Kapan Anak Boleh Mulai Berpacaran?

Mendengar anak SD berpacaran, ahhh… rasanya nggak mungkin-nggak mungkin ada! Anak SD baru bisa tahu dan mengerti apa sih? Bisanya paling cuma nangis kalo minta uang jajan emaknya nggak dikasih-kasih, kan?

Orang tua sendiri akan merasa tidak percaya kalo anak seumuran SD misal kelas empat sampai kelas enam ternyata bisa memendam rasa, diam-diam saling menyukai…

Berbicara mengenai berpacaran, sebenarnya berpacaran itu pada awalnya hanya suka dan menyukai. Sering kita mendengar, kalo masih sekolah jangan berpacaran. Nggak penting! Yang penting sih sebagai anak sekolah yang berumur kacangan cuma belajar dan nggak ada yang lain. Titik! Itu kata emak,bapak dan ibu bapak guru ya?

Tentunya berpacaran akan menjadi pro dan kontra bagi para guru dan orang tua. Lalu, bagaimana cara terbaik kita memahaminya? Berikut ini sedikit kisah pengalaman pribadi saya, mudah-mudahan dapat diterima realitanya.

Rasanya ingin ketawa sendiri jika saya ingat saat di bangku kelas empat SD dulu, saya mendengar secara langsung dari pengungkapan seorang teman sekelas saya cowok yang katanya dia bilang suka sama saya. Kok bisa? Dalam hati saya cuma bisa bergumam dan setengah tidak percaya. Saya mengira anak itu sedang bergurau. Tapi, dilihat dari penampilan fisiknya ia sudah kelihatan lebih dewasa. Selain umurnya yang lebih tua dua atau satu tahun dengan kebanyakan teman-teman di kelas. Ia jauh tampak lebih berani dan lebih matang. Memang!

Ampun dah, kalo ini sebuah sinetron saya yakin actingnya nggak usah di-cut atau diulang-ulang lagi. Begini ceritanya ya, waktu istirahat tiba saya sengaja ke warung sebelah sekolahan sendiri. Dan pas sampai di warung itu betapa saya dibuat terkejut oleh temen-temen cowok yang sudah duduk berjajar memanjang sepanjang kursi yang sedang mereka duduki, eh taunya dia bilang suka sama saya untuk kedua kalinya dihadapan teman-temannya.

Adem-panas langsung tubuh saya menjadi lemah tak berdaya. Sudah jalan sendiri, tanpa temen. Dan apalagi mendengar ulah cowok yang satu itu membuat jantung saya ingin copot seketika. Saya sadar saya masih kelas empat SD. Saya belum pantas menyimpan-nyimpan perasaan yang tak berarti. Grogi atau GR kalo misal sedang ada cowok itu di dekat saya.

Saya lupa, kali itu di warung beli apa ya. Yang jelas setelah membeli itu sebisa mungkin saya hanya menunduk malu dan mempercepat langkah kaki saya.

Hari selanjutnya, ulah si cowok itu semakin berani dan menjadi. Pas waktu nggak ada guru, saya yang sedang duduk sendiri dan mengadahkan kepala menunduk diatas meja diam-diam sedang mengingat si cowok yang ngaku suka sama saya. Eh, saya dikagetkan dengan keberadaannya yang diam itu disebelah saya. Saya awalnya nggak tahu kalo dia di sebelah saya. Aduh, waktu mengarahkan pandangan ke samping betapa terkejutnya saya melihat wajahnya mengarah pada wajah saya. Wajah kita saling bertemu untuk beberapa menit saat itu.

Hahahaha, yang paling kocak. Niatnya dia mau kelihatan gaul. Diwarnai pula rambutnya yang merah itu ternyata pakai pewarna makanan. Pas keringatan, bercucuran lah keringat itu campur warna merah. Ngeri!

Walau begitu,  perhatiannya tampak nyata buat saya. Kebetulan kan saya sedang diganggu sama teman laki-laki saya. Saya dihalang-halangi nggak boleh masuk kelas tanpa alasan melainkan sekedar iseng saja.

“Woi jangan coba-coba mengganggu Tami loe, ntar gua ajaki loe senggel emang berani?’’, katanya ketus dengan gaya berlagak hero!

Temen laki saya itu nggak berani bicara apapun kemudian nggak ngganggu saya lagi.

