Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa?

Monas/ Sumber: Dokpri
Monas/ Sumber: Dokpri

Mendengar Kota Jakarta, identik dengan adanya Tugu Monumen Nasioanal(Monas). Kemudian lagi adanya Gedung DPR dan MPR, barulah akan terbayang bagaimana lukisan keglamoran Kota Jakarta beserta kemiskinan dan kemacetan yang ada diselip-selip Kota Jakarta. Monas merupakan salah satu tempat yang sudah lama saya idam-idamkan untuk bisa saya kunjungi. Dan betapa bahagianya ketika kesempatan itu benar ada untuk saya. Sudah pasti kesan saya pertama kali saat menuju Monas sangat girang.

Tepatnya Hari Minggu, 16 November sekitar pukul 10:00 pagi saya sudah sampai di tempat ini. Dengar-dengar dari salah satu teman saya, di Hari Minggu di sepanjang jalan dekat Monas sana sampai Bundaran HI ada Free Car Day. Tepat sekali digunakan untuk berjalan santai, pikir saya.

Kebetulan sesampai di sana terdengar berbagai acara yang bersamaan saling menyuarakan suaranya dengan pengeras suara. Jadi berisik banget. Setelah memasuki pintu gerbang Monas, tampaklah Monas dengan kemegahannya. Jalan dari pintu gerbang ke Tugu Monas lumayan panjang. Jalan terus rasanya kok nggak sampai-sampai ya? He he he

Pedagang Asongan yang berjubel/ Sumber: Dokpri
Pedagang Asongan yang berjubel/ Sumber: Dokpri

Di sepanjang perjalanan menuju Tugu Monas, saya menyaksikan serentetan pedagang kaki lima yang berjubel dari mulai penjual yang menawarkan baju-baju, mainan sampai pedagang makanan. Dari penjual asesoris seperti kaca mata, topi dan barang antik lainnya. Anak-anak kecil berlalu-lalang kesana kemari. Semua pengunjung yang hadir menyebar sebab tempat ini seolah sengaja dibangun tanpa sekat.

Pedagang asongan bebas berjualan disembarang tempat karena tak ada tempat khusus/ Sumber: Dokpri
Pedagang asongan bebas berjualan disembarang tempat karena tak ada tempat khusus/ Sumber: Dokpri

Ketika mimpi saya bisa berkunjung di Monas menjadi kenyataan, semestinya saya merasa senang dan bahagia. Tetapi entahlah, mungkin saya itu termasuk orang yang boleh dibilang kritis. Dalam hati saya merenung, Monumen Nasional seperti ini kok seperti tidak terurus! Begitu banyak sampah berserakan dimana-mana. Yang salah itu pengunjung yang membuang sampah sembarangan atau petugas kebersihan yang kurang menyediakan tempat sampah?

Menurut saya, sebaiknya pihak terkait yang bertanggung jawab dengan keberadaan Monas perlu membangun sebuah bangunan khusus untuk pedagang yang ingin berjualan di tempat tersebut. Supaya pemandangan yang ada di sana tampak rapi dan nyaman dilihat mata. Lalu, sebagai penjagaan image, sebaiknya pihak yang mempunyai kewenangan terhadap tempat ini, melarang keras adanya para pemulung yang berseliweran di area Monas.

Keamanan dan kenyamanan di sekitar Monas yang kurang/ Sumber: Dokpri
Keamanan dan kenyamanan di sekitar Monas yang kurang/ Sumber: Dokpri

Monumen Nasional sebagai tempat demo, salahkah?

Sekarang ini masih hangat dengan berita tentang kenaikan BBM oleh Presiden Jokowi. Satu hari sebelum Jokowi meresmikan kenaikan BBM, para demonstran berkumpul di sepanjang jalan Monas hanya untuk melakukan aksi demokrasi. Dengan harapan penaikan BBM dapat dibatalkan! Saya yakin, sebelum saya menyaksikan sendiri para pendemo yang ada di sekitar Monas ini, sudah dapat ditebak jika pendemo sebelumnya juga suka melakukan aksinya di tempat ini.

