah menghadapi kenakalan Regina!

Regina nakal? Bandel! Kenapa…..

Suatu hari pernah emaknya menceritakan langsung kepada Regina, bahwa sewaktu Regina lahir ayahnya sedang berada di rumah, berbeda sekali dengan saat kelahiran kakak dan adiknya Regina yang dilahirkan tanpa disaksikan langsung oleh ayahnya. Semenjak umur 2 tahun penyakit yang diderita Regina ialah penyakit kulit. Hampir setiap malam, ortunya mengolesi supertetra di setiap bisul-bisulnya yang berisikan kuning nanah. Setiap kali musim tanam padi dan mau panen padi, tidak jarang ia diajak orang tuanya bermukim di sana. Itulah salah satu sebab Regina gatalan. Walaupun begitu, ia senang bisa menikmati hangatnya matahari dipagi hari. Merasakan panas terik matahari, dinginnya hujan dan merelakan diri jika badannya menjadi kotor kumuh yang terpenting selalu dekat dengan emaknya.

Emak Regina dalam kesehariannya bekerja membantu mencarikan rumput untuk seekor kuda ayahnya yang ada di rumah. Biasanya emak Regina akan merumput setelah urusan rumah sudah beres, seperti memasak, mencuci baju, membersihkan rumah. Sosok emaknya dari dulu sampai sekarang masih sama. Tampak selalu polos, seumur hidup Regina belum pernah melihat emaknyanya lebih cantik karena berdandan. Sekali saja emaknya membeli sebuah lipstik, namun tetap saja ia malu untuk memakainya. Sekali saja emaknya membeli anting emas, hanya tergeletak di bawah bantal tanpa mau memakainya. Wajahnya yang kurang lebih hampir sama dengan wajah Regina, lebih sering terlihat kurang bahagia dan murung.

Ayahnya sudah menjadi kusir sejak lama sebelum ia menikahi emak Regina. Pada awalnya ayah Regina sedang mencari rumput, tepat di depan rumah Makdenya. Sebelum dinikahi, emak Regina putih, cantik dan anggun mempesona. Rambutnya hitam panjang sampai melebihi pinggangnya. Melihat begitu moleknya emak Regina, ayah Regina sampai terkena sabit yang tajam. Bercucuranlah darah seketika itu. Namun, sama sekali tidak meninggalkan bekas rasa sakit apapun seketika sebab kecantikan emak Regina dimata ayahnya sangat luar biasa!

***

Regina ikut sedih tanpa bisa berbuat apa-apa.  Saat itu ia hanyalah anak yang baru mau masuk SD, ia belum sampai untuk ikut meminta belas kasian kepada ayahnya setiap kali ayahnya pulang dari kerjanya sebagai kusir, sering ia mendengar keluahan ibunya yang setiap hari hanya diberikan uang serba pas-pasan. Beras satu kg saat itu hanya Rp. 1.000,- saja. Dan uang jajan Regina serta kakaknya hanya selebar Rp.100,-, sebungkus permen kecil  biasa saat itu hanya Rp. 25,-

Regina masih terlalu kecil untuk dijadikan sebagai tempat curahan hati dari emaknya. Hingga pada saat hujan deras itu, emaknya tak kuasa membendung tangis yang bercucuran keluar dari kelopak matanya sendiri. Ia berniat untuk melarikan diri dan menghilang, tidak betah dengan ulah ayah Regina yang seenaknya sendiri. Tapi tekat untuk mempertahankan diri dekat dengan anak-anaknya, akhirnya ia tidak pernah mengulangi hal itu lagi sampai saat ini.

Minuman keras, mabuk, berjudi, beli nomor, mungkin satu atau dua kali hingga ayahnya terkabarkan dari mulut ibu Regina sendiri kalau ia doyan wanita. Yang lebih sadisnya, pada pernikahan awalnya dulu ayahnya pernah membawa wanita lain tidur di dalam rumahnya. Sekali lagi Regina hanyalah anak yang masih kecil, tapi hatinya sudah terlalu banyak mendengar cerita buruk yang menimpa emaknya sendiri. Regina hanya diam, sedih dan larut bersama perasaan ibunya yang galau tak terkira.

Jalan emak Regina untuk mendapatkan uang tambahan belanja ialah ia menyempatkan diri membuat kerupuk yang berasal dari ketela pohon di parut. Pekerjaan itu memang sepele dan hasilnya tidak seberapa. Tapi, Regina tahu bahwa ibunya memperkerjakannya dengan sepenuh hati. Ia melihat ibunya dengan sabar memarut satu persatu ketela yang ada di hadapannya. Hasil dari sari pati ketela itulah bahan dasar utama untuk membuat kerupuk. Regina masih ingat emaknya mencampur sari pati itu dengan vanillli, juga bahan lainnya yang sudah Regina lupakan. Setelah tercampur, baru emak Regina memasaknya. Sesudah itu lalu dicampur dengan pewarna, hingga nanti kerupuknya akan berwarna-warni.

Kakak Regina yang ia ketahui sebenarnya asyik, ia ingat boneka Barbie pertama dari emaknya yang kembar dengan punya kakaknya. Boneka berambut pirang, berpakaian baju rok langsungan, bersepatu high heel dan ada tasnya berwarna pink. Setiap kali sepatu itu tak sengaja jatuh dan tidak ketemu, begitu sedihnya hati Regina. Ingin ia bisa menemukannya sepatu barbie yang hilang itu dan memasangkannya kembali.

Dan apa-apa jika membeli sesuatu emak Regina membiasakan diri untuk membeli barang yang sama untuk Regina dan kakaknya. Semacam jepit rambut yang berwarna hitam itu. Hihihih asli rambut Regina hanyalah sedikit, tapi jepitnya minta ampun besarnya.

***

Emaknya merasakan keanehan pada perutnya sendiri. Semenjak berada di nama tempat emaknya pengajian dan membawa Regina juga mengikuti acara di sana. Rasanya perut emak Regina tidak enak terus-menerus. Regina tidak tahu jika emaknya hamil dan ingin melahirkan. Tubuh emaknya sangat kecil sampai-sampai perut buncit ibunya samasekali tidak diartikan Regina.

(Bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s