Berani-beraninya Saya Mengaku, Saya Adalah Penulis!

Do you beliave me I’m as a newbie Writer?10997368_1673827146178236_9096038690869996112_n

Sedari saya masih kecil, tak pernah terpikirkan jika perjalanan hidup saya akan terselingi dengan sedikit banyak dunia literasi. Yang pada mulanya saya hanya suka makan sama sambal terasi, kini rasa untuk menyumbang karya sastra dalam bentuk tulisan kian menggebu!

Bukan atas dasar saya itu pada mulanya pecinta dunia sastra, bukan pula terobsebsi untuk menjadi  seorang penulis yang hebat. Hanya saja, saya punya keyakinan dengan banyak membaca sesuatu maka pikiran saya akan terbuka. Masih saya ingat beberapa novel yang mengajari saya untuk cinta membaca tulisan. Bermula dari novel-novel karya Mira W.

Judulnya diantaranya yaitu “Cinta Tak Pernah Melantunkan Sesal”, “Cinta Tak Pernah Berutang”, “Dari Jendela SMP”,Di Bahumu Ku Bagi Sesalku”, “Bilur-bilur Penyesalan”. Ada pun beberapa novel yang lain seperti, “Karmila”,” Ayahku Seorang Psikopat”, “Namaku Hiroko”karya-karya Nh. Dini yang merupakan seorang novelis penulis budaya Jepang yang detail dan sangat khas. Ia yang sempat menikah dengan seorang diplomat berkebangsaan Perancis, dan suaminya ditugaskan di Jepang sehingga ia tahu pada alur cerita karyanya lebih banyak menceritakan budaya Jepang!

Sejak SMP saya suka membaca novel. Sering saya membaca novel karya Mira W dengan linangan air mata sebab bahasa yang dituliskan benar-benar dapat saya jiwai dan rasakan. Saya sampai membayangkan seandainya tokoh yang ada di dalam cerita itu adalah saya.

Selain saya mendapatkan buku bacaan di perpustakaan, saya juga sengaja meminjam buku dari perpustakaan di daerah saya yang setiap meminjamnya itu perlu membayar uang.

Alasan saya melanjutkan sekolah di bangku SMA juga tak lepas Karen a saya ingin bisa membaca buku lebih banyak dan saya dapat menemukan buku-buku yang saya sukai. Merasa jiwa saya agak terganggu, saya mulai menyukai  buku yang bebau psikologi. Buku yang paling menarik saat itu ialah buku karangan Dr. Massaru Emotto yang berjudul” The True Power Of Water”, dimana ia merupakan seorang ahli  hidrologi.

Setelah saya mengetahui bahwa ternyata air itu dapat dipengaruhi dengan kata-kata. Akhirnya saya beranggapan kalo ilmu pengetahuan itu penting dan bermakna sekali sebab terbukti kebenarannya.

Aneh dan sayang sekali dulu sewaktu saya sekolah, saya nggak suka baca buku mata pelajaran. Pantes saja nilai mata pelajaran berada di level rendah. Saya bukan termasuk anak yang cerdas, melainkan anak yang biasa saja.

Membaca buku perpustakaan lebih sering saya lakukan ketika masa istirahat tiba. Setiap kali jenuh, saya akan membuka buku semacam seni rupa. Saya suka melihat lukisan, apapun itu jenis lukisannya. Melihat lukisan yang indah, seolah saya larut menikmati goresan dalam proses pembuatannya.

Kecintaan saya membaca buku pada saat itu tak mempengaruhi saya untuk berniat menulis. Sebab saya berpikir kalo saya akan menerjunkan diri di bidang kesenian, seni rupa khususnya.

Beberapa saat sekitar dua tahun saya vacum membaca karena lingkungan yang menjauhkan saya dari budaya membaca.

Namun, keberadaan saya selama di Singapura telah mempengaruhi saya untuk menyadari bahwa membaca buku itu penting! Hingga saya percaya kemakmuran Negara Singapura tak lepas karena wagra negaranya yang berintelektual tinggi sebab ketertarikannya membaca buku yang tinggi. Pendidikan prioritas utama di Negara tersebut. Hal ini memotivasi saya untuk mau membaca buku yang bermanfaat dan berisi.

Di Singapura saya hampir setiap hari belajar menghafal kosa kata dalam Bahasa Inggris, saya akan menggaris bawahi setiap kosa kata yang menurut saya baru dan saya belum ngerti artinya. Biasa, kalo dapet gajian sisa uangnya lebih suka saya belikan untuk membeli pensil atau buku buat corat-coret itu. sembari mencoba bercakap-cakap dengan orang sana yang kemungkinan ada kalanya saya harus berbicara dalam Bahasa Inggris. Di sana saya punya teman yang berasal dari Negara Nyanmar. Bahasa Inggrisnya bagus. Seperti kalo sedang ketemu sama orang India, atau orang pasar yang nggak bisa berbahasa Melayu.