Aksi Demontrans menolak kenaikan harga BBM/ Sumber: Dokpri
Aksi Demontrans menolak kenaikan harga BBM/ Sumber: Dokpri

Demo yang baik sebaikanya jangan di tempat Monas, karena sebenarnya Monas itu tempat yang mempunyai potensi wisata yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, Monas sudah familiar dijadikan sebagai simbol Kota Jakarta, dan otomatis Jakarta sebagai Ibu Kota akan mewakili wajah Indonesia melalui Monas ini. Monas mempunyai nilai History yang bagus. Mengingat tujuan didirikan Tugu ini tak lepas sebagai peringatan agar sejarah bangsa kita dikenang selalu oleh generasi ke generasi berikutnya dari masyarakat Indonesia.

Saya yakin, jika Monas mendapat perhatian yang baik dan perawatan yang tepat, potensi wisata di tempat ini akan seramai dengan tempat-tempat wisata terkenal di Indonesia seperti wisata yang ada di Pulau Bali. Indonesia-Jakarta-Monas adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan lagi.

Mungkin juga perlu adanya pengembangan konkrit terhadap seni budaya yang ditampilakan khususnya pada Hari Minggu, dengan membangun sebuah gedung pertunjukan dan didukung oleh pemrograman yang tepat kepanitiaan sebuah acara pentas seni budaya. Bisa menjadi nilai tambah tersendiri untuk Monas.

Pengamatan pada hari itu, diwaktu yang sama ada 4 acara yang ada bebarengan. Diantaranya, pentas seni budaya Indonesia, Lomba mewarnai untuk anak-anak, pameran dalam acara memperingati 50 tahun Hari Kesehatan Nasional dan acara panggung Hiburan. Jika dikaitkan erat dengan kesejarahan, acara yang paling diutamakan yaitu pentas seni budaya terlebih dahulu.

Rupanya banyak pengunjung yang tertarik dengan panggung Hiburan dibandingkan dengan yang lainnya. Inilah bukti bahwa pengoptimalan pelestarian seni budaya kita masih kurang. Seni budaya jika dikembangkan dengan baik, dapat menjadi penarik wisata asing datang berbondong-bondong ke Indonesia untuk mengenal Indonesia lebih dekat.

Dan yang terakhir, salah satu yang perlu diperbaiki supaya Monas dapat dijadikan sebagai salah satu tempat wisata yang bernilai adalah dengan mengatur para pedagang makanan yang berada di bibir pintu gerbang beserta para kusir. Ketempat yang lebih terpadu, supaya terkesan nyaman dan menarik!

Sebaiknya para pedagang ini jangan di bibir pintu gerbang/ Sumber: Dokpri
Sebaiknya para pedagang ini jangan di bibir pintu gerbang karena menghambat pejalan kaki/ Sumber: Dokpri
Iklan

9 pemikiran pada “Monas Kurang Diminati Turis Asing, Kenapa?

    1. hehehe… Mbak Nita, kalau saya kemarin kesana kan untuk yang pertama kalinya, jadi baru tahu dong monas kayak apa yang sebenarnya…
      thanks ya mbak sudah mampir…:)

      1. Hehehehe.. Aku malah senengnya Monas yang jaman dulu, yang gegap gempita ada permainan lampu2 dsb, rame pol.. Kalau skrg kok rasanya sepi dan ekslusif ya, kalau rapi sih gak apa2, tapi kumuh juga.. Udah lama juga sih gak ke sana, terakhir pas tahun 2007, gak tau skrg spt apa kenyataannya.. πŸ˜€

      2. Nggak juga.. Justru rame banget kayak pasar malam, tapi seru aja ke monas jaman dulu.. Apalagi pas aku msh anak2.. πŸ˜€

  1. Capek benar Pemda DKI mengurus Monas tampaknya. Bersihnya dari PKL cuma beberapa hari habis itu menyemut lagi. Mestinya kalau PKL tak bisa ditertibkan mestinya pengunjung yang jajan di sana yang mesti ditegur atau ditangkap. Kalau sudah begitu semoga yang lain jera dan gak belanja lagi di sana. Kalau sudah tak ada pembeli PKL akan pindah dengan sendirinya

    1. Mbak Evi, kalo di Negara Maju, membuang sampah sembarangan bisa kena denda. Kalo di Indonesia sama sekali tidak ada larangan yang ditakuti oleh masyarakat.
      Bisa dikatakan pemerintah kualahan menangani masyarakat yang ada. Atau bisa dikatakan pemerintahan kita kurang profesional!
      Terimakasih Mbak sudah mampir ya πŸ™‚
      salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s