Yakinkah Anda Tidak Bermental Tempe?

Dasar Seneng itu memang suka yang begini, ini yang kayak gini deh pokoknya! Sebelumnya, saya minta maaf dulu jika judulnya sudah menyengat. He he he, seperti lebah atau serangga saja ya? ”Yakinkah Anda Tidak Bermental Tempe?” Judul ini sebenarnya beresensi untuk sekedar berintropeksi diri saja, bukan yang lain-lain! Please enjoy your reading, don’t judge anything first…

Bermental tempe itu yang seperti apa sih? Sebaiknya baca dulu deh ulasan saya sebagai berikut, toh yang saya tuliskan merupakan hal-hal yang sangat mudah dilakukan oleh setiap orang! Saya percaya semua orang bisa mengetest dirinya sendiri dan mempraktekannya…menilainya, dan jujur pada dirinya sendiri.

1). Ujilah diri kita dengan membaca sebuah bacaan.

Dapat didapatkan dari bacaan apa saja, tetapi usahakan tulisan itu rapi dan mudah untuk dibaca agar bacaan bisa dikatakan bacaan yang berstandar. Pastikan bahasa bacaan itu berbahasa Indonesia, bahasa negara kita sendiri. Saya menduga, setiap orang yang membaca dari dalam hati kebanyakan akan membaca tulisan tersebut dengan lebih cepat daripada ketika orang membaca dengan lisan/bersuara.

Please, practice by yourself! Mulailah dari Anda membaca dari dalam hati terlebih dahulu, kemudian lanjutkan bacaan dengan mengucapkannya! Pahamilah suara Anda sendiri baik-baik. Perhatikan apakah nada dari suara Anda dapat dikatakan stabil? Atau suara Anda naik-turun tidak beraturan! Dan bagaimanakah kecepatan dan ketepatan Anda dalam membaca secara lisan itu? Cepat dan benar atau cepat tetapi terkadang membaca dengan salah-salah?

Ternyata seseorang dapat di ketahui tingkat kedewasaan dan kepercayaan dirinya dari hal yang sangat kecil ini, yaitu membaca dengan lisan. Memang membaca dengan lisan itu jika dilakukan oleh orang-orang dewasa akan terkesan aneh dan sesuatau yang kurang banyak disukai. Tetapi, seandainya orang dewasa melakukannya, dapat dipastikan tidak semua orang bisa membaca dengan nada suara yang sama/ kestabilan nada suara seseorang membaca dengan lisan itu berbeda-beda. Dan kecepatan dan ketepatan seseorang membaca itu bergantung pada emosi dan mentalnya masing-masing orang.

Kok bisa ya? Jawabannya iya banget, karena saya sendiri sudah merasakannya. Satu hal kecil yang tidak pernah saya mengerti, dan sadari. Suatu hari ketika saya ingin berusaha lebih fokus dan menangkap isi bacaan dengan cepat, saya mencoba untuk membaca apa yang sedang saya baca/ sebut saja koran dengan melisankannya. Membaca dari dalam hati memang relatif cepat, tetapi jika pikiran tidak konsentrasi penuh bisa-bisa membaca sambil lalu saja jadinya! Akhirnya, mengulangi lagi apa yang sudah dibaca. Lagi dan lagi.

Begitu membaca dengan lisan, saya ternyata tidak dapat membohongi bahwa saya sedang GALAU, saya sedang tidak percaya diri, saya sedang cemas dan sulit berkonsentrasi. Tidak heran jika suara yang terdengar ditelinga saya itu nada suaranya naik turun, suaranya keluar tidak tegas, dan berkali-kali salah dalam mengeja. Pikiran saya kemudian teringatkan oleh orang-orang yang jadi pembawa berita di TV. Wuihh…saya dengan pembawa berita di TV beda jauhhh Ke-Pedeannya, pasti ada yang tidak beres nih dengan mentalku!

Saat seseorang membaca, baik dengan membaca dalam hati atau lisan, disadari atau tidak seseorang itu tidak bisa lepas dari emosi jiwanya. Antara senang, sedih dan percaya diri!

2). Ujilah diri kita dengan menulis tangan di atas kertas.

Grafologi/ Sumber: http://hikaristudio.wordpress.com/
Grafologi/ Sumber: http://hikaristudio.wordpress.com/

Tulisan tangan. Melalui tulisan, kita bisa tahu apakah orang tersebut sedang dalam kondisi mood swing, gelisah, pesimis, dan sebagainya. Untuk mengetahui lebih banyak tentang hubungan tulisan tangan dengan kepribadian/ emosi/mental seseorang, silahkan dibaca dari sumber berikut. Sumber: http://mediajoko.blogspot.com/2013/12/membaca-kepribadian-melalui-tulisan.html

Saya sendiri suka ngiri dengan orang-orang yang menulis dengan tulisan rapi, mudah dibaca dan bagus. Eh tapi, btw dokter sama wartawan tulisannya seperti cekeran ayam ya? He he h e…Intinya, seseorang yang pesimis, tidak bahagia, dan galau tulisannya akan kurang bagus dibandingkan dengan orang yang bermental sehat!

3). Ujilah keberanian kita berbicara di depan umum/banyak orang.

Kalau yang satu ini, ampun deh. Saya berani ngomong di depan bayak orang mesti lihat-lihat siapa dulu orang yang akan saya hadapi. Kalau sama teman sebaya mungkin baik-baik saja. Tetapi, di forum resmi? Bagaimana bertanya atau menyampaikan pendapat apabila mental tidak ada? Belum ngomong apa-apa sudah mental kan?

4). Mempublikasikan artikel/tulisan untuk umum.

Terlepas apa isi dari tema yang dituliskan, yang jelas seseorang penulis(yang mempublikasikan tulisannya) akan mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang dituliskannya. Butuh mental kan?

Oh ya, sebagai tambahan. Menulis itu bisa dijadikan alternatif melatih otak kita supaya aktif fokus dan berkonsentrasi dengan baik lho. Sebelum menulis, sudah tentu seseorang akan membuat ide dan kemudian mengembangkan idenya tersebut dengan berimajinasi. Tentang bagaimana tulisan yang ingin dirangkaikannya. Dengan menulis(di media apa saja, yang penting menjadi sebuah tulisan minimal artikel) seseorang akan mempunyai kerangka pikiran yang runtut. Jika sudah begitu, terhindarlah orang itu dari yang namanya ”Kemrungsung” atau suka tergesa-gesa dalam mengambil tindakan/memecahkan masalah!

