Jangan Sepelekan Makan Makanan

Di Indonesia budaya makan nasi tiga kali sehari masih marak dan hampir diseluruh daerah Indonesia masih terbiasa dengan hal yang seperti itu. Nasi plus sayur, kalau ada tambah kerupuk/gorengan. Gorengan ini hampir disetiap tempat ada, baik tempe, tahu, dan makanan-makanan yang berminyak lainnya. Bahkan, komunitas Indonesia di Hong Kong paling suka membeli gorengan buatan orang Indonesia. Gorengan sudah menjadi simbol orang Indonesia. Makanan berminyak, mengandung lemak. Jika terlalu banyak dikonsumsi, makanan berminyak dapat mengakibatkan nyeri dada, Gastroenteritis,  Tukak lambung (ulcer), dan gangguan pencernaan.

Setelah sekian lama berada di negara asing dan saat ini sudah kembali di Indonesia, mau tidak mau saya harus makan makanan buatan yang tentunya sudah menjadi budaya Indonesia. Disadari atau tidak, masyarakat kita mengonsumsi makanan yang banyak mengandung santan/kelapa. Mungkin sudah menjadi budaya turun temurun dari nenek moyang kita terdahulu atau karena di Indonesia ini kelapa sangat mudah untuk didapatkan.

Di Indonesia, parut yang digunakan untuk memarut kelapa hampir disetiap rumah pasti punya. Berbeda sekali dengan orang luar negeri. Mereka tidak punya parut seperti yang ada di Indonesia. Dan apabila mereka butuh santan, mereka memilih untuk membeli santan dalam bentuk kemasan yang siap saji. Lebih praktis dan lebih menghemat waktu daripada harus memarut kelapa terlebih dahulu sebelum memasak.

Tentunya, kelapa yang diparut sebenarnya lebih fresh tanpa bahan pengawet dibandingkan dengan kelapa dalam bentuk kemasan. Bagaimana pun juga, apabila pengonsumsian kelapa ini sangat sering. Akan berpengaruh buruk juga terhadap kesehatan tubuh kita. Kandungan santan kelapa terlalu banyak dikonsumsi oleh kita bisa mengakibatkan timbulnya kolestrol.

Sampai sekarang baik di desa maupun kota seperti Jakarta, makanan padang hampir di setiap tempat ada dan banyak diminati warga. Yang di desa pun sama, berbagai macam masakan variatif selalu ditambahkan dengan santan. Dan budaya kita jika masakan masih tersisa, yang sering dilakukan ialah memanasinya. Padahal, pemanasan berulang mengakibatkan lemak berubah. Lemak dari perasan daging kelapa yang diparut seharusnya menyehatkan, menjadi tidak bersahabat dengan tubuh. Karena meningkatkan kolesterol LDL (low density lipoprotein). Kolesterol LDL merupakan kolesterol jahat berlebihan dapat mengendap di dinding pembuluh darah. Sehingga mengakibatkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah atau disebut dengan aterosklerosis, terbentuknya plak di dinding pembuluh darah.

teropongbisnis.com
teropongbisnis.com

Bila penyempitan dan pengerasan ini terus-menerus, mengganggu suplai darah ke otot jantung tidak cukup. Sehingga dapat menimbulkan rasa sakit atau nyeri dada, yang bila berlanjut menjadi kematian akibat gangguan jaringan otot jantung. Jika gejala tersebut menyebar luas, akan menyebabkan kondisi yang disebut gagal jantung dan stroke bila sumbatan ini menyerang pembuluh darah otak.

ramadhan.liputan6.com
ramadhan.liputan6.com
Berikut ini beberapa makanan familiar yang ada disekitar kita yang mengandung santan; masakan kari, rendang, masakan padang, nasi uduk(pada nasinya), minuman kolak, minuman es cendol, bubur beras/bubur apa saja yang kebanyakan membutuhkan santan, berbagai makanan tradisional seperi; jenang, wajik, getuk(ditaburi kelapa parut), soto Betawi, masakan lodeh, laksa dan berbagai makanan khas tradisional Jawa lainnya. Di Indonesia bisa dibilang 65% makanannya masih bergantung pada keberadaan santan, sekalipun diperlukan sedikit.
Akibat kesukaan warga kita memasak makanan bersantan, lidah kita ternyata punya perbedaan sangat jauh dengan lidah-lidah orang asing. Makanan yang menurut kita sudah pas asinnya, bisa jadi dicicipi orang asing menjadi terlalu asin. Sedangkan orang asing tidak suka dengan makanan terlalu asin. Sebaliknya, warga kita mencicipi masakan orang asing, yang terasa malah hambar. Orang asing sangat memperhatikan pola makanannya sendiri. Di Hong Kong ada orang yang membuat bubur dari beras, tapi sama sekali tidak ditambahi santan.
Juga pada masakan-masakan lainnya, mereka meminimalisasikan masak masakan bersantan. Memasak sayur saja, mereka hanya menggunakan bawang putih dan garam seperlunya. Tanpa mengiris bumbu bawang merah, bawang putih dan cabai seperti di Indonesia.
Karena di Indonesia banyak masyarakat yang tergolong menengah kebawah, tidak heran jika diantara mereka beranggapan bahwa makan apa saja yang penting perut kenyang dan sebagainya. Tak terlalu menjadi prioritas gizi bagi tubuh kita asalkan perut tidak keroncongan saja sudah. Di negara asing yang sudah maju, makanan diperhitungkan sebisa mungkin seimbang. Ada lauk, sayur, daging/ikan dan buah. Sumber makanan ini berpengaruh besar pada kecerdasan otak negara asing yang sudah maju tersebut.
Dengan cakupan gizi/vitamin yang seimbang itu berperan penting terhadap sumber stamina tubuh agar kebal terhadap penyakit, supaya perkembangan tubuh membaik, dan lebih bisa berkonsentrasi. Makanan sehat akan menyehatkan tubuh, didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat pula. Mulai sekarang ayo perhatikan pola makanan kita.
Sumber: http://kaltimpost.co.id/berita/detail/87833-bahaya-kolesterol-dalam-santan.html

Iklan

7 pemikiran pada “Jangan Sepelekan Makan Makanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s