Oh ya, memang pas beruntung saja. Di Singapura saya bisa menonton TV sesuka hati saya. Suka melihat acara yang menarik dengan bahasa Inggris.

Teman saya yang dari Malaysia sampai meminjami saya kamus Bahasa Inggris-Malaysia. Melihat kerajinan saya mengartikan satu kata demi kata. Lopaniang(bos perempuan tak jarang meminjami buku-buku koleksinya kepada saya. Dari situlah saya mulai membaca buku-buku Entrepreneur berbahasa Inggris, termasuk membaca kisah seorang Merry Riana untuk yang pertama kalinya. Walau tak seratus persen saya mampu mengartikan, selebihnya saya termotivasi untuk bisa memmahami arti dari setiap tulisan yang saya baca. Membaca buku kewirausahaan, membuat saya tak takut dengan lelah karena bekerja.

Di Singapura orang-orangnya banyak yang termasuk pekerja gigih dan ulet! Meski sudah kakek-kakek atau nenek-nenek mereka suka bekerja.

Perpustakaan di Singapura mirip dengan Perpustakaan Hong Kong.

Berbedanya di Hong Kong saya lebih bisa leluasa masuk dan keluar setiap minggunya passt saat saya dapat libur bekerja. Membaca saya yang saya jadikan kebiasaan bukan sekedar hobi lagi, membuat saya rajin meminjam buku yang saya sukai. Ada dua perpustakaan di dekat rumah yang saya tinggali. Enaknya saya bisa meminjam dan mengembalikan dimana pun perpustkaan itu berada. Sebab, peminjaman dan pengembaliannya menggunakan mesin yang sama(memang sudah modern).

Di Hong Kong jangan salah, jangankan anak kecil yang cuma bisa  lihat gambar saja yang suka baca buku. Yang kakek-nenek sudah buyutan pun masih aktif membaca. Gila membaca banget ya?

Melihat buku yang banyak di perpustakaan Hong Kong, yang mana gedungnya mempunyai banyak lantai yang berisikan beragam jenis buku dari anak sampai dewasa. Semuanya lengkap. Buku-buku best seller dunia semua ada. Termasuk Koran Indonesia dan majalah Indonesia.

Melihat Koran Kompas, Suara Merdeka, Koran Sindo, Majalah Gatra, Majalah Hai, Majalah Femina, Majalah Kartini, Tabloid Nova ada berjejeran dengan media cetak internasional rasanya bangga sekali marenjadi warga Indonesia.

Lalu, hadirlah dibenak pikiran saya seperti ini…

Saat ini penulis hebat dapat saya saring lewat mata saya. Keberadaan penulis hebat membuat saya hanya mampu untuk tetap menulis dengan keunikan saya, bukan pada target keunggulan, atau popularitas. Mengingat pada awalnya saya adalah seseorang yang gila membaca. Apalagi bacaan yang ‘’nge-klik di hati saya”. Rasanya langsung pengen nyantap bahan bacaannya!

Sudah pasti saya masih bukan siapa-siapa. Tetapi dalam hati saya heran, berani-beraninya saya mengaku sebagai penulis! Yang akan saya katakan pada orang yang ingin  kenalan sama saya, begini. Perkenalkan saya penulis,  dan bukan pengangguran. Sepertinya sematan penulis di dada itu lebih bermartabat. Mengingat itu semua saya ingin tertawa geli, sebab pada mulanya saya beranggapan bahwa saya nggak bisa menulis. Dan menulis itu sulit!

Saya bisa(menulis asal-asalan) bukan apa-apa tapi karena terbiasa…

Iklan

3 pemikiran pada “Berani-beraninya Saya Mengaku, Saya Adalah Penulis!

  1. I believe you when you say you are a writer, Seneng. Very interesting background that you have, having lived in Indonesia, Singapore and Hong Kong and having friends from all over the world. Hahaha, that is funny you borrowed books from the library (too many, too long I’m guessing) and need to pay a fee 😀 Like you, I like looking at photos and pictures in books as they help to tell the stories alongside the words.

    I studied Bahasa Melayu for ten years in high school in Malaysia and Singapore so I understood some of what you said here. But it has been quite a while since I am used to the language so forgive me if I interpret it wrong 😀

    Keep writing. I love your writing energy and you write with such honesty 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s