Secara jujur, mental saya ternyata masih sangat perlu diasah untuk diperbaiki, bagaimana dengan mental Anda?

Iklan

Sulap Bad Mood Jadi Good Mood!

14126126241642347607
Bad mood / Dok. Gilang Rahmawati Kampret

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya otak kita merupakan bagian organ tubuh yang sangat luar biasa. Selain fungsinya yang hebat, otak mampu bekerja tak kenal lelah sepanjang waktu. Dengan syarat tubuh kita rutin diberi asupan gizi dan cukup tidur. Otak bisa tidak berfungsi apabila tengkorak otak rusak, bisa juga karena jaringan otak rusak disebabkan karena alkohol, atau obat-obatan terlarang. Otak bisa mengalami kelelahan apabila kita tidak mengontrol pikiran kita sendiri, seperti stress dan depresi.

Pada saat tertentu, dalam kesehariannya kita tak jarang dihadapkan dengan sesuatu yang menimbulkan pikiran kita sedih, galau atau murung sehingga hati kita menjadi bad mood. Dan kalau sudah bad mood, rasanya memang seperti tak mau melakukan apa-apa lagi ya? Orang yang menghargai dan memperhitungkan waktu, biasanya mereka akan merasa sangat rugi sekali jika dia sedang ditimpa bad mood. Pengennya cepet-cepet segera bisa move on dari rasa bad mood-nya.

Pengalaman buruk pribadi dan suasana lingkungan luar yang mendadak berubah memburuk itu sangat mudah mempengaruhi pikiran untuk menjadi tidak aktif. Mata kita itu melek, tetapi jika otak tidak bekerja sebagaimana mestinya seperti saat kita semangat, selalu saja otak kita rasanya ingin bermalas-malasan dan seolah sedang tidur pulas.

Mengalami bad mood itu merupakan hal yang biasa, dan hampir setiap orang juga pasti mengalaminya. Rasanya tidak nyaman jika kita sedang diliputi rasa bad mood. Orang-orang yang termasuk doer, mungkin masih bisa mempertahankan melakukan pekerjaannya ketika bad mood sedang melanda. Akan tetapi, bagi orang yang typenya feeler, bisa dipastikan mereka memilih untuk diam dan tidak melakukan apa-apa.

So wrong, jika dalam keadaan bad mood kita tak mau melakukan apa-apa. Mana kedisiplinannya? Tunjukan dong!

Salah satu sikap yang dimiliki oleh orang sukses ialah mereka berhasil menanamkan kedisiplinan didalam dirinya sendiri. Mereka bisa mengatasi segala apa yang menjadi rintangannya, dan apabila hambatan datang menerpa mereka semakin gigih untuk bekerja bukan memilih untuk menyerah dan diam.

Sulap bad mood jadi good mood:

* Mula-mula pahami pikiran sendiri, ketahui apa penyebab rasa bad mood itu ada.

Kalau bad moodku hari ini sumber masalahnya ialah aku nggak bangun awal untuk menulis di Kompasiana. Bukan aku lupa setting alarm, cuman sudah bangun dan kebablasan tidur lagi. Akhirnya fatal deh nggak ada waktu buat menulis. Kemudian saat ada waktu, aku mencoba menulis apa yang ada diotakku. Jadinya kurang baik, rasanya geram sendiri aku pengen marah. Sudah menulis kemudian unpublish lagi! Yaelah. Capek dech.

* Kalau pikiran masih tetap sepaneng dan seperti tak ada solusi untuk menjadi lebih baik, cobalah untuk keluar rumah.

Barangkali cuma sejenak ya, yang penting sudah bisa mendapatkan pemandangan baru. Dengan berada di luar rumah maka mata kita akan memandangi banyak sesuatu yang dapat menyelimurkan pikiran kita dari sumber yang membuat kita geram dan menimbulkan bad mood. Seperti aku tadi, sehabis nulis dan gagal, aku pergi ke pasar. Jalannya pun bukan sekedar jalan lho. Tetapi jalan juga sambil berdo’a. Mencoba untuk mendapatkan ketenangan batin, selain memperhatikan orang-orang yang berjalan dengan semangat itu! Melihat orang lain berjalan semangat, aku pun tanpa disadari jadi ikut semangat.

* Dapatkan satu kejutan untuk diri sendiri dengan meledek diri sendiri!

Entah nggak tau tadi sewaktu aku masih geram-geramnya pada diriku sendiri, tiba-tiba hatiku meledek begini, jangan jadi orang jarkoni! Aku teringat jarkoni itu singkatan dari ”bisa ngajar tetapi tidak bisa nglakoni(melakukan)!” Dalam hatiku tersentak. dan segera ingin bangkit lagi. Bagaimana pun alasannya, aku harus segera mengubah bad mood ku ini menjadi good mood. Aku tidak mau dikuasai oleh emosi negatifku sendiri. Begitulah kata-kataku dalam hati.

* Ketika motivasi bangkit sudah muncul, gerakkan tubuh untuk bekerja seperti biasa.

Motivasi terbesar itu adalah dari diri sendiri. Jadi usahakan kita selalu bisa memotivasi diri kita sendiri. Seolah dapat digambarkan besar pengaruh motivasi dari diri sendiri itu sebesar 99%, sedangkan dari orang lain hanya 1%. Tanpa kekuatan batin, maka sulit untuk mengembalikan semangat dari jiwa kita setelah kita mengalami suasana hati yang kurang menyenangkan. Dan dengan menggerakkan tubuh untuk bekerja, maka otak kita akan ikut aktif lagi. Energi yang kita keluarkan pelan-pelan akan mampu menghapus rasa malas, dan lesu yang ada pada pikiran dan hati kita. Bisa ditambah dengan hal-hal menarik lainnya seperti mendengarkan musik kesukaan kita atau makan makanan yang dapat membuat semangat kita hadir kembali.

