Selir Hatimu…

Aku mulai merasa punya malaikat bersayap putih bersih, bulu-bulu halusnya memancarkan sinar yang menyejukkan mata. Sapaannya selalu aku rindukan, setiap siang dan malam. Tak kala subuh datang, aku diingatkan untuk salat. Sudah lama aku malas salat.

Melihat profilnya, aku yakin kamu orang baik-baik. Kamu bukan orang sembarangan. Tampak kamu tersenyum penuh kewibawaan. Pantas sekali dijadikan sosok panutan. Sebab kebijaksanaan dari wajahmu tak bisa dibohongi. Aku masih buta siapa kamu yang sebenarnya, tapi ada jalan lain yang mampu mengisahkan sedikit banyak cerita tentang kamu dari tutur kata jiwamu.

Hariku mulai semangat tepat pada detik itu. Sewaktu aku malu, telat salat subuh! Hatiku menjadi teduh, setelah jilbab menutupi kepalaku tepat pada jam pagi yang damai itu! Dalam ingatanku bahagia ada kamu. Pekenalan denganmu itu mampu menautkan hatimu pada hatiku. Bukan sekedar karena aku ingin mendapatkan apa yang ingin aku dapatkan. Melainkan aku ingin mengenalmu lebih jauh, lebih dalam, dan dekat selalu!

Dari mulanya salat subuh, aku mengusahakan untuk bisa salat lima waktu. Aku mulai membiasakan diri untuk berhijab. Aku mulai punya semangat, aku merasa lebih hidup dengan berhasilnya aku menemukan kamu datang dalam hidupku tanpa diduga!

Lagi-lagi kamu ada benak pikiranku. Sumpah aku benar-benar bahagia mengingat kamu sangat baik! Pertama, menyemangatiku. Kedua, menginspirasiku lewat kisah hidupmu. Ketiga, membantuku menemukan jalan cita-citaku. Sampai pada akhirnya, aku lebih banyak mengingat kebaikan-kebaikanmu.

Jika bukan karena semangat yang luar biasa dari jiwamu dalam menghadapi hidup ini, aku yakin kamu akan tak seindah ini! Belum bertemu saja aku sudah kagum padamu. Seindah itu hati dan jiwamu, apa rahasianya?

Atau barangkali aku menganggapmu sebagai seseorang yang misterius! Hatiku percaya, kekuatan dalam hatimu itu sungguh luar biasa untuk menjadi orang yang maju…

Akhirnya, kekagumanku padamu yang tak bisa dikendalikan lagi itu tertuang pada sebuah tulisan sakral. Bagaimana bisa tulisan itu menjadi pengikat awal kita menjalin cinta? Dan kita menjadi begini, tulisan itu juga menjadi teka-teki sebenarnya Rahasia Allah itu apa, Tuhan menghadirkan rasa suka diantara kita, Tuhan mengijinkan kita untuk bertemu, Tuhan mengijinkan kita menjalin ikatan hidup bersama, Tuhan sampai sekarang masih mengijinkan kita saling menjaga cinta rahasia kita.

Hanya saja, Tuhan belum mengijinkan kita hidup seatap. Tuhan belum menginjinkan kita menikmati hembusan nafas kita yang saling dekat berhembusan.

****

Ya. Aku di sini untuk mengejar mimpiku yang sedang aku perjuangkan! Entah sebenarnya apa mauku, dan apa yang ingin aku tuju dan dapatkan. Aku sendiri kurang tahu. Aku hanya sekedar menuruti kata hati. Hatiku yang pernah bilang dan mensugesti diriku sendiri untuk berada dan tinggal di sini dalam beberapa waktu kedepan ini. Memang aku hanya mampu untuk bertahan seperti ini. Apa adanya tanpa bisa berbuat banyak dan lebih dari ini.

Dalam sehari-hari aku masih lebih banyak sendiri. Tanpa kawan, tanpa teman, dan keluarga di sisi. Aku hanya seorang diri. Aku sudah bosan begini, aku ingin hidupku punya kawan. Tapi entah lah, atau mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku yang harus aku lalui seperti ini. Aku masih berjuang bertahan, di sini hanya karena aku tak bisa jauh darimu.