Berpacaran atau bukan, orang bilang itu cinta monyet. Tapi saya nggak tau kenapa sedikit banyak saya jadi grogi setiap ketemu si cowok satu itu. Awal saya mengenal tertarik dengan laki-laki ataukah ilusi diri sendiri? Kelas empat SD sebenarnya tau apa sih, hihiihi

***

Di bangku kelas 1 SMP. Namanya Adi, mulanya sih hanya karena dia gojekan dan guyon alias main-main nggak beneran sama teman perempuan saya. Sewaktu pelajaran kosong hari itu saya sedang focus dengan mata pelajaran yang ada. Walau pun gurunya berhalangan hadir, tetap saya mau membaca buku dan memahami apa yang sedang saya baca tersebut. Saya dengar seorang laki-laki yang tepat duduk di sebelah saya sedang rebutan bolpoint sama temen perempuan saya.

Dalam hati saya cuma ngomel dan marah dalam hati,

“Ih, berisik amat orang dua ini dari tadi!”

Gojekan antara teman laki-laki dan perempuan itu ternyata berujung pada sesuatu yang membuat saya menangis. Temen perempuan saya sengaja menyembunyikan bolpointnya di dalam laci meja saya. Eh rupanya laki-laki tadi yang namanya Adi ternyata tahu!

Ditanyai lah saya seketika itu.

“Neng, bolpoinku ada di dalam lacimu kan!”, tanyanya sambil menjongkokkan kakinya dan menatap sepasang mata saya. Matanya yang sejuk dilihat dan langsung merasuk hati.

“Nggak!”, jawabku singkat sambil malu-malu melihat tatapan mata itu. Nyesel hati rasanya melihat tatapan itu. Uh, tapi tatapannya serasa beda banget deh!

Eh, nggak taunya tas bodol saya diambil dan dibawa lari. Secepat mungkin lalu saya men gejarnya. Berharap jangan sampai ia membuka isi tas saya. Demi menjaga image saya akan kebodolan tas itu, saya pun lalu menghantam punggungnya keras-keras!

“Pluuuuk”, terpukullah sudah punggungnya…

Karena sudah dipukul nggak dibalik-balikin juga akhirnya saya memilih untuk menangis.

Akibat kejadian itu, saya merasa tidak pernah nyaman dengannya. Dia bukan seperti teman laki-laki yang lain. Dia yang paling berbeda sekaligus mempunyai mata yang mengesankan. Menyadari usia kita yang masih Kelas satu SMP, kita hanya memendam rasa malu tanpa sanggup berkata terus terang untuk mengungkapkannya.

Rasa itu bahkan masih ada sampai kita di kelas tiga SMP.

Dari kedua cerita diatas, 100% bukan fiksi atau rekayasa. Baru di bangku SD kok sampai-sampainya punya rasa sama lawan jenis. Walaupun sekedar grogi atau malu, tapi itu sudah termasuk ketertarikan seksual. Jika disadari anak seumuran kelas empat SD, apa hebatnya sih? Pada usia tersebut padahal perkembangan biologisnya belum termulai atau baru akan mulai. Kenapa bisa timbul rasa grogi, malu dan aneh seperti itu?

Hal ini layak dijadikan perenungan bersama. Kita bersama mempertanyakan kapan anak diperbolehkan pacaran? Sebagaimana yang telah saya ungkapkan di atas. Bahwa berpacaran itu sebenarnya akan dilakukan oleh anak sesuai dengan kemampuannya berpikir. Bagi saya, jika anak SD sudah mulai punya rasa malu itu wajar. Itu tak beda kalo ia malu mandi telanjang didepan orang tuanya dan sebagainya.

Banyak kita beranggapan, berpacaran hanya boleh dan dianggap pantas jika anak sudah berada di bangku SMP atau SMA. Kalau seatas itu tingkatannya sudah tidak perlu ditanya lagi. Padahal berpacaran yang dilakukan kalangan SMP dan SMA tak jarang menimbulkan keresahan tak terduga. Misalnya saja adanya kehamilan diluar nikah sebab hubungan yang kebabalasan. Apalagi masa-masa ini masa perkembangan seksualnya mulai ada.

Perasaan anak mulai tertarik dengan lawan jenisnya masing-masing anak akan berbeda. Sedangkan persaan tertarik itu akan menjadi awal seorang anak mengenal dunia ‘’Berpacaran!’’.

Sebagai orang tua, biarkanlah perasaan anak Anda mengalir secara alami. Berikan masukan nilai moral dan spiritual secara rutin, dan berikan perhatian yang intens agar anak mampu membentengi dirinya dari hal-hal yang tak diinginkan.

Salam!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s