Dan begitulah sekiranya diri kita ini layak disebut sebagai guru yang bijak terhadap diri kita sendiri. Tetap semangat yuuuk…! 🙂

Menulis Itu Mudah… (Semangat untuk Penulis Pemula)

14129473522065880733
http://www.louiciano.wordpress.com

Kebiasaanku menulis di Kompasiana selama ini yang kurang lebih berjalan tujuh bulan, telah menjadikanku kecanduan untuk terus menulis. Bukan kujadikan sebagai hobi lagi tetapi menjadi suatu kebutuhan primer yang tak berbeda dengan bernafas dan hidup. Menulis kini menjadi semangatku sehari-hari. Dan apabila keadaan buruk menghalangi aktifitas menulisku, maka pada hari itulah aku tidak bersemangat.

Aku pikir menulis itu merupakan bagian dari berkarya, dimana dari tulisanku lah wujud dari kreatifitasku yang sanggup aku ciptakan. Bergulirnya hari dengan diiringi sebuah tulisan baru seolah hariku menjadi terasa lebih hidup. Yang kutulis sangat beragam, ada harapan, ada luapan kata hati, ada lukisan kebimbangan, dan pengalaman serta aneka warna tulisan lainnya.

Banyak dari orang yang belum pernah berpengalaman dalam kepenulisan, selalu menganggap bahwa menulis itu tidak mudah. Banyak yang mengira bahwa, menulis itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berbakat menulis atau orang-orang yang hebat saja. Apalagi orang-orang yang berlatar belakang menekuni pelajaran sastra atau jurnalisme.

Sebenarnya sama juga sih aku dulu pernah berpikiran seperti itu. Khususnya ketika aku pertama kali menulis di Kompasiana. Akan tetapi, saat ini sama sekali aku tidak lagi mempuyai pikiran seperti itu. Melainkan aku mempunyai keyakinan bahwa SEMUA ORANG DENGAN LATAR BELAKANG APAPUN PASTI BISA MENULIS, BAHKAN MENJADI PENULIS YANG HEBAT!

Kenapa?

Karena aku sudah membuktikannya! Terlepas seberapa hebat jadinya nanti tergantung dari kepuasan hati nurani kita sendiri ya. Secara pribadi aku hanya merasa puas dengan apa yang pernah kutulis bukan hebat! Kalau hebat itu relatif.

Menulis itu mudah…Siapa pun kita pasti bisa kok menjadi penulis, yang pasti juga butuh proses ya nggak bisa langsung jadi seperti sulap jika kita tidak mengusahakan tulisan kita terwujud ada dan nyata. Ikuti yuuuk apa saja yang akan kubagi-bagikan kali ini:

1).  Menulislah sesuatu apa saja yang mendominasi hatimu.

Boleh berwujud puisi, cerpen, catatan harian, atau reportase. Bebas! Ayo otak-atik sendiri kata hatimu, apakah kamu penggila bola, politik atau fiksi.Jika sudah kamu temukan satu hal yang dominan itu, maka cobalah menulisnya. Jangan pernah menganggap tulisan kita sendiri itu kurang bermutu, tetapi usahakan unek-unek yang ada dihati bisa keluar semua. Eksplore semua apa yang ingin dikatakan dari hati sesuai tema yang telah kamu pilih.

2). Ciptakan ide untuk judul dan kerangka tulisan agar menarik.

Sesederhana tema dari sebuah tulisan, akan tetapi jika kita mau menyajikannya dengan buah pikiran super maksimal, maka yang akan terjadi adalah tulisan-tulisan kita akan berubah menjadi tulisan ajaib. Tulisan yang akan memberi kejutan-kejutan terindah kepada kita. Menarik di sini, ada hubungan yang pas antara judul dan isi. Judul yang menarik, biasanya diminati oleh pembaca, ditambah lagi dengan isi yang bagus maka pembaca akan  percaya dengan apa yang kita tulis.

3). Ikuti tema tulisan dengan apa yang sedang kamu pikirkan.

Tidak peduli jika saja di HK sedang ada protes, atau di Indonesia sedang ada kasus teraktual. Apabila kamu tidak mengerti berita keduanya, maka jangan sekali-sekali menulis tentang berita tersebut sekalipun itu teraktual. Tulislah apa yang sedang ada di benak hati dan pikiranmu sendiri. Lalu, tekankan pesan apa yang dapat diberikan dari tulisan yang ingin kamu tulis, apakah nantinya akan menginspirasi, menarik, atau memberi manfaat kepada pembaca. Minimal ketahui dengan jelas apa tujuan kamu menulis itu.

4). Semakin banyak kali kamu menulis, semakin banyak pengalaman yang akan kamu dapatkan dari tulis-menulis.

Berani menulis, apalagi mempublikasikan kepada publik merupakan hal yang luar biasa. Bagaimana tidak, dengan mempublikasi maka pembaca akan mudah memberikan komentar yang isinya bisa sebuah masukan, kritikan, tanggapan, atau hal yang bermanfaat lainnya. Jangan takut mendapat komentar negatif karena yang memberikan komentar negatif itu lebih baik daripada yang tidak mau memberikan komentar sama sekali.

5). Menulis itu mudah….

Akan benar-benar kamu rasakan jika keempat itu benar-benar kamu coba. Jangan tunggu lama-lama lagi, jangan mau kehabisan waktu dan kesempatan karena kamu tidak akan pernah tahu bahwa kamu penulis yang handal atau bukan jika tulisan nyatamu belum kamu wujudkan.

Belum ada tulisan bukan berarti belum ada ide, bukan berarti belum ada kesempatan menulis, bukan berarti belum siap, bukan berarti tidak berbakat, bukan berarti tidak sanggup menulis, bukan berarti tidak bisa tetapi karena pada dirimu masih membatasi dirimu sendiri untuk belum mau menulis. Barangkali kamu masih setengah hati ya?

Sekarang silahkan mencoba untuk berani menulis. OK!

Bibir-bibir Orang Hong Kong!

14131899122090630664
Ilustrasi Hong Kong/Kompasiana (KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES)

Ada apa dengan bibir-bibir orang Hong Kong ya? Seperti tujuan awalku dulu untuk datang ke Hong Kong, selain bekerja adalah untuk mengetahui langsung lifestyle-nya orang Hong Kong. Sebagai catatan khusus di otakku, aku mau menulisnya sekaligus aku publis di Kompasiana ini. Tanpa terasa keberadaanku di Hong Kong, tinggal menghitung hari. Aku akan segera kembali ke Indonesia untuk selamanya. Harapan besarku saat ini dan nanti, aku sudah tidak mau bekerja menjadi TKW.

