Soto Kebo Bikin Aku Kaget Plus Pengen Mencicipi

Ini lho Soto Kebo yan pertamakali saya makan...
Ini lho Soto Kebo yan pertamakali saya makan…

”Kamu mau nggak makan Soto Kebo, atau kamu suka Bakso?”

Pertanyaan itu saya dapatkan dari Mbak Dinda Pertiwi, seorang Kompasianer dari Kudus. Kebetulan setelah saya berkunjung di rumah Kompasianer bernama Mbak Yuni Astuti di Blora, hari berikutnya saya langsung ke Kudus. Boleh dikatakan saya kurang waras sebab niat hati main sampai Kudus itu tanpa rencana. Pada hari sebelum keberangkatan saya ke Kudus, baru itulah saya meminta nomor telepon Mbak Dinda hanya lewat Facebook. Dan niat keiinginan saya ke Kudus sudah saya beritahukan terlebih dahulu dengan Kompasianer lain bernama Mas Masluh Jamil.

Cie…ileh, yaelah, dan seperti saya ini gelandangan yang selamat berkat Kompasianer-kompasianer ini.

Ingatan saya masih jelas keberadaan saya di tempat Mbak Yuni disambut dengan hangat sampai saya melangkahkan kaki menuju Kudus. Dasar saya anak yang penakut tapi nekat, hanya diberitahu naik bus jurusan ini dan turun di mana begitu saja tetap saya lakukan demi niat saya. Jalan-jalan ngelantur, berharap mendapatkan sebuah inspirasi. Tanggal (3/12/14) sekitar jam setengah dua siang, dari Blora saya menuju Rembang. Dalam ingatan otak saya, saya harus turun di Pentungan. Idih, mulanya mendengar Pentungan itu apa? Tugu kah, pasar kah atau tempat apa yang jelas saya belum bisa membayangkannya. Sebenarnya ada rasa takut campur bingung, belum lagi setelah turun nanti naik bus yang apa lagi…

Setengah berani setengah takut juga, tapi tetap nekat menuju ke Kudus sana. Kebingunganku akhirnya teringankan oleh kesediaan Mas Masluh Jamil akan menjemputku setelah saya sampai di Kudus nanti.

”Pokoknya nanti kamu turun di Kudus, kasih tahu aku kamu di mana lalu aku jemput!”

Hadew, serangkaian kata itu membuatku ingin meringis melulu. Mas Masluh kira Kudus itu kecil banget. Jadi misalnya saya turun di mana saja, dia pikir dimana pun dekat menurutnya. Karena bingung, sekaligus ingin bisa sampai sana. Pada mulanya saya mengatakan jemput saja saya di Terminal Kudus,atau di suatu pasar. Eh, tetapi setelah diingat-ingat lagi Mbak Dinda Pertiwi tadi menyarankan turun di Ngembal, akhirnya saya turun dari Bus Jurusan Surabaya-Semarang itu turun di Ngembal saja. Benar deh, saya pun turun di tempat ini. Tidak lama kemudian Mas Masluh menjemput saya dengan sepeda motornya.

Gang Melati dekat masjid. Menjadi tujuan utama saya supaya sampai di rumah Mbak Dinda Pertiwi sore bertabur gerimis menjelang maghrib itu. Oh ya, selama diperjalanan ada sesuatu yang menarik menambah wawasan saya diantaranya yaitu melewati Rembang. Sumpah, kekuperan saya selama ini baru melihat langsung kalau Rembang itu penghasil garam. Mata pencaharian di Kota Rembang yang dominan salah satunya membuat garam. Jadi terpikirkan kalau air di Rembang asin rasanya. Untuk air minum, pastinya orang Rembang tidak semudah mendapatkannya seperti di daerah saya di Ambarawa, Semarang dan tempat-tempat yang menghasilkan air normal lainnya.

Panorama Rembang
Panorama Rembang, ladang garam

Saya masih ingat, sepanjang jalan yang dijadikan tempat pembuatan garam/area ladang garam sangat luas sekali. Terdapat juga ikan asin yang berhasil ditangkkap dan dijemur. Bau asin. Ada beberapa rumah yang bangunannya seperti rumah kurcaci. He he he, saya  mengira ada banyak kurcaci di Rembang tapi ternyata itu gudang garam!

