Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya

Potret Jakarta/ Sumber: Dokpri
Potret Jakarta/ Sumber: Dokpri

Selama saya berada di Jakarta, saya merupakan pengguna aktif jasa transportasi baik mikromini, Bus Kopaja atau Busway TransJakarta. Selebihnya Bus Kopaja dan Bus TransJakarta, menjadi transportasi andalan saya sebab tidak ada pilihan lain untuk tidak menggunakan jasa bus tersebut. Entah mengapa, hampir dari setiap saya sudah turun dari bus yang saya tumpangi, selalu meninggalkan kesan kurang nyaman dihati saya sendiri dan mungkin bagi beberapa penumpang lainnya. Seolah naik bus itu saat ini menjadi sesuatu yang tidak disukai oleh banyak penumpang. Dari mulai jalannya yang macet, sampai menunggu kedatangan bus yang lama, serta tidak terkontrolnya kenyamanan untuk penumpang saat ini.

Alasan bus menjadi transportasi penting di Jakarta karena saat ini hanya bus saja yang mampu menjangkau wilayah sesuai kebutuhan penumpang. Bayangkan saja, jika penumpang naik kereta api. Yang ada banyak penumpang kesulitan sampai di tempat tujuannya, selebihnya kereta api hanya satu jurusan saja. Lagi, jasa Taksi hanya mampu digunakan untuk kalangan menengah keatas sebab ongkosnya yang mahal. Di Jakarta MTR masih dalam pembangunan.

Dapat menerobos disela kemacetan ialah pengendara sepeda motor yang malah menambah kemacetan/ Sumber: Dokpri
Dapat menerobos disela kemacetan ialah pengendara sepeda motor yang malah menambah kemacetan/ Sumber: Dokpri

Ada beberapa masyarakat khususnya di Jakarta ini, menyadari bahwa naik bus itu sering mengalami macet dan harus menunggu antrian lama untuk menunggu kedatangan bus. Sudah banyak saat ini masyarakat yang memilih untuk berpergian dengan mengendarai sepeda motor. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka beranggapan bisa mencari celah untuk menerobos sela-sela diantara kemacetan tanpa menggantungkan bus lagi. Dan begitulah, tidak heran jika kita memperhatikan jalan yang ada di Jakarta ini mobil bercampur dengan sepeda motor yang berjubel!

Saat ini, beberapa jalan di Jakarta sedang dalam perbaikan, nampaknya ada yang ditinggikan, ada yang dihaluskan/samaratakan, dan penyempurnaan jalan Busway TransJakarta. Menurut saya, perbaikan tersebut kurang cepat dalam penyelesaiannya. Selain jalan yang mengalami perbaikan masih difungsikan, dalam pembangunannya seakan  begitu santai. Padahal, dampak buruk dari kelambatan memperbaiki jalan tersebut mengakibatkan jalan menjadi berdebu. Hal ini sangat mencemaskan warga setempat dan penumpang bus terancam gangguan pernapasan akibat pencemaran udara. Apalagi terhadap penjual makanan yang biasanya berada di pinggir jalan.

Jalan Simpang Lima yang tak terkendali/ Sumber: Dokpri
Jalan Simpang Lima yang tak terkendali/ Sumber: Dokpri

Kalau nggak macet, bukan Jakarta namanya! Itu merupakan tanggapan dari salah satu teman saya ketika saya menyampaikan bahwa saya sedang naik bus Kopaja dan macetnya minta ampuuun. Saya juga masih ingat awal mula saya menginjak kaki di Jakarta saat itu, setelah turun dari bus Travel saya dari Kalideres saya berniat naik Busway TransJakarta jurusan Rawa Buaya. Dan ini menjadi pengalaman pertama saya naik Busway, pada mulanya saya biasa saja melihat antrian panjang dari para penumpang. Tapi, saat saya merasa sudah menunggu lebih dari setengah jam, saya merasa tersiksa sekali. Sudah gerah menunggu lama, tanpa AC, dan kipas angin yang kurang, penumpang berdempet-dempetan, dan tetap harus berdiri, tak peduli mau pinsan atau kebelet kencing. Juga tetap harus berdiri!

Jika Jakarta itu macet, semestinya memang harus dimaklumi saja. Kita tahu, Jakarta merupakan urat nadinya Indonesia. Banyak orang dari beberapa kota di luar Jakarta seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Bandung, bahkan luar Jawa sana yang menggunakan jasa transportasi antar kota dan propinsi sengaja datang ke Jakarta. Baik untuk urbanisasi, untuk berwisata, dan berbisnis. Jakarta menjadi tempat pusat dimana banyak orang memang perlu masuk dan keluar Jakarta.

Menurut saya, kemacetan di Jakarta yang ada selama ini merupakan buah kota Jakarta yang kurang terencana. Pemerintah kita rupanya kurang sigap dalam menghadapi dan mengatasi masalah ledakan penduduk yang ada di Jakarta. Ok, jika memang saat ini Jakarta hanya mampu memberikan pelayanan jasa transportasi daratnya hanya bus yang jadi sarana utamanya. Kenapa tidak dari dulu, di Jakarta ini dibangun lebih banyak jalan layang? Kenapa baru tahun depan Ahok baru merencanakan bus tingkat akan dioperasikan di Jakarta? Apakah pemerintah DKI Jakarta terdahulu patut dinilai kurang dalam menangani kemacetan di Jakarta ini?

Yang selalu saya sedihkan ialah, kita(khususnya pengguna jalan raya yang ada di Jakarta) baik penumpang transportasi umum/ pengemudi kendaraan pribadi yang suka dilanda kemacetan di jalan raya. Menjadi lebih banyak tersita waktunya hanya karena hal sepele yaitu macet-macet-macet dan macet lagi! Kemarin sore saya dari Pulo Gadung sampai Rawa Buaya bisa sampai 3 jam. Gila! Di negara-negara maju, waktu itu lebih berharga daripada uang. Lima menit saja mereka sangat menghargai, apalagi satu jam.

Kalau sudah begini yang salah siapa? Jika banyak dari penumpang bus saat ini yang menggunakan jasa transportasi kebanyakan tidak merasa nyaman lagi, tidak bisa datang dan pulang kerja tepat waktu hanya karena penyakit jalan Jakarta ini suka rewel/macet! Ini lho Jakarta, ini lho Indonesia. Seribu keluhan hanya cukup tersimpan didalam hati setiap penumpang dari kita semua.

Sepeda motor menyebar di tengah jalan raya penyebab kemacetan/ Sumber: Dokpri
Sepeda motor menyebar di tengah jalan raya penyebab kemacetan/ Sumber: Dokpri

Pemda Jakarta, segera berikan solusi kepada kami. Sejahterakan kami, sebagai rakyat yang memang transportasi itu sudah menjadi bagian dari kebutuhan kami sehari-hari. Terimakasih!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s