Menikmati detik-detik terakhir di Hong Kong, rasanya ada yang kurang jika aku belum menyimpulkan apa yang kudapat dari pencarian apa saja yang aku cari, terutama pengamatan langsungku tentang orang-orang Hong Kong.

Bukan berarti aku sensi dengan orang Hong Kong, tetapi aku ingin mengambil banyak pelajaran dari orang-orang Hong Kong. Pertanyaan besarku dalam hati ialah ”Kenapa orang Hong Kong hidupnya lebih maju daripada kehidupan sebagian besar orang Indonesia?

Pada judul tertuliskan ada kata ”Bibir-bibir”. Kenapa aku memilih kata itu? Alasan utamanya karena dari pengamatanku, bermula dari bibir-bibir orang Hong Kong lah aku berusaha untuk berpikir semaksimal mungkin menyikapi rahasia yang tersembunyi dari apa yang ku cari! Kuamati, bibir-bibir orang Hong Kong itu suaranya mahal jika ditempat umum. Seperti biasanya, mereka akan melakukan apa yang perlu mereka lakukan tanpa banyak bicara. You are you and me is me. Itulah orang Hong Kong!

Dari bibirnya orang Hong Kong yang tidak suka ngomong jika tidak perlu ngomong itu, sebagian besar mereka apabila sedang berjalan selalu dengan langkah percaya diri, tegap dan cepat. Aku jadi mikir, pastinya mereka begitu karena mereka berjalan dengan tujuan yang jelas ya. Oh ya, aku juga yakin kalau 80% orang-orang Hong Kong bekerja dalam bidang jasa. Aku perhatikan, di Hong Kong hampir semua lahannya dijadikan perkotaan. Ada pertanian hanya di tempat-tempat tertentu dan tidak banyak. Barang-barang kebutuhan pokok seperti makanan itu banyak didatangkan dari impor negara lain.

Kalau 80% penduduknya bekerja dibidang jasa, maka tidak heran jika pendidikan di Hong Kong sangat berperan penting mengiringi kelajuan pertambahan penduduk di negaranya tersebut. Sebutan Hong Kong sebagai negara metropolis itu berhasil disandangnya, tak lepas dari sudah banyaknya brand-brand internasional yang dipasarkan di Hong Kong. Brand yang aku maksud di sini yaitu seperti jam tangan Rolex, baju Levi’s, atau brands internasioanal lainnya.

Bayangkan ya, kalau bukan karena kekayaan Sumber Daya Manusianya (SDM), maka orang-orang Hong Kong tidak akan bisa bertahan hidup lama di Hong Kong dengan wilayahnya yang jauh berbeda dengan keadaan di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia orang yang hidup pas-pasan akan bisa hidup sekalipun pendidikan kurang, atau keadaan ekonominya kurang. Air di Indonesia masih melimpah, rumah-rumah di Indonesia kebanyakan adalah rumah banglo(rumah yang berdiri sendiri, bukan apartemen atau rumah susun), barang-barang kebutuhan makanan  yang paling pokok beras. Sayurnya sebagian dari penduduk Indonesia masih bisa didapat dari bercocok tanam sendiri).

Yang unik di Hong Kong. Tadi sudah aku katakan bahwa, orang Hong Kong suaranya mahal. Tetapi, kenapa mereka banyak yang taat terhadap hukum yang berlaku di negaranya? Kenapa mereka sadar diri mau bekerja keras, mereka mau menuntut ilmu tinggi-tinggi demi masa depannya sendiri? Tanpa mempedulikan latar belakang yang mereka punya, mereka gemar belajar tentang sesuatu! Mereka banyak yang mempunyai semangat hidup yang membara? Mereka tampak mempercayai dirinya sendiri tanpa ada banyak motivator seperti di Indonesia yang jumlah motivatornya sudah semakin banyak!

Bibir-bibir orang Hong Kong akan bersuara lirih jika mereka berbicara di tempat umum, kecuali beberapa orang yang mempunyai keterbatasan atau watak bersuara keras. Jika ada itu tak membuat gaduh seperti tempat-tempat umum di Indonesia. Baik di pasar, mall, Rumah Sakit, pom bensin, atau tempat umum lainnya. Mereka akan berbicara hanya dengan pasangannya, keluarganya atau orang yang dikenal. (Ha ha ha masak mau ngomong sendiri ya, kalau nggak ada teman yang dikenalnya sama sekali di tempat umum?)

Kembali bertanya lagi! Mengapa orang-orang Hong Kong yang kebanyakan diantara mereka suka berdiam diri ketika kita menjumpai mereka di tempat umum tetapi sebagian besar mereka mampu berkompetensi dengan orang lain? Jawabannya hanya satu. Yaitu ideologi. Maaf butuh buka Google dulu nih!

Google sudah dibuka, tetapi aku akan menjelaskan dengan bahasaku sendiri, aku pikir bahasaku lebih dapat kupahami. Ideologi itu suatu pemikiran yang sama dari sekumpulan pemikiran orang pada suatu wilayah tertentu. Ideologi dikaitkan dengan lifestyle. Setahuku, lifestyle adalah pola hidup. Kembali buka Google biar mantap apa itu artinya!

Lifestyle Lifestyle (sociology), the way a person lives. (Sumber:http://en.wikipedia.org/wiki/Lifestyle) Melalui pengamatan mata telanjang, orang-orang Hong Kong mengajari anaknya sedari kecil untuk mau mencintai apa yang namanya learning/belajar. Menanamkan rasa tanggung jawab dan mandiri, juga meracuni anak-anaknya untuk bisa mempercayai dirinya sendiri, berdisiplin. Yang unik di Hong Kong, orang Hong Kong menyukai minuman soup! Bentuk aneka biji-bijian kering dijual untuk dibuat minum. Mereka mempunyai kepercayaan jika sering minum soup khas negaranya itu, maka mereka akan sehat dan awet muda. Sebagian besar mereka juga tidak suka menganggu kehidupan orang lain. Mereka hidup individualis tetapi sehat.

