Nafas Terakhirku Jadi TKW di HK

Semoga yang membaca kisah nyata ini dapat terinspirasi untuk bisa lebih sabar dalam menghadapi suatu masalah, lebih bersyukur terhadap hidup yang dimilikinya, dan lebih bisa mempunyai semangat hidup yang baik!

Sekian lama menjadi TKW, aku bersyukur selalu mendapatkan gaji yang rutin. Dan aku tidak pernah menghadapi masalah tentang gaji. Dari pasport yang barusan aku buka, dihalaman ke-6 tertuliskan aku menginjakkan kaki di Negara Singapore pada tanggal 21 Oktober 2011. Kembali ke Indonesia pada tanggal 04 Desember 2012. Lalu, pada halaman ke-13 di Pasportku tertuliskan, aku menginjakkan kaki di Hong Kong pada tanggal 26 April 2013. Secara materi, aku bukanlah termasuk TKW yang berhasil. Karena berdasarkan ketentuan aslinya, masa kontrak kerjaku selama dua tahun. Dan lagi-lagi ternyata kegagalanku bekerja di Singapore, terulang di Hong Kong. Alasannya, aku yang mengundurkan diri memutuskan kontrak kerja alias nge-break!

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul ”Bibir-bibir Orang Hong Kong” aku berhasil membuat kesimpulan dari pengamatan langsungku tentang sekilas alasan orang Hong Kong berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya! Dan kali ini, artikel yang akan aku tulis lebih menekankan pada bagaimana rasanya jadi seorang pembantu di negeri orang!

Ini hanya tumpahan pengalaman saja, aku akan menceritakan apa yang pernah aku alami. Cerita diawali dari pertamakali aku mendaftarkan diri bekerja di Singapore. Hanya bermodalkan nekat aku beranikan diri untuk bisa sampai di Negara Singapore tersebut. Pada mulanya aku sengaja diam-diam mencari jasa pelayanan pengiriman TKW di dekat rumahku, aku tinggal didesa kecil dari bagian Kota Semarang. Dengan mengendarai sepeda Mio, aku bertanya kesana-kemari untuk melacak dimana sih keberadaan tempatnya itu.

Syukurlah, setelah keliling dengan rela kepanasan, aku pada akhirnya menemukan satu tempat bernama PT OKDO, yang terletak dekat dari rumahku. Hanya menghabiskan 10 menit dengan mengendarai kendaraan roda dua. Setelah aku mendapatkan brosur dan surat ijin orang tua dari PT itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memberitahukan niatku kepada ayahku. Pada mulanya ayahku takut dan menolak! Tetapi, aku berhasil menghilangkan kecemasannya dengan berpura-pura aku akan baik-baik saja. Masih teringat keluargaku tidak tega membiarkanku memilih mau menjadi TKW.

Karena kekuatan motivasi dari diri sendiri untuk tetap melangkahkan kaki menjadi TKW, aku pun kemudian mau di medikal dan masuk PT itu untuk melakukan proses selanjutnya. Aku pada hari pertama bergabung dengan anak-anak yang sudah di PT. Rasanya berada di PT sungguh jauh berbeda sekali dengan berada di rumahku sendiri. Sekalipun rumahku kurang bagus, tetapi berada di PT seperti berada di dalam penjara. Makan seadannya, mandi dengan tempat seadannya, yang mesti antri, mau mengikuti peraturan di PT. Yang sudah didik selayaknya pembantu rumah tangga pada umumnya.

Melayani dengan penuh kehormatan, menunduk-nunduk dan sebisa mungkin menghindari kesalahan agar tidak kena marah dari stafnya. Aku merasakan apa yang akau alami itu dengan lapang dada. Tetapi, satu yang membuat aku punya spirit dari dalam. Aku berkumpul dengan orang asing yang berlatar belakang tertentu. Tidur dan berkumpul dengan orang-orang calon TKW dengan kehidupan nyatanya. Membuat mata hatiku terbuka, betapa menyedihkannya kehidupan orang lain itu. Masih jelas, memori di otakku mendengar kata hati dari teman-temanku bahwa mereka mau menjadi TKW untuk membangun cita-citanya.

Dari mulai adanya niat bekerja demi anaknya yang sudah ditinggalkan suaminya, dari yang karena ingin melarikan diri dan ingin melupakan mantan cowoknya, dan dari alasan karena ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Kurang lebih aku berada di PT selama dua setengah bulan. Guruku bilang, aku anak yang lumayan dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Dalam pesannya, ia meminta aku agar mau giat bekerja saja. Sebelum sampai di rumah majikan, aku harus mengikuti tes masuk menjadi TKW di Singapore. Dengan jumlah soal 40 butir. Syukurlah aku lulus hanya dengan mengikuti ujian sekali.