Kembali kecerita selanjutnya, saat saya sampai di rumah Mbak Dinda Pertiwi. Sampai di tempat masih hujan. Tetapi setelah berada di dalam rumah rasa dingin menjadi sirna saat kami asyik mengobrol. Saat itu pula perbincangan antara Mbak Dinda Pertiwi dengan Mas Masluh menjadi hangat sebab ternyata keduanya Kompasianer sama-sama dari Kudus.

Hari berikutnya saya beruntung diajak jalan-jalan mengunjungi Menara Kudus dan Musium Kretek. Sengaja memilih dua tempat itu sebab yang terdekat dari rumah Mbak Dinda dua tempat itu. Disepanjang perjalanan, saya melihat suasana Kota Kudus lebih ramai dibandingkan dengan Blora. Kata Mbak Dinda, Kudus itu menjadi tempat belanjanya orang yang mampir dari Kota Blora, Demak, dan Rembang. Pantes saja di sini terkesan ramai. Kami sempat naik angkot, naik becak dan bahkan jalan kaki.

Menara Kudus menjadi tujuan pertama kami. Saya menyaksikan banyak sekali pengunjung yang datang untuk berdo’a ramai-ramai di makam Sunan Kudus ini. Baik yang sudah tua atau anak-anak sekolah. Tepat di Menara Kudus yang berada di sebelah masjidnya, saya melihat menara itu tersusun dari batu bata saja. Setengah tidak percaya mendengar kata Mbak Dinda kalau batu bata ini tersusun hanya dari putih telur. Dalam hati saya, kenapa bisa sekuat ini yaaa batu batanya hanya dari rekatan putih telur? Atau karena yang membangun itu sunan…

Batu bata ini direkatkan dari putih telur? percayakah Anda...
Batu bata ini direkatkan dari putih telur?
percayakah Anda…

Baju, souvenir, dan makanan khas dijual di area terbuka di luar Menara Kudus tersebut. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Musium Kretek. Sekitar 500 meter sebelum sampai di tempat, kami mampir di rumah makan. Jadi kaget, penasaran dan benar-benar ingin mencoba menikmati Soto Kebo setelah ditawari Mbak Dinda Pertiwi sejak sebelum kami berengkat pergi tadi.

Penyajian Soto Kebo ini kuahnya ditempatkan seperti wadah minuman dawet ayu. Ada dua kendil besar kanan kiri yang biasanya dipanggul itu. Tradisional banget kesannya. Setelah dicoba, rasanya ternyata luar biasa. Mangkoknya lebih kecil dari mangkok biasa, sudah rasanya enak membuat saya ingin menambah lagi. Alasan malu, jadi keiinginan itu cukup tertahan saja. Hi hi hi…

Menurut cerita dari Mbak Dinda Pertiwi, Sunan Kudus mengajarkan bahwa untuk menghormati penganut agama Hindu, masyarakat yang menganut agama Islam dilarang menyembelih binatang Kerbau/Kebo. Sebab, orang Hindu menjadikan Sapi sebagai binatang sucinya. Karena kepercayaan dan adat daerah Kudus yang masih kuat, sampai sekarang tidak heran apabila banyak warung makan di Kudus menyediakan makanan berdagingkan Kerbau. Saya sendiri mendengar Soto Kebo malah baru pertama kali ini. Terdengar asing, malah membuat saya penasaran untuk mencicipinya…

Berkat Kompasianer Kudus Mbak Dinda Pertiwi dan Mas Masluh Jamil, saya bisa sampai di sini untuk ytang pertama kalinya.
Berkat Kompasianer Kudus Mbak Dinda Pertiwi dan Mas Masluh Jamil, saya bisa sampai di sini untuk ytang pertama kalinya.

Satu catatan yang cukup manarik, bahwa di Kudus ada rumah penuh dengan ukiran. Harga saat ini jika terjual bisa sampai 1 Miliar lebih lho.Perjalanan singkat mampir di tempat Kompasianer super keren yang menambah wawasan saya…

Iklan

2 pemikiran pada “Soto Kebo Bikin Aku Kaget Plus Pengen Mencicipi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s