Menyinggung fasilitas umum di Hong Kong yang sudah maju dan ada itu semua tak lepas dari peran penting pemerintah. Pemerintah yang minim korupsi. Dan pastinya juga tak lepas dari ketidak tertinggalannya terhadap negara yang lebih maju lainnya. Aku pikir, Hong Kong dan Singapore itu hampir sama majunya. Sudah pasti berbeda tetapi hampir sama.

Pikiranku kemudian melejit memikirkan hubungan agama yang dianut mayoritas Hong Kong dibandingkan Indonesia. Jawaban jelas negara Indonesia menganut agama muslim dan Hong Kong mayoritasnya non-muslim. OK! Lupakan agama agar tidak menimbulkan perdebatan, tetapi mari kita singgung spiritualnya saja ya! Yang aku tahu, spiritual itu bukan hanya bentukan dari kita menganut suatu agama tertentu atau tidak sama sekali. Melainkan spiritual itu terbentuk dari motivasi seseorang, harapan hati seseorang, cita-cita seseorang dan ketertarikan seseorang terhadap sesuatu!

Letak pembeda dasar yang paling utama kenapa orang Hong Kong dan Indonesia jauh berbeda terletak pada spiritualnya! Kembali ke hati nurani masing-masing, tanyakan kepada hati kita sudah mempunyai semangat hidupkah kita? Sudah mempunyai tujuan hidupkah kita ini? Sudah bergerak untuk menggapai apa yang kita cita-citakankah kita ini?

Ingat aset penting dari seseorang itu bukan pada seberapa tingginya pendidikan yang mampu ia raih, bukan dari seberapa banyaknya materi yang mampu ia punyai dan dapatkan, bukan seberapa cantik atau tampan wajah dan penampilan seseorang, bukan tentang sempurna atau tidak sempurnanya kehidupan yang ia miliki melainkan dari seberapa besar ia menghargai dirinya sendiri, karena hanya dari dirinya sendiri kemenangan dan masa depan yang cerah seseorang akan terwujud tak lepas dari tangannya sendiri!

14131874942044629253
Pengamatan langsungku terhadap orang-orang Hong Kong. Salam Kompasiana!/ dokpri

Terimakasih bibir-bibir orang Hong Kong sudah memberikanku banyak inspirasi!

3 Fase Kehancuran Hidup Wanita!

1413270413506181262
Banyak alasan wanita kesulitan mempertahankan keperawanannya/ http://www.sumutpos.co

Aku terlahir sebagai seorang wanita, dan kini aku berhasil merenungkan kehidupan wanita sejauh kemampuan berpikirku sendiri. Jika aku perhatikan, seseorang yang terlahir sebagai wanita itu semestinya merasa bahagia dan berterimakasih banyak kepada Tuhan. Wanita diciptakan dengan kelebihan-kelebihannya tersendiri.

Simbol ”Keindahan” itu wanita, karena diantara laki-laki dan perempuan, hanya wanita yang cocok berambut panjang, memakai rok, bersandal jinjit, ber-make up, dan memakai asesoris. Suara wanita biasanya lebih halus daripada laki-laki, gemulai gerak-gerik dari wanita juga lebih lembut daripada laki-laki.
Salah satu kelebihan wanita yang luar biasa ialah kemampuannya membuahi hasil hubungan seksual atau unseksual/ kloning didalam rahimnya. Dan ini berlaku untuk hewan yang berjenis kelamin betina juga. Entah mengapa begitu ya? Bukti keadilan Tuhan kah terhadap makhluknya yang berjenis kelamin perempuan atau betina? Bisa jadi!
Di Indonesia sendiri, wanita menjadi maju tak lepas dari usaha RA. Kartini yang pernah memperjuangkan emansipasi kaumnya. Beruntung sekali dulu ada beliau. Jika tidak ada, barangkali Indonesia saat ini masih primitif. Dan mungkin hanya kaum laki-laki saja yang boleh merdeka dengan dunianya.
Dari judul diatas, aku sengaja membagi tiga fase kenapa seorang wanita bisa dikatakan hancur dalam hidupnya, diantaranya sebagai berikut!

1). Wanita yang kehilangan keperawanannya sebelum menikah!

Keperawanan memang tidak terlihat hanya saja dapat dirasakan oleh setiap orang yang berstatus sebagai wanita. Seseorang wanita yang belum menikah tetapi pernah melakukan hubungan seksual mereka akan mengalami yang namanya gangguan psikologis. Mendapati rasa kurang nyaman didalam jiwanya sendiri. Sekalipun senyum masih dapat ditemui dari lukisan wajahnya, akan tetapi tidak bisa dibohongi kalau wanita itu akan merasa kehilangan kesuciannya. Akan merasa murung terhadap dirinya, sedangkan keperawanan yang hilang sudah pasti tidak dapat dikembalikan lagi dengan cara apa pun.

Dampak yang diakibatkan perilaku seksual pranikah yaitu diantaranya berdampak pada psikologis. Salah satu dampak psikologis yang dialami yaitu kecemasan! Dampak psikologisnya yaitu menyesal, merasa bersalah dan berdosa, cemas akan terjadinya kehamilan, cemas akan terkena aids dan penyakit menular seksual lainnya, cemas ditinggalkan pasangan, cemas akan jodoh, cemas akan penghargaan buruk dari suami kelak jika menikah, cemas dilaporkan pada orang tua, cemas jika sendirian, depresi, mudah curiga pada pasangan, sensitif dan mudah marah pada pasangan , tidak bebas dalam mengungkapkan perasaan kesal dan marah, prihatin akan keadaaan pasangan , sering menangis, pesimis, malas, berpikir akan mati, senang karena bisa memberikan kepuasan pada pasangan. (Sumber)

2). Wanita yang krisis mendidik anak dan hanya menjadi robot oleh suaminya!

Kenapa demikian, dan apakah ada seperti itu? Jawabannya ada, bahkan banyak. Kebanyakan wanita mengalami krisis mendidik anak-anakya dikarenakan ia gagal sebagai ibu rumah tangga. Banyak alasan yang mengakibatkan kegagalan menjadi seorang ibu rumah tangga, diantaranya karena belum siapnya mental yang dimilikinya menjadi seorang ibu. Ini dapat terlihat nyata, diantara ibu-ibu yang mengurus anaknya masih melibatkan bantuan dari orang tuanya. Kurang mampunya memberikan kebutuhan dasar pada anak-anaknya disebabkan oleh keterbatasan ekonomi.