Pertama kali menginjakkan kaki di Singapore, aku merasakan ketakutan. Harapan pertamaku, aku bisa membayar hutang kepada agency selama 9 bulan. Supaya aku tidak membebankan masalah kepada orang tuaku. Aku mendapatkan gojlokan selama satu minggu. Bekerja seharian dengan tidur hanya selama 3-4 jam saja. Ingat dulu, makan di agen Singapore hanya nasi dengan oseng daun kol dicampur sosis. Atau sesekali makan nasi dan telur goreng. Sehari-harinya makan dengan itu-itu saja.

Bekerja di Singapore tidak terasa berjalan selama satu tahun lebih satu bulan. Aku merasa jenuh. Kupikir pekerjaanku sangat monoton, aku butuh bekerja tetapi tidak tahan jika terus begini. Itu perasaanku dulu. Akhirnya aku memutuskan pulang. Kepulanganku disambut dengan wajah-wajah yang tak berubah seperti keberangkatanku dulu ke Singapore dari keluargaku. Keluargaku memang tidak menuntut uangku. Tetapi, kata hatiku mengatakan aku harus berjuang demi perubahan yang nyata pada keluargaku.

Berjuang? Masih ada asa dan kekuatan kah aku memperjuangkan diriku sendiri? Terlihat jelas aku pada saat itu sudah kehilangan harap. Mukaku pucat pasi seperti orang yang ingin mati. Aku lebih suka murung dan berdiam diri. Selama seminggu di rumah aku depresi. Aku lupa makan dan kadang lupa mandi. Aku hanya menyendiri di lantai dua rumahku. Sendiri. Aku bingung apa yang harus aku lakukan? Aku tak berminat bekerja di pabrik atau toko seperti teman-teman sebayaku yang tidak kuliah. Aku merasa tidak mungkin bisa kuliah! Aku seperti ingin mati bunuh diri.

Kemudian, dengan terpaksa aku sengaja menjatuhkan diri untuk bekerja di Hong Kong. Dengan harapan aku bisa berhasil! Kembali menjalani proses panjang menjadi TKW dengan PT yang sama. Kembali aku diingatkan dengan orang-orang yang menjalani proses menjadi calon TKW di luar negeri. Hatiku luluh mendengarkan kisah hidupnya masing-masing. Dan aku berpikir, ini adalah satu bagian dari permasalahan yang ada di Indonesia. Sebagian besar ibu rumah tangga di Indonesia kurang bahagia dan perempuan muda Indonesia juga kurang sejahtera.

Bermula dari suka memikirkan hal-hal yang seperti ini, kemudian aku berpikir bagaimana Indonesia akan maju jika kualitas perempuannya masih banyak yang rendah? Dimana kita tahu, melalui perempuan akan terlahir generasi-generasi baru. Aku juga terdorong untuk mau belajar ketika aku berada di Hong Kong. Dengan sengaja mau mengambil pelajaran apa saja yang dapat kupetik dari pengamatan warga HK dan dari bacaan buku yang pernah aku baca.

Setiap kali aku memandangi teman-temanku yang sedang libur di hari Minggu, ada harapanku Indonesia ke depan bisa lebih baik. Supaya kaum hawa Indonesia tidak banyak yang mau bekerja di luar negeri, sedangkan aslinya penuh resiko tinggi. Menjadi TKW, pada mulanya aku banyak merasakan kepahitan-kepahitan hidup. Aku bertemu dengan orang-orang berpengalaman pahit. Sangat pahit jika dimaki, dimarahi, dan diperlakukan seperti pembantu yang murah ketika aku menemui orang-orang sulit dihadapanku.

Saat ini, kebetulan aku sudah tidak bekerja. Aku juga tidak berkesempatan bisa tertawa bersama dengan teman-temanku seperti dulu. Dalam hatiku, ada rasa yang sulit aku artikan. Aku ingin menangis, mengingat saat ini aku lebih tahu alasan kenapa banyak orang-orang perempuan Indonesia yang berbondong-bondong bekerja di luar negeri! Saat ini aku tahu, betapa sulitnya menjadi seorang TKW, betapa beratnya untuk bisa mempertahankan hidup di negara lain tanpa bermodalkan apa-apa dan hanya mengandalkan tenaganya sendiri.

Sampai aku mati, pengalaman menjadi TKW akan selalu kuingat. Dalam hatiku sudah terlanjur bergejolak marah sekaligus prihatin dengan nasib perempuan di Indonesia. Sekalipun aku tak sehebat mantan TKW yang berprestasi lainnya, sekalipun aku hanya orang biasa. Tetapi, akan kuusahakan untuk bagaimana caranya perempuan Indonesia menjadi perempuan-perempuan yang tangguh dan bernilai. Yang pertama dan utama yang harus aku lakukan ialah aku harus mempunyai semangat hidup supaya aku bisa menyemangati orang lain yang mungkin sedang kurang semangat atau kehilangan harap! Kerasnya hidup sudah banyak memberikanku pelajaran berharga.

14133622481484813078
Yang tak terlupakan (Dok. Pribadi)

Shueng Wan, HK

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s