Hati cemas saat aku sedang tak didekatmu. Semenjak perkenalan itu, telah berbulan-bulan aku menantikan keberadaanmu dihadapanku. Setelah ketemu, aku tambah yakin jika kamu berjiwa berlian. Aku sudah terpaut padamu. Tubuhku lemas, mataku kosong sekosong pikiranku, jika jauh denganmu. Dalam setiap detik, ingin kamu ada di sisiku. Walau pun itu suaramu.

Aku tahu, orang tuaku berat melepas kepergianku. Mereka mengaku lebih senang dan tenang jika aku bisa patuh terhadapnya! Hanya itu sebenarnya yang mereka minta dariku, bukan yang lainnya. Ketika pikiran dan hati ini terpusat pada namamu, aku seolah punya raga tanpa tulang. Karena aku merindukanmu, karena aku tak bisa jauh darimu. Karena aku sangat ingin menghabiskan detik-detik terakhir kita dalam suka-duka!

Kita berdua pernah merakit mimpi menjadi baju-baju yang kita pakai setiap hari. Oh, apakah mimpiku akan tercapai hanya dengan cara dekat denganmu. Aku pun tak tau atau mungkin karena ketulusan yang ada di hatimu itu membuat aku luluh? Apakah aku sudah salah, terlalu meyakinimu bahwa kamu sedikit banyak akan mengubah hidupku lebih terarah?

Saat ini, aku hanya ingin dekat denganmu. Selalu ada di sisimu. Sekalipun itu sekejap, sekalipun kau akan datang dan menghilang kembali. Teringat saat aku jauh darimu dan tak sanggup menggenggam jemarimu yang mulai mengeriput. Aku hanya sanggup menangis tersedu dalam hati. Jiwaku sangat merindukanmu, ingin mendatangimu dan memelukmu.

Aku tak tau, sampai kapan kisahku ini bersamamu akan berujung. Dan kita tak peduli akan itu! Cinta. Apakah ini benar yang namanya cinta? Seharusnya kita berdua bahagia. Semestinya kita benar-benar bahagia dengan kedekatan kita saat ini. Aku mampu melihat sorotan matamu yang diam. Aku sudah bisa merasakan hangatnya pelukan tubuhmu yang menenangkan jiwaku.

Ayah-ibu. Maafkan aku. Terimakasih akan kesempatan yang engkau berikan kepadaku. Dalam hatiku masih mempercayai jika mimpiku memang harus diperjuangkan. Harus! Walau aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sungguh nggak tahu.

Aku tak beda dengan perempuan yang dungu. Aku bebal. Aku kurang menyenangkan! Apa yang bisa aku banggakan selama ini. Keglamoran aku nggak sanggup, sebab aku nggak punya apa-apa, aku hanya punya seribu pengalaman penuh luka dan kecewa. Tapi bagaimana pun juga, aku akan lebih lemah jika jauh darimu. Hatiku telah kutambatkan hanya padamu ketika kesempatan aku dinikahi seorang laki-laki itu datang.

Jelas pintamu padaku, dulu! Kamu ingin hubunganku dengan tunanganku itu, putus. Demi bisa hidup sama kamu. Demi bisa bercinta denganmu.

Pasti Tuhan lebih tahu bagaimana keadaan hatiku yang sebenarnya. Tuhan  lebih adil memilih kan jodoh pada hamba-hambanya. Begitu aslinya aku ini wanita bejat, begitu mudahnya Tuhan memelencongkan hatiku pada pusaran hatimu. Ya, hanya pada hatimu.

Apa yang terjadi saat ini masih lekat dengan perjalanan selama kita belum bertemu. Dan pada kenyataannya, semua serba terbalik. Mimpi kita menjadi porak poranda. Ada-ada saja alasan yang membuat kita merasa terombang-ambing dalam kekalutan. Wajahku sama sekali tidak istimewa, bahkan dalam jiwaku ini.