Menjadi robot oleh suaminya? Diantara ibu rumah tangga, masih ada yang hidup dibawah kekuasaan suaminya. Barangkali karena status suami yang lebih tinggi dari pada istrinya, mungkin si istri tidak bekerja dan mengandalkan biaya hidup dari suaminya. Memang dasar yang benar seperti itu, dimana laki-laki berkewajiban mencukupi kebutuhan didalam keluarganya. Akan tetapi, banyak fakta membuktikan istri pengangguran merasa kurang puas jika dipandang suami kurang produktif menghabiskan waktu hanya menganggur selain mengurus anak. Buktinya, masih tingginya wanita kita yang bekerja di luar negeri.

Saran, sebagai wanita harus bisa menjadi super mother dalam keadaan apa pun. Jika seandainya suami tidak mau menafkahi kebutuhan hidup, tekad dalam hati jangan sampai lemah untuk berusaha memenuhi kebutuhan anak-anak, entah bagaimana pun caranya. Setelah menikah, semua orang tidak tahu apa yang akan terjadi lika-liku hidup selanjutnya, tetapi kita hanya akan bisa meresponnya.

3). Wanita, akan merasa tidak bisa bahagia ketika sampai usia senjanya belum bisa bahagia.

Sebagai wanita yang berusia senja, emosi yang dominan akan didapat dari kebiasaan emosi dari masa lalunya sendiri. Wanita-wanita yang pada masa mudanya, atau masa pertengahan usianya suka marah-marah atau tipe orang pemarah. Maka di usia akhir hidupnya juga akan suka marah. Kalau sudah begini, siapa yang repot sendiri sih?

1413270550566061531Agar di usia senja sebagai wanita tidak mendapati penyesalan dalam hidupnya, hendaknya wanita harus mau menambah wawasan untuk dirinya, mau belajar tentang segala sesuatu, dan mau menjadi wanita yang berdikari! (www.cobs.web.id)

Nafas Terakhirku Jadi TKW di HK

Semoga yang membaca kisah nyata ini dapat terinspirasi untuk bisa lebih sabar dalam menghadapi suatu masalah, lebih bersyukur terhadap hidup yang dimilikinya, dan lebih bisa mempunyai semangat hidup yang baik!

Sekian lama menjadi TKW, aku bersyukur selalu mendapatkan gaji yang rutin. Dan aku tidak pernah menghadapi masalah tentang gaji. Dari pasport yang barusan aku buka, dihalaman ke-6 tertuliskan aku menginjakkan kaki di Negara Singapore pada tanggal 21 Oktober 2011. Kembali ke Indonesia pada tanggal 04 Desember 2012. Lalu, pada halaman ke-13 di Pasportku tertuliskan, aku menginjakkan kaki di Hong Kong pada tanggal 26 April 2013. Secara materi, aku bukanlah termasuk TKW yang berhasil. Karena berdasarkan ketentuan aslinya, masa kontrak kerjaku selama dua tahun. Dan lagi-lagi ternyata kegagalanku bekerja di Singapore, terulang di Hong Kong. Alasannya, aku yang mengundurkan diri memutuskan kontrak kerja alias nge-break!

Dalam artikel sebelumnya yang berjudul ”Bibir-bibir Orang Hong Kong” aku berhasil membuat kesimpulan dari pengamatan langsungku tentang sekilas alasan orang Hong Kong berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya! Dan kali ini, artikel yang akan aku tulis lebih menekankan pada bagaimana rasanya jadi seorang pembantu di negeri orang!

Ini hanya tumpahan pengalaman saja, aku akan menceritakan apa yang pernah aku alami. Cerita diawali dari pertamakali aku mendaftarkan diri bekerja di Singapore. Hanya bermodalkan nekat aku beranikan diri untuk bisa sampai di Negara Singapore tersebut. Pada mulanya aku sengaja diam-diam mencari jasa pelayanan pengiriman TKW di dekat rumahku, aku tinggal didesa kecil dari bagian Kota Semarang. Dengan mengendarai sepeda Mio, aku bertanya kesana-kemari untuk melacak dimana sih keberadaan tempatnya itu.

Syukurlah, setelah keliling dengan rela kepanasan, aku pada akhirnya menemukan satu tempat bernama PT OKDO, yang terletak dekat dari rumahku. Hanya menghabiskan 10 menit dengan mengendarai kendaraan roda dua. Setelah aku mendapatkan brosur dan surat ijin orang tua dari PT itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memberitahukan niatku kepada ayahku. Pada mulanya ayahku takut dan menolak! Tetapi, aku berhasil menghilangkan kecemasannya dengan berpura-pura aku akan baik-baik saja. Masih teringat keluargaku tidak tega membiarkanku memilih mau menjadi TKW.

Karena kekuatan motivasi dari diri sendiri untuk tetap melangkahkan kaki menjadi TKW, aku pun kemudian mau di medikal dan masuk PT itu untuk melakukan proses selanjutnya. Aku pada hari pertama bergabung dengan anak-anak yang sudah di PT. Rasanya berada di PT sungguh jauh berbeda sekali dengan berada di rumahku sendiri. Sekalipun rumahku kurang bagus, tetapi berada di PT seperti berada di dalam penjara. Makan seadannya, mandi dengan tempat seadannya, yang mesti antri, mau mengikuti peraturan di PT. Yang sudah didik selayaknya pembantu rumah tangga pada umumnya.

Melayani dengan penuh kehormatan, menunduk-nunduk dan sebisa mungkin menghindari kesalahan agar tidak kena marah dari stafnya. Aku merasakan apa yang akau alami itu dengan lapang dada. Tetapi, satu yang membuat aku punya spirit dari dalam. Aku berkumpul dengan orang asing yang berlatar belakang tertentu. Tidur dan berkumpul dengan orang-orang calon TKW dengan kehidupan nyatanya. Membuat mata hatiku terbuka, betapa menyedihkannya kehidupan orang lain itu. Masih jelas, memori di otakku mendengar kata hati dari teman-temanku bahwa mereka mau menjadi TKW untuk membangun cita-citanya.

