Hei Muda, Mantapkan Hati Sebelum Bertunangan!

Hubungan saya dengan mantan tunangan terjalin sudah lama, kira-kira 3 tahun. Itupun lebih lama dalam hubungan jarak jauhnya. Ia secara lahir batin bisa menerima keadaan saya apa adanya. Dilihat dari fisiknya, ia seperti laki-laki normal pada umumnya. Orangnya sederhana, kalem dan selalu tampil tenang. Hubungannya dengan keluarga saya dapat dibilang harmonis, sekalipun saya dalam keadaan jauh tetapi sesibuk apapun ia bekerja masih tetap mau menyempatkan untuk bersilaturahmi dalam sebulan sekali.

Dasar niat hatinya ingin menikahi saya jelas, ia terdorong untuk menjadikan saya menjadi seorang yang lebih baik. Ia pengertian, dan selalu bisa menghindari percek-cokan diantara kita berdua dengan halus. Pernah beberapa kali saya dibawa main ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Mereka sangat senang akan kehadiran saya saat itu. Sudah direncanakan pula saya akan menjadi menantunya setelah saya kembali bekerja di luar negeri.

Kejadian itu sekitar dua tahun yang lalu. Namun siapa kira selama saya berada di luar negeri, di benak hati saya timbul suatu obsesi yang sangat kuat sekali! Keyakinan saya seperti tidak bisa diubah. Permulaannya yaitu saat saya mulai menulis dan menayangkan tulisan tersebut kepada publik, telah membuat saya punya pikiran baru. Dalam pikiran ini jika seandainya terjadi benar saya dan dia menikah, sudah pasti hidup saya akan berada di bawah tangan mantan tunangan saya. Memang benar sekiranya surga ditelapak kaki seorang suami jika sudah ada hubungan pernikahan yang resmi!

Saya membayangkan apabila saya menjadi istrinya, dijanjikan saya harus mau ikut tinggal dan berada di dekat tempat kerjaannya. Tempat itu masih desa yang biasa saja. Setelah menikah paling saya akan hamil(insyaAllah) dan nganggur di rumah sembari mempertahankan perut saya besar berisikan janin. Saya tidak bisa bebas melangkahkan kaki kemana saya ingin pergi. Padahal, timbulnya keiinginan untuk bisa mendapatkan ilmu kepenulisan pada diri saya itu besar sekali. Keyakinan saya memantapkan untuk bisa tinggal di Jakarta.

Pada akhirnya saya pun memberitahukan kepada ayah saya untuk memutuskan pertunangan saya dengan mantan itu. Pertama ia menganggap saya guyon, sebab ia sama sekali tidak tau alasan apa yang jelas dari saya tentang kenapa saya ingin putus. Ia juga percaya bahwa dirinya tidak punya kesalahan yang berarti pada saya. Dan justru saya lah yang bersalah. Saya salah besar terhadapnya. Keegoisan saya sangat tinggi, yang saya pikirkan hanya lah jika saya tidak mengambil tindakan yang tegas maka saya akan menjalani rumah tangga atas dasar keterpaksaan. Saya tidak mau melanjutkan hubungan diantara saya dengannya hanya demi menjaga nama baik orang tua saya dan orang tuanya.

Keputusan di hati saya memang serba membingungkan, benar pada saat itu. Seingat saya ia merupakan salah satu orang yang sudah banyak berkorban untuk hidup saya. Menegarkan saya kembali dalam keterpurukan dan ia tak pernah menyakiti saya sekecil apapun.

Setelah orang tuanya mendengar kabar kurang baik atas putusnya hubungan ini, diberitakan bahwa orang tuanya hanya pasrah. Sepasrah orang tua saya sendiri!

Seiring bergulirnya waktu kini saya baru mengerti betapa saya sudah berbuat kesalahan besar dalam hidup saya. Namun yang perlu saya pahami betul, bukan dari malu atau tidak malu. Ini sebuah komitmen untuk belajar berani mengambil sebuah resiko. Ketika saya mampu memutar pikiran saya seandainya saya tidak memutuskan pertunangan itu. Saya mungkin saat ini sudah bunting, terkurung di rumah, saya tidak sebebas ini menjalani hari-hari sesuai dengan keiinginan hati saya. Lebih baik memang saya putuskan agar ia mendapatkan gadis lainnya, dan tidak memendam kekecewaan terhadap saya lebih lama.

Saya bersyukur, motivasi dalam menulis saya sangat tinggi. Sampai-sampai berjuta kata yang ingin saya tuliskan semuanya buyar dan gagal untuk bisa dituliskan satu persatu. Masih meraba-raba jalan mana yang bisa ditelusuri dan dijadikan pegangan untuk kedepannya nanti. Sedang mencoba dan memulai hidup saya  didedikasikan untuk menulis-menulis-dan menulis. Tentunya tidak asal menulis. Menulis perlu sebuah pengorbanan besar, tekat yang kuat, perlu materi isi tulisan dan tentunya berharap segera ingin bisa lebih baik lagi.

Semua yang terjadi sudah berlalu. Kenyataan yang ada tak jauh sama seperti apa yang pernah saya harapkan. Saya mungkin telah menjadi catatan hitam di mata orang tuanya, bahkan orang tua saya sendiri. Dengan bijak, orang tua saya meminta saya untuk tidak terlalu memikirkan banyak tentang hal ini. Jodoh rejeki semua ada di tangan-Nya walaupun sebenarnya orang tua saya sempat kecewa.

Dalam realita sosial, pertunangan yang gagal bukan hal yang tidak biasa terjadi. Akan tetapi berdasarkan pengalaman pribadi, sebaiknya siapa saja yang belum terlanjur bertunangan sebaiknya pikirkanlah matang-matang. Ambil keputusan yang bulat untuk benar-benar mau bertunangan atau tidak. Bertunangan merupakan langkah pertama jalinan sakral diayunkan sebelum pelaminan datang!

Tanpa mempedulikan pekerjaan apa untuk bisa berada dan tinggal di Jakarta dalam beberapa waktu selanjutnya. Tetap ini akan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Apapun resiko setelah saya bukan menjadi tuangannya lagi, harus saya terima dengan lapang dada. Inikah buah keegoisan diri sendiri? Bagaimana pun juga saya menganggap diri saya egois jika saya melakukan pernikahan secara terpaksa, sebab kemauan saat ini saya hanya ingin berada di sini, Kota Jakarta yang tidak mungkin saya jamah jika saya menikah dengannya.

Sekali lagi, sebelum Anda memutuskan pilihan untuk bertunangan atau menikah atau yang lain dan sebagainya, alangkah baiknya jika Anda berpikir dua kali….

Pilihan adalah tantangan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s