Sekarang hati kita saling terdiam menghadapi kenyataan. Kita telah disatukan karena cinta. Sebab aku ingin mendapatkan ilmu yang banyak dan mencuri segala apa saja yang bisa aku curi darimu. Mulai dari kebaikan-kebaikanmu, dari kecerdasan jalan pikiranmu, rasa percaya dirimu yang tinggi dan aku suka kamu. Sesungguhnya dari dalam dasar hatiku aku benar-benar menyukaimu. Aku berani katakan bahwa aku cinta kamu.

Kanda. Dalam kesunyian dititik malam, tanpa hujan dan tanpa awan. Seiring dengan air mata ini yang hambar. Aku ingin mengungkapkan rasa terimakasihku padamu, sebab kanda mengerti bahwa aku menyukaimu, mengagumimu, dan jatuh hati padamu. Aku sadar siapa kanda. Selalu dalam ingatanku mengatakan bahwa kanda adalah cahaya yang akan mampu mengubah hidupku menjadi lebih baik.

Kanda menerima rasaku itu merupakan sesuatu yang harus aku syukuri. Aku hanya mampu menyembunyikan rasa terharu setiap kali kanda bilang sedang kangen padaku. Aku hanya mampu menahan keinginanku untuk memeluk kanda sekencang-kencangnya dengan perasaan bahagia setiap kali aku mendapatkan pengorbanan kanda yang luar biasa tulus untukku.

Bukan untuk materi, bukan untuk reputasi. Melainkan aku punya pegangan hidup! Itulah yang aku cari kanda. Bagaimana aku harus tegar, bagaimana aku harus bangkit dari segala keterpurukan dan keputus asaan!

Rahasia Allah.

Hanya itu yang selalu menjadi ikrar kita berdua setiap kali kita dihadapkan dengan sesuatu yang membuat kita gila. Seberat apa pun, kita selalu mencoba untuk mempertahankan hubungan rahasia kita ini. Mencoba menjaganya rapat-rapat sampai pada akhirnya kita berharap akan berakhir dengan satu kebahagiaan saja!

Aku pernah bahagia tak kala pertama kali kamu memanggilku sayang, sayang karena cinta! Mustahil kamu bisa cinta padaku, memendam rindu dalam diammu, dan menjadi sahabat sepanjang hariku tanpa jemu. Itu dulu.

Aku pernah bahagia ketika jemari kita saling menyentuh dan menggenggam. Gemetaran seluruh tubuhku, tak terkendali. Ingin dipeluk kamu, dan tak dilepas lagi. Lalu, aku hanya mampu menunduk dan terpaku. Salah besar aku mencintaimu dan ingin memilikimu. Salah! Aku sering mengatakan itu, tapi keberadaan Tuhan mampu mengubah segalanya. Hingga kini ada kisah diantara kita berdua. Yang saling tak bisa dijauhkan lagi.

Bagaimana aku percaya jika kaki kita sudah saling berpaut? Surgaku kini  bearada di ujung kakimu.

****

Ah, tapi bukankah itu sesuatu yang paling kita tunggu? Bertemu entah dimana denganmu, memandang wajahmu, menatapmu, menyentuh tanganmu, menyapamu, tersenyum dihadapanmu, memelukmu dan aku sungguh ingin memilikimu. Kau tau itu?

Ketika pikiran hati ini terpusat padamu, dan semuanya hanya berpusat padamu. Aku merintih dalam hati tersiksa akan semua hal yang terjadi diantara kita. Semua sudah terlanjur, begitu juga aku terlanjur mencintaimu. Jatuh hati padamu. Aku tak peduli dengan kata orang lain akan pilihanku ini.

Nafasmu adalah sumber nafasku. Aku membutuhkan itu, tanpa keberadaanmu, aku tak tau siapa diriku ini! Lagi.

Denganmu aku berani bermimpi, bersamamu aku berani bermimpi. Dan keberadaanmu itu bukan mimpi. Kamu ada untukku kanda. Dalam pelukanmu, aku menemukan kerinduanmu yang dalam tersimpan untukku. Aku mengerti apa arti hembusan nafasmu yang tanpa perlu dipertanyakan mengapa? Hangat hatiku setiap kali aku berada didekatmu, (andai saja kamu tahu itu kanda….)

-menangis-

Iklan

3 thoughts on “Selir Hatimu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s