Dari mulai adanya niat bekerja demi anaknya yang sudah ditinggalkan suaminya, dari yang karena ingin melarikan diri dan ingin melupakan mantan cowoknya, dan dari alasan karena ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Kurang lebih aku berada di PT selama dua setengah bulan. Guruku bilang, aku anak yang lumayan dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Dalam pesannya, ia meminta aku agar mau giat bekerja saja. Sebelum sampai di rumah majikan, aku harus mengikuti tes masuk menjadi TKW di Singapore. Dengan jumlah soal 40 butir. Syukurlah aku lulus hanya dengan mengikuti ujian sekali.

Pertama kali menginjakkan kaki di Singapore, aku merasakan ketakutan. Harapan pertamaku, aku bisa membayar hutang kepada agency selama 9 bulan. Supaya aku tidak membebankan masalah kepada orang tuaku. Aku mendapatkan gojlokan selama satu minggu. Bekerja seharian dengan tidur hanya selama 3-4 jam saja. Ingat dulu, makan di agen Singapore hanya nasi dengan oseng daun kol dicampur sosis. Atau sesekali makan nasi dan telur goreng. Sehari-harinya makan dengan itu-itu saja.

Bekerja di Singapore tidak terasa berjalan selama satu tahun lebih satu bulan. Aku merasa jenuh. Kupikir pekerjaanku sangat monoton, aku butuh bekerja tetapi tidak tahan jika terus begini. Itu perasaanku dulu. Akhirnya aku memutuskan pulang. Kepulanganku disambut dengan wajah-wajah yang tak berubah seperti keberangkatanku dulu ke Singapore dari keluargaku. Keluargaku memang tidak menuntut uangku. Tetapi, kata hatiku mengatakan aku harus berjuang demi perubahan yang nyata pada keluargaku.

Berjuang? Masih ada asa dan kekuatan kah aku memperjuangkan diriku sendiri? Terlihat jelas aku pada saat itu sudah kehilangan harap. Mukaku pucat pasi seperti orang yang ingin mati. Aku lebih suka murung dan berdiam diri. Selama seminggu di rumah aku depresi. Aku lupa makan dan kadang lupa mandi. Aku hanya menyendiri di lantai dua rumahku. Sendiri. Aku bingung apa yang harus aku lakukan? Aku tak berminat bekerja di pabrik atau toko seperti teman-teman sebayaku yang tidak kuliah. Aku merasa tidak mungkin bisa kuliah! Aku seperti ingin mati bunuh diri.

Kemudian, dengan terpaksa aku sengaja menjatuhkan diri untuk bekerja di Hong Kong. Dengan harapan aku bisa berhasil! Kembali menjalani proses panjang menjadi TKW dengan PT yang sama. Kembali aku diingatkan dengan orang-orang yang menjalani proses menjadi calon TKW di luar negeri. Hatiku luluh mendengarkan kisah hidupnya masing-masing. Dan aku berpikir, ini adalah satu bagian dari permasalahan yang ada di Indonesia. Sebagian besar ibu rumah tangga di Indonesia kurang bahagia dan perempuan muda Indonesia juga kurang sejahtera.

Bermula dari suka memikirkan hal-hal yang seperti ini, kemudian aku berpikir bagaimana Indonesia akan maju jika kualitas perempuannya masih banyak yang rendah? Dimana kita tahu, melalui perempuan akan terlahir generasi-generasi baru. Aku juga terdorong untuk mau belajar ketika aku berada di Hong Kong. Dengan sengaja mau mengambil pelajaran apa saja yang dapat kupetik dari pengamatan warga HK dan dari bacaan buku yang pernah aku baca.

Setiap kali aku memandangi teman-temanku yang sedang libur di hari Minggu, ada harapanku Indonesia ke depan bisa lebih baik. Supaya kaum hawa Indonesia tidak banyak yang mau bekerja di luar negeri, sedangkan aslinya penuh resiko tinggi. Menjadi TKW, pada mulanya aku banyak merasakan kepahitan-kepahitan hidup. Aku bertemu dengan orang-orang berpengalaman pahit. Sangat pahit jika dimaki, dimarahi, dan diperlakukan seperti pembantu yang murah ketika aku menemui orang-orang sulit dihadapanku.

Saat ini, kebetulan aku sudah tidak bekerja. Aku juga tidak berkesempatan bisa tertawa bersama dengan teman-temanku seperti dulu. Dalam hatiku, ada rasa yang sulit aku artikan. Aku ingin menangis, mengingat saat ini aku lebih tahu alasan kenapa banyak orang-orang perempuan Indonesia yang berbondong-bondong bekerja di luar negeri! Saat ini aku tahu, betapa sulitnya menjadi seorang TKW, betapa beratnya untuk bisa mempertahankan hidup di negara lain tanpa bermodalkan apa-apa dan hanya mengandalkan tenaganya sendiri.

Sampai aku mati, pengalaman menjadi TKW akan selalu kuingat. Dalam hatiku sudah terlanjur bergejolak marah sekaligus prihatin dengan nasib perempuan di Indonesia. Sekalipun aku tak sehebat mantan TKW yang berprestasi lainnya, sekalipun aku hanya orang biasa. Tetapi, akan kuusahakan untuk bagaimana caranya perempuan Indonesia menjadi perempuan-perempuan yang tangguh dan bernilai. Yang pertama dan utama yang harus aku lakukan ialah aku harus mempunyai semangat hidup supaya aku bisa menyemangati orang lain yang mungkin sedang kurang semangat atau kehilangan harap! Kerasnya hidup sudah banyak memberikanku pelajaran berharga.

14133622481484813078
Yang tak terlupakan (Dok. Pribadi)

Shueng Wan, HK

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari!

 

Tepatnya hari Selasa, 21 Oktober 2014 aku berhasil membuat KTP baru. Sebenarnya proses pembuatannya itu kilat karena tidak sampai menghabiskan waktu selama satu setengah jam, tetapi sebelumnya aku harus melewati hal-hal konyol terlebih dahulu. Kekonyolannya tak lepas dari kebodohanku sendiri. Begini ceritanya, sepulang dari Hong Kong, dirasa-rasa aku tidak menjumpai KTP lamaku. Kemudian aku berniat untuk membuat yang baru. Pada hari malam Senin sebelumnya. aku mengajak ayahku untuk meminta surat RT/RW terlebih dahulu. Sudah aku ceritakan bahwa, KTP-ku yang lama tidak ketemu atau hilang, dari pihak RT nya bilang, menyuruhku untuk mengatakan kalau saat ini aku ingin membuat KTP yang baru dan sebelumnya belum pernah membuat KTP!  Kemudian hari Senin berikutnya, aku sendiri datang kekelurahan.

Jarak antara rumah dengan Kelurahan, kira-kira ada tiga kilometer. Aku jalan kaki karena tidak ada angkot langsung yang bisa sampai ke Kelurahan tersebut. Sekitar jam 09:30 aku berangkat dari rumah! Sesampai kelurahan, pegawainya terbengong-bengong mendengar pernyataanku bahwa sebelumnya aku belum pernah membuat KTP padahal aku kelahiran 1991. Pegawainya hanya bisik-bisik. Dan mereka mengijinkan aku untuk melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan. Terakhir petugasnya bilang, aku perlu mencantumkan surat poto kopi Akte juga.

Tidak lama kemudian setelah menaiki angkot, aku sampai di di Kecamatan. Rupanya kecamatan lebih bisa berpikir kritis! Mereka bilang dan mendesakku kalau aku pasti pernah membuat KTP. Mereka memintaku untuk mencari kembali KTP lama terlebih dahulu dan mereka menyarankan bahwa apabila yang lama tidak ketemu, aku harus meminta membuat surat kehilangan KTP! Pegawai kecamatan memintaku untuk meminta surat kelurahan terlebih dahulu, baru kemudian aku mengajukannya ke polsek setempat. Kebetulan pada saat itu aku tidak langsung meminta surat kehilangan tetapi aku malah pulang ke rumah.

Dengan tangan hampa, aku pulang keletihan tanpa hasil apa-apa. Dan pada hari berikutnya, dengan pikiran mantap setengah malu aku mendatangi kantor kelurahan lagi. Diotakku masih ada bayangan pegawai kelurahannya berbisik-bisik menyinggungku. Tetapi aku berusaha untuk masa bodoh! Dengan pegawai yang sama, malangnya aku bertemu dengannya lagi. Nah, setelah bertatap muka dengan pegawai kemarin, aku akhirnya terus terang saja sama pegawainya. Aku mengatakan bahwa, pihak RT yang sengaja menghimbaukanku untuk mengatakan kalau aku belum pernah membuat KTP sebelumnya. Dan tak lupa aku katakan kalau pegawai Kecamatan memintaku untuk meminta surat kehilangan KTP melalui kelurahan. Pegawai kelurahannya secara otomatis langsung bilang sebelum minta dari kelurahan, aku perlu meminta surat dari RT/RW.

Haduh, jalan kaki lagi. Kepanasan lagi. Akhirnya aku berniat langsung mendatangi rumah Pak RT, kebetulan dari pihak kelurahan mengatakan tanpa tanda tangan dari RW tidak apa-apa. Lalu, kembalilah aku ke kelurahan dengan diantar sama saudaraku yang tinggal bersebelahan rumah. Lagi-lagi aku kena tipu atau apa ya, setelah pegawai kelurahan memberikan berkasnya kepadaku, dia bilang aku harus ke kecamatan terlebih dahulu kemudian ke Polsek dan kembali ke Kecamatan.

Sesampai di Kecamatan, pegawainya bilang aku harus ke Polsek dulu. Serasa dipermainkan, atau karena aku yang bodoh? Waktu di Polsek, ada satu kejadian yang buatku sedikit merasa ganjil. Tanpa aku sadari ternyata kantor Administrasinya sudah pindah di bangunan sebelahnya, karena sebelumnya aku tidak tahu. Langsung saja aku pengen masuk ke ruangan yang lama. Toh juga dibuka. Sebelum masuk ke ruangan yang ingin aku tuju, ada bapak-bapak yang teriak-teriak duduk dibawah pohon bersama beberapa temannya sekitar tiga atau empat orang mengaku seorang polisi tanpa berseragam. Aku setengah tidak percaya, lalu karena ia berteriak dan nada suaranya setengah marah lalu aku beranikan diri untuk meminta bapak tadi masuk ke ruangan terlebih dahulu seandainya ia benar seorang polisi! Bayangan pikiranku ruangan yang aku tuju merupakan kantor Polsek. Laki-laki itu berkata tiga kali mengatakan bahwa dirinya seorang polisi dan memintaku untuk mendekatinya.

Sebelum aku mendekatinya, aku memintanya untuk masuk ruangan yang aku kira kantor tadi sekali lagi! Karena rupanya ia orang yang ngeyel seolah sebagai pemenang dalam perdebatan, aku pun sedikit melangkahkan kakiku untuk bisa berkata lebih baik apa maksud kedatanganku. Aku katakan aku ingin meminta surat kehilangan KTP. Baru orang itu mengatakan bahwa kantor Polseknya sudah pindah di sebelah. Jujur, aku langsung bilang saja sama orang itu kalau aku baru tahu. Dalam hatiku, nggak segitunya kali dia ngomong sama aku teriak-teriak dan ngotot? Aku juga nggak peduli ia polisi atau bukan!

Terakhir, sesampai di Kecamatan aku hanya menunggu giliran untuk dipotret dalam pembuatan KTP baru, setelah berkas lewat RT/RW dan Kelurahan tadi sudah aku dapatkan beserta Surat Kehilangan dari Polsek. Sambil menunggu dipanggil mendapatkan giliran, aku merenung sendiri sebegitunya ya untuk bisa mendapatkan KTP baru. Jalan ceritanya unik, aku muter-muter sendiri. Beruntung kalau aku bersepeda sendiri, tetapi aku jalan kaki…Ke sana ke mari. Setelah di poto dan tanda tangan, akhirnya aku berhasil mempunyai KTP baru.

14139466451645335369
KTP kilat, bisa jadi hanya dalam waktu sehari/ Dok. Pribadi

Sesampai di rumah betapa lebih konyolnya lagi ialah KTP lamaku ketemu. Ibuku menyimpannya di dalam tasnya. Kalau tahu begini, aku nggak usah susah-susah mencari Surat Kehilangan…Tetapi apa boleh buat? Di daerahku KTP bisa jadi dalam sehari, bagaimana dengan tempat Anda?